Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pendekar Pedang Perpisahan


__ADS_3

Semakin mendengar jauh cerita Paman Yan, semakin bergetar juga tubuh Zhang Fei. Tidak salah lagi, pertarungan tersebut pastinya melibatkan Yu Yuan dan Yin Yin.


Itu artinya, orang itulah yang telah membunuh Yu Yuan!


"Paman ... kau ... kau tahu siapa yang bertarung dengan dua gadis itu?" tanyanya dengan nada dalam.


Paman Yan menatap tajam ke arah Zhang Fei. Dia bisa merasakan bahwa anak muda di depannya itu sedang mengalami tekanan batin. Hanya saja, ia tidak mau menyinggung hal tersebut.


"Kalau aku tidak salah lihat, keduanya bertarung melawan si Pendekar Pedang Perpisahan Wen Wu," Paman Yan menjawab dengan perlahan dan penuh penekanan.


Pada saat menyebutkan julukan serta nama orang itu, terlihat jelas bahwa dia merasa segan sekaligus jeri. Malah seakan-akan enggan untuk menyebutnya.


"Siapa sebenarnya orang itu, Paman?" tanya Zhang Fei lebih lanjut.


Dia belum tahu semua tokoh-tokh penting dalam dunia persilatan. Maka dari itu, dirinya sedikit merasa asing dengan tokoh yang disebut oleh Paman Yan barusan.


"Kau tidak tahu siapa dia?" Paman Yan melotot karena kaget. Dia tidak percaya bahwa Zhang Fei terkaya tidak mengenal si Pendekar Pedang Perpisahan Wen Wu.


"Tidak. Malah mendengar namanya saja baru kali ini," jawab Zhang Fei dengan jujur. "Aku masih hijau dalam dunia persilatan, Paman. Jadi maafkan apabila belum mengetahui banyak tokoh rimba hijau," ia melanjutkan bicaranya sambil tersenyum getir.


"Oh, pantas saja," dia menganggukkan kepala beberapa kali. Paman Yan kinum arak dua cawan, setelah itu baru berbicara lagi.


"Adik Fei, Pendekar Pedang Perpisahan Wen Wu itu, dia bukan lain adalah ... salah satu dari Empat Datuk Dunia Persilatan," katanya dengan nada perlahan.


"Apa? Jadi, dia ..."


"Benar, ia adalah tokoh sesat yang disegani kawan ditakuti lawan,"


Zhang Fei langsung terpaku. Dia tidak menyangka, rupanya yang telah membunuh Yu Yuan adalah salah satu dari Empat Datuk Dunia Persilatan aliran hitam.


Kalau begitu, sangat wajar apabila gadis itu bisa tewas dengan cukup mudah.


Ia melamun cukup lama. Keadaan di meja itu sepi hening. Paman Yan juga tidak berbicara lagi. Seakan-akan dia tidak mau mengganggu lamunan Zhang Fei.


Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah dia bicara lagi.

__ADS_1


"Aih, pantas saja temanku tewas di tangannya," keluh Zhang Fei.


"Jadi, gadis yang tewas itu adalah temanmu?"


"Kedua-duanya juga temanku, Paman,"


"Sayang, sayang sekali ..." Paman Yan mendesah pelan. Dia sangat menyayangkan pertarungan itu. "Padahal keduanya adalah gadis yang luar biasa. Tidak disangka, gadis seperti itu justru harus tertimpa malapetaka besar,"


Zhang Fei tidak menghiraukan ucapan tersebut. Ia malah bertanya hal yang lainnya. "Ngomong-ngomong, apakah Paman Yan tahu mengapa mereka sampai bertarung?"


"Terkait hal ini aku tidak tahu. Sebab semua orang yang ada di sini hanya tahu bahwa ketiganya datang dari jalanan sepi dan melanjutkan pertarungannya di tengah halaman itu,"


"Apakah dari semua orang yang hadir di warung arak ini, tidak ada yang memberikan bantuan?"


Ditanya demikian, Paman Yan hanya bisa tersenyum getir. "Adik Fei, soal ini aku benar-benar minta maaf. Tapi ... coba kau pikir, manusia mana yang ingin mempunyai masalah dengan sosok seperti Pendekar Pedang Perpisahan?"


Seperti yang telah dijelaskan di atas, orang yang sedang mereka bicarakan adalah salah satu tokoh sesat yang sangat ditakuti. Dengan kemampuan dan kebesaran namanya, siapa yang ingin berurusan dengan orang seperti itu?


