Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Membantu Para Pendekar I


__ADS_3

Setelah mendapat persetujuan, Zhang Fei segera pergi ke kamarnya. Ia melakukan persiapan terlebih dahulu. Seperti biasanya, Zhang Fei akan tampil dengan pakaian warna biru tua. Warna kesukaannya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, ia sudah keluar fan berjalan menuju ke ruangan tadi.


"Paman Cu, doakan aku," katanya sambil tersenyum.


"Tentu saja, Ketua," jawab orang tua itu seraya membalas senyuman.


Zhang Fei lalu berjalan keluar dari dalam Gedung Ketua Dunia Persilatan. Para petugas di sana seketika membungkuk hormat saat melihat dirinya lewat.


Seorang petugas lain sudah menunggunya di halaman. Ia memegang tali kekang kuda jempolan yang biasa ditunggangi olehnya.


"Semoga langit selalu melindungi Ketua," kata petugas tersebut penuh hormat.


"Terimakasih. Aku titipkan gedung ini kepada kalian," sahut Zhang Fei sambil menepuk pundaknya.


Petugas itu menganggukkan kepala. Setelahnya, Zhang Fei segera naik ke atas punggung kuda.


Kuda itu meringkik keras ketika Zhang Fei menarik tali kekang kuda. Kedua kali depannya diangkat ke atas. Sesaat kemudian, kuda jempolan tersebut langsung berlari dengan kencang.


Debu seketika mengepul tinggi ketika kuda lewat. Bekas-bekas tapak kakinya bisa dilihat cukup jelas.


Jarak untuk menuju ke Desa Hu itu tidak terlalu jauh. Hanya dua puluhan menit saja, sudah bisa tiba di sana.


Namun karena saat ini Zhang Fei pergi dengan menunggangi kuda, maka hanya dalam waktu sekitar sepuluh menit pun, dia telah sampai di Desa Hu.


Hal pertama yang Zhang Fei lihat ketika tiba di desa itu adalah banyaknya bekas-bekas pertarungan.


Rumah-rumah warga yang sudah dikosongkan juga turut menjadi korban.


Zhang Fei terus memacu kudanya ke bagian dalam. Ia berharap bisa menemukan pertempuran yang tadi dilaporkan tersebut.


Beberapa saat kemudian, ia sudah mulai mendengar adanya dentingan nyaring. Tidak salah lagi, itu pasti suara beradunya senjata pusaka.


Zhang Fei mempercepat lari kudanya. Sesaat berikutnya dia sudah tiba di lokasi.


Di depan sana, dalam jarak dua puluh langkah dari tempatnya sekarang, terlihat ada seorang prajurit Kekaisaran yang telah dikepung oleh empat orang pendekar aliran hitam.


Posisi prajurit itu sudah terpojok. Kalau tidak mendapat bantuan, pasti nyawanya tidak akan tertolong. Apalagi dalam waktu yang bersamaan tersebut, dia sudah menderita luka senjata tajam yang cukup parah.


"Mampus kau!" salah satu dari pendekar sesat berteriak. Bersamaan dengan itu, tangan kanan yang menggenggam golok tajam itu segera diayunkan.


Trangg!!!


Suara nyaring kembali terdengar. Lima orang yang ada di sana terkejut setengah mati. Terutama sekali adalah empat pendekar sesat.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Golok tajam yang sudah siap membabat ke depan itu, tahu-tahu sudah kutung menjadi dua bagian.


"Keparat! Siapa yang telah berani ikut campur? Kalau memang kau berani, ayo keluar dan hadapi aku," pemilik golok benar-benar marah.


Dia menatap ke segala tempat dengan tatapan setajam mata pedang.


Wushh!!!


Zhang Fei tiba-tiba melompat dari atas punggung kuda. Dia mendekat tepat di depan prajurit itu.


"Kalian benar-benar tidak tahu malu. Beraninya main keroyokan," kata Zhang Fei sambil tersembunyi dingin.


Keempat orang itu lebih terkejut lagi. Mereka tidak melihat bagaimana Zhang Fei bergerak. Orang-orang itu hanya tahu bahwa dalam waktu satu kedipan mata saja, di depannya sudah bertambah satu manusia lain.


"Omong kosong!"


Wushh!!!


Keempatnya langsung menyerang pada saat itu juga. Empat macam serangan datang secara serempak.


Zhang Fei tersenyum sinis. Hanya dengan menggerakkan kedua tangannya sedikit, semua senjata lawan sudah berpindah tempat menjadi ke tangannya.


