
Waktu sudah masuk sore. Matahari senja memberikan sinar kuning kemerahan yang membuat warna rerumputan seolah-olah mengalami perubahan.
Belasan ekor burung walet terbang berputar-putar di tengah angkasa. Di sisi sebelah timur, ada lagi sekelompok burung yang baru saja pulang setelah seharian mencari nafkah untuk keluarganya.
Bunga-bunga mekar di tengah hutan, menebarkan aroma wangi. Siapa pun yang berhasil mencium harumnya, pasti dia akan merasa nyaman.
Semilir angin pegunungan berhembus membawa rasa sejuk. Ranting dan pohon-pohon kecil menari di tengah terpaan angin.
Di persimpangan jalan tengah hutan, di sana ada Zhang Fei dan Lima Datuk Dunia Persilatan. Ia telah berhasil mengumpulkan mereka sejak pagi tadi.
Orang-orang itu saat ini sedang duduk di atas rumput yang hijau. Kuda-kuda mereka sendiri dibiarkan merumput atau beristirahat setelah beberapa hari belakangan terus dipaksa untuk bekerja.
Mereka dudu melingkar. Di tengah-tengah ada beberapa guci arak yang masih tersegel. Ada pula beberapa krat daging segar yang sengaja dibeli Zhang Fei ketika hendak berangkat ke tempat tersebut.
"Ngomong-ngomong, selama beberapa hari belakangan ini, apa saja yang berhasil kalian temukan?" tanya Zhang Fei mengawali pembicaraan serius.
"Kami tidak berhasil menemukan petunjuk yang berarti, Ketua," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan lebih cepat dari yang lain. "Di sebelah timur, keadaan terlihat aman. Walaupun sempat ada beberapa masalah, tapi semua itu hanya masalah kecil. Pendekar aliansi dan prajurit Kekaisaran berhasil mengatasinya,"
Zhang Fei mengangguk beberapa kali. Ia kemudian segera melirik ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Pendekar Tombak Angin.
"Di bagian selatan juga sama. Kami tidak berhasil menemukan apapun. Namun selama kami berada di sana, memang sering terlihat orang-orang asing. Kadang juga, ada beberapa anggota murid Partai Iblis Sesat yang berkeliaran. Tetapi sampai sejauh ini, rasanya mereka tidak berani melakukan tindakan apapun," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan laporan.
Zhang Fei kembali mengangguk. Dia masih belum bicara. Ketua Dunia Persilatan termenung beberapa saat untuk menyusun kata-kata di dalam pikirannya.
Setelah kata-kata itu tersusun rapi, ia langsung bicara.
"Baiklah, sekarang giliranku yang memberikan laporan,"
Zhang Fei menarik nafas panjang sebanyak tiga kali. Kemudian dia langsung bicara. "Entah ini suatu kebetulan atau bukan, tapi menurut dugaanku, titik masalahnya berada di bagian sebelah selatan ini. Bahkan benang merahnya mulai terungkap tanpa disengaja,"
"Apa maksudmu, Ketua?" tanya Dewi Rambut Putih keheranan.
Zhang Fei tersenyum. Dia kemudian menjelaskan apa yang dialaminya bersama Pendekar Pedang Perpisahan ketika tepat berada di tempat tersebut.
Iyaa menceritakannya secara singkat dan jelas.
__ADS_1
"Jadi ... Pendekar Pedang Perpisahan menduga bahwa pelaku dari semua peristiwa misterius ini, adalah orang-orang dari Partai Iblis Sesat?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Benar, Tuan Kai. Bahkan setelah mendengar penjelasan dan melihat buktinya secara langsung, aku sendiri setuju dengan dugaan Tuan Wu itu," sahut Zhang Fei.
Para Datuk Dunia Persilatan ikut mengangguk. Kalau begitu kenyataannya, tentu saja mereka pun merasa setuju.
"Dia adalah tokoh dari aliran sesat, jadi wajar kalau dirinya tahu banyak tentang hal-hal seperti ini," tukas Dewa Arak Tanpa Bayangan yang segera mendapat anggukan kepala dari yang lain.
"Maka dari itulah, aku mempercayai dugaannya," kata Zhang Fei langsung menyahut.
"Kalau begitu, di mana dia sekarang? Mengapa Pendekar Pedang Perpisahan tidak hadir di pertemuan ini?" tanya Pendekar Tombak Angin.
