Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kondisi Zhang Fei II


__ADS_3

"Masih ada delapan lagi? Jadi ... semua senjata rahasia yang bersarang di tubuh anak Fei, ada lima belas?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil melotot besar.


Dia seperti tidak percaya dengan ucapan tabib tersebut. Tapi melihat ekspresi wajahnya yang sangat serius, mau tak mau dia harus berusaha untuk mempercayainya.


"Benar, Tuan Kiang. Dan kelima belas senjata rahasia itu, semuanya menancap tepat di titik penting. Menurut dugaanku, sepertinya musuh Ketua Fei tidak melemparkan senjatanya. Melainkan menancapkannya secara langsung dari jarak yang sangat dekat. Sehingga setiap senjata itu berada tepat di titik yang rawan,"


"Ya, kau benar," katanya membenarkan. "Saat itu, tanpa sengaja aku sempat melihatnya. Dan orang tersebut memang menancapkannya secara langsung. Dari cara yang dilakukan, sepertinya dia ingin membuat anak Fei tersiksa untuk beberapa waktu,"


"Ya, aku setuju dengan ucapanmu, Tuan Kiang. Kalau dia tidak mempunyai tujuan seperti itu, mungkin di saat yang sama pun bukan suatu hal sulit jika ingin membunuhnya," sambung Pendekar Pedang Perpisahan.


Yang lain ikut mengangguk. Mereka pun setuju dengan ucapan-ucapan yang keluar itu.


Diam-diam, Yao Mei dan Yin Yin merasa kagum kepada para tokoh angkatan tua yang ada di sana. Bagaimana tidak? Setiap kata yang keluar dari mulutnya sangat masuk akal sekali.


Kedua gadis cantik itu pun merasa setuju.


'Pantas hanya dalam waktu dekat saja Zhang Fei sudah mengalami peningkatan pesat dari semua sisi. Ternyata dia dikelilingi oleh orang-orang yang berilmu dan dan berpengetahuan luas,' batin Yao Mei sambil mengangguk-angguk perlahan.


Sementara itu, setelah berpikir beberapa saat, pada akhirnya Dewa Arak Tanpa Bayangan mengambil segera sebuah keputusan.


"Tabib, bagaimana kalau kami membantu usaha kalian?"


"Usaha apa itu, Tuan Kiang?"


"Biar aku atau yang lain saja, yang mencabut delapan senjata rahasia sisanya. Aku yakin, dengan begitu, maka paku perak yang kau sebut tadi akan bisa dicabut keluar,"


"Tapi ... apakah di antara Tuan-tuan ini ada yang mahir ilmu pengobatan?" tanya tabib itu sambil memandangi para tokoh secara bergantian.


"Ah, itu hal yang mudah. Kau tinggal beritahukan saja caranya ketika paku-paku itu akan dicabut," sahut Pendekar Pedang Perpisahan.


Tabib tersebut tampak berpikir sebentar. Ia terlihat meminta pertimbangan kepada tabib yang lain.


Bukan karena dirinya tidak percaya. Melainkan karena dia tidak ingin melakukan kesalahan. Karena untuk saat ini, sebuah kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal.

__ADS_1


Salah-salah, nyawa Zhang Fei akan melayang dengan percuma.


"Baiklah, Tuan. Tapi, siapa yang akan melakukannya?"


Setelah yang lain menyetujui usul tersebut, akhirnya tabib yang sejak tadi bicara pun menyatakan persetujuannya.


"Aku," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Tidak, biar aku saja," Orang Tua Aneh Tionggoan juga ikut bicara. "Setan arak, kau beristirahat saja. Jangan lupa, obati juga luka-lukamu itu,"


"Aih ... baiklah. Kali ini aku mengalah darimu," ia menghembuskan nafas panjang lalu meminum araknya.


Jalan keluar dari permasalahan tersebut sudah ditemukan. Sekarang tinggal prakteknya.


Tabib yang lain segera mundur. Sedangkan Orang Tua Aneh Tionggoan segera maju ke sisi Zhang Fei.


"Tuan Kai, apakah kau bisa melihat titik-titik hitam itu?" tanya si tabib sambil memberi isyarat dengan telunjuknya.


"Ya, aku bisa melihatnya," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan seraya mengangguk.


