
"Eh, tunggu dulu, Tuan Muda. Aku juga ikut," kata si Tua Cun sambil melompat turun.
Kuda yang mereka tunggangi dibiarkan merumput di sekitar halaman depan bangunan. Sedangkan dia sendiri segera berlari ke arah Zhang Fei.
Kondisi bangunan megah yang dikatakan bekas markas Partai Panji Hitam itu ternyata masih cukup kokoh. Belum terlihat ada banyak kerusakan di setiap tempatnya.
Hanya saja memang, di sana-sini sudah ada banyak sarang laba-laba. Tidak hanya itu, bahkan di bangunan terbengkalai itu ada juga puluhan kelelawar.
Zhang Fei sendiri sempat dibuat kaget karena rombongan kelelawar yang terdapat di sana tiba-tiba terbang keluar secara bersamaan ketika dirinya masuk.
"Ternyata bangunan ini masih kokoh, Paman," ujarnya perlahan.
"Benar, Tuan Muda. Hanya saja sudah tidak terurus lagi,"
Anak muda itu menganggukkan kepala. Dia tidak bicara lebih jauh lagi.
Tiba-tiba langkah Zhang Fei berhenti. Firasatnya mengatakan bahwa di dalam sana ada orang lain selain mereka berdua. Apalagi dia sempat melihat bayangan manusia yang berkelebat di tempat gelap.
"Paman, mari kita pulang saja. Aku sudah merasa lelah. Besok kalau masih ada kesempatan, aku ingin kau mengajakku berkeliling lagi," katanya seraya membalikkan badan.
"Tentu, Tuan Muda. Kau bisa menemuiku di tempat kemarin," ujarnya.
Ia seketika menghela nafas lega setelah Zhang Fei memutuskan untuk keluar. Beban berat yang tadi menindih pundaknya, seolah-olah mendadak lenyap begitu saja.
Sekitar lima menit kemudian, mereka sudah berada di jalanan setapak kembali. Kali ini, dua ekor kuda itu berjalan cukup cepat. Malah setengah berlari.
Di sepanjang perjalanan, si Tua Cun tidak banyak bicara. Begitu juga dengan Zhang Fei.
Khusus untuk anak muda itu sendiri, ia merasa sedikit curiga terhadap bangunan tadi. Menurutnya, di sana masih ada orang yang tinggal.
Tapi siapakah orang itu?
'Aku harus menyelidikinya lebih jauh lagi,' batinnya berkata.
Ia berniat akan mencari informasi tentang bangunan itu lebih lanjut.
"Paman, hari sudah sore. Ayo kita percepat lari kuda ini,"
"Baik, Tuan Muda,"
Dua ekor kuda segera berlari dengan kencang seperti angin. Kepulan debu yang tercipta langsung membumbung tinggi ke angkasa.
Tepat ketika matahari sore sudah tenggelam, pada saat itu mereka sudah tiba di penginapan.
__ADS_1
Namun, Zhang Fei tidak langsung masuk ke sana. Ia lebih dulu meminta si Tua Cun membawanya ke restoran ternama. Setelah selesai mengisi perut, dirinya lalu memberikan upah kepada orang tua itu.
"Terimakasih, Tuan Muda. Terimakasih" ujar si Tua Cun sangat senang karena Zhang Fei memberikan bayaran lebih.
"Sama-sama, Paman. Ah, iya, malam ini aku ingin istirahat. Nanti kalau masih ingin jalan-jalan, aku pasti akan menemuimu lagi,"
"Baiklah, Tuan Muda. Kapan pun itu, aku siap menemanimu," jawabnya tertawa.
Kedua orang itu akhirnya berpisah. Zhang Fei pun langsung masuk ke kamarnya.
Di sana, ia terdiam cukup lama sambil memandangi langit yang gelap. Benaknya sedang bertanya-tanya tentang bangunan tua tadi.
Benarkah bangunan itu bekas markas Partai Panji Hitam? Sungguhkah di sana masih ada orang yang tinggal?
Pertanyaan-pertanyaan yang pernah muncul sebelumnya, kini tiba-tiba kembali lagi. Rasa penasarannya semakin menggebu.
"Sepertinya aku memang harus ke sana," gumamnya seorang diri.
Tekadnya sudah bulat. Dia ingin mengobati rasa penasaran tersebut.
Tetapi sebelum melakukan itu, Zhang Fei ingin tidur barang sebentar. Matanya sudah perih, apalagi beberapa hari belakangan dirinya memang kurang tidur.
