
Suasana di perkampungan tersebut sepi hening. Tidak terlihat ada seorang manusia pun yang lewat ke jalan itu. Yang terdengar hanya suara binatang malam di dalam hutan yang sangat angker tersebut.
Entah sudah berapa lama Zhang Fei dan Yin Yin jatuh pingsan tak sadarkan diri. Hanya saja, saat ini rembulan sudah mulai merangkak naik ke atas.
Cahaya yang kuning pucat itu menyinari tubuh pendekar muda yang masih tak sadarkan diri.
Pada saat itu, tiba-tiba dari penghujung jalan sana terdengar adanya suara langkah kaki. Tidak lama setelah itu, dua bayangan manusia mendadak muncul dari balik kegelapan malam.
Dua orang manusia itu sedang melangkah perlahan menyusuri jalanan setapak yang sepi tersebut. Ketika sampai di tempat yang cukup terang, mulailah terlihat dengan jelas bahwa kedua orang itu berusia cukup tua.
Mereka mengenakan pakaian abu-abu lusuh yang sudah dipenuhi oleh tambalan. Seluruh badannya kotor akibat debu jalanan. Masing-masing dari keduanya juga menggenggam sebatang tongkat yang terbuat dari bambu hijau.
Kalau dipandang lebih teliti, sepertinya mereka itu adalah dua orang pengemis.
"Adik Te, lihat ke sana. Bukankah itu manusia?" tanya pria tua yang berada di sebelah kanannya.
"Mana, Kakak Ting?" tanya pengemis di sisinya.
"Itu, di sana!" orang yang dipanggil Kakak Ting menunjuk ke tempat yang dimaksud.
"Ah, benar. Mari kita ke sana,"
Dua pengemis itu kemudian berlarian ke tempat di mana Zhang Fei dan Yin Yin jatuh pingsan. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, maka keduanya sudah tiba di sana.
"Kakak Ting, mereka masih muda,"
"Benar, Adik Te," si Kakak Ting mengangguk. Bersamaan dengan itu, dia juga tampak menyelidiki wajah kedua pendekar muda tersebut.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja Kakak Ting berseru tertahan.
"Ah ..."
"Ada apa, Kakak Ting?"
"Adik Te, sepertinya aku kenal siapa mereka. Terutama sekali gadis ini," katanya menjelaskan.
"Benarkah? Siapa dia?"
"Aih, kau ini. Coba lihat, bukankah gadis tersebut adalah Nona Yin, cucu dari Ketua Chen Mu Bai?"
__ADS_1
Adik Te kemudian memandang penuh selidik. Sesaat kemudian dia pun langsung berseru kaget seperti halnya di Kakak Ting sebelumnya.
"Benar, Kakak Ting. Dia memang Nona Yin,"
"Cepat, cepat kita bawa mereka berdua ke markas,"
Kedua orang yang ternyata masih merupakan anggota Partai Pengemis tersebut segera mengangkat Zhang Fei dan Yin Yin. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, mereka langsung membawanya menuju ke markas cabang Partai Pengemis.
Markas cabang yang dimaksud tidak terlalu jauh. Jaraknya berada di perbatasan antara kampung dan kota sekitar. Ketika mereka berdua tinta, anggota yang lainnya terkejut.
Kakak Ting dan Adik Te langsung dihujani pertanyaan oleh anggota yang lain.
"Kakak Ting, siapa kedua pendekar muda itu?"
"Mengapa mereka bisa jatuh pingsan?"
"Jangan terlalu mudah menolong orang, di zaman saat ini yang dianggap baik pun bisa jadi jahat,"
Pertanyaan dan ucapan-ucapan seperti itu terdengar tiada henti. Tapi Kakak Ting dan Adik Te tidak menghiraukan itu semua. Mereka mengabaikannya begitu saja dan terus berjalan masuk ke dalam.
"Siapa mereka berdua?" tanya anggota Partai Pengemis yang bertugas menjaga pintu utama.
"Baiklah, baiklah. Tunggu sebentar," selesai berkata, dia langsung masuk ke dalam secara terburu-buru.
Dengan bantuan beberapa orang anggota partai, hanya dalam waktu singkat saja mereka sudah berhasil menyelesaikan persiapan.
