
Benar, ia tidak mungkin salah. Yang dicium oleh hidungnya sekarang adalah darah!
Zhang Fei sangat yakin akan hal tersebut.
Tapi, darah siapa?
Dengan cepat pemuda itu melesat. Menelusuri setiap ruangan yang terdapat di gedung Hartawan Cong. Sekian lama dia mencari, sayangnya tidak juga menemukan sesuatu.
"Hanya tinggal ruangan ini saja yang tersisa. Aku yakin, ini adalah kamar Hartawan Cong," gumamnya sambil berdiri tepat di depan sebuah kamar yang besar.
Tidak mau membuang waktu lagi, ia pun segera mendobrak pintu kamar.
Brakk!!!
Pintu langsung hancur berkeping-keping. Seolah-olah pintu tersebut telah dihantam oleh seekor gajah yang sedang mengamuk.
Ternyata benar, itu adalah kamar Hartawan Cong. Dan lagi, di dalamnya terdapat tiga orang mayat yang tergeletak dengan kondisi mengenaskan.
Masing-masing di tubuh mereka terdapat satu batang golok yang masih menancap. Darah menggenangi seluruh ruangan kamar.
Bau amis darah semakin tercium!
Kalau orang lain yang berada di sana, niscaya ia sudah muntah-muntah sejak tadi. Apalagi, sekarang dia bukan hanya mencium bau amis darah, melainkan juga mencium bau busuknya bangkai yang sangat menusuk hidung.
Untunglah Zhang Fei bukan orang lain. Bukan saja tidak muntah, ia bahkan mendekat ke tiga mayat yang sudah membusuk tersebut.
Setelah diperhatikan lebih seksama, ternyata ketiga mayat itu terdiri dari dua laki-laki dan satu orang wanita.
Tidak salah lagi, ketiganya pasti merupakan orang tua dan anaknya.
Tidak salah pula, itu adalah Mayat Hartawan Cong Lai berserta anak dan isterinya.
Kenapa mereka tewas? Siapa pula yang telah membunuhnya dengan keji seperti itu?
Zhang Fei mengepalkan tangannya. Ia menggertak gigi.
Orang yang telah melakukan pembunuhan ini benar-benar biadab. Ia bahkan tidak segan membunuh seorang anak kecil yang berusia sekitar enam tahun!
Pemuda itu benar-benar tidak habis mengerti, kenapa di dunia ini, terdapat banyak sekali manusia yang kejam?
Zhang Fei mulai menyelidiki kematian tiga mayat tersebut. Ternyata, mereka tewas akibat bacokan golok. Di beberapa bagian tubuhnya, ada pula luka yang cukup dalam.
Selain hal tersebut, Zhang Fei juga menemukan petunjuk lain.
Tepat di sisi Hartawan Cong, ada beberapa huruf yang ditulis menggunakan tinta darah.
__ADS_1
Walaupun samar-samar karena darahnya sudah kering, tapi Zhang Fei bisa membaca tulisan itu cukup jelas.
"Panji Hitam!"
Deg!!!
Lagi-lagi partai sesat itu. Ternyata selama beberapa tahun ini, tindak-tanduk Partai Panji Hitam malah semakin menjadi!
"Keparat! Mereka memang bukan manusia!" gumamnya sambil menahan amarah.
Pemuda itu berdiri dalam kemarahan cukup lama. Wajahnya mendadak memerah. Memerah karena marah!
Wushh!!!
Tiba-tiba ia melesat kembali, menerobos jendela kamar yang pada saat itu terbuka lebar.
Zhang Fei turun tepat di halaman belakang kediaman Hartawan Cong. Di sana, lagi-lagi dia dikejutkan dengan sesuatu.
Di halaman belakang tersebut, ada cukup banyak mayat yang sudah membusuk dan bergelimpangan. Jumlahnya tidak kurang dari dua puluh lima orang.
Setiap dari mereka juga mengalami luka bacokan golok dan sayatan pedang.
Darah yang begitu banyak sudah mengering. Sudah menyatu bersama tanah. Namun kalau diperhatikan dengan seksama.
Itu artinya, kematian para penghuni gedung Hartawan Cong, sudah sejak beberapa waktu lalu.
Sementara itu, angin malam yang membawa rasa dingin tiba-tiba berhembus cukup kencang. Bau busuknya bangkai semakin tercium lagi.
Apalagi, di halaman belakang itu terdapat lebih banyak mayat yang busuk. Tentu saja, penderitaan yang dialami pemuda itu semakin hebat.
