Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Menunggu Waktu yang Tepat


__ADS_3

Pendekar Kumbang Hitam sudah mulai turun tangan. Dia melancarkan serangan telapak tangan yang diarahkan langsung ke bagian dada. Gerakannya begitu cepat. Ingat seekor harimau yang akan menerkam mangsa.


Cepat, tepat, dan sulit untuk dihindari!


Kalau yang menjadi mangsanya adalah orang lain, sudah tentu dia tidak akan bisa berbuat banyak. Apalagi dengan jarak sedekat itu.


Namun Zhang Fei merupakan pengecualian. Ia tetap bisa menghadapi serangan mau tersebut.


Ketua Dunia Persilatan itu tidak menghindar. Dia pun tidak mengambil langkah mundur.


Yang ada, Zhang Fei justru juga melakukan persiapan. Ia mengumpulkan tenaga dalam dengan jumlah besar di telapak tangannya. Begitu terkumpul, dia segera menyambut datangannya ancaman itu.


Plakk!!!


Zhang Fei menahan lebih dulu tangan kiri Pendekar Kumbang Hitam. Setelah berhasil, dengan segera telapak tangan kanan didorong ke depan.


Blarr!!!


Ledakan yang cukup keras terdengar. Gelombang kejut yang dihasilkan dari benturan jurus kelas atas itu, membuat pepohonan kecil hampir roboh. Bahkan ranting-ranting pohon yang berada di titik cukup tinggi, langsung terhempas karenanya.


Pendekar Kumbang Hitam terdorong mundur dari langkah. Tangan kanannya terlihat memerah. Begitu juga dengan wajahnya yang sudah mulai keriput itu.


Dalam hati, dia benar-benar terkejut karena tidak menyangka bahwa lawannya akan mengambil tindakan nekad seperti itu.


Tapi di sisi lain, dia juga memuji keberanian Zhang Fei.


"Kau benar-benar bernyali, anak muda," katanya sambil mencoba menghilangkan rasa gugup.


"Kalau tidak bernyali, untuk apa aku hidup di dunia persilatan?" Zhang Fei menjawab sambil menarik muka.


"Hahaha ... betul juga," Pendekar Kumbang Hitam tertawa. Ia berkata lagi, "Serangan barusan adalah salah satu jurus kelas atas yang aku miliki. Selama ini, rasanya hanya sedikit orang yang mampu bertahan dari jurus itu. Tidak disangka, hari ini, ada seorang pemuda yang bahkan mampu menghadapinya secara langsung,"


"Aku akui. Jurus tadi memang hebat. Sayangnya, jurus itu masih belum cukup untuk mencabut nyawaku,"


Zhang Fei berkata sejujurnya. Dia tidak berbohong.


Harus diakui, jurus barusan itu terhitung hebat. Tekanan tenaga yang dikumpulkan di telapak tangan itu benar-benar besar. Ketika terjadinya benturan tadi, Zhang Fei merasakan ada sebuah gunung besar yang menghantamnya secara tiba-tiba.


Telapak tangan kanan yang tadi dipakai untuk menangkis, sampai saat ini masih terasa sedikit ngilu. Zhang Fei segera menyalurkan hawa murni untuk menghilangkannya.

__ADS_1


Sedangkan Pendekar Kumbang Hitam, dalam diamnya dia pun turut menyalurkan hawa murni. Akibat benturan itu, dia merasa tangannya langsung lemas seperti tidak mempunyai tenaga.


Dari sini, Pendekar Kumbang Hitam sudah bisa menilai bahwa anak muda di hadapannya saat itu bukanlah pendekar sembarangan.


Walaupun usianya belum mencapai tiga puluh tahun, tapi kemampuannya bahkan sudah melebihi perkiraan dia sebelumnya.


Wushh!!!


Setelah tangannya kembali bertenaga, setelah persiapannya selesai, Pendekar Kumbang Hitam segera melayangkan serangan yang berikutnya.


Karena tadi sudah mengetahui bagaimana kemampuan lawannya, maka kali ini dia tidak berani lagi berniat gegabah. Serangan yang ia berikan selanjutnya datang secara beruntun.


Kedua tangannya menyerang dengan dua macam gaya berbeda. Terkadang, Pendekar Kumbang Hitam memberikan hantaman telapak tangan. Tapi, tak jarang juga dia melancarkan pukulan yang keras dan membawa ancaman maut.


Dalam waktu yang bersamaan, kedua kakinya juga tidak tinggal diam. Sesekali, dia pun memberikan tendangan yang datang secara tiba-tiba.


