
Sementara berbarengan dengan percakapan tersebut, keadaan di halaman luas Gunung Lima Jari sudah semakin kacau. Teriakan kesakitan dan kematian para pendekar semakin terdengar menggema.
Suara-suara semacam itu tidak pernah berhenti. Layaknya suara benturan antara senjata dan jurus dari masing-masing pendekar.
Entah sudah berapa banyak pendekar dunia persilatan yang terluka. Entah sudah berapa banyak pula korban jiwa yang tercipta akibat perebutan tersebut.
Malam semakin larut. Cahaya rembulan tiba-tiba lenyap.
Dua buah kotak hitam berukuran cukup besar tadi, sekarang entah berada di mana. Saat ini semua orang sedang bertarung dengan siapa saja yang ditemui.
"Anak Fei, kita harus bergerak sekarang juga," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan ekspresi wajah serius.
"Baik, Tuan,"
Dua orang itu langsung melakukan persiapan. Entah apa yang akan dilakukan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan. Yang jelas, Zhang Fei akan menuruti setiap kata yang nantinya dia perintahkan.
"Nona Mei, bagaiamana denganmu?" tanya Zhang Fei sambil melirik ke arahnya.
"Aku akan ikut bersama kalian," jawab gadis cantik itu dengan sungguh-sungguh.
"Bagus,"
Sementara itu, Kiang Ceng saat ini sedang memandang tajam ke seluruh area halaman. Dia juga melirik ke arah goa besar yang berdiri.
Tepat pada saat dirinya akan bergerak, tiba-tiba saja beberapa buah benda dari dalam pintu goa kembali melesat secepat kilat ke atas sana.
Benda itu mirip seperti kembang api di tahun baru. Begitu tiba di tengah halaman, mendadak sebuah ledakan besar terdengar bersahutan.
Tidak lama setelah itu, asap merah yang sangat pekat langsung menyelimuti seluruh area sekitar.
"Mundur!" seru Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada dua muda-mudi di sisinya.
Wushh!!!
Secara serempak mereka mengambil langkah mundur. Ketiganya baru berhenti setelah berada dalam jarak yang aman.
__ADS_1
Sementara di tengah halaman, kini asap merah itu sudah memenuhi seluruh area dengan pekat. Di sana sangat gelap. Tidak terlihat apa-apa lagi.
Suara hiruk-pikuk para pendekar kembali terdengar. Pertarungan yang sebelumnya berlangsung di setiap titik, kini tiba-tiba saja berhenti.
Semua orang kebingungan. Mereka tidak tahu asap merah itu berasal dari sana.
Hanya saja, kini secara tiba-tiba semua orang hal yang sama. Tubuh mereka terasa lemas lunglai. Tenaga dalam dan tenaga saktinya hilang entah ke mana.
Wutt!!! Wutt!!!
Ketika area itu diselimuti oleh asap merah, ribuan titik hitam kembali melesat keluar dari dalam mulut goa. Detik selanjutnya, dari empat penjuru yang masih berada dalam jangkauan, muncul juga berbagai macam senjata rahasia.
Semua senjata rahasia itu bergerak dengan sangat cepat. Dalam suasana seperti itu, walaupun para pendekar yang hadir merupakan tokoh kelas atas, tentu mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Suara teriakan yang memilukan hati terdengar. Suara itu melengking tinggi, pertanda bahwa para pendekar mulai menemui ajalnya.
"Tuan Kiang, apa yang telah terjadi di sana?" tanya Zhang Fei sangat terkejut.
"Apa yang telah kau katakan tadi, kini benar-benar terjadi, anak Fei. Dalang dibalik layar sudah mulai melancarkan rencana berikutnya. Para pendekar yang ada di halaman, pasti akan tewas,"
Zhang Fei dan Yao Mei semakin terkejut. Keduanya memandang ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan tatapan tidak percaya.
Walaupun mereka sudah sering membunuh manusia, tapi rasanya selama hidup, muda-mudi itu belum pernah menyaksikan ada pembunuhan sekejam ini.
Bukan hanya mereka saja yang merasakan hal seperti itu, malah Dewa Arak Tanpa Bayangan sendiri tidak jauh berbeda. Hanya saja sebagai tokoh tua, dia lebih bisa menguasai dirinya.
