Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Guci Emas Murni


__ADS_3

Zhang Fei menganggukkan kepala. Setelah mendengar ucapan tersebut, dia langsung meningkatkan lagi tenaga dan kecepatannya dalam bergerak.


Sekitar dua puluh jurus kemudian, dua orang pengawal pribadi Hartawan Ouw sudah mulai kewalahan. Mereka tidak sanggup menyerang, keduanya hanya bisa terus bertahan dari serangan anak muda itu.


Sebenarnya kemampuan mereka tidak rendah. Sebagai pengawal pribadi, tentu saja mereka mempunyai ilmu hebat yang bisa diandalkan.


Sayangnya, lawan yang sedang mereka hadapi sekarang juga bukan manusia sembarangan.


Meskipun usianya masih muda, tapi dia telah mewarisi ilmu yang jarang menemukan tandingannya. Di sisi lain, semua tenaga yang ia miliki juga sangat murni. Sehungga dirinya bisa lebih unggul dari pihak lawan.


Sementara itu di sebelah kanan, terlihat Dewa Arak Tanpa Bayangan yang sedang bertarung melawan dua orang dari Kelompok Bunga Hitam.


Mereka adalah Ketua sekaligus Wakil Ketua dari kelompok tersebut.


Sebagai orang yang menduduki jabatan tinggi, tentu kemampuan mereka tidak bisa dipandang rendah. Apalagi keduanya sudah mempunyai banyak pengalaman bertarung.


Oleh karena itu tidaklah heran apabila setiap serangannya mengandung tenaga besar dan bahaya yang mengancam nyawa.


Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!


Golok dan kapak besar sudah berkelebat dengan cepat tanpa pernah berhenti. Kedua senjata itu terus mengincar Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Sedangkan orang tua itu sendiri, ia masih terlihat tenang dan santai. Malah di tengah-tengah pertarungan, tiba-tiba saja dirinya mengambil guci arak yang selalu dibawa di pinggangnya.


Sedetik berikutnya, orang tua itu langsung menenggak arak di dalam guci tersebut.


Hebatnya lagi, sembari minum arak, ia pun bisa juga menghindari dua jurus maut yang digelar oleh dua petinggi itu.


"Tua bangka, berani sekali kau memandang rendah kami," kata Ketua Kelompok Bunga Hitam sambil tersenyum sinis.


"Bukan memandang rendah, pada dasarnya kalian ini memang kaum rendahan," ejeknya lalu kembali tertawa.


Mendengar ejekan tersebut, tentu saja dua orang itu tidak terima. Amarahnya lantas naik sampai ke ubun-ubun kepala.


Pada jurus berikutnya, mereka telah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.


Melihat lawan sudah terpancing emosi, diam-diam Dewa Arak Tanpa Bayangan tersenyum. Usahanya berhasil.


Kini, dia tinggal melumpuhkan mereka saja.


Wushh!!!


Orang tua itu bergerak dengan cepat. Golok dan kapak besar milik dua orang musuhnya dibenturkan dengan guci arak. Suara nyaring seperti beradunya logam segera terdengar. Percikan api pun tampak membumbung tinggi ke atas.


Kedua lawannya terkejut. Bagaimana mungkin ada sebuah guci arak yang begitu kuat? Apakah kejadian ini bukan mimpi?

__ADS_1


Mereka menarik langkah mundur. Pertarungan sempat terhenti. Dua orang petinggi itu melihat senjatanya masing-masing, betapa kagetnya orang-orang tersebut pada saat mendapati pusaka yang selama ini diandalkan, ternyata sudah gompal akibat benturan harusnya.


"Gila, keras sekali guci itu," gumam Ketua Kelompok Bunga Hitam keheranan.


"Benar, Ketua. Sepertinya itu bukan guci arak biasa. Itu pasti guci pusaka," sahur Wakil Ketua di sisinya.


Mereka sungguh terheran-heran, sebab baru pertama kali mengalami kejadian seperti ini.


"Tunggu dulu, bukankah dalam dunia persilatan, ada senjata pusaka langka yang disebut dengan Guci Emas Murni?" tanya si Ketua sambil melirik.


Guci Emas Murni adalah pusaka yang tidak bisa dihancurkan dengan apapun. Meskipun guci tersebut dihantam oleh pusaka jenis lain, tak nanti guci itu akan musnah.


Dalam dunia persilatan, hanya ada satu orang saja yang mempunyai Guci Emas Murni.


"Ah, benar. Memang ada, dan yang memilikinya juga hanya dia seorang,"


"Dewa Arak Tanpa Bayangan ..." kata keduanya secara bersamaan.


