Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dewa Pedang Sejati I


__ADS_3

Degg!!!


Jantung Zhang Fei seketika berdetak lebih kencang. Perasaannya juga langsung tidak karuan.


Pada saat mendengar perkataan si orang tua, pada saat itu pula Zhang Fei berdiri mematung.


Keadaan seperti itu berlangsung cukup lama. Ingatannya berputar, sampai pada akhirnya dia mengingat kembali ketika pertarungannya melawan para Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu.


Zhang Fei memang tidak bisa mengingat seluruh rangkaian kejadiannya. Tetapi, dia masih ingat bahwa pada saat itu, Pedang Raja Dewa memang sempat terlepas dari tangannya.


Lewat beberapa waktu berikutnya, ketika ia sudah mulai bisa menguasai diri, Zhang Fei kembali bertanya. "Memangnya ... memangnya ke mana pedang itu?" tanyanya dengan gugup.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Tapi sepertinya, Pedang Raja Dewa telah diambil oleh salah satu dari musuhmu," jawab si orang tua serba putih.


Jawaban yang diberikan olehnya persis seperti petir yang menyambar. Seluruh tubuh Zhang Fei seketika lemas tak berdaya.


Ia menundukkan kepala dan memandang kedua telapak tangannya secara bergantian. Apa yang terjadi saat ini memang mimpi. Namun yang terjadi sebelumnya adalah kenyataan.


Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan!


Pada saat yang bersamaan, Zhang Fei seolah-olah telah kehilangan jati diri bahkan berikut nyawanya.


Selama ini, dia telah menghabiskan semua waktunya untuk berlatih ilmu pedang. Bagi Zhang Fei, pedang adalah segalanya.


Sekarang, pedang yang telah menemaninya dalam suka maupun duka telah lenyap dibawa musuh, bagaimana mungkin dia akan baik-baik saja?


Walaupun di dunia ini masih ada banyak pedang pusaka yang lain, tapi Pedang Raja Dewa tetap tidak bisa disamakan.


Tidak ada satu pun pedang yang mampu menggantikan posisi Pedang Raja Dewa!


Zhang Fei tidak hanya melihat dari segi ketajaman ataupun kekuatannya, melainkan ia memandang dari sisi kenangan!


Kenangan pahit manis kehidupan sudah ia lewati bersama Pedang Raja Dewa. Mulai dari dirinya sering dihina orang, sampai pada akhirnya disanjung oleh semua orang, pusaka itu selalu ada bersamanya.

__ADS_1


Tidak hanya itu saja, bahkan pedang itu pun sudah terlalu sering menyelamatkan selembar nyawanya.


Andai saja tidak ada Pedang Raja Dewa, Zhang Fei yakin dia sudah tewas sejak dahulu kala!


Kenangan yang terkandung dalam pedang pusaka itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Walaupun mungkin ada orang yang akan menganggapnya sepele, namun kenangan tetaplah kenangan.


Setiap orang yang hidup di muka bumi ini pasti mempunyai kenangannya tersendiri. Bagi orang lain, mungkin kenangan itu tidak berarti. Tetapi kau harus ingat! Setiap orang, setiap kenangan, mempunyai arti tersendiri yang tidak bisa dibantah!


Lama ... lama sekali Zhang Fei berdiri seperti patung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada saat itu.


"Sudahlah, Zhang Fei. Lupakan saja pedang itu. Sebagai Ketua Dunia Persilatan, bukankah suatu hal yang mudah jika kau ingin memiliki senjata pusaka?" si orang tua serba putih akhirnya berkata lagi.


Ucapannya terdengar lirih dan tenang. Dia bahkan tersenyum hangat kepada Zhang Fei.


"Melupakan?" ia mengangkat kepala dan memberanikan diri untuk menetap wajahnya. "Kau pikir semudah itu melupakannya? Kau tahu? Bagiku, Pedang Raja Dewa adalah segalanya. Dalam pedang itu ada banyak kenangan yang telah aku lewati bersama. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya?"


Amarah di dalam diri Zhang Fei seketika meluap-luap. Ia benar-benar marah. Namun sebisa mungkin ia tetap menahan diri.


"Walaupun saat ini ada ratusan senjata pusaka di depanku, bagiku semuanya tetap tidak berarti," ujarnya mengakhiri perkataan.


