
Tanpa terasa, pertempuran yang berlangsung di Gedung Ketua Dunia Persilatan itu sudah lewat selama kurang lebih sepuluh hari.
Setelah hancurnya Partai Panji Hitam, keadaan dalam dunia persilatan menjadi sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Semua itu berkat Zhang Fei dan para tokoh utama yang lain.
Para pendekar yang telah mendengar kabar berita tersebut, semuanya merasa gembira. Semuanya merasa bahagia. Sebab saat ini, tidak ada lagi partai aliran hitam yang selalu menimbulkan masalah di setiap penjuru.
Setidaknya untuk sementara waktu, dunia persilatan Kekaisaran Song telah dikuasai sepenuhnya oleh partai-partai aliran putih.
Setelah mengetahui apa yang telah berhasil dilakukan dan dicapai oleh Zhang Fei, kini semua pendekar Kekaisaran Song memuji serta mengagumi sosoknya.
Mereka menganggap bahwa Zhang Fei adalah 'orang pilihan' yang sengaja diutus oleh langit.
Sepanjang catatan sejarah sejak berdirinya dunia persilatan Kekaisaran Song, rasanya Ketua terbaik adalah yang saat ini masih menjabat.
Meskipun usianya masih muda, tapi kalau dibandingkan dengan semua Ketua Dunia Persilatan sebelumnya, ia jelas unggul cukup jauh.
Zhang Fei mungkin hanya kalah dalam umur dan pengalaman. Sedangkan dalam kemampuan, rasanya dia masih berada di atas para pendahulunya.
Saat ini hari masih pagi-pagi buta. Di jalanan berbeda itu terlihat ada dua ekor kuda jempolan yang sedang berlari kencang.
Di antara teriakan para pedagang yang sudah buka setiap pagi hari, di antara kerumunan para petani yang akan pergi ke sawah ladangnya, dua ekor kuda itu terus berlari tanpa mengenal kata henti.
Para penunggangnya tidak menghiraukan orang-orang yang ditemui di tengah perjalanan. Mereka terus memacu kudanya sekencang mungkin.
Siapa mereka? Mengapa para penunggang kuda itu terlihat buru-buru sekali?
Dua penunggang kuda yang sedang dibicarakan itu bukan lain adalah Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Saat ini, mereka sedang terburu-buru. Keduanya sedang dikejar waktu.
Satu hari yang lalu, ada sepucuk surat yang sengaja dikirimkan langsung dari Kekaisaran. Surat itu ditujukan untuk Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Entah karena urusan apa Kaisar mengundang mereka. Hanya saja dalam surat tersebut dikatakan bahwa masalah ini sangat penting dan menyangkut kelangsungan hidup Kekaisaran Song.
Maka dari itulah, tanpa membuang waktu lebih lama, mereka berdua segera memenuhi undangan tersebut.
__ADS_1
Sebenarnya dalam hati, mereka merasa heran. Sebab tidak biasanya Kaisar hanya mengundang Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan saja.
Seperti yang diketahui, biasanya Kaisar Song Kwi Bun selalu mengundang Zhang Fei dan Lima Datuk Dunia Persilatan yang belakangan ini selalu bersama dirinya.
Tapi entah mengapa undangan kali ini berbeda.
"Tuan Kiang, apakah sampai saat ini, kau belum tahu alasan kenapa Kaisar hanya mengundang kita berdua?" tanya Zhang Fei di tengah-tengah perjalanan.
"Tidak, anak Fei. Aku belum menemukan satu alasan yang tepat sekali pun," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menggelengkan kepala.
"Hemm ... aku mempunyai firasat yang tidak enak,"
"Ah, sudahlah. Jangan terlalu banyak pikiran. Lebih baik, sekarang kita percepat saja lari kuda ini," ujar orang tua itu mengakhiri pembicaraan.
Zhang Fei mengangguk. Ia segera memacu lagi kuda miliknya.
Jalanan yang mereka lalui masih jalan setapak di pinggir hutan. Rumah-rumah warga desa terlihat berjajar secara rapi. Di beberapa penjuru, mereka sempat melihat akan adanya prajurit atau mata-mata yang ditugaskan untuk menjaga keamanan.
Tidak jarang pula, ketika melewati sebuah desa, keduanya menyaksikan ada anak-anak yang sedang bermain di depan rumah atau di pinggir jalan.