"Setelah menemukan orang yang mencuri dengar, dia segera pergi dari sini. Bahkan perginya juga dengan membawa jasad orang itu,"
"Ke mana perginya?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu," jawab Zhang Fei sambil tersenyum getir. "Tapi menurutku, saat itu dia sudah mempunyai rencana matang, sehingga langsung pergi tanpa ragu lagi,"
"Ya, aku setuju dengan ucapanmu, Ketua Fei," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Karena itulah, dia menyuruhku supaya kita berkumpul di persimpangan jalan ini, tepat sebelum matahari tenggelam. Terkait apa tujuannya, sampai saat ini aku juga belum mengetahui secara pasti,"
"Lalu, mengapa sampai saat ini dia masih belum datang? Apakah dia mendapat kesulitan?" Dewi Rambut Putih terlihat sedikit khawatir.
Karena yang dia tahu, Pendekar Pedang Perpisahan bukanlah orang yang suka telat, apalagi ingkar janji.
Apapun yang terjadi, dia selalu berusaha untuk tepat waktu dan tidak mengingkari janjinya sendiri.
"Tenanglah, Nyonya Ling," kata Zhang Fei berusaha menenangkan wanita tua itu. "Aku yakin, sebentar lagi Tuan Wu akan segera datang,"
"Bukan sebentar lagi, bahkan sekarang pun dia sudah datang," sambung Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Ia segera menoleh ke arah timur, di mana di depan sana juga ada persimpangan jalan yang berdekatan dengan kampung warga.
Belum lama mereka memandang, ternyata benar saja dari sebuah belokan, terlihat ada seseorang yang sedang berjalan dengan langkah tenang dan santai.
__ADS_1
Ia mengenakan cadar dan pakaian hitam. Di dada sebelah kirinya ada lambang kepala iblis. Di punggungnya ada sebatang pedang. Pedang pusaka yang sudah banyak membunuh nyawa manusia.
Senjata yang selalu mengeluarkan hawa pedang sangat pekat!
Walaupun penampilannya sedikit berbeda, meskipun dilihat dari jarak yang cukup jauh, tetapi para tokoh itu sudah tahu bahwa orang tersebut pasti adalah Pendekar Pedang Perpisahan!
Cara berjalannya tetap tenang dan santai. Tetapi beberapa saat kemudian, tanpa terasa dia sudah tiba di hadapan para tokoh dunia persilatan yang sudah sejak tadi menunggunya.
"Maaf kalau aku datang sedikit terlambat," kayanya menyapa para tokoh.
"Tidak masalah, Tuan Wu. Toh kami juga belum lama tiba di sini," jawab Zhang Fei sambil tersenyum hangat.
Dia kemudian mengajaknya untuk bergabung bersama yang lain. Mereka segera duduk melingkar seperti sebelumnya.
Sebentar kemudian, matahari semakin tenggelam di balik bukit. Sinar merah semakin merona menyapa alam mayapada.
Para tokoh tersebut belum berbicara. Mereka masih menikmati arak dan daging segar yang terdapat di tengah-tengah.
Lewat beberapa menit kemudian, Dewa Arak Tanpa Bayangan segera mengajukan pertanyaan kepadanya.
"Mengapa kau bisa datang terlambat? Apakah kau menemukan sedikit masalah?" tanyanya langsung ke inti pembahasan.
"Ya, aku memang sempat menemukan hambatan. Jadinya terpaksa harus sedikit terlambat," jawab Pendekar Pedang Perpisahan dengan jujur.
"Lantas, apakah hambatan itu berhasil kau bereskan?"
"Tentu saja. Kalau tidak berhasil, mana mungkin aku bisa datang kemari?"
Mereka kemudian tertawa. Suara tawanya memecahkan keheningan di persimpangan jalan tersebut.
Pendekar Pedang Perpisahan tiba-tiba bangkit berdiri. Dia kemudian melepas pakaian serta cadar yang dikenakan sebelumnya.
"Tampil seperti ini ternyata sangat merepotkan. Aku bahkan sempat kesulitan bernafas," ia berkata sambil tersenyum kaku.
Memang, selama ini dirinya sangat jarang tampil seperti itu. Bahkan bisa dibilang tidak pernah. Jadi, jangan heran kalau ia berkata seperti barusan.
__ADS_1