
Dewa Arak Tanpa Bayangan menggelengkan kepala. "Kau ini sedang berpura-pura bodoh, atau memang benar-benar bodoh?" tanyanya sambil menarik muka.
"Katakan saja dengan cepat, setan arak. Kau jangan membuat kami penasaran," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan tetap bersikeras.
Pada saat itu, yang merasa penasaran memang bukan hanya dirinya saja. Bahkan yang lain pun juga sama.
Mereka masih belum mengerti kejadian yang telah berlangsung. Jadi para tokoh tersebut sangat berharap Dewa Arak Tanpa Bayangan memberitahukan secepatnya.
"Asal kalian tahu saja, wajah mereka sangat tidak mirip dengan orang-orang Kekaisaran Jin. Wajah para petani itu lebih mirip orang-orang yang berasal dari Kekaisaran Zhou. Selain itu, ilmu silat yang mereka gunakan tadi juga, sedikit banyaknya aku juga tahu bahwa itu adalah ilmu silat yang berasal dari Kekaisaran tersebut. Coba kalian ingat-ingat kembali,"
Orang tua itu menatap tiga rekannya secara bergantian. Mereka adalah tokoh-tokoh yang banyak pengalaman, hampir seluruh daratan Tionggoan sudah pernah disinggahi.
Jadi, tentu saja mereka tahu apa yang tidak diketahui oleh Zhang Fei.
"Ah, benar juga. Mengapa aku baru menyadari akan hal ini?" Dewi Rambut Putih tiba-tiba berseru. Dia baru sadar akan semua kejadian di tempat tersebut.
"Betul juga, kalau aku tidak salah, jurus gabungan yang mereka keluarkan tadi, itu bernama Menyerang Harimau Bersama-sama. Jurus tersebut adalah salah satu jurus andalan dari Kekaisaran Zhou. Hanya prajurit Kekaisaran saja yang bisa memilikinya," sambung Pendekar Tombak Angin juga ikut terkejut.
Setiap Kekaisaran yang terdapat di Tionggoan, pasti mempunyai jurus khas Kekaisarannya masing-masing. Selain dari orang-orang Kekaisaran, rasanya tidak ada orang luar yang mampu menguasainya.
Maka dari itu, setelah menyadari semua kejadian, sekarang para tokoh tersebut mulai bisa meraba lebih jauh lagi.
"Jadi, pihak Kekaisaran Zhou berniat untuk membuat onar kembali di Kekaisaran kita dengan nama orang lain? Jadi Kalau sampai tugas itu gagal dan semuanya terbongkar, Kekaisaran mereka akan selamat, sedangkan Kekaisaran yang sengaja dijadikan kambing hitam akan menerima akibatnya?" Orang Tua Aneh Tionggoan mengajukan pertanyaan kepada Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Tepat sekali!"
"Cihh! Benar-benar tidak tahu malu," katanya mencibir. "Padahal beberapa waktu lalu mereka sudah merasakan akibatnya. Siapa nyana, beberapa waktu ke depan, justru mereka sudah berani lagi membuat masalah,"
"Namanya juga manusia. Hampir semua manusia, pasti tidak ada yang mau kalah tanpa adanya alasan," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan. Dia menenggak araknya, lalu kemudian menyambung bicaranya. "Sekarang semuanya sudah jelas. Dalam hal ini, Kekaisaran Zhou lah yang bersalah,"
Sejak awal para tokoh tersebut berbicara, Zhang Fei hanya diam saja. Dia cuma mendengarkan dan mulai berpikir tentang langkah-langkah yang harus diambil olehnya.
Zhang Fei tidak lupa siapa dirinya yang sekarang. Dia pun sadar bahwa kejadian ini, sedikit banyak adalah tanggungjawabnya juga.
__ADS_1
Jadi, mau tidak mau dia harus bertindak dengan cepat demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
"Baiklah, masalah ini lebih baik kita tunda terlebih dahulu. Sekarang, kita lanjutkan saja perjalanan menuju ke Gedung Ketua Dunia Persilatan. Kalau sudah tiba di sana, baru kita membicarakannya lagi," ucap Zhang Fei kepada Empat Datuk Dunia Persilatan.
"Setuju, apa yang dikatakan oleh Ketua memang tepat," sahut Pendekar Tombak Angin dengan cepat.