Tanpa mau membuang waktu lebih lama, dia segera melemparkan semua senjata itu kepada pemiliknya masing-masing.


Suara berat terdengar. Semua golok itu menancap telak di perut pemiliknya. Sedangkan satu orang yang tersisa, ia mendapatkan sebuah pukulan teramat keras yang menghantam ulu hatinya.


Bukk!!!


Dia terlempar belasan langkah. Nyawanya langsung melayang detik itu juga.


"Kau tidak apa?" tanya Zhang Fei kepadanya.


"Aku baik-baik saja. Terimakasih, Ketua Fei, terimakasih," prajurit itu beberapa memberikan hormat.


"Tidak perlu sungkan," jawabnya. "Di mana pertempuran itu berlangsung?" tanya Zhang Fei lebih jauh lagi.


"Itu di depan sana, Ketua," prajurit tersebut berkata sambil menunjuk ke arah lain.


"Oh, baiklah. Aku akan ke sana sekarang juga. Dan kau, lebih baik kau jangan turun tangan lagi. Lukamu terlalu parah, jadi harus cepat-cepat diobati,"


"Baik, Ketua," prajurit itu mengangguk dan mematuhi ucapannya.


Sementara itu, setelah mengetahui di mana tempat pertarungan yang sebenarnya, Zhang Fei segera naik ke atas punggung kuda dan langsung menuju ke sana.


Dalam waktu singkat, ia telah tiba di sana.

__ADS_1


Dan ternyata benar saja, ketika Zhang Fei sampai, puluhan pendekar dan prajurit setidaknya saat ini sedang bertempur cukup sengit.


Suara bentakan keras dan benturan senjata pusaka sekali terdengar setiap saat. Masing-masing pihak yang terlibat terus berusaha semaksimal mungkin untuk melumpuhkan lawannya.


Zhang Fei menatap sesaat. Menurutnya, orang yang terlibat dalam pertempuran yang sedang berlangsung itu hanyalah orang biasa.


Mereka bukan tokoh kelas atas dunia persilatan. Jadi wajar apabila pertempurannya tidak membawa akibat berlebih.


Namun meskipun begitu, tetap saja pertempuran itu berbahaya. Dan Zhang Fei tidak bisa diam saja.


"Hupp!"


Ia langsung melompat ke tengah pertempuran. Kemunculannya tidak terlalu diperhatikan oleh orang-orang. Sebab pada saat itu masing-masing pihak sedang fokus terhadap pertarungannya.


Wushh!!!


Zhang Fei melakukan sebuah gerakan sederhana. Kedua tangannya bergerak seolah-olah ia sedang menari dengan indahnya.


Namun jangan salah, dari setiap gerakan tangan tersebut justru membawa sebuah tekanan tenaga dalam yang cukup lumayan.


Orang-orang yang ada di sekitarnya seketika menghentikan pertarungan. Mereka semua langsung menoleh ke arah Zhang Fei.


Begitu mengetahui siapa yang datang, para pendekar dan para prajurit yang berada di pihaknya langsung tersenyum girang.


"Ketua Fei,"


"Akhirnya Ketua datang,"


Berbagai macam ucapan seperti itu segera keluar dari mulut mereka. Orang-orang itu jelas merasa bahagia. Sebab dengan kemunculan Zhang Fei, maka kemenangan pasti akan berpihak kepadanya.


"Ya, ini aku. Aku sengaja turun ke lapangan untuk berjuang bersama kalian semua," jawab Zhang Fei sambil tersenyum.


Sementara itu, musuh-musuh yang jumlahnya hampir mencapai dua puluh orang itu, saat ini sedang saling pandang satu sama lain.


Mereka kelas geram karena kehadiran Zhang Fei telah mengacaukan jalannya pertempuran.


"Heh, kalau kau datang kemari hanya untuk banyak bicara, lebih baik pergi sekarang juga. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal itu," kata salah satu dari Ppndekar sesat tersebut.


"Ah, tenanglah, saudara. Aku datang kemari bukan untuk banyak bicara," jawab Ketua Dunia Persilatan dengan tenang.


"Lalu, untuk apa kau datang kemari?"


"Tentu saja untuk menyingkirkan manusia-manusia seperti kalian ini,"


Mendengar ucapan itu, para pendekar sesat langsung marah. Amarahnya meluap-luap detik itu juga.

__ADS_1


__ADS_2