Plakk!!! Plakk!!!


Zhang Fei segera dibuat sibuk. Ia terus-menerus menahan berbagai macam serangan yang datang tersebut. Suara benturan antar tulang terus terjadi. Rasa ngilu semakin yang menghampiri semakin banyak lagi.


Untuk mengatasi hal tersebut, Zhang Fei kembali menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya dengan jumlah banyak.


Zhang Fei menghindarinya dengan cara memiringkan tubuh atau menggeser kakinya. Dengan begitu, serangan lawan masih bisa lolos dari tubuhnya.


Tanpa terasa, pertarungan tersebut sudah mencapai dua puluh jurus. Selama ini, Pendekar Kumbang Hitam terus berada di pihak yang menyerang.


Serangannya tidak pernah terputus. Seperti juga waktu yang tidak akan pernah ada akhirnya. Gagal dengan jurus yang satu, dia akan mengganti dengan jurus yang berikutnya.


Hal seperti itu terus berlangsung sampai beberapa jurus ke depan.


Sedangkan Zhang Fei, sampai saat ini dia masih sedikit kesulitan untuk memberikan serangan balasan.


Sebenarnya, bisa saja dia membalas setiap serangan yang datang, hanya saja Zhang Fei tidak mau melakukannya. Daripada membalas dengan serangan yang tidak berarti, lebih baik dia bersikap sabar terlebih dahulu.


Zhang Fei ingin ketika sekalinya memberikan balasan, maka semuanya langsung berubah drastis. Dengan begitu, ke depannya dia akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk langsung mengakhiri pertarungannya.


Itulah salah satu alasan kenapa dia selalu memilih di posisi bertahan ketika menghadapi lawan sengit seperti saat ini.


Hal itu bukan karena dia ingin mengulur waktu, melainkan karena dia ingin menguras habis tenaga lawan, lalu kemudian menyambut datangnya kesempatan yang sudah ditunggu-tunggu sejak awal tersebut.

__ADS_1


Wushh!!! Plakk!!!


Benturan keras untuk yang kesekian kalinya segera terjadi. Benturan tersebut berlangsung pada jurus ketiga puluh. Kali ini, kedua tokoh kelas atas yang terlibat itu segera terdorong mundur.


Zhang Fei terdorong sejauh dua langkah. Sedangkan Pendekar Kumbang Hitam terdorong empat langkah.


Perbedaan di antara mereka mulai semakin jelas. Zhang Fei sudah tahu bahwa lawannya mulai kelelahan.


"Hei, mau sampai kapan kau berdiri dan menjadi penonton seperti itu?" Pendekar Kumbang Hitam sudah tidak tahan lagi. Ia segera berkata sambil melirik ke arah Pendekar Pedang Perpisahan.


Dari nada bicaranya, bisa diketahui bahwa dia merasa kesal karena Datuk Dunia Persilatan itu, sejak tadi hanya diam dan menonton saja.


"Kau ingin aku turun tangan?" tanya balik datuk sesat itu dengan nada hambar.


"Tentu saja. Bukankah kau sendiri sudah tahu, bahwa anak muda itu bukan lawan yang mudah?"


"Ya, sejak awal aku tahu,"


"Bagus sekali. Lalu, apakah sekarang kau masih akan berdiri seperti patung?"


"Tidak," jawab Pendekar Pedang Perpisahan singkat sambil menggelengkan kepalanya. "Sekarang juga, aku akan turun tangan,"


"Bagus. Mari kita lakukan itu,"


Pendekar Kumbang Hitam kemudian menyalurkan sisa tenaga dalamnya. Dia sudah berniat untuk mengakhiri pertarungannya ini.


Jurus pamungkas akan digelar dengan segera. Dia yakin, kali ini, Zhang Fei pasti akan mampus.


Apalagi, Pendekar Pedang Perpisahan sudah berkata akan turun tangan.


Sementara di satu sisi, Ketua Dunia Persilatan justru masih terlihat tenang. Dia tidak mengeluarkan banyak tenaga seperti halnya Pendekar Kumbang Hitam.


Zhang Fei tetap berdiri di tempat. Matanya memandang tajam ke depan sana.


Sekarang dia sedang menunggu! Menunggu sesuatu yang mengejutkan!


Wushh!!!


Pendekar Kumbang Hitam melesat ke arahnya. Begitu juga dengan Pendekar Pedang Perpisahan.

__ADS_1


__ADS_2