Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pesan dari Orang Tua Aneh Tionggoan


__ADS_3

Menyadari ada ancaman yang datang dari atas, serentak mereka bertiga langsung menengadahkan kepalanya ke langit. Karena pada saat itu sudah tidak ada waktu banyak, terpaksa mereka harus menarik langkah mundur demi menyelamatkan kepalanya dari sambaran pedang yang sangat tajam tersebut.


Serangan yang dilancarkan oleh Zhang Fei barusan luput dari sasaran. Akan tetapi setelah kakinya menyentuh tanah, dia telah kembali lagi dengan serangan susulan yang jauh lebih berbahaya.


"Benar-benar merepotkan," kata pendekar sesat yang menggunakan pedang melengkung.


Setelah bertarung beberapa puluh jurus, dia mulai sadar bahwa anak muda yang sedang dihadapinya saat ini tidak sama dengan yang lain.


"Sepertinya tidak ada jalan lain kecuali mengadu jiwa dengan bocah keparat ini," sahut pria tua yang menggenggam golok.


"Soal mengadu jiwa, biarlah aku yang maju duluan," kata pria yang menggunakan pisau menyambung dengan cepat.


"Tidak boleh begitu. Kita datang bersama, maka mengadu jiwa pun harus bersama-sama pula,"


"Baiklah, setuju. Kalau begitu, mari kita serang dia lagi,"


Wushh!!!


Tiga bayangan manusia kembali melesat cepat. Karena sudah memutuskan untuk mengadu jiwa, maka tidak perlu heran kalau serangan mereka semakin cepat dan berbahaya lagi.


Wungg!!!


Zhang Fei mundur dua langkah. Hal itu dilakukan supaya dirinya bisa mengambil ancang-ancang. Begitu tiga orang musuhnya tiba di depan mata, saat itulah ia membentak nyaring sambil melompat ke depan.


Trangg!!! Trangg!!!


Pedang Raja Dewa menebas dan menusuk. Setiap gerak perubahan yang dilakukan oleh Zhang Fei, terhitung sangat cepat dan sulit diikuti mata telanjang.


Tiga pendekar sesat itu sendiri terkejut akan kenyataan tersebut. Padahal kalau membahas soal kemampuan, tentu mereka sudah tidak perlu diragukan lagi.


Akan tetapi, mengapa ketiganya tidak mampu melihat gerakan pedang itu secara jelas? Apakah hal tersebut terjadi karena saking cepatnya gerakan yang si anak muda?


Pertanyaan semacam itu mulai muncul di benak masing-masing. Namun karena situasinya tidak mendukung, maka di antara mereka pun tidak ada yang berbicara.


Sementara itu, pada saat pertarungan di halaman itu sudah hampir mencapai puncak, tiba-tiba dari arah belakang sana terdengar ada derap langkah kaki kuda.

__ADS_1


Si biksu tua yang baru saja menyelesaikan meditasinya langsung bangkit dan menengok ke arah sumber suara. Dia takut yang datang itu adalah musuh lainnya.


"Jangan takut. Kami bukan musuhmu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat.


"Aih, rupanya kalian Empat Datuk Dunia Persilatan," biksu tua itu menghela nafas lega. Dia pun merasa sangat senang setelah mengetahui siapa orang-orang yang datang tersebut. "Sslam hormat untuk kalian,"


Ia langsung membungkukkan badan dan memberikan hormat kepada Empat Datuk Dunia Persilatan.


Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangguk dan menyuruh si biksu untuk kembali ke posisi semula.


"Biksu, siapa sebenarnya tiga orang itu?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan sambil melirik sekilas ke medan pertarungan.


"Entahlah, Tuan," jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Tapi dari bentuk wajah dan logat bicara mereka yang sempat aku dengar, sepertinya tiga pendekar sesat itu bukan berasal dari Kekaisaran kita,"


"Apakah dia berasal dari Kekaisaran lain?"


"Sepertinya begitu,"


"Mungkinkah Kekaisaran Zhou?"


"Maaf, soal ini aku tidak bisa memastikannya, Tuan,"


Biksu tua mengangguk pertanda mengerti. Dia langsung ke pinggir dan tidak berbicara lagi.


Sedangkan Empat Datuk Dunia Persilatan, saat ini mereka sedang berfokus ke depan sana. Keempatnya memperhatikan pertarungan itu dengan seksama.