Ia balik memandang Zhang Fei dengan tatapan dalam. Kemudian melanjutkan lagi, "Tapi, kau tidak boleh egois seperti itu. Bukankah mimpi terbesarmu adalah ingin menjadi Dewa Pedang?"


"Benar," katanya membenarkan. "Tapi tanpa adanya Pedang Raja Dewa, bagaiamana mungkin aku bisa menjadi seorang Dewa Pedang?"


Emosinya masih saja meluap. Tapi entah kenapa, tiba-tiba ia merasa ada satu kekuatan halus tak kasat mata yang perlahan masuk dan menyerap ke dalam tubuhnya.


Semakin Zhang Fei melihat wajah dan senyuman orang tua serba putih itu, maka semakin tenang juga perasaannya.


"Tanpa pedang pun, kau tetap bisa menjadi Dewa Pedang," kata si orang tua menegaskan.


"Bagaimana caranya?" Zhang Fei bertanya dengan cepat.


"Sebelum berlanjut, aku ingin bertanya dulu, apakah kau tahu apa yang dimaksud dengan Dewa Pedang?"

__ADS_1


"Seseorang bisa disebut sebagai Dewa Pedang apabila dia sudah bisa menyatu dengannya. Pedang adalah dia, dan dia adalah pedang. Masing-masing saling melengkapi satu sama lain,"


"Benar, tepat sekali," si orang tua tersenyum lebih hangat. "Lalu, apakah sampai sejauh ini, kau telah menyatu dengan pedangmu?"


"Aku tidak tahu,"


"Jawab saja," orang tua serba putih sedikit mendesak.


"Mungkin hampir," jawab Zhang Fei sedikit ragu.


"Tidak, tidak," orang tua itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Kau bahkan baru melangkahkan kaki untuk menjadi seorang Dewa Pedang. Yang selama ini kau perjuangkan itu tak lebih hanya hal-hal yang biasa dilakukan oleh para pendekar saja,"


"Aku tidak mengerti,"


Zhang Fei merasa bingung dengan ucapan orang tua di hadapannya itu. Tapi di satu sisi, dia pun mulai merasa tertarik sekaligus penasaran.


"Baik, aku akan menjelaskannya kepadamu. Kalau kau mampu mengerti, maka kau akan bisa mencapai tahap Dewa Pedang. Tapi kalau tidak, sampai kapan pun, kau tidak akan bisa mencapai tahap itu,"


Zhang Fei mengangguk. Detik itu pula dia langsung mencurahkan hati dan perasaannya kepada orang tua serba putih.


Sementara si orang tua, ia sempat memandangi Zhang Fei dari atas sampai bawah beberapa saat lamanya.


"Begini," katanya mulai berbicara. "Memang betul apa yang kau ucapkan tadi itu. Tapi masih ada kelanjutannya. Seorang pendekar pedang baru akan disebut sebagai Dewa Pedang sejati apabila dia sudah berhasil menghilangkan pedang itu dan memasukannya ke dalam jiwa,"


"Sehingga pada akhirnya, seluruh tubuhnya akan menjadi pedang. Kedua tangannya pedang, kedua kakinya pedang, kedua matanya juga pedang. Pokoknya, mulai dari atas sampai bawah, itu semua adalah pedang. Pedang yang sudah menyatu, sedarah dan sedaging dengannya,"


"Tahap inilah yang paling menyulitkan. Hampir setiap pendekar yang mempunyai mimpi sepertimu, mereka gagal di tahap ini. Kau tahu apa penyebabnya?"


Zhang Fei menggelengkan kepala. Karena dia benar-benar tidak tahu.


"Karena orang-orang itu masih mengandalkan senjatanya! Bukan mengandalkan dirinya sendiri. Seperti kau contohnya!" orang tua serba putih itu mengakhiri ucapan sambil menunjuk kepada Zhang Fei.


Degg!!!

__ADS_1


Jantung Zhang Fei kembali berdetak tidak karuan. Tanpa sadar, dia memandangi dirinya sendiri sambil bergumam, "Apakah ada yang salah atas diriku?"


Ia terus memikirkan hal itu dan mencari jawabannya. Namun meskipun sudah berusaha berpikir, Zhang Fei tetap tidak menemukan jawaban apapun.


__ADS_2