Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertarungan Datuk Dunia Persilatan


__ADS_3

Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak mau bercanda seperti yang dilakukan oleh Zhang Fei. Pada dasarnya, dalam setiap pertarungan, dia memang tidak pernah bercanda. Baik itu pertarungan besar ataupun kecil, ia pasti akan berlaku serius begitu memulainya.


Maka dari itu, tidak heran apabila hanya dalam waktu sepuluh jurus saja, dia sudah berhasil menguasai jalannya pertarungan.


Empat orang anggota Tujuh Setan Hitam tidak bisa berbuat banyak. Golok tajam yang memancarkan kilatan putih itu, tidak sanggup melukai Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Jangankan memberikan luka, malah menyentuh ujung rambutnya saja, mereka tidak sanggup.


"Langit Bergetar Bumi Menggelora!"


Datuk Dunia Persilatan itu berteriak. Sesaat kemudian gerakannya mendadak berubah. Guci Emas Murni berputar-putar dengan cepat. Gerakannya mirip seperti orang yang akan mengambil sesuatu.


Tapi jangan salah, dalam setiap gerakan itu justru mengandung tenaga besar yang sulit dibayangkan.


Empat orang lawannya merasakan lutut mereka lemas tak berdaya. Tenaga yang sebelumnya tersalurkan ke seluruh tubuh, sekarang secara tiba-tiba lenyap tanpa bekas.


Jurus yang dikeluarkan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan benar-benar dahsyat. Padahal, jurus itu bukan termasuk jurus andalannya.


Tapi akibat yang dihasilkannya sudah seperti itu.


Lalu, bagaimana jadinya apabila dia mengeluarkan jurus pamungkasnya?


Trangg!!! Trangg!!!!


Empat batang golok berterbangan ke tengah udara. Golok itu ada yang menancap di tanah, ada pula yang menancap di kepala anak buah Hartawan Ouw!


Suara jerit kematian langsung terdengar. Dua orang yang menjadi korban salah sasaran, sudah roboh bermandikan darah.


Sedangkan empat orang anggota dari Tujuh Setan Hitam, kini juga sudah meregang nyawa. Mereka tewas setelah kepalanya dihantam oleh Guci Emas Murni dengan pengerahan tenaga besar.


Kepala mereka remuk. Darah bercucuran dengan deras membasahi seluruh tubuhnya.


Dewa Arak Tanpa Bayangan berhasil membunuh empat lawannya hanya dalam waktu dua belas jurus saja.


Kalau tidak melihat kejadiannya secara langsung, siapa yang akan mempercayai kejadian ini?

__ADS_1


Padahal kalau dibahas lebih jauh, Tujuh Setan Hitam itu sebetulnya bukan manusia sembarangan. Masing-masing dari mereka masuk dalam jajaran pendekar kelas satu. Setiap orang-orang itu juga ahli dalam memainkan pedang dan golok.


Siapa sangka, ternyata manusia-manusia itu malah bernasib malang. Mereka ditakdirkan bertemu dengan lawan yang tangguh sampai harus kehilangan selembar nyawanya.


Kini, Tujuh Setan Hitam sudah pergi ke alam baka. Pertarungan yang masih berlangsung di halaman itu hanya tinggal satu.


Yaitu pertarungan antara Orang Tua Aneh Tionggoan dan Nenek Tua Seribu Jarum Cui Ni.


Kedua orang yang terlibat tersebut memiliki kedudukan yang setara. Mereka adalah Datuk Dunia Persilatan. Sudah tentu, kemampuannya pun tidak bisa dipandang ringan.


Setiap jurus dan serangan yang dilontarkan juga mengandung tenaga dahsyat dan ancaman maut yang serius.


Dari tiga pertarungan yang sebelumnya terjadi, sepertinya hanya pertarungan ini saja yang berjalan paling seru.


Saat ini Nenek Tua Seribu Jarum sedang menyerang Orang Tua Aneh Tionggoan. Puluhan titik hitam terus melesat tanpa berhenti. Setiap tangannya diayunkan, setiap itu pula ada puluhan jarum kecil yang melesat ke depan.


Orang tua itu berjumpalikan. Dia terus menghindari serangan yang tidak berujung pangkal tersebut. Kadangkala, dirinya juga mengibaskan kedua tangan.


Kibasan yang sanggup mendatangkan angin bersar itu melemparkan puluhan jarum hitam hingga terpental ke berbagai penjuru mata angin.


