Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dendam Kesumat yang Terbalaskan


__ADS_3

Biksu Sembilan Nyawa tidak berkata lagi. Dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


Dalam hati, tokoh sesat itu benar-benar kesal kepada Pendekar Pedang Perpisahan karena telah menggagalkan usahanya.


Padahal kalau tidak ada dia, sudah pasti serangan barusan akan memberikan hasil yang memuaskan. Hasil sesuai harapannya!


Apalagi sebelum melakukan serangan tersebut, Biksu Sembilan Nyawa telah memperhitungkan segalanya. Baik itu keadaan, kecepatan, maupun ketepatannya.


Namun sangat disayangkan sekali, semua perhitungan tersebut, langsung runtuh setelah adanya Pendekar Pedang Perpisahan!


"Apakah kau ingin membunuh Ketua Dunia Persilatan?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan lebih lanjut.


"Ya, aku memang ingin membunuhnya. Bahkan sudah sejak lama," jawab tokoh sesat itu dengan jujur.


"Bagus, kalau begitu, silahkan saja. Tapi dengan syarat, langkahi dulu mayatku,"


"Apa maksudmu?"


Biksu Sembilan Nyawa kaget ketika mendengar ucapan itu. Dia menganggap bahwa Pendekar Pedang Perpisahan sedang bercanda.


"Apakah kau masih belum mengerti?"


"Hemm ... jangan bercanda. Mana mungkin aku bisa melangkahi mayatmu?"


Walaupun dia sendiri adalah seorang Datuk Dunia Persilatan, tetapi untuk bisa mengalahkan Pendekar Pedang Perpisahan, rasanya itu adalah suatu hal yang sangat mustahil.


Perbedaan di antara mereka memang tidak terlalu jauh. Tetapi Pendekar Pedang Perpisahan mempunyai beberapa kelebihan dan keistimewaan yang tidak dimiliki olehnya sendiri.


"Aku tidak bercanda," jawabnya dengan ekspresi wajah serius. "Mungkin atau tidak mungkin, kau harus tetap melakukannya. Bukankah, kau ingin membunuh Ketua Dunia Persilatan?"


Biksu Sembilan Nyawa kembali terdiam. Setelah melihat keseriusan itu, dia baru percaya bahwa Pendekar Pedang Perpisahan memang tidak bercanda.


Sementara di sisi lain, para tokoh yang menyaksikan dan mendengarkan percakapan di antara mereka, seketika merasa terharu.


Siapa pun tidak akan menyangka bahwa Pendekar Pedang Perpisahan ternyata mempunyai kepedulian sebesar itu kepada Zhang Fei.


Padahal kalau diingat beberapa waktu lalu, ia pun ingin membunuhnya. Siapa nyana, selayang malah sebaliknya.


Ternyata benar apa kata pepatah kuni. Dunia itu pasti berputar. Manusia pun pasti berubah.


Pandangan buruk yang dulu selalu dilimpahkan kepada Pendekar Pedang Perpisahan, sekarang sudah sirna sama sekali.

__ADS_1


Para Datuk Dunia Persilatan aliran putih percaya bahwa tokoh sesat itu benar-benar telah berubah.


Walaupun dia belum mau mengubah haluannya dalam dunia persilatan, tapi setidaknya, apa yang ada di dalam diri orang tua itu sudah mengalami perubahan besar.


Dan semua hal tersebut disebabkan oleh seorang anak muda bernama Zhang Fei!


"Mengapa kau masih diam?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan setelah sekian lama Biksu Sembilan Nyawa tidak kunjung menyerang.


"Aku masih ragu," jawab datuk sesat tersebut.


"Kau masih ragu? Baiklah. Kalau begitu, biarkan aku yang akan menghilangkan sendiri keraguan tersebut,"


Sringg!!!


Pendekar Pedang Perpisahan langsung mencabut senjatanya. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, dia langsung menurunkan jurus pamungkas dan menyerang ke arah Biksu Sembilan Nyawa!


Wushh!!!


Tubuhnya seakan lenyap ditelan bumi. Satu kedipan mata kemudian, Pendekar Pedang Perpisahan tahu-tahu sudah muncul di hadapan lawannya.


Biksu Sembilan Nyawa kaget. Buru-buru dia melompat supaya bisa selamat dari serangan itu. Namun sayangnya dia sedikit terlambat. Ujung pedang tersebut berhasil merobek pakaian di bagian pinggangnya.


Darah segar langsung terlihat meleleh keluar. Walaupun tidak banyak, tapi hal itu sudah cukup untuk membuatnya jeri.


Pendekar Pedang Perpisahan tidak mau berhenti sampai di situ saja. Dia kembali menyerang dengan berbagai macam gerakan yang cepat dan sulit dibaca.


