Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Jalan yang Diambil Yao Mei


__ADS_3

"Benar. Memang rumit," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil mengangguk. "Apalagi semua ini tidak seperti yang terlihat,"


"Apa maksudmu?"


"Semua yang nampak nyata dan telah terjadi selama ini, menurutku itu hanyalah awal. Rencana mereka yang sebenarnya belum dimulai. Para tokoh utama dalam rencana ini pun belum menunjukkan dirinya. Semua tokoh-tokoh terlibat yang telah kita ketahui sejauh ini, tak lebih mereka hanyalah orang suruhan,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan menjelaskan analisanya. Sebagai tokoh angkatan tua yang sudah banyak pengalaman, tentu saja dia bisa membaca peristiwa yang berlangsung.


Apalagi di masa lalu, dia pun pernah menghadapi situasi semacam ini. Karenanya sedikit banyak, dia bisa membaca strategi lawan.


Sementara si Cakar Maut Yao Shi, ia tidak memberikan reaksi apa-apa. Tapi dirinya juga tidak menampik penjelasan barusan.


Keadaan di sana tiba-tiba saja menjadi hening. Masing-masing tokoh yang ada saling diam satu sama lain. Mereka sepertinya sedang bergelut dengan pikirannya tersendiri.


Tiba-tiba Yao Shi memandang lencana yang digenggam oleh Zhang Fei. Kemudian dia bertanya. "Lencana apa itu?"


"Oh, ini? Ini adalah Lencana Partai Iblis Sesat," jawab Zhang Fei.


"Lencana Iblis Sesat?" ia mengerutkan kening. Seraya memperhatikan Lencana tersebut, dirinya juga sempat memikirkan beberapa hal.


"Mungkinkah partai itu terlibat dalam kekacauan yang sekarang sedang berlangsung?" tanya si Cakar Maut sambil memandang ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Kemungkinan besar begitu,"


"Kenapa kau begitu yakin?"


"Karena aku punya bukti,"


"Bukti apa?"


Orang tua itu menghela nafas lebih dulu. Dia minum arak beberapa kali. Setelahnya baru bicara lagi.


"Beberapa waktu belakangan, aku dan Tiga Datuk Dunia Persilatan lainnya telah melakukan penyelidikan terkait peristiwa ini. Kita berpencar ke beberapa kota yang diduga menjadi wilayah pergerakan mereka dalam mengacaukan Tionggoan. Setelah penyelidikan itu selesai, kita mengadakan pertemuan singkat untuk menceritakan hasilnya,"


"Bagaimana hasilnya?" tanya Yao Shi dengan cepat.


"Hasil utama dari penyelidikan itu semuanya sama. Dua partai sesat terbesar Tionggoan memang terlibat dalam kekacauan yang sekarang terjadi,"


"Jadi, Partai Iblis Sesat dan Partai Panji Hitam bekerja sama dengan pihak luar untuk meruntuhkan negeri kita?"


"Untuk saat ini, setidaknya mereka memang bekerja sama,"


"Kenapa kau bicara begitu? Apakah informasi ini masih diragukan?" tanya datuk sesat itu lebih jauh lagi.


"Tidak, bukan begitu maksudku," jawabnya sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Lalu bagaimana?"


"Aku menjawab demikian, karena aku tidak tahu ke depannya bagaimana. Seperti yang kita ketahui, mereka yang terlibat dalam hal ini, semuanya adalah orang-orang yang mempunyai ambisi besar. Mungkin sekarang mereka memang bekerja sama, tujuannya adalah untuk menghabisi para pendekar atau orang-orang yang berusaha menghalangi jalannya,"


"Hemm ... masuk akal juga," kata si Cakar Maut.


"Tentu saja. Dan kita tidak tahu apabila nanti, mereka kembali berseteru untuk membuktikan siapa yang terkuat dan yang akan menjadi penguasa Tionggoan sepenuhnya,"


"Benar juga," Yao Shi mengangguk. Dia juga mengakui kebenaran dalam ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Lalu sejauh ini, langkah apa yang telah kalian susun?"


"Menyelidiki setiap tokoh dunia persilatan Tionggoan, apakah mereka ikut terlibat atau tidak,"


"Jadi, sekarang semua orang wajib dicurigai?"


