
Anak panah itu laksana hujan deras yang turun membasahi bumi. Belum lagi puluhan anak panah yang pertama mengenai tubuh Zhang Fei, sudah ada lagi puluhan anak panah yang menyusulnya.
Kejadian seperti itu terus berlangsung beberapa saat. Sehingga sekitar sepuluh tarikan nafas kemudian, langit yang kelam sudah berubah menjadi hitam pekat. Bukan hitam karena awan. Melainkan hitam karena anak panah tersebut!
Di atas atap, Zhang Fei menggertak gigi dengan keras. Ia menggenggam Pedang Raja Dewa lebih kencang lagi. Walaupun dirinya tidak punya keyakinan bisa menangkis semua anak panah itu, tapi apa salahnya untuk mencoba?
Seharusnya dengan kemampuan yang ia miliki saat ini, Zhang Fei bisa bertahan dari serbuan anak panah itu, meskipun memang hal tersebut belum bisa dipastikan.
"Pedang Penakluk Jagad!"
Wutt!!!
Zhang Fei berteriak kencang. Bersamaan dengan itu dia langsung melompat tinggi. Begitu tiba di tengah udara, dia langsung memainkan pedangnya dalam jurus keenam tersebut.
Pedang Raja Dewa seolah-olah telah berubah menjadi seekor naga yang perkasa. Cahaya putih keperakan terus berkilau di tengah malam yang kelam.
Hembusan angin kencang yang dihasilkan dari setiap gerakannya mampu menerbangkan batu kerikil. Anak panah yang sangat banyak itu, satu-persatu mulai ada yang berhasil ia tangkis.
Semakin lama dirinya bermain pedang. Semakin banyak pula anak panah yang berhasil dijatuhkan. Dentingan nyaring akibat benturan logam bertemu logam mulai terdengar keras.
Dalam pada itu, sesekali Zhang Fei juga mengembalikan serbuan anak panah tersebut ke pemiliknya masing-masing dengan cara menangkisnya. Hawa pedang yang keluar menciptakan deru angin kencang. Angin itulah yang kemudian mengembalikan serangan lawan.
Di samping hal tersebut, ia juga kadang-kadang mendorongkan telapak tangan kirinya ke depan. Dari dorongan itu pun keluar segulung angin yang menghempaskan hujan anak panah tersebut.
Waktu terus berlanjut. Tubuh Zhang Fei semakin diselimuti oleh ratusan anak panah. Untunglah sampai saat ini, belum ada satu pun anak panah yang berhasil mengenai sasarannya.
Ketika mendapatkan kesempatan, tiba-tiba saja Zhang Fei melakukan tindakan diluar dugaan semua orang.
Wutt!!!
Pertama-tama ia menangkis serangan dengan tebasan pedang. Setelah jalan keluarnya terbuka, anak muda itu kemudian melesat turun ke bawah dengan sangat cepat.
__ADS_1
Gerakannya mirip seperti seekor burung rajawali yang turun menyambar mangsanya. Dalam waktu sesaat saja ia sudah berada di atas tanah.
Setelah itu, Zhang Fei mulai menyerang para prajurit lawan yang kebetulan berada di dekatnya.
Srett!!! Srett!!!
Satu kali dia bergerak, lima orang telah tewas hingga lehernya hampir putus. Zhang Fei kembali melanjutkan serangannya, para prajurit yang berada di dekatnya menjadi korban kemarahan anak muda itu.
Mereka sebenarnya ingin melakukan perlawanan. Sayangnya tidak ada kesempatan untuk melakukan hal tersebut.
Dalam jarak sedekat itu, tentu saja busur tidak bisa dijadikan senjata yang dapat diandalkan. Di satu sisi lain, kalau pun mereka ingin menggunakan senjata seperti golok dan sebagainya, hal itu juga mustahil.
Sebab sebelum berhasil melakukannya, sudah dapat dipastikan bahwa nyawanya akan melayang.
Jenderal Gu bersama tiga orang pendekar dunia persilatan lainnya termenung menyaksikan sepak terjang Zhang Fei. Mereka seolah-olah dibuat kagum sehingga tidak sadar bahwa yang dibunuh olehnya adalah anak buah dia sendiri.
