
Biksu Merah yang menyaksikan kejadian itu tampak sangat terkejut. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya.
Bagaimana mungkin gadis itu mampu membebaskan Zhang Fei dari pengaruh sihirnya? Padahal dia sendiri tahu, sihir yang ia gunakan untuk melumpuhkan anak muda itu termasuk ke dalam jajaran kelas atas.
Dalam dunia persilatan pun, mungkin orang yang mampu membebaskannya bisa dihitung dengan jari. Kalau bukan tokoh yang sudah banyak pengalaman, pastilah tokoh kelas atas.
Lalu, gadis itu masuk dalam kategori yang mana? Siapa pula dia? Kenapa mampu membebaskan pengaruh sihirnya dengan begitu mudah?
Berbagai macam pertanyaan tiba-tiba saja muncul dalam benaknya. Sayang sekali, dari semua pertanyaan tersebut, tidak ada satu pun yang bisa ia jawab.
Selama kejadian barusan, si Biksu Merah tidak melakukan apapun juga. Ia masih berdiri di tempatnya dengan mata terbelalak.
Sementara di sisi lain, setelah dirinya dibebaskan, Zhang Fei merasa sangat senang.
"Terimakasih, Tuan penolong," katanya sambil tersenyum.
"Aku bukan pria. Lagi pula, kau tidak perlu berterimakasih kepadaku," kata si gadis dengan nada hambar.
Mendengar jawaban tersebut, Zhang Fei langsung berdiri mematung. Pikirannya melayang, suara barusan seperti mengingatkan dirinya kepada seseorang.
Tapi, siapakah dia?
Cukup lama anak muda itu melamun sambil memandangi di tadis. Dia sedang berusaha mengingatnya.
"Ah, kau ... bukankah .... bukankah kau Nona Yao Mei?" tanyanya penuh rasa kaget.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara. Lebih baik kita hadapi dulu tua bangka itu," jawab si gadis yang diduga Yao Mei.
"Ba-baiklah. Aku mengerti," kata Zhang Fei sambil mengangguk.
Ia mengalihkan pandangan matanya ke arah Biksu Merah kembali. Sorot matanya yang sebelumnya penuh kekagetan, dekatnya telah berubah. Sorot mata itu sangat tajam. Lebih tajam dari sebelumnya.
"Sudah bermesra-mesraannya?" tanya si Biksu Merah sambil tersenyum sinis.
"Cih, siapa pula yang bermesraan," ucap si gadis dengan cepat.
"Tua bangka. Jangan banyak bicara lagi. Sekarang waktu kematianmu sudah tiba,"
Suara Zhang Fei kembali mengalami perubahan. Suaranya mendadak berat. Dalam setiap patah katanya mengandung tenaga sakti yang tidak bisa ditolak.
Tanpa sadar, si Biksu Merah jadi bergidik setelah mendengar suaranya.
"Nona Mei, kalau kau mau membantuku, mari kita serang dia bersama-sama. Tapi kalau tidak mau, juga tidak masalah. Yang penting, suatu saat nanti aku pasti akan membalas kebaikanmu ini," ujar Zhang Fei tanpa menoleh sedikit pun kepada Yao Mei.
__ADS_1
Gadis itu merasakan hal yang sama seperti si Biksu Merah. Mendengar ucapan Zhang Fei barusan, tiba-tiba ia merasakan ada aura kewibawaan yang sulit untuk ditolak.
"Jangan khawatir. Aku akan ikut bertarung bersamamu," katanya tegas.
"Baiklah. Kalau begitu, sekarang juga kita mulai,"
Zhang Fei kembali melakukan persiapan. Ia menyalurkan tenaga dalam dan hawa murninya sampai sembilan bagian.
Angin pegunungan yang membawa rasa sejuk tiba-tiba saja berhembus cukup kencang. Pakaian ketiga pendekar itu berkibar karenanya.
Tidak mau kalah dari Zhang Fei, Yao Mei juga segera melakukan hal yang sama. Dia mencabut pedang tipis di punggungnya.
Dua hawa pedang yang pekat langsung menyebar luas menyelimuti area hutan yang akan menjadi tempat pertarungan.
Diam-diam Biksu Merah kagum kepada dua pendekar muda di depannya itu. Walaupun usia mereka masih muda, tapi ternyata kemampuannya sudah berada di atas rata-rata.
Tapi meskipun begitu, niatnya untuk membunuh Zhang Fei tidak hilang. Malah sekarang niatnya jadi bertambah.
