
Tanpa terasa, tengah malam sudah lewat. Kentongan kedua baru saja dipukul di kejauhan sana.
Zhang Fei sudah keluar dari ruangan si Pengemis Tongkat Sakti. Dia tidak ingin lebih lama di sana, sebab orang tua itu harus istirahat.
Saat ini dia sedang berada di sebuah hutan kecil yang berdekatan dengan markas Partai Pengemis. Ketua Dunia Persilatan segera memanggil seorang mata-mata yang biasa mengikutinya.
Tidak lama setelah tanda rahasia dinyalakan, sekelebat bayangan hitam langsung muncul di depannya.
"Salam, Ketua Fei," kata mata-mata itu setelah berada di depannya.
"Terimakasih," jawab Zhang Fei sambil mengangguk. "Aku mempunyai tugas untukmu,"
"Tugas apa, Ketua?"
"Kirimkan surat ini kepada Tabib Dewa Dong Ying," ucap Zhang Fei sambil memberikan selembar surat yang sempat dia tulis ketika masih berada di dalam ruangan si Pengemis Tongkat Sakti.
"Baik, Ketua. Aku akan segera melaksanakan tugas ini dengan baik,"
"Bagus. Pergilah sekarang juga,"
Mata-mata itu mengangguk. Setelah memberi hormat, dia langsung segera pergi dari sana.
Sedangkan Zhang Fei, tepat setelah kepergian mata-mata itu, ia pun segera berlalu dari sana. Zhang Fei berniat untuk lambung istirahat.
Tubuhnya terasa sangat lelah sekali. Rasa kantuk pun sudah menyerangnya dengan hebat.
Namun tiba-tiba, rasa kantuk itu mendadak hilang saat ia lewat di halaman belakang.
"Hemm ... siapa yang malam-malam begini ada di taman bunga?" gumamnya penasaran.
Wushh!!!
Zhang Fei langsung menuju ke sana. Begitu tiba, dari kejauhan dia melihat ada dua orang wanita yang sedang duduk di bangku taman.
"Siapa dia wanita itu?" tanyanya kepada diri sendiri.
Walaupun malam ini terang bulan, tapi keadaan di bangku taman itu tetap sedikit gelap karena banyaknya bunga dan pohon yang cukup rimbun.
Selain itu, kebetulan Zhang Fei juga melihatnya dari arah belakang. Sehingga dia tidak bisa menebak siapa mereka secara jelas.
Untuk mengobati rasa penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan lebih dekat lagi. Zhang Fei bersembunyi dibalik rimbunnya bunga sambil tetap melihat ke depan sana.
Di sisi lain, saat itu Yao Mei dan Yin Yin juga langsung menghentikan pembicaraan mereka setelah merasakan adanya kehadiran orang lain.
"Adik Yin, apakah kau merasakan yang sama sepertiku?" tanyanya setengah berbisik.
__ADS_1
"Ya, Kakak Mei. Aku rasa di sini ada orang lain," jawab Yin Yin seraya mengangguk.
Sebagai pendekar yang sudah mempunyai kemampuan tinggi, tentu mereka dapat merasakan kehadiran orang lain dalam jarak tertentu.
Saat itu, Zhang Fei dan kedua gadis tersebut hanya terpaut jarak sejauh lima belas langkah. Sehingga masing-masing bisa merasakan kehadirannya dengan jelas.
Yao Mei dan Yin Yin saling pandang satu sama lain. Mereka kemudian menoleh ke satu sisi yang sama.
"Di sana!" kata Yao Mei tiba-tiba berteriak sambil melompat tinggi dan melancarkan tebasan pedang jarak jauh ke arah di mana Zhang Fei bersembunyi.
Tidak hanya dia saja, bahkan Yin Yin pun mengambil langkah serupa. Dia melancarkan pukulan jarak jauh yang dibantu dengan dorongan tenaga sakti ke arah yang sama.
Wutt!!! Wutt!!!
Dua serangan itu dilancarkan secara tiba-tiba. Dalam jarak yang sangat dekat, tentu tidak setiap orang bisa menghindarinya.
Wushh!!! Blarr!!!
Dari balik rimbunnya bunga tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang melesat ke atas. Bayangan itu langsung melancarkan pukulan kuat untuk menangkis dua serangan tadi.
