Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Membantu Para Pendekar Ill


__ADS_3

Pendekar sesat tersebut tidak bisa bertahan lebih lama. Setelah terkena serangan jurus Telapak Dewa Maut milik Zhang Fei, nyawanya langsung melayang detik itu juga.


Di bagian ulu hatinya terdapat bekas telapak tangan yang menghitam legam. Dia tewas dengan membawa rasa penasaran!


Tidak ada darah yang keluar. Sebab darahnya sudah beku lebih dulu akibat panasnya hawa dari jurus tersebut.


Tidak terdengar adanya teriakan pula. Karena sebelum ia sempat mengeluarkan teriakan, nyawanya telah melayang lebih dulu.


Pertarungan di antara mereka masih berlanjut. Pendekar sesat yang satunya lagi semakin marah setelah mengetahui rekannya tewas mengenaskan.


Dalam hati, dia bersumpah akan membunuh Zhang Fei sebagai pembalasan dendam atas kematiannya.


Tetapi, benarkah sumpah itu akan terwujud? Sungguhkah ia bisa membunuh Ketua Dunia Persilatan?


Sedangkan saat ini saja, dia sudah berada di bawah angin. Ia terdesak hebat oleh serbuan serangan Zhang Fei tidak pernah berhenti.


Kedua telapak tangan Ketua Dunia Persilatan terlihat bagaikan dua ekor naga yang menari di atas angkasa. Gerakannya sangat cepat. Setiap gerakan itu pun mengandung tipuan yang sulit untuk ditebak ke mana arahnya.


Beberapa jurus lamanya, dia masih terus mencoba untuk menangkis atau memberikan serangan balasan. Namun lima jurus yang berikutnya, ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi jurus Zhang Fei.


Blamm!!!


Telapak tangan Ketua Dunia Persilatan kembali mengenai ulu hati lawan dengan telak. Orang itu juga terlempar ke belakang.


Punggungnya membentur pohon dengan keras. Tulang punggungnya remuk. Pohonnya sendiri seketika tumbang.


Dari sini saja, siapa pun sudah bisa menilai kira-kira sebesar apa tenaga yang terkandung dalam jurus tersebut.


Dua orang pendekar sesat itu berhasil dibunuh hanya dalam waktu kurang dari dua puluh jurus. Meskipun mereka sempat memberikan perlawanan sengit, tapi hal itu hanya berlaku di awal pertarungan saja.


Lewat beberapa saat berikutnya, justru keadaan mendadak berbalik. Akibatnya, mereka berdua tidak mampu mempertahankan selembar nyawanya masing-masing.


Setelah berhasil membunuh mereka, Zhang Fei segera berjalan ke sisi arena. Dia memperhatikan pertarungan-pertarungan yang masih berlangsung di halaman hutan itu.


Suara dentingan nyaring sekali terdengar. Decitan angin dingin serta tajam, terasa bagaikan pisau yang merobek kulit.

__ADS_1


Zhang Fei berdiri tegak. Kedua tangannya di simpan di belakang.


Ia memperhatikan satu-persatu dari para anggota Organisasi Pedang Cahaya tersebut.


"Ternyata ilmu pedang mereka sudah mengalami peningkatan yang cukup lumayan. Hemm ... kalau begini caranya, aku yakin, dalam waktu yang tidak lama, nama Organisasi Pedang Cahaya pasti akan ditakuti lawan disegani kawan," gumam Zhang Fei seraya menganggukkan kepala beberapa kali.


Tiga belas orang anggotanya itu masih bertarung menghadapi lawan masing-masing. Meskipun situasi masih tidak bisa ditetapkan secara lama, tapi menurut dugaan Zhang Fei, anggotanya pasti akan mampu meraih kemenangan.


Apalagi ketika ia menyaksikan bahwa pihak musuh selalu kerepotan ketika anggotanya mengeluarkan ilmu pedang.


Cukup lama Zhang Fei memperhatikan pertarungan tersebut. Hingga pada akhirnya, satu-persatu dari pertarungan itu mulai mencapai puncaknya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, hampir dalam waktu yang bersamaan, semua anggota Organisasi Pedang Cahaya telah berhasil meraih kemenangan.


Mereka bersorak beberapa saat sebagai tanda gembira. Setelah itu, para pendekar pedang tersebut segera berjalan menghampiri Zhang Fei yang sudah sejak tadi melihatnya.


