
Ucapan tersebut terbilang lantang. Sehingga setiap orang yang hadir di halaman Istana Kekaisaran bisa mendengarnya dengan jelas.
Pengakuan Pendekar Pedang Tetesan Darah yang mengaku kalah sontak saja membuat banyak orang terkejut. Satu pihak ada yang merasa senang karena Zhang Fei bisa keluar sebagai pemenang.
Di satu pihak lain justru merasa tidak suka. Karena itu artinya, dia lah yang akan menjadi Ketua Dunia Persilatan selanjutnya.
Bagaimana mungkin dunia persilatan dipimpin oleh seorang pendekar muda yang usianya bahkan belum mencapai tiga puluhan tahun? Bukankah ini konyol?
Sorak-sorai kembali terdengar. Kali ini lebih keras dan lebih meriah lagi. Tidak sedikit orang yang menyebut-nyebut nama Zhang Fei. Ada banyak pula orang yang merasa kecewa kepada Pendekar Istana Kekaisaran.
Sementara di mimbar, ketika Pendekar Pedang Tetesan Darah mengucapkan kata-kata itu, secara bersamaan Datuk Dunia Persilatan langsung bangkit berdiri dari posisinya.
"Bagus, anak Fei,"
"Kau hebat,"
"Akhirnya perjuanganmu tidak sia-sia,"
"Sudah aku katakan, kau mampu melakukannya,"
"Kau telah berhasil menunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya,"
Empat Datuk Dunia Persilatan memuji Zhang Fei secara serempak. Mereka sangat-sangat gembira melihat hasil pertarungan itu yang ternyata sesuai dengan harapannya.
Meskipun tidak ikut berdiri sekaligus memberikan pujian kepada Zhang Fei, tapi setiap orang tahu bahwa Kaisar pun merasa senang.
Terlihat dia menganggukkan kepala beberapa kali sambil tersenyum ke arah Zhang Fei.
'Anak ini benar-benar hebat. Sekarang aku percaya penuh, bahwa dia hanya satu-satunya orang yang bisa meneruskan posisi Ketua Beng Liong,' batin Kaisar sambil terus memandangi Zhang Fei dengan serius.
Sementara di tengah halaman, melihat Pendekar Pedang Tetesan Darah menarik senjata dan mengaku kalah, dengan segera Zhang Fei melakukan hal serupa.
Pedang Raja Dewa dia tarik dan dimasukkan kembali ke dalam sarung. Setelah itu Zhang Fei mendekat ke arah Pendekar Pedang Tetesan Darah lalu memberikan hormat kepadanya.
"Terimakasih karena Tuan mau mengalah kepadaku," katanya sungguh-sungguh.
Pendekar Pedang Tetesan Darah tidak marah. Dia justru tersenyum. Meskipun senyuman tersebut terlihat kaku.
__ADS_1
"Ilmu pedangmu sudah sempurna. Kau tinggal meningkatkan sedikit lagi supaya bisa mencapai tahap kesempurnaan total," katanya dengan nada kaku.
"Apa maksudmu, Tuan?" tanya Zhang Fei kurang paham.
"Jadilah pedang. Maka pedang juga akan menjadi dirimu,"
"Apakah aku harus menyatukan diri bersama pedangku?"
"Benar," katanya mengangguk membenarkan. "Kau adalah pendekar pedang. Tentu saja kau pun harus bisa menyatu dengan pedangmu. Ingat! Jadikan setiap inci tubuhnya sebagai ujung pedang yang sangat tajam,"
Zhang Fei membalas anggukan Pendekar Pedang Tetesan Darah. Sedikit banyaknya dia mengerti terhadap ucapan orang itu. Apalagi dulu, Zhang Fei juga beberapa kali mendengar perkataan yang hampir serupa.
Salah satunya adalah ucapan yang dulu disampaikan oleh kakek sekaligus gurunya, Zhang Liong.
Hanya saja, sampai selayang dia belum mengerti terkait bagaimana caranya menyatukan diri dengan pedang.
"Suatu saat nanti, kau pasti akan mengetahui dengan sendirinya," lanjut Pendekar Pedang Tetesan Darah seolah-olah mengetahui isi hati Zhang Fei.
Setelah berkata seperti itu, tanpa banyak bicara lagi dia langsung mundur ke posisi semula.
Juru bicara segera memasuki arena dan mengumumkan kembali pemenangnya.
"Selamat anak Fei,"
Lima orang tokoh tersebut memberikan selamat sambil berpelukan dan menjabat tangan.