"Kemampuan anak Fei sebenarnya sudah berada di atas mereka," kata Pendekar Tombak Angin tiba-tiba bicara.


"Benar," sambung Dewi Rambut Putih. "Anak Fei hanya kalah dalam soal pengalaman bertarung saja,"


Yang lainnya mengangguk. Mereka pun setuju dengan ucapan Dewi Rambut Putih.


Sementara itu secara diam-diam, Orang Tua Aneh Tionggoan segera mengirimkan pesan lewat pikirannya.


"Inti dari kekuatan lawan adalah pendekar yang berada di posisi paling tengah. Kau harus bisa membunuh dia terlebih dahulu. Masalah dua orang yang lain, kau jangan terlalu mengkhawatirkannya. Mereka hanya merupakan pelengkap dalam kerja sama," ucapnya menjelaskan secara singkat.

__ADS_1


Meskipun saat itu pikirannya wudsu tercurahkan penuh kepada jalannya pertarungan, akan tetapi Zhang Fei juga bisa mendengar suara Orang Tua Aneh Tionggoan dengan sangat jelas.


Jika dipikir lebih lanjut, ucapan Datuk Dunia Persilatan itu memang sangat tepat. Sejak pertarungannya masih melawan si biksu tua sampai melawan Zhang Fei pada saat ini, orang yang paling banyak menyerang adalah pendekar di posisi tengah itu.


Ia adalah pria tua yang menggunakan golok bergagang wajah setan.


Zhang Fei sendiri bisa merasakan dengan jelas bagaimana berbahayanya serangan orang tua itu. Rangkaian jurus goloknya terlampau aneh dan tidak bisa ditebak. Apalagi, setiap gerakannya selalu mengandung tipuan tak terduga.


Sedangkan untuk dua pria tua yang lain, Zhang Fei merasa dia masih bisa menangkis dan membaca gerakannya cukup mudah.


Maka dari itulah, setelah mengamati jalannya pertarungan, Zhang Fei langsung mengubah strateginya. Sekarang dia tidak lagi berfokus kepada tiga orang.


Melainkan hanya kepada satu orang terlebih dahulu!


Jurus Pedang Penakluk Jagad kembali digelar. Pria tua itu tercekat melihat gerakan Zhang Fei yang berubah.


Diserang telak secara tiba-tiba, tentu saja ia menjadi kewalahan. Beberapa kali goloknya berbenturan dengan Pedang Raja Dewa. Setiap terjadinya benturan itu dia selalu merasakan tangannya ngilu.


Trangg!!! Srett!!!


Pria tua itu memelototkan matanya sampai hampir keluar. Entah bagaimana caranya, namun tahu-tahu Pedang Raja Dewa milik Zhang Fei sudah berhasil menebas lehernya sampai hampir kutung.


Darah segar langsung menyembur deras. Tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung ambruk ke tanah dengan kondisi bersimbah darah.


Sementara dua orang rekannya, ketika melihat ia tewas, amarah mereka langsung bangkit pada saat itu juga.


Akan tetapi sebelum keduanya mengambil tindakan lebih lanjut, pada saat itu Zhang Fei sudah lebih dulu datang dengan jurusnya yang membawa kabar dari alam baka.


Srett!!!


Zhang Fei melakukan gerakan berputar. Pedang Raja Dewa berhasil menorehkan luka tepat di bagian dada keduanya. Luka itu terhitung dalam, sehingga tidak berapa lama kemudian, mereka pun langsung ambruk ke tanah menyusul pendekar sesat sebelumnya ke alam baka.


Setelah Zhang Fei berhasil membunuh tiga pendekar sesat itu, buru-buru dia menghampiri si biksu tua dan Empat Datuk Dunia Persilatan.


"Lain kali dalam setiap pertarungan, kau harus bisa membaca di mana kekuatan inti dari musuh-musuhmu. Kalau kau sudah bisa melakukannya, maka sehebat apapun musuh yang dihadapi, pasti kau akan menemukan jalan keluarnya," ujar Orang Tua Aneh Tionggoan bicara dengan cepat setelah Zhang Fei tiba di depannya.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Aku pasti akan berusaha menerapkannya," jawab Zhang Fei penuh hormat. "Terimakasih atas ilmunya,"


"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Naiklah ke punggung kuda dan mari kita lanjutkan perjalanan," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan.


__ADS_2