Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Musuh Besar Sekaligus Sahabat Dekat


__ADS_3

Lewat beberapa waktu kemudian, kedua orang itu sudah berada di belakang goa. Ternyata di sana ada sebuah tempat duduk yang terbuat dari batu hitam.


Ada dua tempat duduk. Ada satu meja persegi panjang. Semuanya terbuat dari batu hitam.


Di sekelilingnya terdapat lagi taman bunga. Bau harum semerbak tercium dengan jelas.


Tempat duduk itu persis di bangun di pinggir sebuah tebing curam. Jauh di bawah sana tampak sawah ladang yang membentang luas seperti permadani hijau. Terlihat pula sungai perbatasan Kota Tiang Kang dan Kota Louyang.


Begitu indah, sangat menawan hati.


Dua orang itu sudah duduk berhadapan. Di depan mereka ada satu guci dan dua cawan arak. Di sisinya, ada juga buah-buahan yang dipetik langsung dari pohonnya.


Di belakang mereka, ada lagi satu orang gadis muda yang cantik. Tubuhnya tinggi semampai. Kulit tubuhnya berwarna kuning telur. Bentuk mukanya juga bulat dengan perpaduan bola mata hitam bening.


Gadis itu terlihat manis. Walaupun kulitnya tidak putih seperti salju, tapi ia pun mempunyai daya tarik yang cukup untuk membuat lawan jenis terpengaruh olehnya.


Ia mengenakan pakaian kuning cerah. Di belakang punggungnya terdapat dua batang pedang kembar. Gadis tersebut tetap berdiri tanpa bicara.


Keadaan di sana masih hening. Baik Kiam Hong ataupun Zhang Fei, keduanya belum ada yang bicara.


Walaupun di benak pemuda itu ada cukup banyak pertanyaan, tapi ia tidak mengungkapkannya. Zhang Fei yakin, dengan sendirinya orang tua tersebut pasti akan menjelaskan semuanya.


Sekarang, mereka baru saja selesai bersulang arak. Kiam Hong sedang memakan buah apel yang berwarna merah muda.


Setelah habis satu buah, ia segera bicara.


"Zhang Fei, kenapa tadi kau begitu yakin bahwa dirimu sanggup menahan telapak tanganku?"


"Sebenarnya aku tidak punya keyakinan setinggi itu, Tuan Hong," jawabnya sambil tersenyum getir.


Dia menjawab dengan jujur. Ia tidak suka berbohong terhadap orang tua sepertinya.


"Kalau tidak yakin, lalu kenapa kau berkata siap? Bagaimana jika aku benar-benar menyerangmu?"


"Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa kau pasti tidak akan benar-benar turun tangan terhadapku,"


"Oh, benarkah? Kenapa kau mempunyai pikiran seperti itu?"


"Karena aku yakin, Tuan Hong bukanlah orang seperti itu. Kau pasti tidak akan tega turun tangan terhadap seseorang yang bahkan tidak melawanmu,"

__ADS_1


Si Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong tiba-tiba tertawa keras. Ia bahkan menepuk pundak Zhang Fei beberapa kali.


"Bagus, bagus sekali. Sepertinya tua bangka itu sudah mengajarkan banyak hal kepadamu,"


"Benar," katanya membenarkan. "Kakek memang mengajarkan banyak hal kepadaku,"


Selama dua tahun ia hidup bersama kakeknya, selama itu pula ia diajarkan banyak hal. Baik itu yang berhubungan dengan dunia persilatan, maupun yang berhubungan dengan kehidupan.


Karena dari itu, hanya dalam waktu singkat saja, Zhang Fei sudah berubah menjadi seorang anak muda yang cukup matang akan segala ilmu.


Mungkin karena alasan ini pula, Zhang Fei dipercaya untuk mencari si Rajawali Lembah Selaksa Bunga.


"Hemm, begitu, ya. Apakah dia memberitahukan alasannya, kenapa malah menyuruh dirimu untuk mencariku?"


"Tidak, Tuan Hong. Kakek hanya menyuruh aku untuk mencarimu saja. Karena itulah aku sendiri masih merasa bingung,"


Orang tua itu tampak termenung sesaat. Si gadis muda menuangkan arak lagi ke dalam cawan. Setelah terisi penuh, Kiam Hong segera menenggaknya sampai habis.


"Sebenarnya aku kurang setuju dengan keputusan Kakekmu. Tetapi karena kau sudah memperlihatkan sedikit kemampuanmu, baiklah, aku menerimanya," dia menghela nafas beberapa kali. Kemudian segera melanjutkan bicaranya.


