Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Melawan Pendekar Elit Istana Kekaisaran II


__ADS_3

"Pemenang dalam pertarungan pertama ini adalah Tuan Muda Fei," juru bicara berteriak dengan sangat lantang ketika mengumumkan pemenang.


Sorak-sorai di tengah-tengah kerumunan orang langsung terdengar meriah. Banyak dari mereka yang merasa senang karena Zhang Fei bisa mengalahkan Pendekar Tangan Raja.


Namun tidak seidkit pula yang merasa tidak senang karena dengan alasan sudah tidak suka terhadapnya.


Sementara itu, setelah hasil diumumkan, Zhang Fei segera berjalan ke tengah arena. Dia membungkukkan badan di hadapan Pendekar Tangan Raja.


"Terimakasih karena Tuan sudah mau bermurah hati," katanya sungguh-sungguh.


"Kemampuanmu aku rasa sudah lebih dari cukup. Tapi ingat, di atas langit masih ada langit," jawab Pendekar Tangan Raja setelah membalas penghormatan tersebut.


"Terimakasih, Tuan. Aku pasti akan selalu mengingat pesanmu,"


Pendekar Tangan Raja membalas dengan senyuman ramah. "Hati-hati, kemampuan Pendekar Pedang Tetesan Darah berada di atas kemampuanku sendiri,"


"Baik, aku akan lebih waspada lagi,"


Setelah berbicara beberapa saat, Pendekar Tangan Raja pun segera kembali ke posisi semula.


Zhang Fei sendiri saat itu langsung bermeditasi untuk mengembalikan tenaganya yang sudah hilang.


Perlu diingat, alasan kenapa Zhang Fei memilih Pendekar Tangan Raja sebagai lawan pertama, sedikit banyak adalah karena dia yakin bisa mengalahkannya.


Sejak awal Zhang Fei sudah menduga bahwa kemampuan Pendekar Pedang Tetesan Darah itu lebih tinggi daripada rekannya. Siapa nyana, ternyata dugaan tersebut benar-benar terbukti.


Dalam hati, Zhang Fei tidak memiliki kepercayaan penuh bisa mengalahkannya dalam waktu singkat. Akan tetapi, sekarang ia sudah punya bekal tambahan untuk menghadapi Pendekar Pedang Tetesan Darah.


"Tuan Muda Fei, apakah kau siap?" tanya juru bicara.


"Ya, aku siap,"


"Baiklah. Pendekar Pedang Tetesan Darah, silahkan memasuki arena pertarungan,"


Orang yang dituju langsung berjalan. Dia baru berhenti setelah berada di hadapan Zhang Fei. Jarak keduanya hanya terpaut sekitar lima langkah saja.


Sringg!!! Sringg!!!


Dua batang pedang pusaka yang luar biasa susah dicabut dari sarungnya. Masing-masing pusaka itu memiliki kelebihan tersendiri.

__ADS_1


Khusus untuk pihak lawan, selain hebat, ternyata senjatanya juga sedikit unik.


Kalau diperhatikan lebih lanjut, tepat di tengah-tengah batang pedangnya terlihat ada tetesan noda darah yang sudah menyatu dengan logam, sehingga sudah tidak bisa dihapuskan lagi.


"Ah, itu adalah Pedang Tetesan Darah yang sudah hilang sejak puluhan tahun lalu," kata Orang Tua Aneh Tionggoan kaget saat menyadarinya.


"Benar, itu adalah Pedang Tetesan Darah yang sudah banyak membunuh manusia, bahkan membunuh penciptanya sendiri. Tidak disangka, hari ini aku akan melihatnya kembali," sambung Dewi Rambut Putih merasakan Hal serupa.


"Siapa sebenarnya orang itu? Mengapa dia bisa memiliki Pedang Tetesan Darah?" Pendekar Tombak Angin merasa penasaran. Dia ingin tahu latar belakang pemiliknya.


"Dia adalah keturunan pendekar pedang di masa lalu. Katanya, ia mendapatkan pedang itu secara tidak disengaja. Aku sendiri sengaja membawanya ke Istana Kekaisaran dan dijadikan pendekar elit. Aku takut kalau dibiarkan berkelana diluar sana, dia akan menjadi seorang pembunuh,"


Kaisar Song Kwi Bun yang sejak tadi diam pun ikut berbicara setelah mendengar perbincangan di antara Empat Datuk Dunia Persilatan.


"Walaupun orang-orang di masa lalu menyebutnya sebagai pedang kutukan, tapi asal ada di tangan orang yang benar, aku rasa kutukan itu akan hilang dengan sendirinya," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan ikut memberikan pendapat. "Tapi sehebat apapun pedang tersebut, pasti tidak akan sanggup mengalahkan Pedang Raja Dewa," dia melanjutkan ucapannya dengan penuh keyakinan.


