Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Perubahan


__ADS_3

Lima kitab pusaka yang dipilih oleh Zhang Fei dari Gedung Ketua Dunia Persilatan, di antaranya adalah kitab tentang ilmu tombak, golok, tangan kosong, pengobatan dan yang terakhir adalah kitab wawasan tentang racun-racun yang tersebar di dunia persilatan.


Alasan kenapa dia memilih lima kitab tersebut adalah karena Zhang Fei ingin mempelajari ilmu-ilmu senjata lebih dalam lagi selain dari ilmu pedang. Di sisi lain, dia pun ingin menyempurnakan ilmu tangan kosong, pengobatan, sekaligus pengetahuannya tentang berbagai jenis racun yang ada.


Sebenarnya selain dari lima kitab pusaka tersebut, Zhang Fei juga membawa sebuah catatan usang dari Gedung Ketua Dunia Persilatan. Catatan usang itu dia temukan di antara sela-sela tumpukan kitab tua.


Zhang Fei belum membuka catatan usang tersebut, tapi walaupun begitu, dia yakin catatan tersebut berisikan hal yang penting.


Setelah semua persiapan selesai dilakukan, dia mulai bermeditasi untuk menyerap energi sekaligus menyatu dengan alam sekitar.


Suasana di dalam goa benar-benar hening. Zhang Fei sendiri merasakan ketenangan yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.


Selama tiga hari tiga malam, dia terus bermeditasi. Tepat pada hari keempatnya, ia mulai membuka mata. Saat itu, kebetulan waktu sudah masuk pagi. Sinar mentari menyorot masuk lewat lubang-lubang udara yang terdapat di dalam goa tersebut.


"Hahh ..." Zhang Fei menghembuskan nafas panjang. Dia juga menghirup nafas sedalam mungkin. "Tempat ini benar-benar cocok untuk berlatih. Selain tenang dan damai, energi alamnya juga sangat murni sekali,"


Zhang Fei sangat puas. Apalagi setelah dia berhasil merasakan semua keistimewaan tempat tersebut.


Beberapa saat kemudian, Zhang Fei mulai berlatih. Kitab pertama yang ingin dia latih tentu saja adalah kitab senjata.


Dia membuka lembaran demi lembaran secara perlahan. Zhang Fei membaca sekaligus menghapalkan setiap tulisan dan gerakan yang tertera di dalam kitab tersebut.


Meskipun tulisannya mulai kabur, untunglah Zhang Fei masih bisa membacanya.


"Sepertinya kitab-kitab yang aku bawa ini, dulunya adalah kitab pusaka yang berasal dari perguruan ternama," gumamnya setelah dia mulai memahami isi dari kitab tersebut.


Mengetahui akan hal itu, semangatnya menjadi berkobar. Zhang Fei melanjutkan lagi proses latihannya sampai dia benar-benar lupa dengan keadaan sekitar, bahkan lupa juga dengan keadaan diri sendiri.


###

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, setelah Zhang Fei menutup diri untuk berlatih, Empat Datuk Dunia Persilatan tampak selalu ada di sekitar Gedung Ketua Dunia Persilatan.


Walaupun di antara mereka ada yang pergi mengembara, pasti salah satunya akan tinggal di sana untuk menjaga sekaligus mengendalikan keadaan.


Struktur Gedung Ketua Dunia Persilatan yang sebelumnya mulai kacau, secara perlahan mulai bisa diperbaiki lagi setelah dipegang penuh oleh keempat orang tua itu.


Sebagai orang-orang yang sudah mempunyai banyak pengalaman, tentu mereka tahu apa yang harus dilakukannya.


Orang-orang di dalam gedung yang dicurigai, segera diperiksa dengan teliti. Kalau ada dari mereka yang tidak bisa menjawab pertanyaan, maka Empat Datuk Dunia Persilatan pasti akan memberikan sanksi yang seimbang.


Sekilas hal-hal semacam ini memang terlihat keterlaluan. Tetapi sebenarnya, mereka melakukan ini justru demi kebaikan bersama. Demi mengembalikan kehormatan dan harga diri Gedung Ketua Dunia Persilatan, sekaligus juga negerinya sendiri.


Setiap orang-orang yang memberikan laporan kepada mereka, tidak langsung ditindaklanjuti. Melainkan diselidiki lebih dulu apakah laporan tersebut benar atau tidaknya.


