
Saat ini mereka sedang kembali bersulang arak. Keduanya sedang melepas penat. Pikirannya beberapa waktu belakangan terus diperas oleh berbagai macam masalah yang tidak kunjung selesai.
Bukan cuma pikirannya saja yang lelah. Bahkan fisik serta perasaannya juga sama.
Diam-diam, dua orang itu semakin sadar bahwa menjadi orang ternama itu ternyata bukan sesuatu yang enak.
Manusia diluar sana mungkin berpikir bahwa menjadi terkenal itu nikmat. Hidupnya penuh kemewahan. Hartanya berlimpah. Setiap keinginannya pasti akan terpenuhi.
Kalau dilihat dari segi luarnya, mungkin semua anggapan itu memang benar. Sangat benar dan sama sekali tidak salah.
Sayangnya, mereka telah melupakan satu hal yang paling penting. Mereka lupa, bahwa orang-orang yang dianggap 'enak' itu justru mempunyai kehidupan yang sebenarnya jauh lebih pahit.
Tidur mereka tidak pernah nyenyak, sebab ada banyak urusan yang belum selesai, atau juga harus segera diselesaikan.
Belum lagi pikiran dan perasaannya yang tidak pernah tenang. Ditambah lagi dengan setiap langkahnya harus selalu benar dan tidak boleh melakukan kesalahan.
Kalau apa yang mereka lakukan benar, maka orang lain pasti akan merasakan bahagianya. Namun kalau apa yang dilakukannya itu salah, maka orang lain pun akan merasakan sengsaranya.
Dua orang yang ada di ruang pertemuan itu mempunyai nasib yang hampir serupa. Jadi tidak perlu heran kalau cara berpikir mereka juga hampir sejalan.
"Hahh ..." Kaisar menghembuskan nafas berat. Dia sangat ingin semuanya segera berakhir. Ia mulai lelah. Lelah dengan segala persoalan yang terus datang menghampirinya.
"Kaisar ..." kata Zhang Fei tiba-tiba bicara lagi. "Pagi hari tadi, aku telah bertemu dengan seorang nenek tua pemilik rumah makan. Keadaannya sangat memprihatinkan, dia hidup seorang diri tanpa keluarga. Melihatnya saja, aku benar-benar merasa kasihan,"
Ketua Dunia Persilatan masih ingat akan janjinya. Dia ingin memberikan bantuan kepada nenek tua itu.
Sementara Kaisar Song Kwi Bun, dia segera memandang Zhang Fei setelah mendengar perkataan barusan. "Jadi, apakah dia adalah orang yang pantas untuk menerima bantuan?" tanyanya mulai mengerti maksud Zhang Fei.
"Ya, sangat-sangat pantas. Aku harap, dalam waktu tiga hari ke depan, Kaisar segera mengutus seseorang untuk melihat kondisi dan menentukan semuanya,"
"Hemm ... baiklah. Aku berjanji, secepatnya akan mengirim seseorang ke sana,"
"Terimakasih, Kaisar. Maaf kalau aku selalu merepotkanmu,"
"Jangan bilang seperti itu, Ketua Fei. Ini sudah menjadi tanggungjawab dan kewajibanku. Justru yang harus berterimakasih adalah aku, karena kau sudah menyampaikan langsung hal ini,"
__ADS_1
Zhang Fei menanggapi ucapan tersebut dengan senyuman hangat. Hatinya menilai bahwa orang di depannya tersebut memang sangat pantas menjadi seorang Kaisar.
'Demi membela tanah air, demi memandangnya tetap berdiri di atas tahta ini, mati pun aku rela,' batin Zhang Fei.
###
Sore hari sudah tiba. Zhang Fei telah kembali berada di tengah-tengah perjalanan pulang. Sehabis selesai menyampaikan semuanya, dia memang tidak berlama-lama berada di Istana Kekaisaran.
Sebenarnya, sebelum kepergian tadi, Kaisar berusaha untuk menahan Zhang Fei dan meminta supaya dia menginap di Istana Kekaisaran barang satu atau dua hari.
Namun, Zhang Fei menolaknya dengan cara halus. Ia mengatakan bahwa waktunya tinggal sedikit lagi. Dia sudah tidak bisa bersantai-santai, apalagi masalah sudah di depan mata.
