Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Lembah Selaksa Bunga


__ADS_3

Sementara di pihak lain, setelah mendengar penjelasan barusan, Zhang Fei juga tidak bisa memaksa.


Pada dasarnya, apabila sebuah negara sedang menghadapi suatu konflik, rakyat memang tidak diwajibkan terlibat di dalamnya. Apalagi kalau negara itu masih bisa menghadapi persoalan tersebut.


Akan tetapi, apabila pihak negara (dalam hal ini Kekaisaran) sudah tidak sanggup, maka mau tidak mau, rakyat pun harus ikut membantunya dengan suka rela. Dengan segenap tenaga dan kekuatan.


Zhang Fei mengerti akan hal itu. Karenanya dia pun tidak mau memaksakan kehendak hatinya.


"Oh, baiklah kalau begitu. Tetapi aku mohon kepadamu, Jenderal Li. Apabila keadaan negara sudah benar-benar genting, aku harap kau mau memberitahukan hal ini kepada semua pihak. Terutama sekali kepada orang-orang persilatan," ucap anak muda itu lebih jauh lagi.


"Pasti, itu sudah pasti. Aku benar-benar mengucapkan terimakasih kepadamu, saudara muda. Walaupun usiamu masih belia, tapi semangat juangmu dalam membela tanah air, sungguh besar. Kagum, sungguh aku kagum,"


Jenderal Li memuji Zhang Fei. Bukan pujian kosong, melainkan pujian yang murni dan datang langsung dari dasar hati.


Sebagai orang persilatan, tentu saja dia pun tahu bahwa di negerinya terdapat banyak sekali para pendekar muda.


Hanya saja ia sangat yakin, dari banyaknya pendekar muda, rasanya cukup jarang ada orang seperti Zhang Fei ini.


Walaupun mungkin mereka juga mempunyai semangat juang untuk membela tanah air, namun pastinya tidak setinggi anak muda di depannya.


"Ah, Jenderal Li terlalu memuji. Aku merasa tidak pantas menerima pujian setinggi ini. Apa yang aku katakan barusan, tidak lebih hanya kesadaran diri,"


"Hahaha ... benar-benar pendekar muda yang berbudi luhur," ia tertawa senang. Setelah puas, Jenderal Li segara melanjutkan ucapannya lagi. "Waktu sudah larut malam. Bukan niatku untuk mengusir. Tapi lebih baik, kau segeralah pergi dari sini, Saudara Fei,"


"Baiklah, Jenderal. Aku mengerti," katanya sambil tersenyum. "Kalau begitu, aku pamit undur diri. Semoga perjuangan kalian membuahkan hasil sesuai dengan harapan,"


"Terimakasih. Semoga suatu hari nanti, kita bisa bertemu lagi,"


Zhang Fei mengangguk. Dia kembali memberikan hormat. Setelah selesai, ia pun langsung pergi menggunakan ilmu meringankan tubuh.


Melihat betapa cepatnya ia melesat, puluhan prajurit itu langsung bengong. Orang yang tadi menyuruh untuk angkat senjata, segara merasakan keringatnya turun membasahi tubuh.


'Untung saja tidak sampai terjadi pertarungan. Kalau terjadi, sudah pasti aku akan mampus di tangan anak muda itu,' batinnya berkata.


###

__ADS_1


Satu minggu sudah berlalu kembali. Zhang Fei sudah melewati beberapa kota besar yang selalu ramai oleh pelancong.


Saat ini, dia sudah berada di Kota Tiang Kang. Salah satu kota besar yang juga sering didatangi oleh wisatawan. Kota Tiang Kang tersebut berbatasan langsung dengan Kota Louyang.


Batas antar kota besar itu hanya dipisahkan oleh sungai besar yang sangat panjang dan meliuk-liuk seperti naga.


Sepanjang perjalanannya kemarin, beberapa kali Zhang Fei bertanya kepada orang-orang yang ia temui. Ia menanyakan tentang di manakah letak Lembah Selaksa Bunga berada.


Dan menurut orang-orang yang ia tanyai, ternyata letak lembah itu juga berada di dekat perbatasan antara Kota Tiang Kang dan Kota Louyang.


Entah suatu kebetulan atau bukan, namun yang jelas, ia sudah berniat apabila tugas dari gurunya selesai, Zhang Fei akan langsung menuju ke Kota Louyang.


