Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Peristiwa yang Dinantikan


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Tanpa terasa, sore hari sudah tiba kembali. Suasana di sore ini benar-benar cerah. Suara kicau burung-burung di kedalaman hutan terdengar sangat merdu.


Di halaman yang luas itu, kini telah dipadati makin banyak pendekar. Mereka sudah tidak sabar ingin segera memperebutkan benda pusaka yang sampai kini belum diketahui bentuknya.


Selama setengah hari itu, Zhang Fei banyak melakukan pekerjaan. Mulai dari mencari informasi tentang siapa yang menyebarkan berita ini pertama kali, sampai pada mencari siapa sosok yang akan menjadi pemeran utama dalam perebutan nanti.


Namun sayangnya, semua usaha yang dia lakukan itu sia-sia. Dia tidak mendapatkan hasil apapun juga. Hingga sampai saat ini, orang yang menjadi dalang utamanya masih menjadi misteri.


Siapa sebenarnya orang yang pertama kali menyebarkan berita ini? Bukankah tidak mungkin apabila peristiwa ini terjadi begitu saja? Bukankah pepatah juga mengatakan bahwa tidak akan ada asap, kalau tidak api?


Di atas dahan pohon yang besar itu, Zhang Fei terlihat melamun. Ia melamunkan hal-hal seperti yang disebutkan di atas.


'Bagaimanapun juga, aku harus menemukan siapa dalang utamanya,' batin anak muda itu bertekad.


Ia menenggak guci arak yang tadi sempat dibeli. Zhang Fei kembali memperhatikan ke halaman luas itu. Tapi bukan kepada para pendekar yang berkerumun. Melainkan ke arah sebuah goa besar yang baginya sangat misterius.


Bagaimana tidak? Goa besar itu terletak di pinggir halaman luas sebelah Utara. Sekilas pandang memang tidak terlihat adanya keanehan.


Tapi kalau diteliti lebih lanjut, keanehannya justru baru akan terlihat.


Setelah tadi dirinya sempat berputar-putar di sekitaran goa, Zhang Fei mendapati bahwa batu-batu itu seperti masih baru. Tidak ada lumut hijau di atasnya. Warnanya juga hitam pekat.


Dari sini, ia sangat yakin bahwa goa tersebut bukan terbentuk alami karena alam. Melainkan karena dibentuk langsung oleh tangan-tangan manusia.


"Tunggu, kalau benar dugaanku ini, itu artinya ... malam nanti pasti akan terjadi peristiwa besar," ia berseru tertahan karena saking terkejutnya.


Benar. Dia yakin ucapannya barusan pasti akan terjadi!


Zhang Fei tiba-tiba panik. Dia tidak tahu, apa yang harus dilakukannya saat ini.


Apakah dia harus memberitahukan hal tersebut kepada semua pendekar?


Kalau hanya itu, dia pun bisa melakukannya. Bahkan semua orang pun bisa.


Tetapi, apakah para pendekar itu akan percaya terhadap ucapannya? Bagaimana kalau mereka tidak percaya dan justru malah dirinya yang akan menjadi bulan-bulanan?


Cukup lama dia berada dalam kebingungan. Hingga pada akhirnya Zhang Fei memilih untuk menyerahkan semuanya kepada langit.


"Yang akan terjadi, terjadilah," gumamnya mencoba bersikap pasrah.

__ADS_1


Sebagai manusia, dia hanya bisa pasrah menerima takdir. Apabila usaha dan doa sudah dilakukan, memangnya apalagi yang mampu diperbuat oleh manusia? Bukankah hanya pasrah dan menerima ketentuannya?


Malam akhirnya menyapa bumi. Kegelapan mulai datang. Rembulan purnama muncul di ufuk sebelah Utara. Sinarnya yang kuning keemasan menyorot menyapu alam mayapada.


Malam ini benar-benar cerah. Harum semerbak bunga yang sedang bermekaran tercium dengan sangat jelas. Membawa rasa nyaman, membawa ketenangan.


Tapi sampai kapan kenyamanan dan ketenangan itu bisa dirasakan?


Zhang Fei tiba-tiba turun dari dahan pohon yang sejak tadi menjadi tempatnya duduk. Diam-diam ia berjalan memasuki kerumunan pendekar, lalu menuju ke sisi goa.


Sementara di tengah halaman, kini puluhan pendekar dunia persilatan itu tampak semakin serius. Semua orang menatap ke arah goa.


Kira-kira, apakah yang sebentar lagi akan terjadi?


