Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Menyeberangi Sungai Ciliang


__ADS_3

Pada saat Zhang Fei masuk ke dalam rumah makan, suasana di sana ternyata sudah ramai. Setiap meja yang terdapat di rumah makan itu, hampir semuanya sudah ditempati oleh para pengunjung.


Wajar, saat itu adalah waktu yang tepat untuk melangsungkan makan malam. Di dalam rumah makan, Zhang Fei menemukan bahwa pelanggan yang datang tersebut berasal dari berbagai kalangan.


Ada yang merupakan pengusaha, petani, pedagang, bahkan orang-orang persilatan.


Dia tahu tipe orang-orang yang ada. Hanya saja dirinya tidak terlalu mengindahkan mereka. Zhang Fei membiarkan saja orang-orang itu. Meskipun memang, telinganya tetap dipasang dengan tajam.


Siapa tahu, secara tidak langsung, dia akan mendengar kabar tentang dunia persilatan.


Anak muda itu segera memanggil pelayan. Setelah pelayan datang menghampiri, dia langsung memesan menu makanan.


Menu makanan yang dipesan Zhang Fei adalah menu sederhana. Hanya nasi dan bebek goreng saja. Tapi tentunya, tidak lupa juga dia pesan satu guci arak keras.


Sembari menunggu, anak muda itu melihat ke setiap dinding rumah makan. Kebetulan, di sana ada banyak gambar lukisan yang sangat indah.


Bahkan kalau dilihat sekilas, lukisan-lukisan itu seperti hidup. Zhang Fei sendiri memuji si pelukis yang bisa menuangkan khayalannya dengan sebuah gambar yang sangat nyata.


Tanpa sadar dirinya berdecak kagum. Tanpa sadar pula, menu makanan sudah tiba di mejanya.


Karena sudah merasa lapar sejak tadi, maka tanpa berlama-lama lagi, dia segera menyantapnya dengan lahap.


Sekitar dua puluh menit kemudian, ia telah selesai makan. Zhang Fei berjalan menghampiri kasir, segara membayar biaya, lalu pergi untuk mencari penginapan.


Kebetulan, Kota Ciliang itu adalah kota yang cukup besar. Kehidupan malam di kota ini pun, tidak kalah dengan kehidupan di kota-kota yang sebelumnya pernah dia lewati.


Untuk mencari penginapan, hal itu bukanlah perkara sulit. Karenanya, tidak butuh waktu lama, dia sudah menemukan penginapan yang cocok.


Kuda jempolan yang ia tunggangi di simpan di kandang kuda yang tersedia. Zhang Fei sendiri kemudian masuk ke dalam kamar, bersama si pelayan yang bertugas menunjukkan di mana letaknya.


"Silahkan, Tuan Muda," ujar pelayan itu yang merupakan wanita muda berusia sekitar dua puluh lima tahun.


"Terimakasih," jawabnya sambil tersenyum.


Setelah selesai melayani pelanggan, wanita muda itu pun kemudian pergi kembali. Sedangkan Zhang Fei, dia langsung naik ke atas pembaringan.


Tubuhnya sudah terasa lelah. Apalagi beberapa hari belakangan, dia kurang istirahat cukup. Karena itulah baru saja berada di atas kasur yang empuk, tidak lama kemudian ia sudah tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Pagi harinya, setelah menyelesaikan segala macam urusan, Zhang Fei segara berjalan kembali ke tengah kota. Kuda miliknya dituntun, ia berjalan ke beberapa tempat dan berakhir di pinggir Sungai Ciliang yang besar itu.


Keadaan di sungai tersebut sangatlah ramai. Apalagi saat pagi hari seperti sekarang.


Orang-orang yang ada di sana, bukan hanya mereka yang berniat ingin menyeberang sungai. Bahkan ada pula orang-orang yang sengaja datang untuk menikmati suasana pagi hari. Mereka ingin melihat terbitnya mentari sambil menikmati teh hangat ataupun arak.


"Tuan Muda, kau ingin menyeberangi sungai ini?"


Pada saat dirinya sedang memandang ke sekeliling, tiba-tiba ada pria berumur lima puluh tahunan yang datang menghampirinya.


Pria itu sepertinya tukang perahu yang sudah biasa mencari nafkah di Sungai Ciliang. Zhang Fei tahu akan hal itu. Apalagi dia melihat penampilannya yang sangat mirip seperti para nelayan.


