
Zhang Fei tidak menjawab. Dia hanya menggertak gigi sambil berusaha bangkit berdiri.
Pedang Raja Dewa digunakan sebagai tongkat. Ia berdiri dengan menopang kepada senjata pusaka tersebut.
Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada orang yang berbicara. Walikota Loo Ji Kun juga sudah menutup mulut. Dia menatap ke arah Zhang Fei dengan tatapan tajam.
Dua Malaikat Tanpa Kehidupan masih berdiri di posisinya. Mereka juga sama menatap ke arah Zhang Fei. Bedanya, tatapan dua orang itu tidak terlihat mengandung apapun.
Tatapannya kosong. Seperti tatapan orang yang baru saja kehilangan nyawanya.
Dari tiga tatapan mata yang mengarah kepadanya, Zhang Fei justru lebih merasa takut melihat tatapan Dua Malaikat Tanpa Kehidupan.
Ketika secara tidak sengaja sinar matanya bertemu, dia langsung merasa merinding.
Buru-buru dirinya mengalihkan pandangan ke atas langit. Rupanya rembulan sudah hadir lagi. Hanya saja sekarang telah berada di ufuk sebelah barat.
Sepertinya fajar akan segera menyingsing. Malam yang gelap akan segera lenyap. Digantikan dengan pagi yang cerah dan penuh kehangatan.
Tapi kapan hal itu akan terjadi? Kenapa ia merasakan seolah-olah waktu berjalan lebih lambat dari biasanya?
"Habisi bocah itu sekarang!" tukas Walikota Loo Ji Kun kembali menurunkan perintah.
Dua Malaikat Tanpa Kehidupan menganggukkan kepala secara bersamaan. Detik berikutnya, mereka langsung menyerang berbarengan.
Dua batang senjata yang berbeda telah melesat di tengah udara. Hawa golok dan tombak semakin menekan. Gulungan sinar kembali muncul di udara hampa.
Satu helaan nafa berikutnya, serangan yang paling mematikan telah tiba di depan mata.
Karena tidak ada pilihan lain, terpaksa Zhang Fei melayani lagi keduanya dengan tenaga yang tersisa.
Pertarungan yang sekarang terlihat lebih sengit. Baru beberapa jurus saja, anak muda itu telah berada di bawah angin. Kalau dirinya tidak bisa mengembalikan posisi dengan segera, niscaya ia akan tewas dalam pertempuran tersebut.
Pada saat itu, tiba-tiba telinganya yang tajam mendadak ada orang yang berbicara. Suaranya lirih, namun ia bisa mendengarnya secara jelas.
"Jangan fokus terhadap gerakan senjatanya. Tapi fokuslah terhadap gerakan kedua kakinya," ucap suara yang tiba-tiba muncul itu.
Awalnya Zhang Fei tidak percaya. Ia menganggap hal itu hanya halusinasinya saja. Tetapi karena posisinya semakin terdesak hebat, mau tidak mau ia harus mendengarnya.
'Apa salahnya untuk mencoba, siapa tahu suara itu benar-benar bisa membantuku lepas dari kesulitan ini,' pikirnya.
Satu jurus kemudian, tiba-tiba ia mengubah gaya bertarungnya. Tatapan mata yang semula berfokus kepada dua senjata itu, kini mulai beralih ke bawah. Ia memperhatikan gerakan kaki lawan dengan seksama.
__ADS_1
Awalnya Zhang Fei merasa sedikit kesulitan. Tapi beberapa helaan nafas kemudian, dia mulai bisa menyesuaikan diri.
Tanpa terasa sepuluh jurus sudah terlewatkan. Ia berseru dalam hati, ternyata apa yang diucapkan oleh suara misterius tadi memang benar.
Rupanya intisari jurus Dua Malaikat Tanpa Kehidupan terletak di gerakan kakinya!
'Pantas saja serangannya sulit dibaca dan terasa rumit. Ternyata setiap serangan itu mengikuti gerakan kaki,' batin Zhang Fei setelah dia mengetahui inti persoalannya.
Sekarang, setelah berhasil memecahkan kelemahan lawan, mendadak dirinya berseru nyaring. Pedang Raja Dewa tahu-tahu berkilat di tengah udara.
Zhang Fei masih menyerang dengan jurus Murka Pedang Dewa. Gerakannya masih sama. Tenaga yang dikeluarkan juga masih setara.
