Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tetap Bersikukuh


__ADS_3

Ma Liang menganggukkan kepala. Keduanya kemudian bersulang arak sebanyak tiga kali. Setelah itu, daging segar yang sudah tersedia segera disantap dengan lahap.


"Tuan Muda," kata Ma Liang mengganti panggilannya kepada Zhang Fei. "Apakah kau sengaja jauh-jauh datang kemari?" tanyanya di sela-sela menyantap daging segar.


"Begitulah, Paman. Aku dengar dalam beberapa hari lagi, di Gunung Lima Jari akan ada keramaian. Makanya aku sengaja datang," jawab Zhang Fei tidak memberitahukan tujuannya dengan gamblang.


"Oh, jadi kau hanya datang untuk melihat-lihat saja?" tanya Ma Liang lebih jauh lagi.


Dia cukup heran setelah mendengar jawaban Zhang Fei barusan. Benarkah tujuan pendekar muda yang ramai dibicarakan itu, hanya untuk melihat-lihat saja?


"Benar. Aku hanya ingin melihat keramaian saja," kata Zhang Fei membenarkan.


"Kenapa tidak ingin ikut terlibat? Apakah Tuan Muda tidak tahu apa-apa tentang keramaian ini?"


"Hemm ... memangnya keramaian apa yang akan terjadi di sini, Paman? Aku memang tidak tahu. Malah aku mendengar hal ini pun dari orang-orang persilatan yang berbicara di rumah makan tempo hari saja,"


Zhang Fei sengaja tidak membuka niat dan tujuannya. Sebab sampai saat ini, dia belum tahu Ma Liang itu kawan atau lawan. Ia tidak ingin rencana dan tugasnya gagal. Karena alasan itulah terpaksa dirinya berbohong.


Ma Liang terlihat menganggukkan kepala beberapa kali. Setelah minum arak, ia bicara lagi.


"Tuan Muda, kau tahu? Keramaian yang akan terjadi di Gunung Lima Jari ini, sebenarnya adalah perebutan benda pusaka," katanya setengah berbisik. Dia bersikap seolah-olah takut ucapannya didengar oleh orang lain.


"Oh, benarkah?" Zhang Fei pura-pura terkejut.


"Tentu saja. Karena itulah, di tempat ini sangat banyak sekali orang-orang persilatan dari berbagai daerah yang sengaja berdatangan. Sebab mereka ingin ikut dalam perebutan itu," kata Ma Liang menjelaskan.


"Apakah termasuk juga dirimu, Paman Ma?"


"Sebenarnya aku sangat ingin ikut. Tapi sayangnya kemampuanku masih rendah. Jadi terpaksa aku hanya menonton saja,"


"Apakah Paman tidak ada kegiatan lain lagi?"


"Sebenarnya ada," jawbanya cepat. Ia berhenti sebentar, seperti sedang berpikir apakah ucapannya harus dilanjutkan atau tidak. Namun beberapa helaan nafas kemudian, terdengar dia bicara lagi. "Tujuanku yang lain, adalah karena ingin mencari musuh lama. Aku ingin membereskan semua persoalan di masa lalu sebelum mengundurkan diri dari rimba hijau,"


"Oh, kalau begitu, semoga tujuanmu berhasil, Paman," ucap Zhang Fei sungguh-sungguh.


Mereka kembali melanjutkan makan dan minum. Beberapa saat kemudian, Zhang Fei pamit undur diri lebih dulu.


"Paman Ma, aku pergi dulu, ya. Aku ingin melihat-lihat pemandangan di tempat ini," ucapnya sambil bangkit berdiri.

__ADS_1


"Ah, baiklah, Tuan Muda. Hati-hati di perjalanan," jawab Ma Liang sambil melambaikan tangan.


Zhang Fei mengangguk. Ia berjalan ke kasir untuk melakukan pembayaran. Sesaat kemudian dia langsung keluar dan melangkah menuju ke tempat kudanya sedang merumput.


Pada saat itu, ia bisa melihat di depan sana ada tiga orang pria berumur empat puluhan tahun yang sedang berdiri di sisi kudanya. Ketiga orang itu mempunyai tubuh tinggi. Di pinggangnya masing-masing ada sebatang golok panjang.


Tidak perlu dijelaskan lebih jauh, Zhang Fei sudah bisa menduga bahwa mereka pun termasuk orang-orang dunia persilatan.


"Permisi," katanya dengan sopan. Bersamaan dengan berucap, Zhang Fei juga berusaha mengambil kudanya.


"Tunggu dulu," salah satu dari mereka tiba-tiba berbicara.