Tapi ia masih bertahan. Ia segera menyalurkan hawa murni dan menutup jalan pernafasannya.
Malam yang dingin. Malam yang mencekam.
Suasana sudah benar-benar hening.
Tiba-tiba pemuda itu merasakan kehadiran seseorang. Mendadak dirinya melesat ke sebuah sudut yang gelap.
"Siapa di sana? Keluar!" katanya membentak marah.
"Ampun, ampun, Tuan. Aku tidak tahu apa-apa, aku ... aku hanya tukang kebun. Ampun ..."
Seorang tua yang sudah berusia tujuh puluh puluh tiba-tiba muncul dari balik kegelapan. Ia merangkak sambil menyembah dengan kedua tangan. Wajahnya tertunduk. Tapi Zhang Fei bisa melihat wajah tersebut.
Wajah orang tua itu sudah pucat pasi seperti mayat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Ia benar-benar ketakutan.
Sementara Zhang Fei, justru malah memandang keheranan.
"Paman, apa yang kau maksudkan?" tanyanya dengan nada rendah.
Bersamaan dengan itu, dia pun turut membantu si kakek tua bangun dari posisinya.
"Jangan takut. Aku bukan orang jahat, tenangkan dirimu,"
Mendengar ucapan itu, si kakek tua pun merasa lega. Dia berusaha mengatur nafas dan menenangkan diri. Lewat beberapa waktu kemudian, setelah dia berhasil menguasai dirinya, ia baru memandang wajah Zhang Fei.
"Tu-tuan Muda siapa?" tanyanya masih sedikit gugup.
"Nanti saja bicaranya. Mari kita mencari tempat yang nyaman,"
Zhang Fei membawa kakek tua itu nenjauh dari halaman belakang. Bagaimanapun juga, tempat tersebut bukanlah tempat yang baik untuk melangsungkan cerita.
Apalagi di sana ada puluhan mayat manusia yang membusuk.
Sekarang, keduanya telah berada di halaman depan. Di sana adalah tempat yang cocok. Sebab bau amis darah dan bau bangkai tidak terlalu tercium.
"Aku adalah Zhang Fei, utusan dari Kakek Zhang Liong. Datang kemari untuk melihat kondisi keluarga Hartawan Cong Lai. Sayang sekali, aku telah datang terlambat ..."
Ia menghela nafas panjang. Setelah berhenti sebentar, Zhang Fei kembali melanjutkan.
"Paman, bisakah kau menceritakan apa yang telah terjadi di tempat ini?"
Kakek tua itu menghela nafas berat. Setelah tenang, dia mulai bercerita.
"Majikan telah mendapatkan musibah. Peristiwa itu terjadi tujuh hari yang lalu. Tepat pada tengah malam, tiba-tiba ada puluhan orang berpakaian serba hitam yang melompat masuk dari setiap penjuru. Tanpa berkata apapun, orang-orang tersebut langsung membunuh siapa saja yang berada di gedung ini,"
"Mereka itu seperti iblis. Bukan seperti manusia. Walaupun korban sudah mati, tapi mereka masih tetap melancarkan serangan terhadapnya,"
Kakek tua itu berhenti bercerita. Air mata telah turun membasahi pipinya. Apabila membayangkan peristiwa berdarah itu, ia akan merasakan sekujur tubuhnya bergetar keras.
"Aku ... aku yang tua ini bisa selamat karena berhasil menyembunyikan diri. Kebetulan, kamarku berada di tempat tadi. Jadi aku segera bersembunyi setelah mengetahui semua kejadiannya,"
Ia kembali menangis. Dirinya tidak sanggup lagi melanjutkan cerita. Lidahnya terasa kelu. Nafasnya terasa sesak.
Zhang Fei yang mendengar cerita itu juga turut prihatin. Tapi dia hanya bisa menghela nafas berat dan menyayangkan semua kejadian ini.
"Paman, apakah kau tahu apa yang telah terjadi sebelumnya? Apakah Hartawan Cong Lai mempunyai masalah dengan orang lain?" tanya Zhang Fei lebih jauh.
Dia yakin, dibalik peristiwa berdarah ini pasti terdapat alasan kuat. Rasanya terlalu mustahil apabila pihak Hartawan Cong Lai dihabisi tanpa adanya alasan.
__ADS_1
Bagaimanapun juga, dia harus membereskan masalah ini sampai tuntas. Apalagi, ini adalah tugas dari kakeknya sendiri.