Untunglah, dengan penjelasan-penjelasan tersebut, akhirnya Kaisar juga mengerti tentang apa yang dimaksudkan olehnya.
Zhang Fei terus memacu kudanya dengan cepat. Dia berharap perjalanannya kali ini tidak menemukan hambatan apapun. Ia ingin cepat sampai di Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Kuda jempolan itu terus berlari. Selama beberapa hari menungganginya, Zhang Fei merasa kagum. Kuda itu benar-benar kuat. Tenaganya besar, nafasnya panjang, larinya juga sangat cepat.
Hal itulah yang telah membuat kenapa Zhang Fei bisa sampai di Istana Kekaisaran lebih cepat dari yang seharusnya.
###
Kalau tidak salah perhitungan, hari ini adalah tepat seminggu setelah pertemuannya dengan para Datuk Dunia Persilatan.
Itu artinya, Zhang Fei juga telah kembali tepat pada waktunya.
Keadaan di sekitar Gedung Ketua Dunia Persilatan masih terlihat sama. Tidak terlalu ramai. Tapi tidak bisa juga dibilang sepi.
Beberapa penjaga memberikan hormat setelah melihat kedatangannya. Ketika tiba di pintu utama, Zhang Fei segera turun dari punggung kuda.
Seorang pegawai dengan cepat menghampirinya. Zhang Fei memberikan kuda itu kepadanya. Pegawai tersebut kemudian membawa kuda jempolan ke belakang untuk mendapatkan perawatan.
Sedangkan dia sendiri, tanpa berlama-lama segera masuk ke dalam ruang pertemuan. Zhang Fei percaya, para Datuk Dunia Persilatan pasti sudah ada di sana.
Dan ternyata benar, ketika ia membuka pintu ruangan, tokoh-tokoh utama angkatan tua tersebut sudah duduk di kursi masing-masing.
__ADS_1
Seperti biasanya, ketika Zhang Fei datang, saat itu mereka sedang berpesta arak.
Kebanyakan kaum pendekar, baik itu pria maupun wanita, yang muda ataupun tua, pada umumnya mereka tidak bisa lepas dari yang namanya arak.
Di mana pun, kapan pun, pasti akan tersedia arak. Bagi mereka, arak itu sudah dianggap sebagai minuman pokok pengganti air putih.
Bangun tidur minum arak, habis makan minum arak, bahkan hendak tidur pun, yang diminumnya adalah arak lagi.
Entah kenapa kebanyakan dari para pendekar itu sangat doyan air kata-kata. Yang jelas, kebiasaan ini sudah berlangsung sangat lama. Mungkin sejak dunia persilatan pertama kali diciptakan.
Ibarat kata, dari seratus orang pendekar, yang tidak suka arak, paling-paling jumlahnya kurang dari sepuluh orang.
"Ketua Fei ..." Dewi Rambut Putih tiba-tiba menyala Zhang Fei. Para Datuk Dunia Persilatan yang lainnya segera menoleh ke ambang pintu.
Setelah mereka semua tahu bahwa Zhang Fei sudah ada di sana, para tokoh angkatan tua itu secara serentak memberikan hormatnya.
Zhang Fei membalas hormat mereka. Dia kemudian berjalan lalu duduk di kursi khusus untuknya.
Ia kemudian menenggak guci arak yang baru saja dibuka. Setelah selesai, Zhang Fei langsung bertanya.
"Sejak kapan kalian tiba?"
"Belum lama ini kami tiba. Paling-paling sekitar lima belas menit yang lalu," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Apakah kalian sudah makan?"
"Kebetulan belum. Aku tidak tidak sempat makan, padahal perutku sudah minta bakar ayam hutan," orang tua itu menjawab sambil mengusap-usap perutnya.
"Hemm ... baiklah. Sebentar lagi kita akan makan bersama,"
Zhang Fei segera memanggil pelayan. Ia lalu menyuruhnya untuk menyiapkan menu makanan dengan jumlah cukup banyak.
Setelah mendapat perintah, pelayan tersebut langsung pergi dari sana untuk menyiapkan semua pesanan Zhang Fei.
Sedangkan para tokoh dunia persilatan itu sendiri lebih memilih untuk menunggu di ruangan tersebut. Mereka kemudian pesta arak sembari menunggu semuanya siap.
__ADS_1