"Benar,"


"Apakah termasuk aku?" tanyanya sambil tersenyum dingin.


"Kau adalah salah satu datuk sesat Tionggoan. Jadi, aku rasa kau sudah tahu jawabannya,"


Si Cakar Maut Yao Shi tidak menjawab lagi. Dia hanya tersenyum sinis lalu mengalihkan pandangannya.


Dia menengadahkan kepalanya ke atas langit. Memandangi rembulan yang sudah berada di ufuk barat. Melihat langit yang mulai terang.


"Tidak, Ayah. Aku ingin mengembara dan mencari pengalaman dulu. Aku sudah bosan menghabiskan banyak waktu di rumah," jawab gadis itu sambil menghampiri ayahnya.


Yao Shi kemudian memandang Yao Mei yang sudah ada di pinggirnya. Ia pun memandang Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan secara bergantian.


"Apakah kau ingin terlibat dalam masalah yang rumit ini?"


"Benar, Ayah," jawabnya dengan jujur.


"Kau ... kau tidak takut mati?"


"Demi tanah air sendiri, kalau pun harus mati, aku rela," gadis cantik itu menjawab pertanyaan ayahnya dengan sangat mantap.


Hal tersebut sangat diluar dugaan semua orang. Termasuk juga Yao Shi sendiri.


"Anak Mei ... apakah dua orang itu sudah meracuni dirimu dengan berbagai macam rayuan?"


Sambil bertanya demikian, dirinya kembali menatap dua orang yang ada di belakangnya.


"Tidak ada yang merayuku. Apa yang aku katakan barusan, semuanya datang dari hati nurani,"


"Rupanya anak gadisku sudah besar," Yao Shi menghela nafas panjang. Selama hidup, rasanya baru kali ini Yao Mei berani bicara cukup lancang kepada dirinya.

__ADS_1


"Baik, baiklah. Kalau memang itu maumu, Ayah tidak akan melayang,"


"Ayah, apakah kau sedang bercanda?"


"Ayah serius,"


Yao Mei seperti terkejut. Sebab dia sendiri tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya barusan. Cukup lama dia menatapnya. Tiba-tiba dia berjalan lalu memeluk Yao Shi dengan erat.


Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu mengelus kepalanya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Setelah beberapa saat kemudian, dia melepaskan pelukannya.


"Tua bangka, kau dengar apa yang kami bicarakan barusan?" tanyanya sambil melirik kepada Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Aku tidak tuli. Jadi, mana mungkin tidak mendengar percakapan kalian Ayah dan anak?" jawabnya seraya tertawa.


"Bagus. Kalau begitu, aku menitipkan anakku kepadamu. Juga kepada bocah itu," ucap Yao Shi sambil memandang Zhang Fei,"


Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan kembali. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan puteriku, kalian adalah orang pertama yang akan menanggung akibatnya,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan kemudian tertawa lantang. Dia tidak menjawab. Ia hanya tertawa.


"Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Mengurung diri," jawabnya cepat.


"Kau tidak mau terlibat dalam hal ini?"


"Entahlah. Aku tidak begitu peduli,"


Selesai menjawab, si Cakar Maut Yao Shi kemudian memandang ke arah Yao Mei kembali. Setelah itu dia langsung pergi begitu saja.


Ilmu meringankan tubuh tokoh sesat itu sudah benar-benar sempurna. Jadi tidak heran dalam sekilas saja, dia sudah menghilang dari pandangan mata.


Beberapa saat kemudian, sinar mentari pagi sudah mulai terlihat di ufuk sebelah timur. Tiga tokoh dunia persilatan masih berdiri di sana. Mereka sedang menikmati keindahan alam dan kesejukan udara yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada para manusia.


Walaupun di sana masih ada banyak puluhan mayat yang mulai menebarkan baru amisnya darah, tetapi tiga orang tersebut tidak menghiraukannya.


"Hari ini sepertinya akan cerah," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Benar. Sinar mentari pagi rupanya sungguh indah," sahut Yao Mei.


"Udara di sini juga sejuk,"


Ketiganya saling pandang beberapa saat. Setelah cukup lama terdiam, Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali berkata.


"Sebelum pergi, lebih baik kita kuburkan dulu mayat para pendekar ini,"

__ADS_1


__ADS_2