"Benar, Paman. Aku ingin menyeberangi sungai ini," jawabnya sambil menganggukkan kepala dan memberikan senyuman hangat.


"Ah, kebetulan," kata pria itu tersenyum gembira. "Bagaimana kalau Tuan Muda naik perahuku saja? Ongkosnya murah. Malah kalau Tuan Muda mau, aku bisa membawa Tuan Muda untuk berkeliling melihat-lihat pemandangan,"


Si tukang perahu mulai menawarkan jasa-jasanya. Tidak lupa juga ia mengeluarkan"taktik" supaya calon pelanggannya itu mau menumpangi perahu miliknya.


Sementara itu, Zhang Fei tampak berpikir sebentar. Seolah-olah dia mempertimbangkan berbagai macam hal.


"Bagaimana, Tuan Muda?" tanya tukang perahu itu lagi.


"Tentu saja ..., tentu saja ongkos naik perahunya lebih murah. Aku yakin, upah untukku jauh lebih murah daripada tukang perahu lainnya,"


"Baiklah kalau begitu. Di mana perahu milikmu, Paman?" tanya Zhang Fei setelah setuju.


"Mari Tuan Muda ikut aku,"


Tukang perahu itu kemudian berjalan menyusuri pinggiran sungai. Zhang Fei mengikuti dari belakangnya.


Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya si tukang perahu itu berhenti. Ia berhenti tepat di dekat sebuah perahu tua yang berukuran cukup besar.


"Silahkan naik, Tuan Muda. Kita akan langsung berlayar," katanya dengan sopan.


"Apakah Paman tidak mau mencari penumpang lain lagi?" Zhang Fei bertanya sambil mengerutkan kening.


Dia sedikit heran, sebab tidak biasanya tukang perahu bersikap seperti itu. Biasanya, tukang perahu pada umumnya akan mencari lagi pelanggan lain, hal itu dilakukan supaya mereka mendapatkan upah yang lebih besar.

__ADS_1


"Ah, tidak perlu, Tuan Muda. Kita langsung berlayar saja,"


"Hemm, kenapa demikian?"


"Karena aku tahu, Tua Muda sedang diburu waktu," ujarnya sambil tersenyum.


"Ah, benar juga. Baiklah kalau begitu,"


Zhang Fei setuju. Dia langsung berjalan ke dalam perahu itu.


Beberapa saat kemudian, perahu tua yang cukup besar itu pun segara berlayar. Deburan arus air sungai langsung terdengar cukup keras.


Pemandangan di sekitar tempat itu ternyata benar-benar indah. Apa yang dikatakan si tukang perahu sebelumnya, memang tidak salah. Zhang Fei sendiri menikmati panorama alam tersebut.


Perahu itu semakin berlayar jauh ke tengah. Tempat yang dikunjungi pun semakin sepi. Tidak ramai seperti sebelumnya.


Zhang Fei menengok ke dalam perahu, ia tiba-tiba tersenyum.


Entah apa maksudnya. Yang jelas, senyuman itu seperti mengandung arti tersendiri.


Anak muda itu lalu bersiul. Ia tampak santai. Seolah-olah dirinya sedang tenggelam dan menyatu bersama alam.


Pada saat seperti itu, tiba-tiba perahu mendadak berhenti. Dari dalam kabin perahu, muncul beberapa orang berpakaian hitam.


Kalau dilihat lebih jelas lagi, ternyata jumlahnya ada sepuluh orang. Dan semuanya saat ini sudah memegang golok yang sangat tajam.


Mereka telah mengepung Zhang Fei!


"Bocah, serahkan semua harta yang kau bawa. Kalau tidak, jangan salahkan aku apabila umurmu hanya sampai di sini,"


Sebuah ancaman terdengar. Saat Zhang Fei membuka mata, ternyata yang mengancam dirinya itu tak lain adalah si tukang perahu!


Melihat hal ini, anak muda itu tersenyum. Ia menenggak guci arak yang sejak tadi dibawanya.


"Hei, apakah kau tuli?" tanyanya kemudian. Si tukang perahu tampaknya mulai kesal. Hal itu bisa dibuktikan dengan suaranya yang mulai dalam.


"Kalau aku tuli, bagaimana mungkin sebelumnya, kita bisa berbincang-bincang?"

__ADS_1


"Lalu, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"


"Karena aku tidak ingin menjawabnya," tukas Zhang Fei dengan santai.


__ADS_2