"Tuan Kiang, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita akan terus diam di sini?" tanya Yao Mei tiba-tiba.
"Tentu saja tidak, Nona Mei. Hanya saja untuk saat ini, tidak ada hal lain lagi yang dapat kita lakukan, kecuali berdiam,"
Pada saat berkata demikian, sebenarnya hati Dewa Arak Tanpa Bayangan terasa sangat sakit seperti disayat oleh ribuan pisan.
Di depan matanya sekarang sedang terjadi pembunuhan masal, bagaiamana mungkin dia tidak merasakan sakit?
Ia bukan iblis. Dia adalah manusia. Manusia yang sama pada umumnya. Jadi, jelas dirinya pun bisa merasakan apa yang dirasakan oleh para pendekar.
__ADS_1
Tanpa sadar, Dewa Arak Tanpa Bayangan mengeluarkan tenaga dalamnya. Tanah yang ia pijak amblas sehingga terbentuk bekas telapak kakinya. Hawa di sekitar sana mendadak panas, Zhang Fei dan Yao Mei bisa merasakan kemarahan orang tua itu.
"Tuan Kiang, sebenarnya asap merah itu apa? Aku merasa baru melihatnya," kata Zhang Fei sembari mencoba menenangkan kemarahannya.
"Itu adalah sejenis asap yang biasa digunakan oleh para penjahat untuk melarikan diri. Tapi untuk yang satu ini, menurutku bukanlah asap biasa. Asap itu mengandung racun yang mampu menghilang tenaga. Saat muda dulu, aku pun pernah terjebak di dalamnya ketika bertempur melawan musuh. Tidak disangka, sekarang aku bisa melihatnya lagi," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan tanpa melirik.
"Hemm ... apakah setiap pendekar sesat mempunyai asap seperti itu?"
"Aku rasa tidak. Yang memiliki hanya orang-orang tertentu saja. Malah kalau tidak salah, di Kekaisaran kita saat ini, benda semacam itu sudah tidak ada,"
"Kalau begitu, pelakunya memang dari Kekaisaran lain," kata Yao Mei ikut nimbrung dalam pembicaraan.
"Benar," kata orang tua itu membenarkan. "Sebentar lagi asapnya akan lenyap. Kita tinggal menunggu pelaku utamanya keluar dari tempat persembunyian,"
"Baik, kami mengerti," jawab mereka secara bersamaan.
Tiga orang tersebut kembali terdiam. Masing-masing dari mereka menatap ke halaman luas tanpa berkedip. Sesekali, ketiganya juga melirik ke arah goa, barangkali dari dalam sana akan ada sesuatu yang terjadi lagi.
Sementara di tengah halaman, teriakan yang tadi menggema, kini mulai reda. Suara nyaring yang sebelumnya terdengar, sekarang sudah mulai tidak terdengar lagi.
Sepertinya lebih dari sebagian para pendekar itu sudah kehilangan nyawanya.
Hawa kematian tiba-tiba terasa sangat pekat. Pekat seperti kabut di malam ini. Asap merah yang tadi menyelimuti seluruh area, sekarang mulai memudar.
Walaupun keadaan di sana masih remang-remang, tapi Zhang Fei dan yang lainnya mulai bisa melihat keadaan di sana.
Seketika mereka langsung terpaku di tempatnya masing-masing saat menyaksikan pendekar yang jumlahnya hampir seratus orang itu telah bergelimpangan tanpa nyawa.
Puluhan senjata jatuh di sana sini. Darah segar menggenangi tempat sekitar.
Sungguh, pemandangan kali ini merupakan pemandangan paling mengerikan yang pernah mereka lihat seumur hidupnya!
Saat itu Zhang Fei sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia siap untuk menerjang langsung dan menyerang ke dalam goa.
Tapi sebelum niatnya terlaksana, Dewa Arak Tanpa Bayangan telah menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Jangan gegabah, anak Fei. Kau harus menuruti semua ucapanku," katanya sambil menatap tajam.
"Ba-baiklah, Tuan. Maafkan aku," jawab Zhang Fei sambil menundukkan kepala.