"Terimakasih, ini semua berkat kalian," jawab Zhang Fei sambil tersenyum ramah.
Pada saat itu sebenarnya Kaisar ingin segera mengumumkan bahwa Zhang Fei layak menjadi Ketua Dunia Persilatan yang selanjutnya. Hanya saja sebelum mulutnya terbuka, Dewa Arak Tanpa Bayangan telah lebih dulu berbisik di telinganya.
"Kaisar, jangan dulu berbicara apa-apa," katanya serius.
"Mengapa, Tuan Kiang?" tanya Kaisar keheranan sambil menatap wajah orang tua itu.
"Saat ini masih ada cukup banyak orang yang belum setuju kalau anak Fei menjadi Ketua Dunia Persilatan selanjutnya,"
"Oh, lalu?"
__ADS_1
"Kita lihat saja, apa yang ingin dilakukan oleh orang-orang itu,"
Dewa Arak Tanpa kemudian berjalan satu langkah ke depan. Dia menyapu pandang ke arah semua orang yang hadir.
"Ujian kemampuan ini sebenarnya sudah selesai. Bisa dipastikan Tuan Muda Fei akan menjadi Ketua Dunia Persilatan yang berikutnya. Akan tetapi apabila di antara kalian masih ada yang tidak senang atau belum bisa menerimanya, silahkan maju ke arena dan melakukan tantangan terbuka dengannya. Kalau ada orang yang bisa mengalahkan Tuan Muda Fei dalam waktu tiga puluh jurus, maka orang tersebut layak dijadikan kandidat Ketua Dunia Persilatan,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan berkata dengan suara lantang. Dalam pada itu pun ia telah mengerahkan tenaga dalamnya lewat getaran suara.
Akibat dari hal tersebut, suaranya berubah menjadi lebih besar dan berwibawa. Semua orang bisa mendengarnya dengan jelas.
Sementara itu, ketika mendengar ucapan barusan, tentu saja mereka yang tidak senang merasa diberi jalan terang.
Semangat di dalam tubuh mereka berkobar. Orang-orang yang merasa tidak senang ingin langsung menantang Zhang Fei dalam sebuah pertarungan.
Sayangnya, tidak sekuat dari mereka yang berani mengutarakan hal tersebut. Apalagi belum lama ini, orang-orang itu sudah menyaksikan dengan jelas bagaimana sepak terjang Zhang Fei.
Kalau pendekar elit Istana Kekaisaran saja bisa dikalahkan, apalagi mereka yang hanya pendekar biasa?
Akan tetapi di sisi lain, tidak sedikit pula orang-orang yang merasa yakin akan kemampuan sendiri. Mereka menganggap kenapa Zhang Fei bisa menang melawan dua pendekar elit Istana Kekaisaran, itu adalah sebuah keberuntungan saja.
Maka dari itu, tidak lama setelah ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan selesai diutarakan, dengan cepat beberapa orang melompat ke tengah arena pertarungan.
Sekarang di arena sudah ada lima orang. Kelimanya tentu bukan pendekar kelas rendah. Lima orang tersebut merupakan pria, empat orang berusia sekitar lima puluhan tahun. Dan satunya lagi sudah tua, mungkin usianya telah mencapai tujuh puluhan.
Empat Datuk Dunia Persilatan memandangi mereka satu-persatu. Keempatnya juga mengenal para penantang yang kini sudah ada di depan mata.
Hanya saja, mereka sedikit terkejut setelah menyadari bahwa di antara penantang ada satu orang tokoh angkatan tua.
"Rupanya Pendekar Berwajah Dingin juga ikut tertarik dengan kejadian ini," kata Orang Tua Aneh Tionggoan sambil menatapnya cukup tajam.
Orang disebut Pendekar Berwajah Dingin segera tersenyum. Senyumannya benar-benar dingin dan mendirikan bulu kuduk. Tidak heran dia dijuluki seperti itu.
"Aku hanya penasaran saja dengan pendekar muda ini,"
"Baiklah, baiklah. Silahkan, siapa tahu kau yang akan menjadi kandidatnya," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menarik muka.
Perlu diketahui, Pendekar Berwajah Dingin itu adalah tokoh angkatan tua yang satu generasi dengan Empat Datuk Dunia Persilatan.
__ADS_1
Dia bukan berasal dari partai ataupun sebuah kelompok. Pendekar Berwajah Dingin berdiri sendiri, ia pun memilih aliran tengah sebagai haluannya.