Dalam waktu beberapa jurus saja, Biksu Sembilan Nyawa langsung terdesak. Dia tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya menghindar.


Karena tidak ingin mati konyol. Pada akhirnya terpaksa dia pun mengambil langkah akhir.


"Kalau kita memang ditakdirkan untuk saling membunuh, baiklah. Aku akan melayani keinginanmu. Semoga Buddha mengampuni kesalahan kita berdua," ujar Biksu Sembilan Nyawa sambil berteriak cukup keras.


Wushh!!!


Dia melompat tinggi. Kalung tasbih yang besar itu segera digenggam oleh tangan kanannya.


Wungg!!! Wungg!!!


Kalung tasbih berputar-putar. Benturan antara pedang dan kalung terus terjadi.


Pendekar Pedang Perpisahan tersenyum dingin. Walaupun jurus lawan sangat hebat, tapi hal itu masih belum cukup untuk mendesaknya.

__ADS_1


Kedua Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu terus bertempur dengan sengit. Mereka saling serang tanpa berhenti.


Tidak jauh dari sisinya, ada pula Zhang Fei dan Dewa Sesat Tiada Tanding yang juga sedang bertukar jurus.


Jalannya pertarungan mereka berdua hampir berbarengan dengan pertarungan yang melibatkan dua datuk sesat tersebut.


Bedanya, begitu pertarungan dilanjutkan kembali, Zhang Fei sudah berhasil mendominasi. Ia terus mendesak lawan dengan jurus Murka Pedang Dewa.


Setelah mencapai lima belas jurus, secara tiba-tiba ia mengubah gaya bertarungnya.


Pedangnya berkelebat secepat kilat. Tubuhnya juga menghilang tanpa jejak.


Dewa Sesat Tiada Tanding tidak mampu menyaksikan baik itu serangan maupun tubuh Zhang Fei. Di matanya, Ketua Dunia Persilatan seolah-olah memang lenyap.


Dia hanya mampu melihat kelebatan cahaya putih keperakan yang terus-menerus mencecar ke arahnya.


Suara dentingan nayring terdengar begitu keras. Lima jurus kemudian, tiba-tiba ada darah segar yang muncrat dengan jumlah banyak.


Ketika suasana kembali normal seperti semua, semua orang dapat melihat bahwa darah segar itu ternyata milik Dewa Sesat Tiada Tanding.


Ketua Partai Panji Hitam tersebut tewas dengan kepala lepas dari tempatnya. Kepala itu menggelinding dan jatuh tepat di bawah kaki Biksu Sembilan Nyawa.


Sepasang matanya masih melotot. Keningnya mengencang seolah-olah Dewa Sesat Tiada Tanding tidak percaya dengan kejadian yang menimpa dirinya.


Sedangkan di tempat tadi, tubuh tanpa kepala itu langsung ambruk ke tanah. Darah segar masih terus keluar dari bekas kutungan lehernya.


Tidak jauh dari dana, ada Zhang Fei yang sedang berdiri tegak seperti sebatang tombak. Nafasnya sedikit tersengal. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh.


Pedang Raja Dewa yang masih digenggam di tangan kanan, tampak meneteskan darah dari musuh bebuyutannya.


"Ayah, Ibu. Kalian semua ... lihatlah, aku telah berhasil membalaskan dendam kesumat ini. Aku telah berhasil menebas kepala orang yang telah membunuh kalian semua. Sekarang ... beristirahatlah dengan tenang. Sebab dendam kalian sudah terbalas," gumam Zhang Fei persis di hadapan tubuh Dewa Sesat Tiada Tanding.


Setelah selesai berkata seperti itu, sekulum senyuman kebahagiaan tiba-tiba terlihat di bibir Zhang Fei. Rasa lelah dan letihnya hilang. Luka-luka akibat pertarungan tadi, seolah-olah tidak dirasakannya sama sekali.


Rasa lelah itu, rasa letih dan luka-luka itu, semuanya sudah terbayarkan dengan dendamnya yang terbalas!


Di sisinya, hampir secara bersamaan, pertarungan antara Pendekar Pedang Perpisahan yang melawan Biksu Sembilan Nyawa juga akan berakhir.


Biksu sesat itu memutuskan tali kalung dan melemparkan puluhan biji tasbih dengan ukuran besar ke arah lawan.


Puluhan biji tasbih tersebut melesat bagaikan kilat. Andi ada satu biji saja yang mengenai tubuh, niscaya tubuh itu akan langsung bolong.

__ADS_1


Sebab bukan saja bahannya yang istimewa, bahkan di dalamnya juga terkandung dorongan tenaga sakti yang dahsyat.


Untunglah Pendekar Pedang Perpisahan mampu menghadapi serangan pamungkas tersebut.


__ADS_2