Jangankan para pendekar kelas atas dan perorangan, bahkan partai-partai yang ada pun rasanya tidak ada yang mau memiliki masalah dengan para Datuk Dunia Persilatan itu.


"Paman Yan tidak perlu meminta maaf. Aku cukup mengerti apa yang kau maksud. Kalau ada di posisimu saat itu, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama,"


"Syukurlah, kalau kau mengerti, Adik Fei. Tapi, ngomong-ngomong mengapa kau menanyakan tentang hal ini?"


"Ah, tidak, Paman. Aku hanya ingin tahu saja," Zhang Fei menjawab sambil tersenyum. Tujuannya supaya kebohongan yang dia lakukan tidak terbongkar.


Paman Yan hanya tersenyum. Walaupun dia sudah tahu bahwa Zhang Fei sedang berbohong, tapi ia tetap tidak mau membahasnya. Menurutnya, setiap orang pasti punya hak masing-masing.


Lagi pula, rasanya percuma saja kalau dia melarang Zhang Fei. Sebab anak muda itu pasti tidak akan menuruti ucapannya.


"Baiklah. Aku hanya ingin bilang, sebelum kau melakukan sesuatu, lebih baik pikirkanlah dengan matang,"


"Aku mengerti, Paman. Tapi, bolehkah aku bertanya lagi?"


"Tentu saja. Apa yang masih ingin kau tanyakan?"

__ADS_1


"Bagaimana dengan nasib gadis yang satu lagi? Apakah dia juga tewas?" tanya Zhang Fei sambil memandang serius.


Gadis satu lagi yang dia maksud tentu saja adalah Yin Yin. Dia juga ingin tahu bagaimana keadaannya.


"Setahuku sih tidak. Cuma, Pendekar Pedang Perpisahan telah membawanya pergi,"


"Pergi? Pergi ke mana?"


"Maaf, Adik Fei, soal ini aku tidak tahu," jawab Paman Yan sambil menghela nafas berat.


"Ah, baiklah. Terimakasih, Paman,"


Zhang Fei mengakhiri ucapannya. Walaupun dia cukup sedih karena tidak bisa mengetahui ke mana Pendekar Pedang Perpisahan membawa Yin Yin pergi, tapi setidaknya dia telah berhasil mendapatkan informasi yang cukup banyak darinya.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba Zhang Fei bangkit berdiri. Ia lebih dulu pamit pergi ke Paman Yan, setelah itu dirinya segera membayar biaya minum.


Begitu selesai, anak muda itu kembali melanjutkan langkahnya. Ia berjalan ke tengah halaman. Zhang Fei cukup lama berdiri di sana. Meskipun matahari menyengat kulitnya, namun dia tidak menghiraukan hal tersebut.


Sepasang matanya menatap dengan teliti ke setiap penjuru halaman. Akhirnya dia menemukan sesuatu. Bekas-bekas pertarungan masih terlihat dengan jelas.


Itu artinya, apa yang disampaikan oleh Paman Yang memang tidak berbohong.


Dia melangkah dan mencari lagi bekas pertarungan yang lebih jelas. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Zhang Fei bisa menemukan petunjuk yang cukup banyak.


Di halaman tersebut masih ada bekas-bekas telapak kaki manusia. Ada pula ceceran darah di sana-sini. Walaupun hanya sedikit, tapi itu saja sudah menjadi bukti.


Melihat semakin jauh, rupanya tetesan darah itu semakin banyak dan mengarah ke hutan di sekitar tempat tersebut.


Tanpa sadar, Zhang Fei mengikutinya. Ia berpikir bahwa tetesan darah itu bisa jadi adalah petunjuk yang secara tidak sengaja ditinggalkan oleh Yin Yin.


Sayangnya, setelah ia berada di kedalaman hutan, tetesan darah tersebut tiba-tiba hilang begitu saja. Ia tidak menemukan apa-apa lagi, kecuali hanya dedaunan kering yang berserakan di atas tanah.


"Kalau petunjuknya tidak ada, lalu ke mana aku harus mencari Yin Yin?" ia bertanya kepada dirinya sendiri.


Dalam pada itu, sesekali Zhang Fei juga menatap ke beberapa penjuru. Berharap bahwa dirinya bisa menemukan petunjuk yang baru.

__ADS_1


__ADS_2