Sekitar sepuluh menit kemudian, tiga puluh orang prajurit yang ada di halaman tersebut, kini semuanya telah terkapar di atas tanah. Mereka tewas dengan kondisi mengenaskan. Darah segera membasahi seluruh tubuh. Halaman itu kini dibasahi oleh cairan merah tersebut.
Ketika berhasil membunuh para prajurit, Zhang Fei langsung melompat mundur ke belakang. Ia berdiri tegak memandang empat orang yang tersisa.
Untunglah semua anak panah itu tidak menancap terlalu dalam. Sehingga tidak terlalu membahayakan nyawanya.
Meskipun memang mengeluarkan rasa sakit dan perih, tapi baginya hal tersebut masih belum apa-apa. Sebagai pendekar dunia persilatan, sudah tentu kejadian semacam ini bukanlah sesuatu yang asing baginya.
Ia sudah terbiasa mengalami luka-luka seperti itu!
"Mengapa kalian hanya melamun? Apakah kalian sedang menunggu giliran?" tanya Zhang Fei dengan nada dingin.
Empat orang itu terkejut. Seolah-olah pada saat itu mereka sedang tidur dan bermimpi indah, hingga pada akhirnya ada sesuatu yang membangunkannya secara tiba-tiba.
Jenderal Gu memandang Zhang Fei dengan tatapan heran. Dalam hatinya dia sedang bertanya-tanya.
__ADS_1
Mengapa anak muda itu bisa tiba-tiba ada di depannya? Kenapa pula dia masih hidup sampai saat ini? Bukankah tadi para prajuritnya sudah menghujani dia dengan anak panah?
Jenderal Gu kemudian mengawasi keadaan sekitar. Betapa kagetnya dia setelah menyadari bahwa tiga puluh orang anak buahnya, ternyata kini telah berubah menjadi mayat.
"Ka-kau ... mengapa anak buahku bisa mati?"
"Tanyakan saja kepada mereka masing-masing," kata Zhang Fei dengan nada dingin.
Tiga orang pendekar dunia persilatan yang ada di sana juga menatap Zhang Fei dengan tatapan tidak percaya. Sungguh, apa yang mereka lihat saat ini seperti mimpi.
Bagaimana mungkin anak muda itu bisa terbebas dari hujan anak panah yang segitu banyaknya?
Jangankan Zhang Fei, malah dirinya sendiri tidak punya keyakinan bisa selamat kalau berada di posisinya. Tidak disangka, ternyata pendekar muda itu mampu melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain.
Tiba-tiba saja telapak kaki mereka terasa dingin. Keringat mulai keluar dari punggungnya. Hal itu diakibatkan karena secara tidak langsung mereka bergidik ngeri ketika membayangkan setinggi apa kemampuan lawannya tersebut.
"Ehemm ..." tiba-tiba Jenderal Gu mendehem pelan. Ia mencoba menguasai dirinya kembali. "Hebat juga kau, anak muda. Tapi, semua ini baru awal. Masih ada kami yang akan siap untuk mencabut nyawamu," ujarnya memberanikan diri.
Zhang Fei tersenyum sinis. Ia kemudian menjawab. "Benarkah? Tapi, aku rasa lebih sulit dan berbahaya menghadapi hujan anak panah tadi, daripada kalian berempat,"
Ia sengaja menjawab dengan perkataan seperti itu. Selain untuk memancing emosi lawan, apa yang dikatakan oleh Zhang Fei barusan juga merupakan kenyataan.
Seumur hidup, rasanya baru kali ini saja dia menghadapi begitu banyak anak panah. Untunglah langit masih memberikan kepercayaan sehingga dia masih bisa bertahan sampai saat ini.
Sementara empat orang di depannya, mereka segera marah ketika mendengar jawaban barusan.
"Bocah sombong. Mulutmu sepertinya harus diberikan pelajaran," kata orang tua berumur sekitar lima puluh tahun.
Orang itu mengenakan pakaian kuning cerah. Di tangan kanannya terdapat tongkat sepanjang satu depa.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, tua bangka," ejeknya.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak tahu sopan santun," kata orang tua di sisinya ikut bicara.
Dia mempunyai wajah sangar. Matanya tajam dan memelihara janggut yang lumayan panjang. Di pinggang sebelah kanannya terdapat kapak besar warna perak.