
Mendengar nama Tabib Dewa Dong Ying disebut, seketika raut wajah si Pengemis Tongkat Sakti langsung berubah. Ia memelototkan matanya ke arah Zhang Fei.
Orang tua itu tentu saja tahu dan kenal siapa Tabib Dewa Dong Ying.
Di dunia ini, memang siapa yang tidak mengenal atau mengetahui tabib Dewa tersebut? Dengan ilmu pengobatannya yang sangat tinggi dan melegenda, tentu namanya telah terkenal sampai ke penjur dunia.
Selama dia menjadi tabib, rasanya orang yang telah ia sembuhkan sudah tidak bisa dihitung lagi.
Hal itu karena saking banyaknya orang-orang yang dia bantu.
Si Pengemis Tongkat Sakti bukan tidak ingat kepadanya. Begitu menyadari kondisi tubuhnya yang mengkhawatirkan, dia sudah langsung teringat kepada Tabib Dewa Dong Ying.
Namun yang menjadi masalahnya selama ini adalah bahwa orang tua itu bukan manusia sembarangan.
Tidak semua orang bisa mengundangnya datang. Lagi pula, tidak setiap orang bisa bertemu dengan si Tabib Dewa.
Apalagi, beberapa tahun belakangan ini dia sudah menjadi salah satu tabib kepercayaan dan andalan Kekaisaran Song.
Sejak menyadari akan hal tersebut, sejak saat itu pula si Pengemis Tongkat Sakti tidak berharap lebih atas kesembuhan dirinya.
Tetapi secara tiba-tiba, Zhang Fei telah menyebut kembali nama tabib besar itu.
Kira-kira, apa yang akan dia lakukan? Benarkah Ketua Dunia Persilatan mampu mengundang Tabib Dewa Dong Ying datang ke markas Partai Pengemis?
"Ketua Fei, apakah kau bercanda?" tanyanya setelah beberapa saat terdiam.
"Mana mungkin aku bercanda? Tentu saja aku serius, Tuan Bai," jawab Zhang Fei sambil mengerutkan kening.
"Tapi ... aku rasa hal itu mustahil," katanya sedikit gugup.
"Mustahil kenapa?"
"Untuk mengundang Tabib Dewa Dong Ying itu bukan suatu hal yang mudah. Apalagi dia selalu disibukkan oleh urusan-urusan yang menyangkut Kekaisaran. Jadi, dia pasti tidak mau datang kemari,"
Si Pengemis Tongkat Sakti terlihat tidak yakin kepada Zhang Fei. Keraguan di wajahnya bisa dilihat dengan jelas.
"Tuan Bai, kau tenang saja. Serahkan semuanya kepadaku," ucap Zhang Fei sambil tersenyum hangat. "Aku yakin, dia pasti mau datang kemari,"
"Kenapa Ketua Fei merasa begitu yakin?"
__ADS_1
Zhang Fei tersenyum kembali. Dia tidak menyalahkan orang tua itu. Setelah menarik nafas, dia baru bicara. "Jangan lupa, aku adalah Ketua Dunia Persilatan. Lagi pula, sebelumnya aku pernah berjumpa dengan Tabib Dewa Dong Ying,"
Orang tua itu kembali terkejut. Sepasang matanya kembali melotot besar.
Tapi perasaannya saat ini telah berubah. Setelah mendengar ucapan Zhang Fei, tiba-tiba timbul keyakinan di dalam hatinya.
"Baiklah, aku percaya kepadamu, Ketua Fei. Maaf kalau aku telah merepotkanmu,"
"Ah, tidak perlu berlebihan seperti itu, Tuan Bai. Kita masih orang sendiri, hubungan kita juga sangat dekat. Jadi, tidak perlu meminta maaf segala,"
Mantan Ketua Partai Pengemis itu menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Diam-diam ia terkejut, ternyata pengalaman dan jaringan yang dimiliki oleh Zhang Fei saat ini, telah melampaui dirinya.
###
Sementara di tempat lain, hampir bersamaan dengan percakapan antara Zhang Fei dan Pengemis Tongkat Sakti, di taman bunga halaman belakang itu terlihat ada dua orang gadis cantik yang sedang duduk di bangku taman.
Keduanya memperhatikan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Bau harum semerbak menusuk hidung, gadis-gadis itu dibuat terbuai untuk beberapa waktu.
Malam yang indah, di bawah terang bulan purnama, di tengah-tengah taman bunga, bukankah semuanya sudah lengkap?
