
Gadis cantik yang menggunakan senjata pedang tipis sepanjang satu depa itu bergerak dengan sangat lincah. Ia seolah-olah adalah penari yang sudah handal.
Setiap gerakan yang dilakukannya mengandung kekuatan yang tidak bisa dibendung oleh apapun juga. Andai saja yang ia pegang adalah bunga, mungkin semua orang yang melihatnya akan bengong dan tidak bisa berkedip.
Sayang sekali, dia tidak pandai memegang bunga. Ia lebih landai memegang pedang tipisnya.
Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!
Pedang tipis itu mengeluarkan kilatan cahaya putih. Di tengah empat batang golok yang terus menyerang tanpa berhenti tersebut, gadis cantik itu mulai memperlihatkan kemampuan aslinya.
Dentingan nyaring yang dihasilkan dari pertarungannya menciptakan percikan bunga api. Hawa pedang yang dia keluarkan, sedikit banyak telah menekan lawannya.
Terutama sekali tiga anggota Partai Tujuh Warna.
Kemampuan mereka masih berada di bawah dia sendiri. Karenanya tidak heran apabila orang-orang itu merasa terganggu akibat hawa pedang tersebut.
Belasan jurus sudah mereka lalui. Si gadis semakin bersemangat setelah melihat tiga anggota tersebut mulai kewalahan oleh semua serangannya.
Ketika pertarungan mencapai dua puluh jurus, dengan diiringi bentakan nyaring yang menusuk telinga, tiba-tiba dia melompat ke depan sambil mengayunkan pedangnya dari sisi sebelah kanan.
Wutt!!! Srett!!!
Pedang itu bergerak secepat angin berhembus. Disusul kemudian dengan terdengarnya teriakan menahan sakit.
Tiga anggota Partai Tujuh Warna yang bertarung dengannya, sekarang sudah berada dalam keadaan berlutut. Masing-masing dari mereka mengalami luka tepat di bagian dadanya.
Luka itu cukup lebar dan dalam, sehingga darah yang keluar tidaklah sedikit.
Beberapa helaan nafas kemudian, tiba-tiba saja mereka ambruk ke tanah.
Ketiganya tewas! Tewas karena kehilangan banyak darah!
Melihat kematian tiga anggotanya itu, si petinggi menjadi semakin waspada. Dia bertindak lebih hati-hati dari sebelumnya.
Walaupun ilmu golok yang dikeluarkan semakin hebat, tapi setelah menyaksikan kejadian barusan, dia jadi tidak berani sembrono dalam melancarkan serangannya.
Namun di satu sisi, gadis cantik tersebut juga tidak mau membuang banyak waktu. Karena itulah, setelah beberapa lama kemudian, dia pun segera mengeluarkan jurus pedangnya yang lebih dahsyat.
"Bunga Berterbangan di Taman Seribu!"
Wutt!!!
Gerakan pedangnya tiba-tiba Taja berubah. Ribuan kuntum bunga pedang langsung mengurung petinggi Partai Tujuh Warna. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bayangan senjata tajam itu.
__ADS_1
Beberapa kali dirinya menangkis dan menghindar, tapi semua itu tetap sia-sia. Gadis yang menjadi lawannya tidak mau memberikan waktu bagi dia untuk mengambil nafas lega.
Wutt!!! Wutt!!! Trangg!!!
Mereka bertarung lebih sengit. Benturan keras pun tidak bisa terhindarkan lagi.
Lima belas jurus kemudian, kedua orang itu sama-sama menyerang secara serempak. Gerakan mereka sama cepat dan tepat.
Wutt!!! Srett!!!
Pertarungan di antara keduanya langsung terhenti.
Salah satu petinggi Partai Tujuh Warna itu tewas karena perutnya robek oleh tebasan pedang. Golok yang tadi dia genggam, kini telah terjatuh tepat di sisinya.
Ia memelototkan kedua bola matanya ke arah si gadis. Sesaat kemudian dirinya ambruk ke tanah dengan kondisi terluka parah.
Si gadis menghela nafas lega. Dia benar-benar bersyukur bisa keluar sebagai pemenang.
Serangan yang barusan itu merupakan serangan penentuan. Untunglah di tengah jalan, ia bisa melihat celah lawan. Dirinya memanfaatkan celah tersebut sehingga pedangnya bisa tiba lebih dulu.
Sebenarnya siapa gadis itu? Kena kemampuannya begitu hebat?