"Baik, aku akan mencobanya sekarang," katanya memotong ucapan tabib.


Mulutnya berkata seperti itu, tapi kenyataannya Orang Tua Aneh Tionggoan tidak melakukan apapun juga. Kedua tangannya masih diam. Dia belum mengambil langkah seperti yang diucapkannya.


Sepasang matanya beberapa kali menatap semua titik hitam tadi secara bergantian. Nafasnya terdengar berat. Tanpa sadar, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.


Walaupun dia adalah Datuk Dunia Persilatan yang telah mempunyai banyak pengalaman, tetapi kali ini rasanya lain. Ia benar-benar merasa tegang.


Dalam hatinya masih ada sedikit keraguan terkait apakah dirinya akan bisa atau tidak. Pada saat itu, tiba-tiba si tabib tadi berkata dengan perlahan tepat di sisi telinganya.


"Tuan Kai, tenanglah, jangan panik. Aku yakin kau pasti bisa menyelamatkan nyawa Ketua Fei,"


Orang Tua Aneh Tionggoan menoleh sekilas. Ia mengangguk. Kemudian kedua telapak tangannya mulai diangkat dan ditempelkan di dua titik hitam yang ada pada tubuh Zhang Fei.

__ADS_1


Hawa murni dan tenaga sakti segera keluar memenuhi telapak tangan. Satu tarikan nafas berikutnya, ia mulai mengangkat telapak tangan itu sedikit demi sedikit.


Bersamaan dengan kejadian tersebut, tiba-tiba dari tubuh Zhang Fei keluar dua batang paku berwarna perak. Paku itu sangat kecil, panjangnya saja mungkin setara dengan jari kelingking.


Tabib yang melihat hal tersebut segera memperlihatkan senyuman girang. Begitu seluruh bagian paku sudah keluar, buru-buru dia mengambilnya.


"Tuan Kai, kau ... kau berhasil,"


Orang Tua Aneh Tionggoan tersenyum masam. Ia segera mengusut keringat yang membasahi keningnya.


"Ya, aku tidak menyangka bisa melakukannya,"


Setelah mengetahui hal tersebut, para tokoh yang lain juga ikut tersenyum girang. Sementara Orang Tua Aneh Tionggoan, ia semakin semangat lagi untuk melakukan tugasnya.


Lewat beberapa tarikan nafas kemudian, dia kembali melakukan hal yang serupa.


Hasilnya pun tetap memuaskan. Lagi-lagi, dirinya berhasil mengeluarkan jarum perak yang tadi menancap di titik-titik penting.


Datuk Dunia Persilatan tersebut melakukan hal itu beberapa kali sampai semua paku perak berhasil dikeluarkan.


"Tuan Kai, sekarang tolong salurkan hawa murni dan tenaga sakti ke jantung Ketua Fei," kata tabib tadi memberitahu.


Orang Tua Aneh Tionggoan mengangguk. Dia langsung melaksanakan perintahnya.


Sepuluh menit kemudian, tugasnya sudah selesai. Tubuh orang tua itu telah dibasahi oleh keringat dingin.


Ia kemudian berjalan ke belakang dan segera duduk bersila untuk menghimpun tenaga yang telah dikeluarkan.


Walaupun sekilas kegiatan itu terlihat enteng, namun sebenarnya sangatlah susah. Seperti yang telah dijelaskan di atas, andai saja dia melakukan kesalahan sedikit, maka nyawa Zhang Fei sendiri yang akan menjadi taruhannya.


Mungkin karena hal itulah Orang Tua Aneh Tionggoan merasa sangat tegang. Bahkan ketegangannya itu jauh lebih besar saat ia berhadapan dengan Kaisar.


Sekarang, masalah utama sudah berhasil diselesaikan. Para tokoh sudah duduk kembali. Si tabib tadi pun sudah ikut duduk di sana untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.

__ADS_1


"Tabib, lima belas batang paku perak itu sudah berhasil aku keluarkan. Lalu sekarang, apakah nyawa Ketua Fei masih bisa diselamatkan?" tanyanya menegaskan lagi.


"Ya, seharusnya begitu, Tuan Kai. Sekarang masalah utamanya sudah diatasi. Selanjutnya, kami tinggal mengurus hal yang lain,"


__ADS_2