###
Saat ini sudah tengah malam. Zhang Fei belum lama bangun dari tidurnya.
Wushh!!! Wushh!!!
Zhang Fei segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Ia melesat dari satu atap ke atap yang lainnya. Dirinya bagaikan bayangan setan yang tidak bisa dihentikan.
Lima belas menit kemudian, ia sudah tiba kembali di bangunan tua terbengkalai itu.
Keadaan di sana terasa lebih menyeramkan. Hawa dingin yang menusuk tulang, terasa dengan sangat jelas.
Suara binatang malam terdengar bersahutan. Zhang Fei masih berdiri di halaman depan. Ia sedang memantapkan tekadnya.
Beberapa kejap kemudian, anak muda itu mulai masuk ke dalam sana.
Anehnya begitu tiba di tengah ruangan, ternyata keadaan di dalam tidak segelap yang dia bayangkan. Di sana ada belasan lilin yang menyala terang. Api bergoyang-goyang tertiup angin malam yang dingin.
Zhang Fei mulai mengawasi keadaan sekitar. Di bisa melihat ada jejak kaki di beberapa tempat. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam bangunan tersebut memang ada orang yang tinggal.
"Siapa di dalam?" tanyanya dengan suara cukup keras.
__ADS_1
Tidak ada jawaban. Hanya ada suara tikus yang sedang saling kejar bersama rekannya.
Perlahan-lahan anak muda itu masuk semakin dalam. Ke tempat gelap di mana saat siang hari tadi dia melihat adanya bayangan manusia.
Ternyata di sana masih ada lagi satu ruangan yang menyeramkan. Ruangan itu sangat-sangat gelap. Sehingga kalau masuk ke sana, niscaya tidak akan bisa melihat apa-apa. Bahkan melihat jari tangan sendiri pun, mungkin tidak bisa.
Namun, Zhang Fei justru semakin curiga. Sebab dia merasakan ada hawa manusia yang terasa dengan jelas.
Para saat dirinya sedang konsentrasi, tiba-tiba seluruh lilin yang tadi menyala terang, padam secara bersamaan.
Wushh!!! Wushh!!
Suara desingan angin tajam terdengar. Seketika Zhang Fei merasakan ada bahaya yang sedang mengancam dirinya. Dia pun bisa merasakan hawa pembunuh. Walaupun sangat tipis, namun baginya sudah lebih daripada cukup.
Wutt!!!
Ia menggerakkan kedua tangannya. Segulung angin menerjang keluar. Desingan angin tajam tadi sirna begitu saja. Disusul kemudian dengan suara nyaring yang terdengar beberapa kali.
Ia membungkukkan tubuhnya dan mengambil benda tersebut. Setelah diteliti, ternyata benda itu mirip senjata rahasia. Tapi jelas bukan jarum.
Benda itu mempunyai sisi lima bagian. Setiap ujungnya sangat runcing dan tajam.
"Bintang Segi Lima!" ujarnya cukup terkejut.
Wushh!!!
Untuk yang kedua kalinya, suara desingan angin tajam kembali terdengar. Tapi suara kali ini terasa lebih keras dan banyak. Malah suara itu berasal dari empat penjuru mata angin.
Bahaya semakin mengancam. Posisi anak muda itu benar-benar diujung tanduk.
Sringg!!!
Karena situasinya sudah tidak memungkinkan, akhirnya Zhang Fei memilih untuk mengeluarkan Pedang Raja Dewa. Setelah semata itu keluar, dengan cepat ia langsung menyambut semua suara desingan tajam tersebut.
Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Benda yang mengancamnya mulai berjatuhan ke lantai. Untuk beberapa saat dirinya terus menggerakkan pedang agar bisa selamat dari maut.
Srett!!!
"Uhh ..." Zhang Fei mengeluh tertahan. Pangkal lengan kirinya tiba-tiba terasa perih. Begitu dipegang, ternyata sudah ada darah yang keluar.
'Sialan,' makinya dalam hati.
__ADS_1
Anak muda itu merasa kesal. Dalam kondisi gelap gulita seperti ini, walaupun kemampuannya sudah tinggi, tapi ia tidak bisa berbuat leluasa.
Meskipun matanya sudah terlatih dalam keadaan gelap, tapi rupanya mata orang yang menyerangnya masih lebih tajam daripada mata dia sendiri.