Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Walikota Loo Ji Kun II


__ADS_3

"Hebat, ternyata kalian sudah mengetahui niatku datang kemari," ucap Zhang Fei dengan nada sedingin es.


Walaupun dia sadar posisinya sekarang sudah tidak menguntungkan, tapi sedikitpun tidak ada perasaan takut di hatinya.


Dia justru malah semakin bersemangat. Semakin banyak musuh, maka semakin banyak pula pengalaman yang bisa diambil.


Tiga puluh orang itu masih diam. Di antara mereka belum ada yang berbicara. Semuanya tetap bersikap seperti sebelumnya.


"Asal kau tahu saja, kami bahkan sudah mengetahui dirimu sejak berada di kota perbatasan,"


Suara lain tiba-tiba terdengar. Disusul kemudian dengan munculnya satu orang pria bertubuh tinggi kurus.


Pakaian yang dia kenakan sangat mewah. Bajunya terbuat dari bahan mahal. Di ikat kepalanya terdapat beberapa intan mutiara. Di pinggang sebelah kirinya ada sebatang pedang.


Pedang itu panjangnya hampir satu depa. Sarung pedang berwarna kuning emas. Di seluruh bagian sarungnya, ada cukup banyak intan mutiara yang mengeluarkan pantulan cahaya berbagai warna.


Kalau diperhatikan lebih lanjut, sepertinya sarung pedang itu memang terbuat dari emas murni.


Sungguh, perpaduan senjata yang sangat indah dengan nilai jual tak terukur. Rasanya, terlalu tidak pantas ada senjata tajam semewah itu.


Walaupun dirinya belum bertanya lebih jauh, tapi Zhang Fei sudah bisa menebak, bahwa orang tinggi kurus itu tak lain adalah orang yang sedang dia cari.


Yaitu si Walikota Loo Ji Kun sendiri!


"Oh, benarkah?" katanya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang diucapkan tadi.


"Tentu saja. Aku adalah orang yang paling berkuasa di Kota Yunnan. Jadi, setiap ada orang baru yang masuk kemari, jauh-jauh hari aku pasti sudah mengetahuinya," kata Walikota Loo Ji Kun sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi bagaimana kau bisa mengetahui kedatanganku? Padahal, tidak ada satu pun orang yang selama ini menguntitku," ujar anak muda itu masih penasaran.


Walikota Loo Ji Kun berjalan beberapa langkah ke depan. Di kanan kirinya ada dua orang pengawal pribadi. Semuanya adalah pria tua yang bahkan umurnya berada di atas dia sendiri.


Dua pengawal pribadi itu tidak pantas disebut manusia. Mereka lebih pantas kalau disebut setan.


Bukan karena wajahnya yang menakutkan. Wajah keduanya malah sama seperti pada umumnya. Bukan pula karena dandanannya, sebab dandanan mereka juga tidak terbilang aneh.

__ADS_1


Alasan kenapa keduanya lebih pantas disebut setan, tak lain adalah karena mereka tidak mempunyai hawa kehidupan. Wajahnya tampil dingin. Lebih dingin daripada es. Bola mata keduanya juga tampak kosong.


Pokoknya, apabila digambarkan, mereka sangat mirip dengan mayat hidup!


Tanpa sadar, Zhang Fei juga ikut mundur satu langkah ketika mereka berjalan ke depan.


"Sudah aku katakan, aku adalah orang yang paling berkuasa di kota ini," tukas Walikota Loo Ji Kun menjawab pertanyaan Zhang Fei. Sebelum melanjutkan, dia sempat berhenti sebentar.


Seorang pelayan datang menghampiri, ia membawa nampan berisi arak. Si Walikota minum dua cawan arak. Setelah selesai, ia baru melanjutkan kembali bicara.


"Jadi meksipun kau tidak merasa ada orang-orangku yang menguntitmu, namun aku tetap bisa mengetahui kedatangan dan niatmu lewat cara lain,"


"Hebat sekali. Pantas saja kau bisa hidup sampai hari ini," ejeknya sambil tersenyum sinis.


"Hahaha ..." ia tertawa lantang. Kemudian dirinya berkata. "Meskipun ucapanmu terdengar kurang ajar, tapi itu ada benarnya juga,"


Walikota Loo Ji Kun menyadari bahwa selama ini ada banyak sekali orang yang ingin membunuhnya. Maka dari itu, ia harus selalu waspada terhadap segala macam persoalan.