Suara keras yang menggelegar seketika terdengar memekakkan telinga. Gelombang kejut yang dihasilkan langsung membuat tanaman bunga di sana beriak seperti air ditengah sungai.
Ketika Yao Mei dan Yin Yin akan melancarkan serangannya kembali, tiba-tiba terdengar sebuah seruan keras.
Dua gadis itu terpaksa menahan serangan selanjutnya. Mereka langsung menarik tangannya masing-masing.
"Aih, ternyata kau," ucap Yao Mei sedikit kesal. "Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kau mengintip kami berdua?"
Dua orang gadis itu menatap Zhang Fei dengan tatapan tajam. Sepertinya mereka merasa kesal dengannya.
"Maafkan aku, Yao Mei, Yin Yin. Aku tidak bermaksud apa-apa," jawab Zhang Fei dengan jujur.
"Hemm ... untung saja kau langsung mengaku. Kalau tidak, mungkin taman bunga ini akan hancur," Yin Yin berkata sambil menarik muka.
"Baiklah, baiklah. Aku kan sudah meminta maaf kepada kalian. Tadinya, aku pikir penyusup yang ada disini. Maka dari itu aku bersembunyi dan mengintip secara diam-diam,"
"Sudahlah. Tidak perlu diperpanjang lagi," Yao Mei memilih untuk mengakhiri persoalan tersebut.
Zhang Fei kemudian berjalan mendekati mereka. Melihat ada guci arak di sana, dengan segera dia menyambar dan langsung meminumnya cukup banyak.
"Sejak kapan kalian di sini?" tanya Zhang Fei sambil mengusut mulutnya dengan ujung pakaian.
"Sejak tadi kami di sini," jawab Yin Yin.
"Eh, kalian tidak ikut berpesta?"
__ADS_1
"Ikut, tapi hanya sebentar. Setelah bertarung seharian, rasanya kami butuh tempat untuk menenangkan diri," ucap Yao Mei mewakili.
Zhang Fei mengangguk beberapa kali. Dia langsung menutup mulutnya.
"Ngomong-ngomong, apa saja yang kau bicarakan dengan Kakek?" tanya Yin Yin lebih jauh.
"Aku hanya bercerita tentang pertempuran tadi siang. Selain itu, aku juga mencari cara untuk menyembuhkan luka Tuan Bai,"
"Lalu, kau sudah menemukan caranya?"
"Ya, aku sudah menemukannya. Dalam beberapa hari ke depan, pasti ada seorang tabib yang akan datang kemari,"
"Siapa tabib itu?"
"Tabib Dewa Dong Ying,"
"Kau mengundang dia kemari?" Yin Yin bertanya dengan ekspresi tidak percaya.
"Tentu saja,"
"Hemm ... aku rasa hal itu akan percuma,"
"Mengapa bisa percuma?"
"Sebab Tabib Dewa Dong Ying pasti tidak akan datang kemari,"
Zhang Fei menatap tajam ke arah gadis itu. Kemudian dia beralih ke Yao Mei. "Apakah kau juga tidak percaya kepadaku?"
"Sepertinya begitu," kata Yao Mei dengan ringan.
"Baik, jika demikian, bagaimana kalau kita taruhan saja?" seru Zhang Fei tiba-tiba mempunyai ide. "Dalam waktu kurang dari satu minggu, aku yakin Tabib Dewa Dong Ying akan datang kemari. Jika aku kalah, maka aku akan mentraktir kalian makan sehari semalam,"
"Baik, kalau kami yang menang, kami juga akan mentraktirmu selama satu hari satu malam," kata Yao Mei.
"Tidak hanya itu saja. Bahkan kau pun akan mendapat ciuman dari kami," sambung Yin Yin.
Yao Mei seketika menoleh ke arahnya. Dia seperti terkejut terkait apa yang baru saja diucapkan oleh Ketua Partai Pengemis tersebut. "Adik Yin, kau yakin?" tanyanya sambil berbisik.
"Aku yakin, kau tenang saja, Kakak Mei,"
"Baiklah, aku ikut apa katamu saja,"
Sementara itu, Zhang Fei terlihat kaget bercampur girang setelah mendengar ucapan Yin Yin. Buru-buru dia berkata, "Aku harap kalian tidak menyesal karena telah berani bertaruh denganku," ucapnya sambil tersenyum.
Selesai berkata seperti itu, dia langsung pergi dari sana.
__ADS_1