Yang ingin dia bunuh bukan hanya satu orang. Melainkan dua orang!
"Bagus. Keluarkan semua kemampuan kalian, biar aku beritahu bagaimana kehebatan biksu Tibet," katanya dengan lantang.
Ia ikut mengeluarkan kemampuannya. Hawa sesat yang keluar dari tubuhnya bertambah pekat.
Wushh!!!
Tubuhnya meluncur ke depan. Kedua tangannya dikembangkan dan siap memberikan hantaman telapak tangan yang mematikan.
"Ingat, jangan terlalu fokus kepada katanya. Sebab mata itu sangat berbahaya, bisa-bisa kau akan terkena pengaruh sihirnya lagi," kata Yao Mei memberitahu.
"Terimakasih, Nona Mei. Aku pasti akan mengingat pesanmu,"
Wutt!!!
Satu helaan nafas kemudian, mereka langsung meluncur. Keduanya berniat menyambut serangan si Biksu Merah.
Dua batang pedang yang mengeluarkan cahaya putih keperakan berkelebat di tengah udara. Sesaat kemudian, tiga orang yang terlibat segera bertemu di tengah jalan.
Dua tebasan cepat datang dari arah sisi kanan dan kiri. Si Biksu Merah melompat ke atas untuk menghindari tebasan itu.
Setelah berhasil, dia langsung melayangkan serangan telapak tangannya.
Wutt!!!
__ADS_1
Segulung angin berhawa panas datang menerjang. Dua pendekar muda itu menghindar ke samping.
Adu jurus di antara mereka langsung terjadi. Walaupun si Biksu Merah hanya bertarung menggunakan kedua tangannya saja, tapi sedikit pun dia tidak merasa takut.
Sesaat sebelum melanjutkan pertarungannya, dia telah menyalurkan tenaga sakti kepada dua tangan itu. Jadi dirinya tidak perlu takut lagi menghadapi pedang mereka.
Apalagi, selain dikenal karena kehebatan ilmu sihirnya, di negeri Tibet sana, si Biksu Merah juga dikenal dengan kehebatan ilmu kekebalan tubuhnya.
Berbagai macam senjata pusaka tidak akan mampu melukainya apabila dia sudah mengeluarkan satu jurus kebal andalannya yang diberi nama Ilmu Zirah Besi.
Dan pada saat ini, ia sudah menggelar jurus tersebut dengan dorongan tenaga besar.
Jadi, kenapa masih harus takut menghadapi dua batang pusaka itu?
Wutt!! Wutt!!! Trangg!!!
Deru angin tajam terasa menyayat kulit. Zhang Fei dan Yao Mei tampak terkejut setelah terjadinya benturan barusan.
Dari mana timbulnya suara nyaring itu? Bukankah barusan pedang mereka sudah mengenai tubuh si Biksu Merah? Lalu, kenapa ia tidak terluka? Justru malah menimbulkan suara seperti besi bertemu besi?
Keduanya sempat melamun beberapa waktu. Kesempatan emas itu tidak dibiarkan begitu saja. Dengan gerakan secepat kilat, tiba-tiba si Biksu Merah membentak nyaring.
Kedua tangannya didorong ke depan. Katana dua orang lawannya sedang melamun, maka dengan telak serangan tersebut berhasil mengenainya.
Bukk!!!
Tubuh mereka melayang ke belakang cukup cepat. Untunglah saat itu Zhang Fei berhasil mengembalikan posisinya. Kedua kakinya langsung menapak ke tanah, sebelah tangannya merangkul pundak Yao Mei.
Mereka berhasil menyelamatkan diri. Keduanya hanya terlempar sejauh lima langkah.
Degg!!!
Yao Mei melirik sekilas ke sebuah tangan yang merangkulnya. Entah kenapa, tiba-tiba jantungnya berdegup cukup kencang. Ia merasa gugup.
"Ah, maaf. Aku ... Aku tidak sengaja," kata Zhang Fei setelah dia menyadari apa yang terjadi.
Yao Mei tidak menjawabnya. Ia hanya diam sambil berusaha mengembalikan ketenangannya.
Kalau saja tidak ada cadar penutup wajah itu, mungkin saat ini Zhang Fei sudah melihat sepasang pipi yang memerah karena malu.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercinta!"
Si Biksu Merah berteriak kembali. Tahu-tahu orangnya sudah di depan mata dan mengirimkan serangkai serangan.
__ADS_1