"Zhang Fei ... anak dari si Pedang Kilat Zhang Xin, datang kemari karena ingin pergi ke Gunung Lima Jari. Tapi karena sempat mendengar kabar tentang diriku, kau mengurungkan dahulu niat utama itu, dan ingin memberikan hadiah kepadaku. Bukankah ucapanku benar?" tanyanya kemudian.


Ia terkejut. Tidak disangka, ternyata Walikota itu benar-benar mengetahui maksud dan tujuannya datang ke Kota Yunnan.


Namun Zhang Fei masih terhitung baru dalam rimba hijau, jadi tidak heran apabila ia sempat keheranan.


"Betul. Ucapanmu sedikit pun tidak salah. Kagum, sungguh kagum," katanya memuji.


"Hahaha ... sudahlah, hal seperti ini bagiku sudah biasa. Sekarang, lebih baik, kau urungkan semua niatmu, dan mari bergabung bersamaku. Aku berjanji, kau akan kuberikan posisi yang menjanjikan,"


Cuihh!!!


Zhang Fei langsung meludah ketika mendengar ucapan tersebut. Ia muak, amarahnya seketika mencuat.


"Tutup mulut busukmu itu, tengkorak hidup!" katanya penuh ejekan. "Apapun rayuan yang kau berikan kepadaku, aku tidak sudi melakukannya,"


Ucapan Zhang Fei sangat lantang dan penuh tenaga. Suaranya bahkan sampai menggetarkan ruang tamu tersebut.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Walikota Loo Ji Kun seketika langsung terpancing emosinya pada saat mendengar perkataan Zhang Fei barusan.


Dia adalah orang terhormat. Setiap hari, yang didengar olehnya hanya pujian. Sekarang, bagaimana mungkin dia bisa diam saja saat ada orang yang mengejeknya?


Apalagi yang melakukan itu adalah seorang pemuda. Tidak, dia tidak bisa diam saja.


"Anak setan. Sudah untung aku memberikan tawaran kepadamu. Seharusnya kau merasa bersyukur, sebab aku tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya," katanya sambil menahan amarah. "Tapi karena kau sudah berani mengejekku, maka jangan salahkan aku apabila kau tidak bisa hidup lebih lama lagi,"


"Hahaha ... tengkorak hidup, jangan kau pikir bisa membunuhku dengan mudah,"


"Banyak bicara! Hajar bocah keparat itu. Siapa yang bisa memenggal kepalanya, aku akan memberikan hadiah yang berlimpah," kata Walikota Loo Ji Kun sambil memberikan perintah kepada orang-orangnya.


Tiga puluh orang kaki tangannya yang sejak tadi mengepung Zhang Fei, seketika langsung berkobar semangatnya begitu mendengar ucapan yang terakhir.


Secara serempak mereka mencabut senjata masing-masing, lalu menerjang ke depan dengan jurusnya tersendiri.


Melihat hal tersebut, Zhang Fei tidak merasa jeri. Sebelum tiga puluh orang itu tiba di depannya, ia lebih dulu melayang mundur ke belakang.


Zhang Fei baru mendarat begitu dirinya berada di tengah-tengah halaman depan.


Dia sengaja melakukan hal itu. Sebab menurutnya, bertarung di ruang tamu tidak begitu leluasa.


Wushh!!! Wushh!!!


Tiga puluh orang tadi langsung mengejar keluar. Begitu tiba, mereka telah melancarkan jurus dan serangan yang mematikan.


Tiga puluh senjata tajam berkelebat di tengah malam gelap gulita. Cahaya hitam dan putih keperakan menggulung menjadi satu kekuatan besar yang tidak bisa dibendung. Seperti halnya ombak di laut yang menerjang batu karang.


Zhang Fei tidak mau membuang waktu. Tepat sebelum serangan lawan tiba, ia sudah mencabut Pedang Raja Dewa keluar dari sarungnya.


"Pedang Penakluk Jagad!"


Wutt!!!


Jurus keenam dari Kitab Pedang Dewa sudah digelar. Delapan bagian tenaga dalam telah ia kerahkan.

__ADS_1


Tidak menunggu serangan sampai, dia memilih untuk menyambut semua lawannya.


Cahaya putih keperakan datang bagaikan kilat menyambar di tengah hujan. Hawa pedang langsung menyeruak ke seluruh area pertarungan.


__ADS_2