"Ketua Fei ..." mereka segera memberikan hormat setelah tiba di hadapannya.


Zhang Fei membalas hormat mereka dan membalasnya dengan anggukan kepala.


"Ketua Fei terlalu berlebihan. Ini semua justru berkat dirimu. Kalau tidak ada Ketua Fei, mana mungkin kami bisa mendapat kemajuan seperti ini," kata Zhu Yu mewakili yang lain.


"Justru kau sendiri yang terlalu merendah," kata Zhang Fei seraya tertawa.


Orang-orang itu sempat berbincang-bincang beberapa saat lamanya. Hal tersebut dilakukan sebagai melepas rasa rindu yang selama ini ditanggungnya.


"Eh, ngomong-ngomong, di mana kalian melihat pendekar wanita yang mirip dengan Nona Mei itu?" tanya Zhang Fei ke inti pembicaraan.


"Oh, soal itu," kata Tio Goan. "Itu, di sana, Ketua," lanjutnya sambil menunjuk ke arah sebelah timur.


"Apakah di sana masih ada pertempuran lagi?" Zhang Fei bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"Tentu saja, Ketua. Apalagi, dari arah itulah pasukan musuh datang. Maka dari itu, pertempuran yang di sebelah timur itu, sampai sekarang pasti masih belum selesai,"


"Jika demikian, lalu kenapa kalian malah bertarung di tempat ini?" tanya Zhang Fei lebih lanjut.

__ADS_1


"Sebelumnya seorang prajurit melapor bahwa dari arah lain ada lagi serangan yang datang. Maka dari itu, kami memutuskan untuk segera kemari dan memberi bantuan. Untung saja kami tidak terlambat," jelas Tio Goan kepada Zhang Fei.


"Baiklah. Kalau urusan di sini sudah selesai, mari kita pergi ke lokasi utamanya saja,"


"Mari, Ketua. Kami juga bermaksud seperti itu,"


Keempat belas orang pendekar tersebut kemudian segera pergi dari sana. Sedangkan para prajurit Kekaisaran, mereka diberi tugas untuk membereskan tempat itu.


Anggota Organisasi Pedang Cahaya memimpin perjalanan. Zhang Fei mengikuti mereka di belakangnya sambil menuntun kuda.


Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di lokasi yang dimaksud.


Benar saja, ketika sampai, di sana sudah terjadi pertempuran yang lebih besar. Jumlah orang-orang yang terlibat di dalamnya juga lebih banyak lagi.


"Pantas saja pertempuran utamanya terjadi di sini. Ternyata, di depannya adalah anak sungai yang biasa dijadikan jalur perahu," gumam Zhang Fei sambil memperhatikan ke depan sana.


"Memang benar, Ketua. Sungai ini adalah anak dari Sungai Huangho (Sungai Kuning), nantinya bis menghubungkan kita ke kota-kota besar. Karena hal itulah, jalur airnya selalu ramai," sahut Tio Goan menimpali ucapan Zhang Fei.


Ketua Dunia Persilatan menganggukkan kepala sebagai jawabannya. "Paman Goan, mana pendekar wanita itu?"


Tio Goan tidak langsung menjawab. Hanya saja, sepasang mata orang tua itu segera memandang ke segala penjuru mata angin.


Tidak perlu ditanyakan lagi, dia pasti sedang mencari-cari sosok yang diduga adalah Yao Mei.


Lewat beberapa waktu, ia tiba-tiba berseru. "Itu dia, Ketua," ujarnya sambil menunjuk ke satu arah.


Dengan cepat Zhang Fei segera menatap ke sana. Dan ternyata benar, sekitar sepuluh tombak di depan sana, saat ini memang sedang terjadi sebuah pertarungan yang berlangsung sengit.


Pertarungan tersebut melibatkan tiga orang. Dua orang pria tua, dan satu orang gadis cantik berpakaian serba merah muda.


Lokasi pertarungan itu memiliki jarak yang cukup jauh dari pertarungan lainnya. Hal itu mungkin karena pertarungan tersebut mampu membawa akibat yang cukup besar bagi orang-orang di sekitarnya.


Tanpa bicara sepatah kata pun, Zhang Fei langsung melesat ke sana dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Ia sudah tidak perduli lagi siapakah gadis itu. Yao Mei atau bukan, ia tidak memikirkannya.

__ADS_1


Yang terpenting, Zhang Fei sudah bertekad bulat untuk membantunya!


__ADS_2