"Kakekmu itu adalah musuh besarku. Sekaligus juga merupakan sahabatku dekatku. Kami berada di jalan yang berbeda. Dia aliran putih, sedangkan aku aliran hitam,"


"Tapi jangan kau samakan aku dengan tokoh aliran sesat lainnya. Meskipun aku berada di jalan itu, namun aku sendiri justru sering menentang perbuatan terkutuk mereka," ujarnya mulai melanjutkan bicara. "Mungkin karena itulah, si tua bangka Zhang Liong memberikan penilaian berbeda kepadaku,"


"Dan dalam hal ini, kenapa dia menyuruh mencariku, tak lain adalah untuk bertarung denganku. Tiga tahun lalu, kami sudah membuat perjanjian untuk melangsungkan duel di lembah ini,"


Hampir saja Zhang Fei tersedak arak yang sedang ia minum karena saking kagetnya.


Walaupun sudah menduga sebelumnya, namun ia tidak menyangka bahwa dugaannya tersebut ternyata benar-benar terbukti.


Lalu kalau sampai duel itu benar-benar terjadi, benarkah ia sanggup menghadapinya?


Saat itu, si Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong sedang memandangi wajahnya. Sepertinya dia juga memahami isi hati Zhang Fei. Namun dia tidak berkata apa-apa.


"Tuan Hong, kalau boleh tahu, kenapa kalian berdua memutuskan untuk berduel?"


"Kami hanya ingin mengetahui, siapakah yang lebih hebat di antara kita,"


Orang-orang dunia persilatan itu mempunyai gengsi tinggi. Baik yang berasal dari aliran putih, ataupun dari aliran sesat. Semuanya mempunyai sifat yang sama. Yaitu ingin menjadi yang terkuat.

__ADS_1


Karena alasan inilah, setiap saat selalu terjadi duel dalam rimba hijau.


"Oh, begitu. Baiklah, aku mengerti," kata Zhang Fei lebih jauh.


Kiam Hong membungkam mulutnya. Dia tidak bicara cukup lama. Sepertinya, orang tua itu juga sedang merasa bimbang.


Perlukah duel ini dilangsungkan?


"Ah, aku tahu," ujarnya girang setelah ia menemukan jalan keluar dari persoalan itu. "Walaupun Kakekmu tidak bisa hadir di sini, bagaiamana kalau kita tetap melangsungkan duel itu. Tapi dengan catatan, tidak sampai akhir. Kau hanya perlu bertahan dari seranganku selama lima puluh jurus, apabila kau berhasil, berarti kedudukan masih imbang. Tapi, apabila sebelum lima puluh jurus itu kau sudah terluka, itu artinya kau kalah. Kakekmu juga kalah,"


"Ehmm, usul yang bagus. Tapi, bagiamana kalau aku bisa melukaimu, Tuan Hong?" tanya Zhang Fei sambil memandang ke arahnya.


"Sebenarnya itu tidak mungkin," ia tertawa lagi. Setelah berhenti, Kiam Hong segera bicara. "Tapi, baiklah. Kalau memang kau berhasil memberikan luka parah kepadaku, tentu saja aku yang kalah,"


"Baik. Aku setuju," seru Zhang Fei dengan penuh semangat.


"Bagus. Kalau begitu, besok sore hari, kita akan melangsungkan duel itu. Malam ini, kau boleh menginap di sini,"


"Terimakasih, Tuan Hong,"


Begitulah, setelah mendapat keputusan, kedua orang itu tidak lagi membicarakannya. Mereka seakan sudah melupakan persoalan tersebut.


Keduanya berbincang-bincang mengenai banyak hal. Terutama sekali terkait dunia persilatan.


Ternyata walaupun si Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong berasal dari aliran hitam, namun nyatanya dia tidak pernah ikut campur dalam segala masalah yang sekarang sudah terjadi.


Ketika Zhang Fei bertanya kenapa alasannya, ia hanya menjawab singkat.


"Karena sekarang sudah bukan zamanku lagi,".


Hanya jawaban itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.


Diam-diam, pemuda itu menaruh rasa kagum juga kepada Kiam Hong. Terlebih karena orang tua itu sangat berbeda dari tokoh sesat pada umumnya.


###


Mohon maaf kemarin ada salah penulisan. Harusnya Kita Louyang, bukan Lok Yang. Tapi, sudah saya edit, hehehe ...


Semoga di novel wuxia ini, bisa memberikan kenangan bagi para pembaca senior terhadap penulis-penulis lawas.

__ADS_1


__ADS_2