Terbukti sekarang, keduanya masih tetap saling serang secara bergantian. Benturan tangan dan kaki yang terjadi, tidak pernah menyurutkan semangat bertarung mereka.


Malah sebaliknya, setiap kali terjadi benturan, maka semangat dalam diri keduanya makin terpancing keluar.


Semua orang yang ada di halaman, menyaksikan pertarungan itu dengan rasa tegang. Tidak terkecuali dengan Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Tuan Kiang, apakah Tuan Kai bisa mengalahkan nenek tua itu?" tanyanya tanpa melirik.


"Seharusnya bisa. Tapi aku melihat bahwa tua bangka itu tidak mengeluarkan seluruh tenaganya. Selama ini, dia hanya berusaha mengimbangi si nenek tua saja,"


"Mengapa demikian? Kenapa Tua Kai tidak mengeluarkan seluruh tenaganya saja? Bukankah itu bisa membuat ia keluar sebagai pemenang?"


Zhang Fei sungguh merasa penasaran. Dia heran, kira-kira kenapa Orang Tua Aneh Tionggoan tidak berlaku sangat serius? Apakah ada sesuatu yang membuat dirinya mengambil tindakan itu?


Di tengah arena pertarungan, tiba-tiba terdengar satu benturan yang paling keras. Kedua orang yang terlibat itu terdorong.

__ADS_1


Nenek Tua Seribu Jarum terdorong sampai tiga langkah. Sedangkan Orang Tua Aneh Tionggoan hanya dua langkah.


"Nenek tua, orang-orang Partai Panji Hitam yang datang bersamamu sudah mampus semua. Sekarang, lebih baik kau pergi saja. Di antara kita belum pernah ada persoalan, jadi aku tidak ingin membunuhmu," katanya dengan ekspresi wajah serius.


Nenek Tua Seribu Jarum Cui Ni masih diam. Sepasang matanya yang berkilat tajam, menatap ke arah lawan bicaranya dengan serius pula.


Diam-diam, dia berpikir juga. Apa yang dikatakan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan memang ada benarnya.


Sebisa mungkin dia harus pergi secepatnya. Sebab apabila pertarungannya dilanjutkan, sudah pasti akan memakan waktu yang tidak sebentar.


Di lain sisi, dia sendiri tidak punya keyakinan bisa menang melawannya.


"Baiklah, tua bangka. Tapi jangan kau kira kepergianku ini karena takut kepadamu. Aku pergi karena menghargai kalian para Datuk Dunia Persilatan saja," katanya bicara sungguh-sungguh.


Ia sengaja berkata demikian. Sehingga di kemudian hari dirinya tidak akan menanggung malu yang teramat sangat.


"Namun aku yakin, suatu saat nanti kita pasti akan bertemu kembali. Terutama sekali dengan anak muda itu," lanjutnya sambil memandang Zhang Fei. "Apabila saatnya tiba, jangan harap aku akan mengampunimu,"


Setelah berkata demikian, Nenek Tua Seribu Jarum pun langsung melompat. Dalam beberapa helaan nafas berikutnya, dia telah menghilang dari pandangan mata.


Kepergiannya itu disusul segera dengan kepergian Zhang Fei dan dua Datuk Dunia Persilatan lainnya.


Wushh!!! Wushh!!!


Tiga sosok manusia melesat bagaikan kilat. Dalam waktu sekejap, mereka pun sudah lenyap seolah-olah ditelan gelapnya malam.


Suasana di kediaman Hartawan Ouw masih sepi hening. Puluhan anak buahnya masih berdiri di tempat masing-masing. Mereka belum ada yang bergerak walau hanya sedikit.


Orang-orang itu seakan masih terkesima dengan semua pertarungan yang baru saja berlangsung di halaman tersebut.


"Kenapa kalian masih diam saja? Ayo urus semua mayat ini," salah seorang pengawal tiba-tiba berteriak lantang. Suaranya itu membuat puluhan orang di sana segera tersadar dari lamunannya.


Beberapa saat kemudian, mereka mulai bekerja. Semua mayat yang menjadi korban pertarungan, termasuk mayat Hartawan Ouw sendiri, langsung diurus oleh mereka.


Malam itu, menjadi malam yang kelam bagi mereka.

__ADS_1


"Kita harus melaporkan kejadian ini kepada Ketua Partai Panji Hitam," kata salah satu orang tua yang ada di sana.


__ADS_2