Hal tersebut dilakukan karena mengingat situasi negeri yang sedang kacau.


Hari demi hari terus berlalu. Waktu berjalan tanpa berhenti.


Selama dua tahun itu, Empat Datuk Dunia Persilatan berhasil menjalankan tugasnya dalam menggantikan posisi Zhang Fei.


Sekarang, Gedung Ketua Dunia Persilatan sudah aman. Semua orang yang ada di dalamnya adalah orang-orang pilihan. Peraturan di sana juga menjadi lebih ketat lagi.


Berbagai macam laporan yang dulu sering diterima setiap hari, sekarang sudah mulai jarang. Alasannya karena Empat Datuk Dunia Persilatan sudah menempatkan orang-orangnya di berbagai titik yang selama ini sering timbul kekacauan.


Semua pencapaian yang didapat dalam waktu dua tahun itu berkat kerja sama mereka. Keempatnya terus bekerja siang malam tanpa berhenti.


Saat ini, waktu sudah masuk malam hari. Empat Datuk Dunia Persilatan sedang berada di ruang pertemuan. Mereka sedang membicarakan beberapa hal sambil berpesta arak.


"Dua tahun akan tiba berapa hari lagi?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan di tengah-tengah candaan mereka.

__ADS_1


"Kalau aku tidak salah, sekitar empat belas hari," jawab Pendekar Tombak Angin setelah ia selesai minum satu cawan arak.


"Bagus. Itu artinya, empat belas hari lagi anak Fei akan selesai dalam melakukan latihannya. Aku jadi tidak sabar ingin melihat kemajuannya,"


"Hahaha ... bukan hanya kau saja, setan arak. Kami semua juga merasakan hal sama," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan sambil tertawa.


Keempat tokoh besar itu memang sudah merasa rindu kepada Zhang Fei. Di satu sisi, mereka juga ingin melihat sampai di mana kemajuan yang diperoleh Zhang Fei selama berlatih di dalam goa tersebut.


"Untuk menguji sampai di mana kemajuan anak Fei, bagaimana kalau nanti kita menyambutnya dengan serangan gabungan?" Dewi Rambut Putih memberikan usul. Dia memandang tiga orang rekannya secara bergantian.


"Ah, usul yang bagus. Aku setuju," Dewa Arak Tanpa Bayangan berseru, dia merasa setuju dengan usul yang diberikan oleh Dewi Rambut Putih.


"Kalau begitu baiklah, kami juga setuju,"


Dewi Rambut Putih mengangguk. Dia kemudian melanjutkan bicaranya lagi, "Nanti kita pergi ke sana secara bersamaan. Begitu anak Fei tiba di halaman depan goa, pada saat itulah kita menyerangnya secara serempak,"


"Baik. Aku setuju akan hal tersebut,"


Empat Datuk Dunia Persilatan kemudian tertawa bersama-sama. Mereka sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana Zhang Fei yang sekarang.


"Setan arak, kemarin kau sudah pergi keluar. Apa yang kau temukan di luar sana?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan tiba-tiba.


"Aku hanya mengunjungi tempat-tempat tertentu saja. Orang-orang yang kita tugaskan di sana mengatakan bahwa keadaan mulai aman. Sekarang orang luar yang mencurigakan semakin sedikit. Tapi, aku tidak bisa menjamin sepenuhnya bahwa negeri kita sudah terhindar dari malapetaka," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Ia minum beberapa cawan arak. Kemudian berkata lagi. "Sekarang terkendali, bisa jadi dalam beberapa waktu ke depan, yang terjadi malah sebaliknya,"


"Ya, kau benar. Segala sesuatu yang ada muka bumi ini, sering sekali tidak tetap. Terkadang apa yang tidak kita inginkan, akan terjadi. Sementara yang kita inginkan, justru malah sebaliknya," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan kepada yang lain.


"Maka dari itu, kita tetap harus waspada. Kita tidak boleh lengah walau hanya sebentar," sambung Pendekar Tombak Angin.

__ADS_1


"Setuju," ucap Dewi Rambut Putih ikut bicara. "Aku takut yang dibicarakan Tuan Kiang akan terjadi dalam waktu dekat,"


__ADS_2