
"Sekarang, tugasku di desa ini sudah selesai," kata Zhang Fei setelah semuanya berakhir.
Mata-mata itu masih diam. Dia belum membuka mulutnya kembali.
"Waktu yang tersisa tinggal sedikit. Aku harus secepatnya pergi ke Istana Kekaisaran untuk bertemu dengan Kaisar dan membicarakan beberapa hal," Zhang Fei melanjutkan bicaranya kembali dengan nada tegas. "Tentang urusan ini, seperti terpaksa aku harus meminta bantuanmu," ia kemudian menoleh ke arah mata-mata tersebut.
"Ketua Fei jangan khawatir," mata-mata itu menjawab dengan cepat. "Serahkan saja semuanya kepadaku. Ketua Fei tidak perlu memikirkan hal lain lagi, yang di sini, biar aku yang mengurusnya,"
"Baiklah, kalau begitu. Aku mengandalkanmu," Zhang Fei menepuk pundaknya perlahan. Setelah itu dia langsung berjalan menghampiri kuda jempolan yang sudah sejak tadi menunggu.
"Hati-hati, Ketua," mata-mata tersebut kemudian membungkuk hormat.
Zhang Fei mengangguk sembari tersenyum hangat kepadanya. Sesaat kemudian dia langsung memacu kuda jempolan itu.
Debu tebal langsung mengepul tinggi. Suara ringkik kuda yang terdengar, semakin lama makin jauh lagi. Dalam beberapa tarikan nafas saja, Zhang Fei sudah lenyap dari pandangan mata.
Orang serba hitam itu sebelumnya tetap berdiri sambil melihat kepergian Zhang Fei. Setelah dipastikan dirinya lenyap, dia langsung menjalankan tugas-tugasnya.
###
Beberapa hari berikutnya, Zhang Fei sudah berhasil tiba di Kotaraja. Ia sampai di sana ketika hari masih pagi. Mentari pun belum lama menampakkan dirinya.
Cuma meskipun begitu, keadaan di Kotaraja sudah terlihat ramai. Banyak orang-orang yang berlalu-lalang di sepanjang jalanan besar itu.
Para pedagang makanan dan sebagainya sudah mulai membuat usaha mereka masing-masing.
Zhang Fei berjalan di tengah-tengah kerumunan orang sambil menuntun kuda miliknya. Sebelum pergi ke Istana Kekaisaran, dirinya berniat untuk mendatangi dulu sebuah rumah makan.
Perutnya sudah mulai lapar. Beberapa hari belakangan ini, Zhang Fei jarang makan secara teratur. Hal itu ia lakukan supaya dirinya bisa mengejar waktu.
Selama beberapa hari itu, Zhang Fei jarang berhenti. Siang dan malam dia terus memacu kudanya supaya berlari sekencang mungkin.
Ia baru berhenti setelah kudanya benar-benar kelelahan. Selama kuda itu masih segar bugar dan banyak tenaga, selama itu pula Zhang Fei akan meneruskan perjalanannya.
Setelah dia berjalan beberapa jarak, Zhang Fei menemukan adanya rumah makan yang sepi pengunjung. Ia melihat bahwa pemilik rumah makan itu merupakan nenek tua berusia sekitar tujuh puluhan tahun.
Tanpa banyak bicara lagi, Zhang Fei segera masuk ke dalam rumah makan itu. Dia langsung memesan menu makanan berupa nasi sayur dan satu poci teh hangat.
Nenek tua itu tampak girang setelah melihat ada orang yang datang. Ia segera menyiapkan pesanan tamunya dengan cepat.
Setelah semuanya siap, ia segera mengantarkannya ke meja di mana Zhang Fei berada.
__ADS_1
"Silahkan, Tuan Muda," katanya sambil menyuguhkan menu makanan tersebut.
"Terimakasih, Nek,"
Zhang Fei menjawabnya sambil tersenyum. Setelah pesanan tiba di atas meja, dengan segera ia langsung menyantapnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, ia sudah selesai makan. Zhang Fei lalu berjalan menghampiri si nenek tua.
"Nenek, apakah kau tinggal seorang diri?" tanyanya penasaran.
"Benar, Tuan Muda. Selama beberapa tahun ini, aku tinggal di sini sendirian,"
"Memangnya, ke mana suami dan anak-anakmu?"
