Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Harimau dan Monyet Putih


__ADS_3

Wutt!!! Wutt!!!


Pukulan si monyet putih mengincar seluruh tubuhnya. Setiap pukulan itu mengandung tenaga yang keras. Zhang Fei bisa merasakan hal itu dengan sangat jelas.


Belum lagi terkaman si harimau. Setiap lompatannya benar-benar tepat. Sang raja hutan itu sepertinya berniat untuk menggigit. Menggigit Zhang Fei sampai mampus!


Keringat kembali membasahi seluruh pakaian anak muda itu. Tidak dapat dipungkiri, serbuan dua ekor binatang tersebut cukup membuatnya kewalahan.


Alasannya adalah karena setiap gerakan mereka tidak bisa diduga. Setiap serangan yang dilancarkan juga tidak dapat diperkirakan ke mana arahnya.


Yang lebih hebatnya lagi, gerakan mereka benar-benar sempurna. Persis seperti tokoh kelas atas yang sedang bersilat.


Tanpa terasa, pertarungan itu sudah berlangsung dua puluh jurus. Selama ini, Zhang Fei terus berada di posisi bertahan. Ia tidak bisa menyerang mereka dalam waktu lama. Apalagi, dalam hati kecilnya, ia pun merasa tidak tega untuk membunuh kedua hewan itu.


Tetapi semakin lama bertarung, serangan dua ekor binatang buas itu justru malah semakin ganas lagi.


Situasi mulai memanas. Zhang Fei tidak bisa menahan dirinya lagi.


Wushh!!!


Di tengah serangan dua ekor binatang buas yang gencar itu, mendadak dirinya meluncur dengan cepat ke depan sana. Di tengah udara, ia langsung mengeluarkan tenaganya sampai delapan bagian.


Wutt!!! Wutt!!!


Pukulan beruntun dilancarkan dalam waktu singkat. Tendangan yang keras ia berikan untuk menangkis serangan dua binatang itu.


Sekarang, setelah dia mengeluarkan kemampuannya, pertarungan pun jadi berlangsung imbang.


Zhang Fei mampu memberikan perlawanan berarti. Malah lima belas jurus kemudian, dia mulai mencecar kedua hewan itu secara serempak.


Pukulan dan tendangan yang ia berikan, semuanya berhasil mengenai sasaran dengan telak. Suara geraman harimau dan jeritan monyet putih, menggema ke seluruh hutan.


Seolah-olah keduanya meraung-raung meminta bantuan kepada rekannya yang lain.


"Di sini hanya ada kita bertiga. Jadi jangan harap kalian bisa selamat dari seranganku," ujar Zhang Fei sambil terus melancarkan serangannya.


Wutt!!!


Ia menambah daya tenaganya. Gempuran jurus tangan kosong miliknya mulai digelar secara sempurna. Deru angin kencang datang bergulung-gulung menerjang keduanya.


Lewat beberapa waktu, harimau dan monyet putih itu mulai tidak berdaya lagi. Tenaga mereka telah terkuras banyak. Malah nafasnya juga tersengal-sengal.


"Kalian lelah? Baiklah. Aku akan menyelesaikan semua ini!"


Zhang Fei berteriak girang. Dia segera menyiapkan pukulan terakhirnya.


Wutt!!!

__ADS_1


Dua pukulan cepat dan dshsyat sudah dilayangkan. Tidak ada waktu lagi bagi dua binatang buas itu untuk menghindari serangannya.


Blamm!!!


Tiba-tiba ledakan keras terdengar. Zhang Fei terlempar sepuluh langkah ke belakang. Ia bergulingan di atas tanah.


Anak muda itu berusaha bangkit dan membersihkan pakaiannya dari kotoran debu.


Ia memandang ke tengah halaman. Keadaan di sana cukup gelap akibat debu yang mengepul tinggi ke atas.


Dalam hatinya, Zhang Fei merasa heran. Sesuatu apa yang telah membuatnya terlempar? Dan siapa pula yang melakukannya?


Benarkah di tempat itu ada manusia lain, selain dirinya? Sungguh kah di Gunung Awan Putih, terdapat tokoh sakti yang menyembunyikan diri?


Untuk beberapa waktu lamanya, Zhang Fei tidak bergerak lagi. Ia tidak mau melanjutkan serangannya, apalagi setelah mengalami kejadian barusan.


Anak muda itu masih memandang ke depan. Dia sedang menunggu kepulan debu itu lenyap terbawa angin. Sungguh, dirinya ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.