Suara bisik-bisik mulai terdengar. Mereka segera mempersiapkan dirinya masing-masing.


Dalam hati, para pendekar itu sudah bertekad. Bagaimanapun caranya, mereka harus bisa mendapatkan benda pusaka yang akan menjadi perebutan nanti.


Tanpa terasa, beberapa jam sudah berlalu kembali. Melihat ke atas, rupanya bulan purnama sudah berada tepat di atas kepala.


Semua orang menahan nafas. Sebab peristiwa yang dinanti-nantikan, bakal segera berlangsung.


Tidak lama kemudian, goa yang besar itu bergetar cukup keras. Seperti sedang dilanda oleh gempa bumi.


Pintu goa yang tadinya tertutup sangat rapat, secara perlahan mulai terbuka. Melihat hal itu, para pendekar semakin siap siaga.


Begitu juga dengan Zhang Fei. Dia pun memandang tajam ke arah goa.


Sekitar lima menit berikutnya, pintu goa itu sudah benar-benar terbuka lebar. Semua orang bisa melihat bahwa di dalam goa sangatlah gelap, gelap sekali sampai tidak terlihat apa-apa.


Wushh!!! Wushh!!!


Dua buah titik hitam berukuran besar tiba-tiba melesat keluar dengan sangat cepat. Dua benda itu sangat mirip dengan meteor yang melintas di langit malam.


"Itu dia,"


"Ini benda pusaka yang sudah kita nanti-nantikan,"


"Itu miliku,"

__ADS_1


Masing-masing pendekar itu berteriak dengan lantang. Bersamaan dengan ucapannya, mereka langsung menerjang ke depan. Kini semua orang mulai memperebutkan dua titik hitam tadi yang ternyata merupakan kotak kayu.


Zhang Fei ingin ikut andil bersama mereka. Hanya saja sebelum dia melakukannya, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang halus namun sangat berwibawa.


"Jangan mendekat, cucuku. Sekarang kau harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin, sebab malapetaka akan segera dimulai,"


Suaranya seperti dekat. Malah terasa berasal dari sisinya.


Tapi begitu menengok, di sisi Zhang Fei tidak terdapat siapa pun. Yang ada hanyalah tempat kosong.


"Kakek, di mana kau, Kek?" ia berseru sambil memutarkan tubuhnya beberapa kali.


Walaupun tidak bisa melihat si pemilik suara, tapi Zhang Fei sangat yakin bahwa itu adalah suara kakeknya, Zhang Liong.


Sayangnya, suara Zhang Liong tidak terdengar lagi. Sehingga pertanyaan barusan tidak mendapatkan jawaban apapun.


Sementara itu, ia mulai teringat kembali kepada pesan kakeknya barusan. Zhang Fei segera memandang ke tengah halaman luas.


Saat ini kata pendekar mulai bertempur untuk memperebutkan dua kotak hitam itu. Benturan nyaring terdengar keras. Hawa kematian dan hawa lainnya segera bercampur menjadi satu.


Wushh!!!


Sebuah bayangan merah muda tiba-tiba melesat dari sisi sebelah kanannya. Melihat bayangan tersebut, dengan cepat dirinya ikut menyusul.


Dia sangat yakin bahwa itu adalah Yao Mei.


"Nona Mei, tunggu aku. Kau jangan ke sana," katanya berteriak. Sambil berseru, dia pun meningkatkan kembali ilmu meringankan tubuhnya.


Untunglah Zhang Fei masih mempunyai waktu yang cukup. Sehingga dia bisa menyusul Yao Mei. Tanpa berkata lagi, ia langsung menariknya kembali ke tempat tadi.


"Ada apa? Kenapa kau menarik diriku dengan paksa?" tanya Yao Mei sedikit tidak senang.


"Nona Mei, kau jangan mendekat ke sana," jawab Zhang Fei mengulangi ucapannya dengan serius.


"Memangnya kenapa? Apakah aku tidak boleh memperebutkan benda pusaka itu?"


"Bukan begitu maksudku. Hanya saja dibalik ini ada sesuatu yang mengerikan. Semuanya tidak sesederhana yang kau lihat,"


"Apa maksudmu?" tanya Yao Mei menatap tajam.

__ADS_1


Sebenarnya dia tidak terlalu percaya dengan ucapan Zhang Fei. Hanya saja karena ia telah melihat ekspresi serius di wajah pemuda itu, mau tidak mau Yao Mei harus mendengarkan dulu penjelasannya.


__ADS_2