"Suamiku sudah meninggal lima tahun yang lalu. Dua orang anakku entah di mana adanya. Setelah dewasa, dia tidak pernah kembali lagi kemari,"
Nenek tua itu bercerita singkat. Suaranya terdengar serak parau. Tidak bisa dipungkiri lagi, hatinya pada saat itu terasa sakit sekali.
Wajahnya yang keriput dan sudah tua, seketika terlihat bertambah tua beberapa tahun.
Zhang Fei menghembuskan nafas panjang. Meskipun belum mengalami, tapi dia cukup mengerti apa yang sedang dirasakan oleh nenek tua itu.
Dalam hatinya, Zhang Fei mengutuk keras anak-anak dari nenek tua itu.
Apakah anak-anak itu tidak pernah berpikir bagaimana susahnya mengurus seorang anak mulai dari kecil sampai dewasa?
Mengapa mereka tega melakukan hal itu? Apakah malu karena mempunyai orang tua yang kurang mampu, atau memang ... mereka sudah melupakannya sama sekali?
"Nek, maaf kalau aku sudah membuatmu sedih," kata Zhang Fei merasa bersalah.
"Tidak, Tuan Muda. Tidak," nenek itu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Masakanmu, enak, Nek. Mengapa kau tidak memperbesar rumah makan ini?"
"Ah, mana mungkin aku punya biaya untuk membangunnya, Tuan Muda?" nenek tua itu tersenyum kecut.
Zhang Fei mengangguk beberapa kali. Tiba-tiba dalam hatinya timbul niat ingin membantu.
"Tunggulah paling tidak tiga hari lagi, nanti akan ada seseorang yang datang kemari," katanya sambil memberikan biaya makan.
"Tuan Muda, apa maksudmu ..."
__ADS_1
Ucapannya tidak dilanjutkan lagi. Sebab pada saat itu, ia mendapati bahwa pemuda bertopeng tadi sudah tidak ada di sana.
Si nenek tua hanya melihat bahwa di atas meja ada satu keping emas.
###
Saat ini Zhang Fei sudah berada di dalam ruang penerima tamu di Istana Kekaisaran.
Ia tiba di sana ketika matahari hampir berada di atas kepala. Kedatangan Zhang Fei ke Istana Kekaisaran tersebut disambut hangat oleh para prajurit yang sedang berjaga di sana.
Tidak hanya itu saja, bahkan beberapa Jenderal yang sebelumnya sudah kenal baik pun juga ikut menyambut kedatangannya.
Tetapi karena masing-masing dari mereka mempunyai tugas tersendiri, maka para Jenderal tersebut tidak bisa menemani Zhang Fei lebih lama lagi.
Sekarang, yang ada di ruang penerima tamu itu hanya dia seorang. Ia sedang menunggu kedatangan Kaisar Song Kwi Bun.
Menurut seorang pelayan, Kaisar akan datang menemuinya sebentar lagi.
Kalau dihitung sampai sekarang, setidaknya Zhang Fei sudah ada di sana sekitar lima belas menit yang lalu. Ketika ia sedang memandangi lukisan yang terdapat di dinding, tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar.
Sesaat kemudian seseorang segera masuk ke dalam.
Kaisar Song Kwi Bun!
Orang yang datang itu bukan lain adalah dirinya!
"Salam hormat untuk Kaisar. Semoga Kaisar panjang umur dan sehat selalu," Zhang Fei langsung berdiri dan memberikan hormat untuk menyambut kedatangannya.
"Terimakasih, Ketua Fei. Semoga langit selalu melindungimu," Kaisar Song Kwi Bun membalas penghormatan itu. "Silahkan duduk," katanya sembari memberikan isyarat dengan tangan.
Zhang Fei mengangguk. Ia segera duduk di kursinya kembali.
"Maaf karena sudah membuatmu menunggu cukup lama," kata Kaisar setelah ia duduk.
"Ah, tidak perlu seperti itu, Kaisar,"
Kaisar Song Kwi Bun tersenyum simpul. Seorang pelayan kemudian masuk ke dalam. Dia menuangkan cawan arak untuk kedua orang tersebut.
Setelah bersulang beberapa kali, pelayan tersebut segera berdiri di pojok ruangan.
"Pelayan, biarkan kami berdua di sini," kata Kaisar kepadanya.
__ADS_1
"Baik, Kaisar. Kalau begitu, hamba pamit," pelayan itu memberi hormat. Dia langsung keluar dari ruangan tersebut.