Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kekaguman


__ADS_3

Sementara di sisi arena, bersamaan dengan kejadian yang berjalan singkat barusan, terlihat belasan orang dari Partai Pengemis dan bahkan Orang Tua Aneh Tionggoan, bengong melihat pertarungan tersebut.


Mereka tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya. Peristiwa itu seolah-olah merupakan mimpi. Mimpi yang sangat luar biasa.


Bagaimana bisa seorang pemuda asing seperti itu, mempunyai sebuah jurus yang sangat dahsyat? Siapa sebenarnya anak muda itu? Apakah ia berasal dari keluarga persilatan ternama? Ataukah ia mempunyai seorang guru yang berasal dari kalangan para Dewa?


Berbagai macam pertanyaan seperti itu bermunculan di benak semua orang yang ada. Sungguh, mereka dibuat penasaran oleh hal tersebut.


"Luar biasa. Pemuda itu benar-benar hebat. Aku tidak menyangka dia mempunyai jurus andalan yang sangat dahsyat," kata Pengemis Tongkat Sakti memuji Zhang Fei.


Sungguh, dia benar-benar kagum kepada jurus pedang anak muda itu.


"Ternyata ucapanmu benar, dia memang bukan pendekar muda biasa. Ia berbeda dari yang lainnya," lanjut orang tua itu sambil melirik kepada sahabatnya.


"Pengemis tua, sebenarnya aku sendiri baru mengetahui kemampuannya sehebat ini," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan sambil menghela nafas panjang.


"Eh, benarkah? Bukankah ... bukankah dia sudah cukup lama mengembara bersamamu?" tanyanya kebingungan.


Bukankah mereka sudah bersama sebelumnya? Lalu kenapa Orang Tua Aneh Tionggoan baru mengetahui kemampuan Zhang Fei?


Beberapa kali Pengemis Tongkat Sakti melirik mereka berdua secara bergantian. Seolah-olah dirinya sedang mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.


"Aku tidak berbohong," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan setelah menghela nafas berat. "Walaupun benar sudah melakukan perjalanan bersama, tapi sebelumnya dia tidak pernah mengeluarkan kemampuan aslinya. Selama ini, anak muda itu selalu menyembunyikan kemampuannya dalam memainkan pedang,"


Tokoh angkatan tua itu berbicara jujur. Selama ini dia memang pernah menyaksikan Zhang Fei bertarung, hanya saja jurus yang dikeluarkan oleh anak muda itu tidak sedahsyat tadi.


Karenanya tidak aneh apabila dia sendiri merasa heran.


"Tapi, aku bersyukur. Ternyata pandanganku terhadapnya memang tidak salah,"


Ia kemudian tertawa cukup lantang sambil minum arak yang tadi sempat dibawakan oleh salah satu anggota Partai Pengemis.


Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, ada pula Chen Liu Yin yang merasakan hal sama dengan yang lainnya.


Gadis itu merasa kagum kepada si pemuda. Walaupun dia sudah mendengar bahwa kakeknya kedatangan dua orang tamu, tua dan muda, tapi baru sekarang saja ia bertemu dengan mereka.


Dan pada saat pertemuan pertama ini, tidak disangka, dirinya justru dibuat kagum.

__ADS_1


Sudah tampan, memiliki ilmu silat yang hebat pula. Gadis mana yang tidak akan tertarik terhadap pemuda semacam itu?


"Anak Fei, kemarilah," di tengah kesunyian yang melanda halaman depan markas Partai Pengemis, tiba-tiba Orang Tua Aneh Tionggoan memanggilnya dengan suara keras.


"Baik, Tuan," jawaba anak muda itu.


Ia segera menyarungkan kembali Pedang Raja Dewa. Kebetulan pada saat itu, darah yang mengalir dari senjata pusaka tersebut sudah berhenti.


Zhang Fei berjalan ke arah mereka. Walaupun cara berjalannya tenang, tapi hatinya justru berdebar keras.


Dia tahu, karena kejadian barusan, pasti orang-orang itu mempunyai banyak pertanyaan yang akan diajukan kepadanya.


"Nanti kau jangan dulu tidur. Aku dan pengemis tua ini ingin minum bersamamu," katanya setelah Zhang Fei tiba di sana.


"Baik, Tuan,"


Walaupun dirinya bisa menolak permintaan tersebut, tapi Zhang Fei tidak mau melakukannya. Sebab dia tahu, kalau sampai menolak, pasti akan banyak kecurigaan di hati mereka.