Kedua gadis yang dimaksud tersebut bukan lain adalah Yao Mei dan Yin Yin. Sejak tadi, mereka sudah ada di sana dan tidak ikut pesta bersama para anggota Partai Pengemis.
Hubungan mereka saat ini bisa dibilang mulai dekat. Keduanya merasa cocok satu sama lain. Entah sejak kapan mereka merasakan hal itu, entah sejak kapan pula mereka menjadi dekat.
Yang jelas, saat ini semuanya sudah terbukti. Terbukti nyata dan bisa dibuktikan!
"Ketua Yin, ...," kata Yao Mei memanggilnya.
"Jangan sebut aku Ketua Yin lagi," ucapnya memotong dengan cepat.
"Eh, lalu ... aku harus menyebutmu apa?" tanya Yao Mei sambil mengerutkan kening.
"Adik Yin. Mulai sekarang, kau harus memanggilku dengan sebutan itu," ujar Yin Yin sambil tersenyum.
"Adik Yin? Apakah kau serius? Bukankah umur kita juga tidak jauh berbeda?"
"Tentu saja aku serius. Walaupun umur kita hampir sama, tapi kan, kau lebih dulu dekat dengan Zhang Fei. Maka dari itu, kau harus memanggilku Adik. Dan aku akan memanggilmu Kakak,"
__ADS_1
"Hemm ... aku tidak mengerti maksudmu," Yao Mei berkata sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Jangan bercanda. Aku tahu, kau sudah mengerti semuanya,"
Yin Yin tertawa. Setelah itu dia langsung meneguk arak langsung dari cawannya.
Bersamaan dengan itu, Yao Mei pun ikut tertawa. Dia juga melakukan hal yang sama.
"Kakak Mei, seberapa dalam cintamu kepada Zhang Fei?" tanya Yin Yin secara tiba-tiba.
Ditanya demikian, Yao Mei langsung memperlihatkan ekspresi terkejut. Dia menatap gadis di sisinya itu cukup lama.
Setelah berhasil menguasai diri, dia baru menjawabnya. "Aku ... aku tidak tahu, Adik Yin. Lagi pula, aku tidak pernah memikirkan hal itu," jawab Yao Mei sedikit gugup.
"Ah, masa kau tidak tahu. Jujur saja, aku hanya ingin mendengar jawabanmu secara langsung, Kakak Mei,"
Yao Mei semakin kebingungan. Selama ini, dia memang tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Apalagi memikirkan percintaan.
Ia sama sekali tidak tahu. Yao Mei hanya merasakan bahwa dia benar-benar tidak mau kehilangan Zhang Fei!
"Entahlah, Adik Yin," ucapnya bicara lagi. "Yang pasti, aku tidak mau kehilangan dirinya. Aku pun tidak ingin jauh lagi. Pokoknya, aku ingin selalu ada di sisi Zhang Fei," kata Yao Mei menjawab dengan jujur. "Lalu, bagaiamana dengan kau sendiri?"
"Aku?" Yin Yin menunjuk kepada dirinya. Yao Mei mengangguk sebagai tanda mengiyakan.
"Hemm ... rasanya, aku juga sama sepertimu, Kakak Mei. Asal kau tahu saja, dia adalah pemuda yang berhasil membuat jantungku berdebar-debar. Dia pun adalah pemuda yang paling sering dibicarakan oleh Kakek,"
"Jadi ... Tuan Bai sering membicarakan Zhang Fei?"
"Ya, tepat sekali. Bahkan Kakek tidak segan-segan menyebut bahwa Zhang Fei adalah pasangan yang cocok untukku,"
Yao Mei tiba-tiba tertawa setelah mendengar ucapannya. Entah kenapa, dia malah merasa gembira. Padahal sebelumnya ia akan langsung kesal apabila ada gadis lain yang membicarakan Zhang Fei.
Apalagi, gadis itu berani bicara terang-terangan di hadapannya.
Tapi, mengapa sekarang perasaan itu malah menghilang? Mengapa dia merasa gembira, bukan merasa kesal seperti biasanya?
"Hahaha ... kalau soal itu, aku pun merasa setuju. Kau dan Zhang Fei memang sangat cocok. Kalian sama-sama tampan dan cantik," kata Yao Mei sambil tertawa.
"Bukan aku, tapi kita. Kita adalah gadis yang cocok untuk menemani Zhang Fei," ujar Yin Yin ikut tertawa sambil menutup mulutnya.
__ADS_1