Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Totokan Dewa Arak Tanpa Bayangan


__ADS_3

Pengemis Tongkat Sakti dan Ketua Bu seketika terkejut ketika mendengar perkataan tersebut. Benarkah telinga mereka tidak salah mendengar?


Untuk beberapa saat, keduanya tampak saling pandang satu sama lain. Seolah-olah mereka belum percaya penuh terkait ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan barusan.


"Aku tahu, kalian belum mempercayainya," kata orang tua itu sambil tetap memandang ke arah Zhang Fei dan Yin Yin.


"Tapi, percayalah. Aku mengatakan hal yang sebenarnya,"


"Mengapa kau bisa mengatakan bahwa datuk sesat itu adalah pelakunya?" tanya Pengemis Tongkat Sakti.


Sebenarnya Ketua Bu yang ada di sisi ingin mengajukan pertanyaan tersebut. Sayangnya ia tidak berani. Ketua Bu takut menyinggung perasaan Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Berbeda dengan Pengemis Tongkat Sakti, ia adalah sahabatnya. Apapun yang terjadi, di antara mereka pasti tidak akan terjadi kesalahpahaman.


"Dari luka yang diderita oleh anak Fei dan Nona Yin," katanya menjawab tegas.


Datuk Dunia Persilatan tersebut langsung berjalan mendekat kepada mereka berdua. Sebelum dua orang yang ada di sana berbicara lebih lanjut, ia segera melakukan pemeriksaan kembali.


"Senjata pusaka milik Pendekar Pedang Perpisahan itu terbuat dari besi baja yang istimewa. Besi baja tersebut ditemukan di bawah sebuah rawa yang sudah sangat tua. Kalau diperkirakan, usia besinya saja mungkin mencapai lima puluh tahunan,"


"Ia menemukan besi baja tersebut secara tidak sengaja. Karena dirasa bahannya sangat bagus dan cocok untuk dibuat senjata, maka dengan mengandalkan tukang pandai nomor satu di jaman tersebut, si tua bangka Wen Wu segera menyuruhnya membuat sebilah pedang pusaka,"


"Kalian tahu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat pedangnya?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil melirik bergantian kepada dua orang itu.


"Tidak, kami tidak tahu," tukas Pengemis Tongkat Sakti menggelengkan kepala.


"Kurang lebih sekitar empat puluh hari,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan berkata secara perlahan. Setiap patah kata itu diucapkan penuh pendalaman.


"Apa? Kenapa bisa lama sekali, Tuan?" tanya Ketua Bu tidak tahan dengan rasa penasarannya.


"Aku kurang tahu pasti. Tapi menurut kabar yang pernah aku dengar, hal tersebut dilakukan supaya pedang pusakanya sempurna,"


"Lalu, bagaimana selanjutnya?"


"Seperti yang kalian lihat sekarang," kata orang tua itu sambil menghela nafas panjang. "Setiap orang yang terkena tebasan maupun tusukan pedangnya, maka dia akan mengalami penderitaan. Kalau tidak segera ditangani, penderitaan tersebut akan semakin parah,"


"Bagaimana penderitaan paling parah tersebut?" tanya Pengemis Tongkat Sakti.


"Ia akan mengalami kelumpuhan di setiap jalan darah dan urat-urat penting lainnya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa lagi,"

__ADS_1


"Apakah orang tersebut akan cacat seumur hidup?"


"Ya. Mati tidak, hidup pun tidak,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan mengakhiri pembicaraannya. Ekspresi wajahnya saat itu terlihat sangat kelam, sekelam awan mendung di atas langit.


Dua orang dari Partai Pengemis juga sama. Mereka pun merasakan kesedihan mendalam.


Kalau benar penjelasan tersebut, bagaimana nantinya? Apakah Zhang Fei dan Yin Yin akan cacat seumur hidup?


Ketua Partai Pengemis itu tidak berani membayangkan lebih jauh lagi. Ia hanya bisa menghela nafas berat.


"Tapi, kalian tenang saja. Aku rasa anak Fei dan Nona Yin masih bisa diselamatkan dan kembali normal seperti sedia kala," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan secara tiba-tiba.


Ucapan tersebut ibarat hujan deras yang turun membasahi bunga layu. Wajah Ketua Partai Pengemis yang sempat kelam, sekarang menjadi ceria kembali.


"Benarkah mereka bisa diselamatkan?"


"Benar,"


"Bagaimana caranya?"


