Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Perbatasan Sebelah Timur


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu kembali. Saat ini kesehatan Zhang Fei sudah benar-benar pulih. Baik tenaga luar maupun tenaga dalam miliknya, sudah kembali seperti sediakala. Begitu juga dengan Yin Yin. Gadis cantik itu pun tidak terkecuali.


Saat ini, waktu sudah masuk pagi hari. Cuaca hari ini tidak terlalu cerah seperti biasanya. Malah terkesan sedikit mendung.


Tetapi walaupun begitu, hal tersebut bukan suatu halangan bagi mereka.


Sekarang, Dewa Arak Tanpa Bayangan dan yang lainnya sudah berada di halaman depan. Seperti yang diceritakan sebelumnya, kalau tiga hari sudah berlalu, dia dan Zhang Fei akan langsung melanjutkan perjalanannya.


Mereka akan menuju ke perbatasan sebelah Timur seperti yang diperintahkan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan dalam surat yang ia tulis.


"Pengemis tua, sepertinya aku harus pergi sekarang," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan mengawali pembicaraan di antara mereka.


"Baiklah, setan arak. Aku juga tidak bisa menahan kalau memang kau sudah berkehendak. Lagi pula, siang nanti aku pun akan kembali dulu ke markas utama. Aku akan menyuruh cucuku untuk tinggal sementara waktu di sana, sedangkan aku sendiri akan melakukan perjalanan lain," jawab Pengemis Tongkat Sakti.


"Kalau kau akan melakukan pengembaraan nanti, jangan lupa mencari informasi seperti yang telah aku sampaikan sebelumnya,"


"Tentu saja. Kau jangan khawatir. Masalah informasi, serahkan saja kepadaku,"


"Baik. Aku percaya kepadamu," tegasnya.


Menyangkut persoalan mencari informasi, dalam dunia persilatan Tionggoan, rasanya memang hanya Partai Pengemis saja yang dapat diandalkan.


Walaupun ada cukup banyak orang yang berprofesi sebagai penjual informasi, tapi orang-orang seperti ini biasanya memasang harga mahal untuk setiap informasi yang mereka berikan. Lagi pula, informasi itu pun biasanya tidak bisa dijamin benar-benar akurat.


Berbeda dengan Partai Pengemis, kalau memberikan informasi, maka mereka tidak pernah menjualnya. Asalkan demi kebaikan bersama, bagaimanapun caranya, Partai Pengemis pasti akan berusaha untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.


Lagi pula, setiap informasi yang mereka berikan juga sudah terjamin keasliannya. Informasi itu pasti akurat. Sebab Partai Pengemis tidak pernah sembarangan mencari informasi.


Kalau belum dibuktikan secara langsung, maka mereka tidak akan berani menyebarkannya kepada orang lain.


Sementara itu, setelah berbincang-bincang beberapa saat, akhirnya waktu untuk berpisah pun telah tiba.


Setelah memberikan hormat kepada semua orang yang ada di sana, Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Zhang Fei segera berlalu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya masing-masing.


Wushh!!! Wushh!!!

__ADS_1


Dua bayangan melesat cepat. Dalam beberapa tarikan nafas saja mereka telah menghilang dari pandangan mata.


Yin Yin memandangi kepergian keduanya. Terutama sekali kepergian Zhang Fei. Entah kenapa, tapi tiba-tiba saja ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya.


Hatinya tiba-tiba terasa sakit. Tapi entah sakit itu muncul gara-gara apa. Karena dia sendiri tidak tahu apa sebabnya.


Yin Yin terus melamun sambil terus menatap ke depan. Ia merasakan juga dirinya seperti terjatuh ke dalam jurang yang tidak berujung pangkal.


"Anak Yin, ada apa? Kenapa kau sejak tadi melamun terus?" suara Pengemis Tongkat Sakti tiba-tiba terdengar di telinganya.


Detik itu juga Yin Yin langsung sadar. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali, kemudian segera menjawab. "Ah, tidak, Kek. Aku hanya memikirkan bagaimana keadaan negeri kita saat ini," katanya sedikit gugup.