Mendengar namanya disebut, orang tua itu langsung tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha ... tidak disangka, ternyata kalian mengetahui siapa tua bangka ini,"


Suaranya lantang. Lantang dan penuh dengan saluran tenaga sakti. Puluhan orang anak buah Hartawan Ouw yang sudah ada di sisi arena, seketika merasakan telinganya sakit ketika mendengar suara barusan.


"Jadi, Tuan adalah ..."


Degg!!!


Jantung kedua orang petinggi itu langsung berdegup kencang. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Malah keringat dingin pun langsung keluar membasahi seluruh pakaian.


Mereka langsung membungkam mulutnya. Para petinggi itu tidak berani bertindak, mereka sedang berpikir matang, apakah harus melawan Dewa Arak Tanpa Bayangan? Ataukah harus lari dari medan pertarungan?


Cukup lama keduanya berada dalam keadaan seperti itu.


"Ketua, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya si Wakil Ketua setelah beberapa saat.


"Nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik kita lawan saja tua bangka itu. Masalah menang atau kalah, mati atau hidup, itu urusan nanti. Toh walaupun kita melarikan diri, hasilnya akan tetap sama," usul si Ketua setelah berpikir.


"Baiklah. Kalau begitu, mari kita lanjutkan lagi,"


Wushh!!!


Keduanya kembali melancarkan serangan. Kapak besar datang dari sisi sebelah kiri. Sedangkan golok yang sangat tajam itu, datang dari sebelah kanan.


Dua jurus dahsyat itu merupakan serangan terakhir. Serangan penentuan.

__ADS_1


Dewa Arak Tanpa Bayangan mengetahui akan kehebatan jurus yang lawan berikan kepadanya. Karena itulah dia tidak berani main-main.


"Selaksa Tangan Menopang Langit!"


Wutt!!!


Dia pun segera mengeluarkan salah satu jurus pamungkasnya. Ia berputar-putar sambil terus menggerakkan kedua tangan dengan cepat.


Clangg!!! Clangg!!!


Suara keras terdengar. Dua batang senjata lawannya patah dan terlempar. Setelah melakukan hal tersebut, ia melanjutkan lagi usahanya.


Bukk!!! Bukk!!!


Guci Emas Murni menghantam dada mereka dengan sangat telak. Dua tubuh manusia terlempar jauh. Begitu menyentuh tanah, nyawa mereka telah melayang.


Dalam waktu kurang dari tiga puluh jurus, ia telah berhasil membunuh dua orang petinggi Kelompok Bunga Hitam.


Sementara di sisi sebelah kiri, ada Orang Tua Aneh Tionggoan yang sedang bertarung sengit melawan dua orang petinggi Kelompok Bunga Hijau. Pertarungan mereka sudah mencapai puncaknya.


Dua batang pusaka telah mengincar seluruh tubuh Datuk Dunia Persilatan. Tombak dan pisau belati terus melayang-layang di tengah udara.


Yang satu menyerang bagian atas. Satunya lagi menyerang bagian bawah.


Kombinasi serangan tersebut bisa dibilang sangat sempurna. Tidak ada ruang untuk menghindar bagi Orang Tua Aneh Tionggoan.


Namun sayangnya, ia bukan tua bangka sembarangan. Dirinya adalah Datuk Dunia Persilatan. Kemampuannya tentu sudah sangat tinggi.


Jadi, tidak heran apabila ia selalu bisa menyelamatkan diri dari ancaman serangan lawan. Meskipun bagi orang lain mustahil, namun bagi dirinya tidak!


Plakk!!! Plakk!!!


Kedua tangannya berhasil menepak pergelangan lengan dua orang itu. Dua batang senjata tiba-tiba jatuh ke tanah secara serempak.


Setelah berhasil menjatuhkan senjata lawan, dengan cepat dia melanjutkan serangannya kembali.


Ia menarik tubuh dua musuhnya, lalu kemudian menghantam leher mereka secara berbarengan.


Krekk!!!


Suara patahnya tulang terdengar. Seketika, dua orang petinggi Kelompok Bunga Hijau itu berteriak menahan sakit. Kepala mereka terkulai lemas, disusul kemudian dengan melarangnya nyawa dari raga.


Tidak berbeda jauh dari dua kejadian tersebut, Zhang Fei pun sudah berhasil menyelesaikan pertarungannya.


Ia membunuh pengawal pribadi Hartawan Ouw setelah dirinya mengeluarkan jurus Telapak Dewa Maut.

__ADS_1


Dua orang lawannya tewas setelah dadanya dihantam telak oleh telapak tangan Zhang Fei!


Tiga pertarungan sudah selesai. Tiga tokoh dunia persilatan kembali berdiri berjajar satu sama lain.


__ADS_2