"Kau tidak perlu tahu, pengemis tua. Sekarang, lebih baik tinggalkan aku sendiri di ruangan ini,"


"Kau tidak percaya kepadaku?"


"Hahh ... baiklah. Kami segera keluar,"


Dia langsung mengajak yang lainnya keluar. Dalam tiga helaan nafas saja, di ruangan pengobatan tersebut hanya ada Dewa Arak Tanpa Bayangan bersama dua orang pendekar muda yang terluka.


Tokoh angkatan tua tersebut mulai melakukan pengobatan. Dia membuka pakaian Zhang Fei. Luka-luka akibat pertarungannya melawan Pendekar Pedang Perpisahan tampak lebih jelas lagi.


Kulit dekat semua luka itu mulai berubah warna menjadi ungu kehitaman. Meskipun tidak terlihat ada gejala lainnya, tapi dia tahu bahwa nyawa Zhang Fei tidak akan tertolong lagi apabila terlambat sedikit saja mendapat pengobatan.


Untunglah langit masih melindunginya. Dia masih dipercaya untuk hidup lebih lanjut lagi.


Wushh!!! Wutt!!!


Dewa Arak Tanpa Bayangan bergerak dengan sangat cepat. Jari telunjuk dan jari tengahnya menotok beberapa titik penting yang terdapat di tubuh manusia.


Walaupun gerakan tersebut terlihat mudah dan sederhana, namun sebenarnya sangat luar biasa susah. Hanya mereka yang sudah ahli saja yang mampu menotok dengan kecepatan tinggi seperti itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ketika Dewa Arak Tanpa Bayangan selesai menotok semua titik jaringan tubuh, tiba-tiba Zhang Fei mengeluh tertahan.


"Tenang, anak Fei. Istirahatlah dulu, besok pagi kondisimu akan pulih kembali," katanya memberitahu.


Selesai dengan pasien yang satu, ia segera melanjutkan ke pasien berikutnya. Meskipun Dewa Arak Tanpa Bayangan merasa rikuh karena harus membuka pakaian Yin Yin, tapi apa boleh buat?


Memang itulah satu-satunya cara untuk mengobati semua luka tersebut.


"Maafkan aku, Nona Yin," bisiknya perlahan.


Wutt!!!


Ia kembali melakukan totokan seperti tadi. Dalam waktu beberapa helaan nafas saja, proses pengobatan tersebut sudah selesai dilakukan.


Dengan segera Dewa Arak Tanpa Bayangan menutup kembali pakaian Yin Yin.


"Pengemis tua, masuklah," katanya sedikit berteriak.


Pengemis Tongkat Sakti bersama yang lainnya langsung masuk ke dalam ketiga mendengar panggilan tersebut.


"Bagaimana sekarang?"


"Kondisi mereka sudah lebih baik. Besok pagi, keduanya akan segera tersadar dan kembali seperti semula,"


"Aih, terimakasih, setan arak. Terimakasih," kata Pengemis Tongkat Sakti sambil membungkuk memberikan hormat.


"Eh, sejak kapan kau menjadi manusia yang penuh sopan santun?" tanyanya sambil memicingkan mata. "Tidak perlu seperti ini. Sebagai sahabat, bukankah kita memang harus saling bantu?"


Para tokoh dunia persilatan tersebut kemudian saling diam satu sama lain.


"Biarkan keduanya istirahat total. Mari kita keluar dari sini," ajak Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Baiklah. Mari,"


Mereka semua kemudian keluar dari ruangan pengobatan tersebut. Pengemis Tongkat Sakti dan lainnya duduk bersama di ruang penerima tamu sambil pesta arak.


"Ketua Bu, bagaiamana kondisi di sekitar kota ini? Apakah semuanya aman terkendali?" tanya Ketua Partai Pengemis sambil menoleh.


"Sejauh ini, keadaan di sekitar wilayah kita baik-baik saja, Ketua. Beberapa waktu lalu aku pernah mendapat informasi ada sekelompok orang-orang asing di sekitar Rawa Iblis. Aku juga sempat mengutus beberapa anggota untuk melihatnya secara langsung,"


"Lalu bagaiamana hasilnya?"

__ADS_1


"Di sekitar Rawa Iblis memang terdapat bangunan tua yang diduga menjadi markas mereka. Hanya saja ketika anggota kita mendekat, di sana sudah tidak ada satu pun manusia yang masih hidup,"


__ADS_2