"Ya, kami juga setuju,"
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita berangkat,"
Kelima orang itu langsung naik ke atas punggung kuda. Sebelum kepergiannya, Zhang Fei sempat memberikan beberapa pesan penting kepada dua orang penjaga tadi. Tidak lupa, dia pun memberikan mereka sedikit uang.
Setelah semuanya selesai, lima orang tokoh dunia persilatan segera melanjutkan lagi perjalanannya yang sempat tertunda.
Ke depannya, mereka tidak mendapat gangguan apapun lagi. Sekitar satu minggu kemudian, mereka baru tiba di Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Kedatangan Zhang Fei dan yang lain disambut meriah oleh pejabat istana setempat. Mereka pun langsung mengadakan perjamuan yang mewah dan meriah.
Tiga hari berikutnya, Zhang Fei mulai menjalankan tugas sebagai Ketua Dunia Persilatan yang baru.
Meskipun memang setiap laporan itu segera ditanggapi dan diberikan jalan keluar, namun setidaknya Zhang Fei merasa cukup lelah.
Dia selalu bekerja siang dan malam. Rasanya, sekarang tiada hari tanpa mengurusi persoalan.
###
Saat ini hari sudah masuk tengah malam, Zhang Fei sedang duduk di ruang kerjanya. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya di hari ini.
Ia merasa benar-benar lelah. Tetapi dirinya tidak boleh tidur. Apalagi, malam ini dia mempunyai janji dengan Empat Datuk Dunia Persilatan. Di mana mereka akan melangsungkan pertempuran dan membicarakan beberapa hal penting.
Pada saat Zhang Fei sedang minum arak, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk oleh orang dari luar.
"Silahkan masuk," katanya.
__ADS_1
Tidak lama setelah dia bicara, tampak empat orang tua segera masuk ke dalam ruangan.
Siapa lagi kalau bukan Empat Datuk Dunia Persilatan?
Setelah berada di dalam, mereka langsung duduk di kursi yang telah disediakan. Sebelum berbicara, orang-orang itu juga bersulang arak seperti biasanya.
"Anak Fei, mengapa wajahmu terlihat lesu seperti itu?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan mengawali berbicara.
"Apakah kau belum makan?"
"Atau, belum tidur?"
"Ah, mungkinkah kau kesepian karena tidak ada yang mendampingimu?"
Keempat Datuk Dunia Persilatan itu saling sahut-sahutan menggoda Zhang Fei. Dalam setiap bicaranya terselip senyuman keakraban.
Zhang Fei melirik ke arah mereka satu-persatu. Lirikannya cukup tajam, namun dia tentu saja tidak berani bertindak apa-apa.
"Aku merasa sangat lelah. Baru sebentar menjadi Ketua Dunia Persilatan saja, rasanya sudah seperti ini. Hahh ... ternyata menjadi pemimpin itu bukan sesuatu yang mudah," ucapnya sambil menghela nafas berat.
"Hahaha ... tentu saja. Karena itulah tidak setiap orang mampu menjalankan tugas ini dengan baik," kata Orang Tua Aneh Tionggoan seraya tertawa.
"Hemm ... jangan-jangan, kalian tidak mau menjadi Ketua Dunia Persilatan, alasannya juga karena hal ini,"
"Siapa bilang? Kami memang tidak berminat sama sekali. Lagi pula, usia kami sudah tua. Kalau memang mau, mungkin sudah sejak dulu kami mendudukinya," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Dengan kemampuan dan nama besar mereka, memangnya sesuatu apa yang tidak bisa didapatkan?
Kalau mereka ingin, tentu sudah dari dulu mereka mencalonkan diri menjadi Ketua Dunia Persilatan.
Sayangnya, orang-orang itu tidak berminat dengan posisi tersebut. Mereka adalah orang yang suka hidup bebas tanpa terikat peraturan dan hal-hal apapun juga.
Jadi tidak perlu heran kalau Empat Datuk Dunia Persilatan tersebut selalu menolak apabila disuruh menjadi Ketua.
__ADS_1
"Aih, sudahlah. Kita minum arak saja dulu," ujar Zhang Fei ingin melupakan tugas-tugas beratnya.
"Baiklah. Mari kita bersulang arak,"