Hanya saja hasil yang didapatkan jelas berbeda. Kalau tadi semua serangannya percuma, sekarang malah sebaliknya.
Usaha yang dia lakukan memberikan hasil sesuai harapan. Dua Malaikat Tanpa Kehidupan terlihat kaget dengan perubahan yang mendadak itu. Hanya saja karena sadar sedang berada dalam pertarungan, dengan cepat pula mereka menghilangkan kekagetan tersebut.
Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!
Zhang Fei bergerak cepat. Tubuhnya berkelebat di antara dua batang senjata yang terus berusaha membunuhnya.
Kini, semua serangan yang dilakukan oleh Dua Malaikat Tanpa Kehidupan tidak ada yang berhasil mengancamnya.
Pihak musuh semakin kaget. Tanpa sadar di tengah gempuran serangannya, mereka saling pandang untuk sekejap. Seakan-akan mereka sedang meminta pendapat, dengan cara apa harus menyerang Zhang Fei.
Pada saat seperti itulah, tiba-tiba suara misterius tadi kembali terdengar.
"Sekarang!" katanya berteriak.
Wutt!!!
Zhang Fei menuruti ucapannya. Ia langsung meningkatkan daya serangan.
Srett!!!
Darah segar langsung berhamburan di tengah udara. Dua Malaikat Tanpa Kehidupan menatap ke arahnya. Sinar mata kedua orang itu tiba-tiba menampilkan keterkejutan.
Clangg!!!
Golok dan tombak yang jatuh ke tanah menciptakan suara nyaring. Disusul kemudian dengan ambruknya tubuh mereka.
Darah segar menggenang. Bau amis darah seketika terbawa angin malam yang dingin.
__ADS_1
"Akhirnya ..." gumam Zhang Fei sambil menghela nafas panjang.
Ia benar-benar merasa lega. Seolah-olah dirinya baru saja keluar dari jeratan maut!
Sementara di sisi lain, terlihat Walikota Loo Ji Kun terkejut setengah mati ketika melihat dua pengawal pribadinya tewas.
Kekecewaan yang tampil di wajahnya sekarang tidak bisa lagi dilukiskan dengan kata-kata.
"Tidak mungkin ..." gumamnya perlahan sambil terus menatap ke arah mayat Dua Malaikat Tanpa Kehidupan.
Beberapa kali dia mengedipkan matanya. Seakan-akan dirinya sedang berharap bahwa apa yang disaksikannya itu adalah mimpi.
Sayangnya, itu bukan mimpi. Melainkan sebuah kenyataan!
"Bangsat tua, dua orang jagoanmu sudah pergi ke neraka. Sekarang, tiba saatnya untukmu menyusulnya," kata Zhang Fei dengan nada sedingin es.
Tangan kanannya menggenggam Pedang Raja Dewa lebih erat lagi. Otot-otot di punggung tangan terlihat merongkol keluar.
Wushh!!!
Ia melesat bagaikan kilat. Baru satu kedipan mata saja, didinya telah riba di depan Walikota Loo Ji.
Sebelum dia mencabut pedang mewah miliknya, Zhang Fei sudah lebih dulu menusukkan Pedang Raja Dewa ke tenggorokannya!
"Keukhh ..."
Walikota Loo Ji Kun seperti ingin berbicara. Tapi sayangnya, nyawa di tubuhnya lebih dulu melayang pergi.
Pada saat pedang pusaka itu dicabut, ia langsung ambruk ke tanah dengan posisi telungkup.
Halaman itu kembali sepi hening. Saat-saat yang paling menegangkan sudah sirna.
Zhang Fei tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Ia menatap pohon besar di tempat gelap sebelah timur, sekilas dirinya melihat ada bayangan putih.
"Terimakasih atas bantuannya, Tuan Kiang ..." ucapnya perlahan sambil membungkuk memberikan hormat.
Walaupun dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi dia sangat yakin, orang yang tadi telah membantunya, bukan lain adalah si Dewa Arak Tanpa Bayangan!
"Hahaha ... bagus. Kau berhasil menjalankan tugasmu dengan baik," suaranya kembali terdengar. Tapi suara itu sudah berada di tempat yang jauh.
Zhang Fei tersenyum. Dia kemudian memandang ke halaman yang kini sudah dipenuhi oleh puluhan mayat itu. Setelah darah yang mengalir di seluruh batang pedangnya lenyap, dengan cepat dia menyarungkannya kembali.
__ADS_1