Dia akan mendatangi langsung partai terbesar yang terdapat di sana.


Yaitu Partai Gunung Pedang!


###


Saat ini baru tengah hari. Matahari bersinar terik dan terasa membakar kulit. Cuaca hari ini benar-benar cerah, sehingga tidak terlihat adanya awan yang menutupi cahaya matahari tersebut.


Bukit yang ia daki sekarang mempunyai pemandangan alam indah. Tingginya juga lumayan, dari beberapa tempat, kita bisa melihat pemandangan alam lain yang membentang jauh di depan sana dengan cukup jelas.


Maka dari itu, tidak heran rasanya apabila dia beberapa kali bertemu dengan para pelancong yang sengaja datang dari kota lain.


Sebenarnya Zhang Fei ingin sekali menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh alam tersebut. Apalagi, pada dasarnya dia memang suka menyepi di tempat-tempat seperti itu.


Sayangnya, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyepi. Lagi pula dia sedang diburu oleh waktu.


Karena alasan itulah dirinya tidak pernah menghentikan langkah.


Lewat beberapa waktu kemudian, ketika matahari mulai condong ke sebelah barat, Zhang Fei sudah tiba di atas bukit itu. Setelahnya, ia pun langsung menuju ke Lembah Selaksa Bunga.


Anak muda itu sekali lagi menuruni bukit yang curam. Untungnya ia mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi, sehingga dirinya tidak mengalami kesulitan apapun.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Zhang Fei sudah berhasil menuruni bukit lagi.

__ADS_1


Begitu ia tiba di bawah, pemandangan di sana ternyata benar-benar indah. Di sekelilingnya terpadat beberapa bukit lagi. Sedangkan di depan matanya, terbentang hamparan padang rumput dan hamparan bunga-bunga yang sangat indah.


Seumur hidup, rasanya baru kali ini saja dia melihat tempat seindah ini.


Sungguh, Lembah Selaksa Bunga mengalahkan tempat-tempat indah yang pernah ia lihat dan singgahi sebelumnya.


Ia berdiri di sana cukup lama. Matanya mengawasi keadaan di sekeliling. Bersamaan dengan itu, dia juga sedang berusaha merasakan kehadiran manusia lain.


Dengan kemampuannya yang sekarang, setidaknya Zhang Fei dapat merasakan kehadiran manusia lain dalam jarak yang lumayan jauh.


"Di sana!" gumamnya sambil memandang ke sebelah kanan taman bunga yang alami itu.


Zhang Fei segera berjalan. Ia melangkah dengan tenang dan perlahan sambil menikmati keindahan serta harumnya bunga-bunga mekar yang tertiup oleh angin gunung.


Semakin dia berjalan masuk, semakin dia merasakan juga kehadiran manusia. Sekarang malah dirinya bisa merasakan lebih jelas lagi.


Beberapa saat berikutnya, Zhang Fei sudah bisa melihat bahwa dalam jarak sepuluh tombak di depannya, ada sebuah goa yang berukuran cukup besar.


Goa itu sudah sangat tua. Setiap sudutnya sudah dipenuhi oleh lumut. Tapi meskipun keadaan luar goa seperti tidak terawat, justru di halaman depannya, terlihat sangat bersih. Malah saking bersihnya halaman itu, tidak nampak selembar daun pun yang ada di sana.


Zhang Fei berhenti sebentar, sekedar untuk mengawasi keadaan. Beberapa helaan nafas kemudian, dia segera melangkah kembali.


Begitu dirinya memasuki halaman goa, tiba-tiba pendekar muda itu segera merasakan adanya suatu tekanan yang sulit untuk dijelaskan.


Tekanan itu seperti wibawa. Tapi seperti juga hawa pembunuh.


Wushh!!!


Segulung angin dahsyat tiba-tiba menerjang ke arahnya. Angin tersebut datang dari dalam goa dan langsung menyambar.


Zhang Fei tercekat. Sebab ia tidak bisa melihat atau bahkan merasakan ancaman sebelumnya.


Tapi karena sejak awal dirinya selalu siaga, akhirnya toh ia bisa juga menghindar dari sambaran angin barusan.


Namun belum lagi suara angin itu lenyap, ancaman lainnya ternyata sudah datang kembali.

__ADS_1


Puluhan jarum perak tiba-tiba melesat secara serempak!


__ADS_2