"Ada apa, Paman?" tanya Zhang Fei dengan hormat.


"Apakah kuda putih ini milikmu?"


"Benar. Kuda ini memang milikku,"


"Oh, berapa kau membeli kuda ini?"


"Ah, kuda ini terbilang murah,"


Zhang Fei cukup terkejut. Dia tidak menyangka kudanya akan ditawar dengan harga setinggi itu.


"Tidak berani, tidak berani. Ini hanya kuda murah, Paman. Dengan uang sebanyak itu, kalian bisa membeli kuda yang beberapa kali lebih baik daripada milikku ini,"


"Apakah kurang? Baiklah, kami tambah seratus tahil perak lagi," ucap orang itu bersikukuh.


"Maaf, Paman. Aku tidak berniat menjual kuda ini," kata Zhang Fei menolak dengan halus


"Tapi, majikan kami menyukai kudamu. Dia ingin memilikinya,"


Ia terkejut. Ternyata ketiga orang itu mempunyai majikan. Siapa majikannya? Apakah dia sangat kaya, sehingga berani membeli kudanya dengan harga fantastis?


"Maaf, Paman. Aku tetap tidak ingin menjualnya,"


Walaupun harga yang mereka tawarkan lebih tinggi, namun Zhang Fei sudah memutuskan untuk tidak menjualnya. Kuda itu sudah menemaninya beberapa hari ini.


Meskipun belum begitu lama, tapi ia sudah menyayanginya dengan sepenuh hati. Apalagi, Zhang Fei pernah diajarkan oleh mendiang kedua orang tuanya untuk tidak pernah menjual sesuatu yang disayangi, apabila keadaannya tidak benar-benar mendesak.

__ADS_1


"Anak muda, kami sudah memberikan tawaran tinggi kepadamu. Harusnya kau bersyukur karena kuda ini bisa dijual dengan harga mahal. Dengan uang ratusan perak, setidaknya kau bisa membeli kuda yang jauh lebih bagus. Seperti yang kau ceritakan barusan,"


"Aku tahu. Tapi aku sudah menyayangi kuda ini. Jadi, aku tidak akan pernah menjualnya meskipun dengan harga mahal,"


Situasi di antara mereka mulai memanas. Dia belah pihak yang terlibat tidak ada yang mau mengalah.


Di satu sisi, tiga orang itu tetap bersikukuh karena demi mewujudkan keinginan majikannya. Di sisi lain, Zhang Fei juga tetap bersikeras karena ia sudah menyayangi kuda itu.


Ia tidak mau kejadian di hari lalu terulang kembali.


Namun siapa sangka, setelah dirinya berkata seperti itu, tiba-tiba satu orang dari mereka langsung mengeluarkan nafsu pembunuh dan berbicara dengan nada tinggi.


"Jadi kau lebih menyayangi kuda ini, daripada nyawamu sendiri?"


"Apa maksudmu?" Zhang Fei ikut terpancing emosinya. Dia paling tidak suka dibentak seperti itu. Apalagi oleh seseorang yang tidak dikenal.


"Apakah maksudku kurang jelas? Sekarang aku tanya lagi, kau mau pilih yang mana?"


"Aku lebih memilih pergi,"


Zhang Fei benar-benar membuktikan ucapannya. Selesai berkata, dia langsung melanjutkan kembali langkahnya yang terhenti.


Tapi belum lagi dia melangkah lebih jauh, tiba-tiba ketiga pria tua tadi melompat secara bersamaan. Mereka langsung mengurung dirinya.


"Kau pikir bisa pergi begitu saja?" pria tua yang lain ikut bicara. Malah kali ini, ia langsung mencabut golok di pinggangnya.


Zhang Fei memandangi ketiganya secara bersamaan sambil tersenyum dingin.


"Tolong jangan memancing kemarahanku. Aku sedang tidak ingin membuat gara-gara,"


"Persetan! Kami sudah memberikan hati, tapi kau malah meminta jantung!"


Tanpa bicara lebih jauh, ketiga orang tersebut langsung menyerang Zhang Fei secara serempak pula. Golok miliknya masing-masing sudah dicabut keluar.


Tiga batang golok itu segera melesat dengan cepat.


Wutt!!!


Karena sudah tidak bisa menahan diri lagi, terpaksa Zhang Fei langsung menurunkan tindakan kepada mereka.

__ADS_1


Dia bergerak lebih cepat daripada lesatan golok. Satu helaan nafas kemudian, di tempat itu langsung terdengar bunyi nyaring yang bersahutan. Tahu-tahu golok yang digenggam oleh ketiganya sudah kutung menjadi dua bagian.


__ADS_2