"Benarkah? Apakah kau tidak memikirkan anak muda itu?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.


"Anak muda siapa maksud Kakek?" Yin Yin melirik tajam ke arahnya.


"Siapa lagi? Tentu saja anak Fei,"


"Ih ..." Yin Yin berseru tertahan. "Tentu saja tidak,"


###


Daerah perbatasan bagian Timur jaraknya tidak terlalu jauh dari kota sebelumnya. Untuk sampai di sana, setidaknya dibutuhkan waktu sehari kalau menggunakan jalan darat.


Jika mengandalkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, menurut perhitungan, paling-paling hanya setengah harian saja, mereka sudah bisa sampai di sana.


Sekarang waktu sudah terhitung masuk sore. Matahari telah lewat di atas kepala. Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Zhang Fei masih berlari. Mereka berdua belum pernah berhenti.


Hal itu dilakukan supaya mempercepat perjalanan dan mempersingkat waktu.


"Tuan Kiang, apakah kau tahu di mana tempat yang dimaksud oleh Orang Tua Aneh Tionggoan?" tanya Zhang Fei di tengah-tengah perjalanan.


"Tentu saja aku tahu, anak Fei. Kau jangan khawatir, kita tidak akan salah alamat," jawabnya sambil tertawa ringan.


"Syukurlah kalau begitu," Zhang Fei juga tertawa ketika mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, menurutmu kenapa tua bangka itu menyuruh kita untuk pergi ke sana?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan lebih lanjut.


"Entahlah. Tapi kalau menurut dugaanku, di sana pasti telah terjadi sesuatu yang berhubungan dengan dunia persilatan kita,"


"Benar. Aku pun menduga demikian. Sepertinya para penjajah itu sudah mulai berani menampakkan diri. Kalau sudah begini, tinggal menunggu waktunya saja, maka peperangan besar tidak bisa terhindarkan lagi,"


Zhang Fei menghela nafas berat. Kemudian dia berkata, "Apa boleh buat, Tuan Kiang. Kita sudah tidak bisa mencegahnya lagi. Nasi sudah menjadi bubur,"


"Ya, kalau pun benar-benar terjadi, kita harus tetap bisa menerimanya dengan lapang dada. Asalkan kita mau berjuang bersama-sama, itu saja sudah lebih dari cukup. Masalah menang atau kalah, negeri kita selamat atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting, kita harus berjuang dulu sampai titik darah penghabisan,"


"Ya, aku sangat setuju, Tuan Kiang," kata Zhang Fei sambil mengangguk.


"Kalau begitu, mari kita percepat langkah,"


Dua orang tokoh dunia persilatan itu kemudian mempercepat ilmu meringankan tubuhnya. Ketika matahari sore sudah hampir tenggelam, tepat pada saat itulah mereka tiba di perbatasan daerah timur.


Perbatasan itu rupanya adalah hamparan padang rumput yang sangat luas sekali. Di sana tidak banyak rumah-rumah penduduk, kecuali hanya sedikit. Di kanan kiri terdapat hutan belantara yang dipenuhi oleh pohon-pohon berdaun rimbun. Semilir angin pegunungan berhembus mesra membelai tubuh.


Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Zhang Fei memandang ke sana kemari. Mereka sedang mencari-cari di manakah kiranya para Datuk Dunia Persilatan berada.


"Di sana!" kata orang tua itu sambil menunjuk ke sebuah tenda berukuran besar yang berdiri di bagian tengah padang rumput.


"Ah, benar,"


"Mari kita ke sana, anak Fei,"


Wushh!!! Wushh!!!


Keduanya kembali melesat ke depan. Hanya beberapa saat saja, mereka telah tiba di depan tenda besar yang dimaksud.


Kedatangannya disambut langsung oleh tiga Datuk Dunia Persilatan. Begitu Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba, Orang Tua Aneh Tionggoan langsung melemparkan arak keoata mereka.


"Janga banyak bicara. Habiskan dulu arak itu," ujarnya seraya tertawa.


Dua orang itu pun ikut tertawa. Mereka langsung meminum arak tersebut sampai habis tanpa sisa.

__ADS_1


__ADS_2