Karena tidak ingin terjadi hal-hal buruk, terpaksa keduanya memperlambat lari kuda. Anak-anak desa itu terlihat senang ketika melihat kedatangan dua ekor kuda.
Mendengar teriakan anak-anak itu, terpaksa Zhang Fei melarangnya dengan nada lemah lembut.
"Andai saja kita tidak sedang dikejar waktu, aku ingin sekali menemani mereka bermain meskipun hanya sebentar," ucap Zhang Fei sedikit mengeluh.
"Ya, aku pun bersedia, anak Fei. Tapi, saat ini bukan waktu yang tepat. Apalagi menurut dugaanku, masalah ini sangat penting sekali,"
Walaupun Dewa Arak Tanpa Bayangan suka bersikap 'nyeleneh', tapi sebenarnya dia adalah orang yang sangat disiplin.
Ia tahu mana waktu untuk serius, dan mana waktu untuk bercanda.
Zhang Fei mengerti bagaimana sifat orang tua itu. Karenanya dia pun tidak berani banyak bicara lagi.
Mereka kembali memacu kuda setelah tiba di ujung desa tadi. Tetapi belum jauh kudanya berlari, tiba-tiba dari dalam hutan, ada seekor kuda lain yang berlari kencang dan berhenti secara tiba-tiba sekali.
Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan tentu saja merasa terkejut.
__ADS_1
Buru-buru mereka berdua menarik tali kekang kudanya ke belakang. Dua ekor kuda meringkik sangat keras. Kedua kaki depannya terangkat ke atas.
"Hei siapa kau ..."
Pada saat itu, Zhang Fei benar-benar merasa marah. Sebab kejadian barusan hampir saja membuat dia dan Dewa Arak Tanpa Bayangan selama.
Namun kemarahan tersebut tidak bisa berlanjut. Kata-katanya juga tidak bisa dilanjutkan. Alasannya adalah karena saat ini dia sudah tahu siapakah si penunggang kuda itu.
"Nona Mei ... apakah itu dirimu?" tanya Zhang Fei setelah berhasil menguasai diri.
Penunggang kuda di hadapannya langsung membalikkan tubuh. Dia pun segera melemparkan senyuman hangat dan lembut ke arah Zhang Fei.
"Benar, ini aku. Kenapa? Kau terkejut, Zhang Fei?" tanya gadis itu. Senyumannya tidak hilang, senyuman yang mampu meluluhkan hati itu masih terlihat mengembang.
"Tentu saja, Nona Mei. Kau ... kau hampir mencelakai kami berdua," jawab Zhang Fei merasa sedikit malu.
"Aih, benarkah? Kalau begitu, maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku ... aku hanya ingin mengejar dan menghentikan langkah kalian saja"
Yao Mei segera menundukkan kepalanya. Dia tidak berani lagi memandang ke arah Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan. Seolah-olah gadis cantik itu benar-benar merasa bersalah.
"Sudahlah, Nona Mei. Lagi pula, toh kami tidak benar-benar celaka," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan menengahi.
Yao Mei seketika mengangkat kepalanya kembali. Senyuman hangat yang sempat lenyap, kini telah terlihat lagi.
"Nona Mei, kalau boleh tahu, ke mana kau akan pergi?" tanya Zhang Fei setelah beberapa saat kemudian.
"Menyusul kalian," jawab gadis itu dengan ringan.
"Menyusul kami?" Zhang Fei tampak terkejut. Ia kemudian memandang sekilas ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan. Namun sayangnya, orang tua itu pun tidak mengerti apa maksudnya.
"Ya, aku sengaja kemari karena berniat untuk menyusul kalian,"
"Tapi ... kami akan pergi ke Istana Kekaisaran. Bukankah kau sendiri sudah tahu akan hal ini?"
"Tentu saja, bahkan sejak awal aku pun tahu ke mana kalian akan pergi,"
Ketika surat dari Istana Kekaisaran tiba di Gedung Ketua Dunia Persilatan, pada saat itu Yao Mei pun ada di sana.
__ADS_1
Jadi, mana mungkin dia tidak mengetahuinya?
"Hemm ... kalau sudah tahu, lalu kenapa kau masih menyusul kemari?"