'Biarlah dua orang tua ini tahu siapa aku sebenarnya,' batinnya berkata.


Pengemis Tongkat Sakti memerintahkan anggotanya yang tersisa untuk membereskan mayat sekaligus barang-barang yang hancur karena pertempuran tadi.


Sedangkan dia sendiri langsung berjalan masuk ke dalam ruangan pribadinya.


Seperti biasa, di sana hanya ada dia, Orang Tua Aneh Tionggoan, dan juga Zhang Fei.


Di atas meja itu sudah tersedia sajian komplit. Mulai dari makanan berat sampai ringan, dan tentu saja tidak terlewat, ada beberapa guci arak yang masih tersegel.


Pengemis Tongkat Sakti membuka segel arak. Ia menuangkannya ke dalam tiga cawna. Setelah mereka bersulang sebanyak dua kali, tiba-tiba terdengar Orang Tua Aneh Tionggoan berkata.


"Pengemis tua, setelah kejadian ini kau harus lebih berhati-hati lagi. Sebab menurut dugaanku, berita pertempuran tadi akan segera menyebar luas dalam dunia persilatan,"


Partai Tujuh Warna adalah salah satu partai terbesar aliran sesat, tentu saja, berita tentang hancurnya partai itu pasti akan dengan cepat menyebar luas.


Nantinya, akan ada banyak orang yang merasa senang karena hilangnya salah satu kekuatan besar dalam rimba hijau. Tapi di satu sisi, pastinya tidak sedikit pula orang-orang yang menaruh dendam kepada para tokoh yang terlibat.


Terlebih lagi kepada Partai Pengemis. Sebab bagaimanapun juga, partai itulah yang menjadi "tuan rumah" dari pertempuran tersebut.

__ADS_1


"Ya, aku mengerti, orang aneh. Tapi terkait hal ini, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mempunyai persiapan sebelumnya," ujar Pengemis Tongkat Sakti penuh percaya diri.


"Bagus. Aku tahu, walaupun kau sudah bau tanah, tapi pikiranmu masih tajam seperti dulu," Orang Tua Aneh Tionggoan tertawa lantang. Diikuti oleh suara tawa sahabatnya sendiri.


Malapetaka yang mengancam sudah bisa diatasi. Bukankah sekarang adalah saat yang tepat untuk bersenang-senang?


Karena itulah, suara tawa mereka terus terdengar. Keduanya saling ejek satu sama lain.


Di dalam ruangan itu, yang sejak tadi menutup mulut hanya Zhang Fei seorang. Kalau tidak diajak bicara, maka dirinya tidak akan bicara.


Ia tahu sopan santun. Kakek dan kedua orang tuanya mengajarkan banyak hal tentang tatakrama.


Jadi tidak heran walaupun sifatnya terkadang brutal, tapi saat duduk dengan orang yang lebih tua, sikapnya justru berubah jadi seperti seorang terpelajar.


"Eh, anak Fei," kata Orang Tua Aneh Tionggoan setelah keduanya selesai bercanda. "Ngomong-ngomong, jurus apa yang tadi kau gunakan saat terakhir itu?" tanyanya secara tiba-tiba.


Zhang Fei langsung melirik. Dia bingung seketika. Haruskah dirinya menjawab dengan jujur? Ataukah harus berbohong saja?


"Itu adalah jurus ..."


"Kalau kau keberatan tidak usah dijawab saja. Tua bangka ini memang tidak tahu diri," kata Pengemis Tongkat Sakti memotong ucapannya dengan cepat.


Anak muda itu tentu merasa serba salah. Akhirnya, ia memutuskan untuk menjawab sejujurnya saja.


"Itu adalah jurus Murka Pedang Dewa, Tuan," katanya bicara perlahan.


"Jurus Murka Pedang Dewa?" tanya keduanya secara bersamaan.


"Benar, Tuan. Apakah ada yang aneh?" tanya Zhang Fei lebih jauh.


Sorot mata dua tokoh tua itu langsung berubah. Tatapan matanya menjadi beringas. Persis seperti dua ekor harimau yang bertemu dengan musuh bebuyutannya.


"Katakan, apakah pedang yang kau bawa itu, adalah Pedang Raja Dewa?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan penuh penekanan.


"Benar, ini adalah Pedang Raja Dewa,"


"Dari mana kau mendapatkan pedang pusaka itu?" Apa hubunganmu dengan si Pedang Kilat Zhang Xin? Dan Zhang Liong, siapa dirimu?"

__ADS_1


__ADS_2