Dua buah pembaringan di satu ruangan sudah tersedia. Setelah itu, Kakak Ting dan Adik Te segera membawa Zhang Fei serta Yin Yin ke dalam.
Dua orang muda-mudi tersebut kemudian dibaringkan di sana.
Sekarang, yang ada di ruangan hanya dua orang itu saja. Para penjaga tadi telah keluar dan melanjutkan tugasnya lagi.
Berselang beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang pria tua berusia enam puluh tahun masuk ke ruangan.
"Ketua Bu," Kakak Ting dan Adik Te memberikan hormat ketika melihat orang tua itu masuk.
Dia bukan lain adalah Ketua Cabang Partai Pengemis yang terdapat di kota tersebut. Namanya Bu Keng, meskipun sekarang usianya telah menginjak tujuh puluhan, tapi orang tua yang biasa dipanggil Ketua Bu itu masih terlihat segar bugar.
Saat ini Ketua Bu Keng sedang memandangi wajah Zhang Fei dan Yin Yin secara bergantian. Ia beberapa kali menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Di mana kalian menemukan mereka?"
"Kami menemukannya di pinggir hutan, Ketua," jawab Kakak Ting.
"Saat itu, apakah mereka sudah tak sadarkan diri?"
"Benar. Ketika menemukannya, mereka sudah jatuh pingsan. Karena kami mengenali bahwa gadis itu adalah Nona Yin, cucu dari Ketua Chen Mu Bai, maka dengan cepat saja kami langsung membawanya kemari,"
"Kalian belum sempat memeriksanya?"
"Belum, Ketua Bu,"
"Baiklah. Tolong obati mereka dengan baik. Sementara aku akan mengirimkan selembar surat untuk Ketua Bai,"
Dua orang tersebut mengangguk. Mereka segera mempersiapkan peralatan untuk merawat luka-luka yang terdapat di tubuh Zhang Fei dan Yin Yin.
Sedangkan Ketua Bu sendiri, setelah menurunkan perintah, dia langsung menuliskan sepucuk surat yang akan ditujukan langsung untuk Chen Mu Bai si Pengemis Tongkat Sakti.
Dengan jaringan Partai Pengemis yang sangat luas dan tersedia di setiap tempat, rasanya untuk menemukan keberadaan orang tua itu bukan suatu hal yang sulit.
Sekitar lima belas menit kemudian, Ketua Bu telah selesai menuliskan suratnya. Ia lalu memanggil satu orang anggota yang akan disuruh untuk mengantarkan surat tersebut.
"Berikan surat ini kepada Ketua Bai. Aku ingin dia menerima suratnya paling lambat dua hari dari sekarang," kata Ketua Bu sambil memberikan surat kepada anggota itu.
"Baik, Ketua. Aku mengerti," katanya penuh hirmat. Ia kemudian langsung pamit undur diri detik itu juga.
###
Tanpa terasa dua hari sudah berlalu kembali. Saat itu Chen Mu Bai atau yang biasa disapa Pengemis Tongkat Sakti kebetulan sedang melakukan pengembaraan.
Pada dasarnya, dia adalah orang yang paling suka bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Selain untuk menambah pengalaman atau mengunjungi tempat-tempat yang indah dan mendatangi markas cabang Partai Pengemis, tujuan lain dia melakukan itu adalah untuk memeriksa keamanan dunia persilatan.
Sejak usianya masih berusia muda sampai sekarang, Pengemis Tongkat Sakti masih sering melakukan hal tersebut.
Maka dari itulah, tidak lama setelah dilantik menjadi Ketua Partai Pengemis, secara tidak langsung dirinya telah menyerahkan segala urusan partai kepada Wakil Ketua atau kepada petinggi lainnya.
Sekarang waktu masih menunjukkan pagi hari. Pengemis Tongkat Sakti sedang berjalan di sebuah kota besar yang bernama Han Cu.
Kota Gi Nian Jing adalah salah satu kota yang jaraknya cukup jauh dari Kotaraja. Dia sengaja mendatangi kota itu karena mendengar bahwa di sana terdapat kelompok aliran hitam yang sering melakukan tindak kejahatan.
__ADS_1
Kebetulan, di Kota Gi Nian Jing juga terdapat salah satu markas cabang Partai Pengemis. Maka dirinya memutuskan untuk sekalian datang mengunjunginya.