Sementara itu di tengah-tengah arena pertarungan, kini kedua pendekar yang akan terlibat sudah siap dengan senjatanya masing-masing.


"Mulai!" kata juru bicara memulai pertarungan.


Wutt!!! Trangg!!!


Dua bayangan manusia melesat secara bersamaan. Benturan antar pedang pun langsung terjadi seketika.


Kebanyakan dari mereka saat ini sedang menahan nafasnya. Menurut orang-orang persilatan yang hadir, rasanya pertarungan ini akan berlangsung lebih seru dari sebelumnya.


Wushh!!!


Zhang Fei menarik langkah mundur. Dia berniat untuk mengeluarkan salah satu jurus pedang andalannya.


Tetapi sebelum berhasil melakukan itu, tahu-tahu Pendekar Pedang Tetesan Darah sudah tiba di depan mata. Dia mengirimkan tebasan cepat dari kanan ke kiri yang mengarah ke leher.


Wutt!!!


Zhang Fei menarik kepalanya. Ujung pedang lawan lewat beberapa senti di depan wajah.


Tidak berhenti sampai di situ, Pendekar Pedang Tetesan Darah kembali melanjutkan serangannya. Pedang tersebut tiba-tiba diputarkan ke depan dan langsung menusuk ke arah leher.


Melihat gerakan yang tidak diduga tersebut, Zhang Fei langsung panik. Untunglah Pedang Raja Dewa memberikan reflek secara otomatis.

__ADS_1


Benturan pedang kembali terjadi. Zhang Fei terdorong beberapa langkah.


"Amarah Pedang Kutukan!"


Wutt!!! Wungg!!!


Pedang Tetesan Darah menusuk sangat cepat. Serangan beruntun segera datang menerjang Zhang Fei. Cepatnya serangan itu tidak bisa dilukiskan.


Zhang Fei sendiri hampir termakan pedangnya. Untung ilmu meringankan tubuh yang dia miliki sudah tinggi, sehingga ia bisa menyelamatkan nyawanya sendiri.


Dalam pada itu, Pendekar Pedang Tetesan Darah semakin gencar menyerangnya. Ia seperti setan yang mengamuk. Semakin bertambahnya waktu, semakin bertambah cepat dan hebat pula setiap serangannya.


Belasan jurus lamanya Zhang Fei dipaksa berada di posisi bertahan. Ia tidak bisa lagi melakukan apa-apa.


Tubuhnya sudah mengalami cukup banyak luka goresan. Walaupun tidak terlalu dalam, tapi sudah cukup mendatangkan rasa sakit yang lumayan.


Srett!!!


Pendekar Pedang Tetesan Darah tiba-tiba memutarkan tubuh. Ujung pedangnya mengenai pangkal lengan kiri Zhang Fei.


Ia menjerit tertahan sambil melompat mundur. Darah segar keluar dari mulut luka itu.


Pada waktu yang bersamaan, Pendekar Pedang Tetesan Darah sudah menerjang kembali ke arahnya.


Zhang Fei mengambil tindakan cepat. Dia berteriak nyaring sambil mengeluarkan jurus Murka Pedang Dewa!


Sekarang, dua jurus pamungkas yang sangat dahsyat sudah beradu satu sama lain. Hawa pedang yang dikeluarkan membuat lutut terasa lemas. Para pendekar kelas rendah atau orang-orang awam langsung mundur supaya tidak terkena imbasnya.


Di tengah-tengah arena pertarungan, dua pendekar yang terlibat sudah tidak nampak lagi. Orang-orang hanya mampu menyaksikan sinar-sinar yang diciptakan dari dua batang pedang pusaka tersebut.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Srett!!! Slebb!!!


Suara-suara seperti itu terdengar cukup keras. Setelahnya, gulungan sinar yang belum lama terlihat, kini sudah hilang tanpa bekas.


Kepulan debu masih mengepul tinggi. Setelah keadaan kembali normal, semua orang segera melihat dua orang pendekar yang saling berhadapan dengan jarak dekat.


Zhang Fei masih berdiri. Ujung Pedang Raja Dewa terlihat ada di pinggir leher lawan. Di sana ada setitik bekas tusukan yang cukup dalam.

__ADS_1


Sedangkan ujung Pedang Tetesan Darah, tampak berada di sisi paha kiri Zhang Fei. Di sana juga ada bekas goresan sepanjang tiga buku jari.


"Aku kalah," kata Pendekar Pedang Tetesan Darah sambil menarik senjata pusakanya.


__ADS_2