Sekitar sepuluh tarikan nafas kemudian, keadaan di sana mulai kembali normal. Harimau dan monyet putih yang tadi dihajar olehnya masih berdiri secara berdampingan.


Tidak ada yang berubah di sana.


Tapi, keadaan harimau dan monyet putih sekarang sungguh berbeda. Dua binatang buas yang nafasnya sudah tersengal dan menderita sakit di sekujur tubuhnya itu, kini telah normal.


Mereka seperti tidak kelelahan dan merasakan sakit lagi! Keduanya kembali memberikan wajah sangar dan tatapan tajam seperti sedia kala.


Siapa dia? Kenapa orang tua itu bisa ada di sana? Kapan pula ia memunculkan diri?


Anak muda tersebut mengerutkan kening. Ia tidak habis pikir, kenapa benaknya tidak bisa tenang walau hanya untuk sesaat? Kenapa selalu saja muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak ditemukan jawabannya?


"Anak muda, kenapa kau menyerang dua hewan peliharaanku?" tanya orang tua berpakaian serba putih tersebut.


Ternyata harimau dan monyet itu adalah hewan peliharaannya!


'Pantas saja dua binatang itu hebat. Ternyata memang benar ada yang melatihnya,' batin Zhang Fei berkata.


Sekarang, pertanyaan di awal tadi sudah terjawab. Dugaannya memang tidak salah!


"Mereka sendiri yang tiba-tiba menyerang dan bahkan ingin membunuhku. Padahal sebenarnya, aku tidak ada niat untuk mengganggu keduanya," jawab Zhang Fei dengan suara keras.


"Kau memang tidak menganggu mereka. Tapi kedua binatang ini merasa terganggu karena kehadiranmu," jawab orang tua tersebut.


"Kenapa mesti terganggu? Memangnya tempat milik mereka? Atau, tempat ini adalah milikmu?"


"Tempat ini memang bukan milik kami. Tapi asal kau tahu saja, sebelumnya tidak pernah ada seorang pun manusia yang datang kemari,"


"Lalu?" tanyanya sambil mengerutkan kening.

__ADS_1


"Lalu, apa tujuanmu datang kemari?"


"Aku mendapat tugas dari guruku,"


"Tugas apa?"


"Tugas untuk pergi ke Gunung Awan Putih ini,"


"Hemm, baiklah. Sekarang, bukankah kau sudah ada di sini?"


"Benar," katanya menganggukkan kepala.


"Lantas, apa yang akan kau lakukan berikutnya?"


"Ini ..."


Zhang Fei tidak bisa menjawab. Dia langsung mati kutu ketika ditanya demikian.


Sebenarnya anak muda itu ingin mengatakan bahwa ia sedang mencari tokoh persilatan yang menyembunyikan diri. Tapi, Zhang Fei ragu untuk mengatakannya.


Apalagi tugas terakhir dari gurunya ini, bisa dibilang adalah tugas rahasia. Tugas yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, kecuali oleh tokoh yang dimaksud oleh mendiang si Telapak Tangan Kematian Pek Ma.


"Kenapa kau tidak menjawab?" tanya orang tua itu lebih lanjut.


"Karena ... karena aku tidak mau menjawabnya,"


"Hemm, kalau tidak mau menjawab, maka silahkan pergi dari tempat ini,"


Orang tua itu berkata sambil memberikan isyarat dengan tangannya. Nada suaranya halus, tapi di telinga Zhang Fei sekarang, suara itu seperti ribuan jarum yang menusuk ulu hatinya.


"Aku tidak akan pergi sebelum tugas terakhir ini selesai," tegasnya.


"Jika tidak tahu apa tujuanmu kemari, lalu bagaimana mungkin tugas itu akan selesai?"


Lagi-lagi, Zhang Fei tidak menjawab. Ia hanya menutup mulut dengan raut wajah bingung.


"Anak muda, pergilah sebelum sore hari tiba," ujar orang tua itu lagi.


"Apakah perkataanku sebelumnya kurang jelas?"


"Jadi, kau tidak mau pergi?"


"Tidak," kata Zhang Fei dengan tegas.


"Kalau begitu, aku akan memaksamu,"


Selesai berkata demikian, orang tua itu tiba-tiba mengibaskan tangan kanannya. Kibasan yang perlahan, tapi hasilnya mengejutkan.

__ADS_1


Tiba-tiba angin kencang datang berhembus ke arah dirinya. Angin itu bergerak dengan cepat. Bahkan sampai membuat dia terlempar beberapa langkah.


__ADS_2