Dia bukan lain adalah cucu dari Pengemis Tongkat Sakti Chen Mu Bai. Namanya Chen Liu Yin.
Sejak kecil, Chen Liu Yin telah tinggal bersama kakeknya. Kedua orang tuanya telah tewas dalam sebuah pertarungan sengit melawan tokoh-tokoh aliran sesat ketika dirinya masih berusia empat tahun.
Katana waktu yang dilewatkan bersama sudah teramat banyak, maka tidak heran apabila Pengemis Tongkat Sakti sangat menyayangi dirinya.
Dia sudah menganggap Yin Yin sebagai anaknya sendiri, sekaligus murid satu-satunya. Semua ilmu yang ia miliki, adakah warisan dari orang tua itu.
Karenanya tidak heran apabila di usia mudanya, kemampuan gadis itu sudah sangat hebat.
###
Kembali ke medan pertempuran ...
Di sana, dalam sebuah pertarungan yang melibatkan Orang Tua Aneh dan Setan Kilat, sekarang sudah mencapai puncaknya.
Posisi Waki Ketua Partai Tujuh Warna itu sudah semakin terdesak. Dia tidak bisa berbuat banyak. Semua ilmu dan jurus andalan yang selama ini selalu dibanggakan, seolah tidak ada apa-apanya di depan orang tua itu.
Bagaimanapun dia menyerang, jurus apapun yang ia keluarkan, Orang Tua Aneh Tionggoan pasti bisa mengatasinya dengan cukup mudah.
Diam-diam dia mengeluh di dalam hati.
__ADS_1
Sebab pada dasarnya, orang tua itu memang bukan lawan yang seimbang untuknya. Malah Setan Kilat yakin, kalau Orang Tua Aneh Tionggoan berniat, mungkin sudah sejak tadi ia tewas mengenaskan.
Saat ini, peluh sebesar biji kacang kedelai sudah membasahi wajahnya. Nafasnya terengah-engah. Tenaganya hampir habis. Ia sudah lelah.
Tapi sayangnya pertarungan yang ia jalani belum juga usai.
"Tuan, tolong berlaku lah serius. Aku sudah kelelahan," katanya setelah pertarungan berhenti sebentar.
"Oh, apakah kau ingin cepat mampus?" tanya orang tua itu sambil tersenyum mengejek.
"Aku rasa lebih cepat mati, malah lebih baik lagi," jawab Setan Kilat dengan jujur.
Daripada dipermainkan, tentu saja dia lebih memilih mati.
"Baik, baiklah. Kalau begitu, aku akan mengabulkan permintaanmu,"
Orang Tua Aneh Tionggoan segera menyalurkan tenaga sakti ke kedua telapak tangannya. Dalam waktu singkat, kedua telapak tangan itu langsung berubah menjadi merah membara seperti api.
"Jurus Telapak Neraka Jahanam!"
Wutt!!!
Ia melesat. Belasan serangan segera digelar secara beruntun. Gerakannya yang sekarang jauh lebih hebat dari sebelumnya.
Setan Kilat tidak bisa berbuat banyak. Senjatanya telah terlempar jauh. Kini ia bertangan kosong.
Bukk!!!
Pada saat terjadinya adu jurus tangan kosong, tiba-tiba telapak tangan kanan Orang Tua Aneh Tionggoan dengan telah menghantam dadanya.
Setan Kilat langsung terlempar jauh sampai menubruk tembok. Begitu tubuhnya menyentuh tanah, terlihat ia kejang-kejang sebentar kemudian diam tak bergerak sama sekali.
Orang Tua Aneh Tionggoan tidak menghampirinya. Sebab dia sudah tahu bahwa si Setan Kilat sudah tewas!
Setelah menyelesaikan pertarungan itu, dirinya segera melirik ke sisi lain.
Dia melihat tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, masih ada Zhang Fei dan Pengemis Tongkat Sakti yang sedang berjuang keras untuk membunuh Dewa Tiga Senjata.
"Sepertinya aku harus membantu mereka," gumamnya perlahan.
Tanpa banyak berpikir lagi, dia langsung melompat ke sana.
Wushh!!
__ADS_1
Dalam waktu singkat tokoh angkatan tua itu sudah tiba. Dia langsung mengeluarkan kembali jurus andalannya supaya pertarungan cepat selesai.
Sebenarnya pertarungan terakhir tersebut pasti akan dimenangkan oleh pihaknya. Cuma, dia adalah orang yang terkadang tidak sabaran. Maka dari itulah dirinya memutuskan untuk melibatkan diri.