Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Situasi pertarungan itu langsung berbalik. Tio Goan berada di atas angin. Sedangkan si Racun Hijau berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.


Luka-luka akibat sayatan dan tusukan pedang lawan mulai memberikan rasa sakit dan perih yang tidak bisa dibayangkan. Beberapa saat berikutnya, ekspresi wajah si Racun Hijau juga mulai berubah.


Ia terlihat seperti kaget setengah mati.


"Rupanya begitu. Pantas saja," gumam Tio Goan sambil memandangi si Racun Hijau.


Secara tidak disengaja, orang tua itu akhirnya bisa menemukan titik lemah si Racun Hijau. Dengan temuan ini, kalau harus bertarung lebih lanjut pun, rasanya Tio Goan masih sangat sanggup.


Suasana di sana kembali hening. Pertarungan berhenti untuk yang kesekian kalinya.


"Bagaiamana? Apakah enak termakan racun sendiri?" tanya Tio Goan sambil tersenyum mengejek.


Si Racun Hijau memandangnya. Ia tidak menjawab. Tokoh sesat itu hanya mampu menggertakkan giginya saja.


"Aku baru tahu hal ini. Ternyata kau itu adalah tipe orang yang benar-benar bodoh," lanjut Tio Goan.


"Bodoh?" setelah tadi tidak menjawab, akhirnya kini tokoh sesat tersebut mau membuka mulutnya. Meskipun itu harus menahan rasa sakit yang diderita.


"Ya, kau memang bodoh. Aku akui, ilmu racun milikmu benar-benar ganas. Bahkan kalau aku tidak bisa bergerak lebih cepat darimu, mungkin nyawaku sudah melayang sejak semula,"


Tio Goan tidak sedang berbohong. Dia mengatakan yang sebenarnya. Seumur hidup, rasanya baru beberapa kali saja dia bertemu dengan lawan yang mempunyai ilmu racun berbahaya. Dan si Racun Hijau adalah salah satunya.


"Untung saja langit masih memberikan kesempatan hidup kepadaku. Coba kalau tidak, mungkin sekarang, aku sudah menjadi korban keganasan racun itu,"


"Ya, benar. Kau termasuk beruntung karena tidak mampus oleh racun milikku," ujarnya dengan nada hambar.


"Dan kau termasuk sial karena sudah bertemu denganmu," kata Tio Goan menarik muka.


"Hemm ..." si Racun Hijau mendengus dingin sebagai jawabannya.


"Bagaiamana tidak? Aku justru sudah mengetahui di mana titik lemahmu. Kau ini adalah tipe orang yang benar-benar bodoh," Tio Goan berbicara mengulangi ucapannya. Dia tidak menghiraukan tatapan mata si Racun Hijau yang cukup tajam itu.


"Kau hanya menciptakan racun tanpa membuat penangkalnya. Bahkan untuk diri sendiri pun, kau tidak membuatnya sama sekali. Tubuh bagian luarmu mungkin sudah kebal terhadap racun, tapi bagian dalam, aku rasa tidak seperti itu. Buktinya saja, semakin besar luka yang aku berikan, maka semakin besar juga penderitaan yang kau alami,"

__ADS_1


"Coba lihat, bagaiamana kondisimu sekarang? Tenaga dalam dan hawa murni milikmu, sudah banyak berkurang, bukan? Itu karena sejak menderita luka, kau terus berusaha untuk menahan cara kerja racun tersebut. Sayangnya, usaha yang kau lakukan itu sia-sia. Mengingat bahwa racunmu benar-benar ganas,"


Si Racun Hijau tidak menjawab sepatah kata pun. Dia tetap diam. Diam seribu bahasa.


Apa yang dikatakan oleh Tio Goan memang benar. Dan itulah kesalahan terbesar sepanjang hidupnya.


Selama ini, mungkin ia tidak pernah terluka. Di setiap pertarungan, bisa dikatakan si Racun Hijau selalu keluar sebagai pemenang. Itu karena setiap lawannya akan segera mati kalau menghirup bau racun miliknya saja.


Sayangnya, selama ini dia hanya memikirkan untuk terus meningkatkan ilmu racunnya, tanpa pernah berpikir tentang obat penawarnya.


"Sekarang, sudah tiba waktunya siksaan itu datang," kata Tio Goan berbicara kembali.


Wushh!!!


Dia meluncur. Pedang di tangannya memberikan tebasan yang lebih lebar tepat di bagian dada. Setelah berhasil memberikan luka, ia segera kembali ke posisi semula.


Sedangkan si Racun Hijau, dia tampak semakin menderita. Penderitaan itu terus bertambah seiring berjalannya waktu.


Sekitar lima menit kemudian, suara keluhan terdengar keluar dari mulutnya. Si Racun Hijau tahu-tahu ambruk ke atas tanah.


"Mungkin inilah yang dimaksud dengan senjata makan tuan," gumam Tio Goan sambil menghela nafas.


Wushh!!!


Ia kemudian menjauh. Tio Goan mendarat tepat di sisi Zhu Yun dan yang lainnya.


"Benar-benar orang yang menyedihkan," kata Zhu Yun sambil memandangi mayat si Racun Hijau.


"Itu adalah karma untuk dirinya sendiri," sahut Tio Goan yang segera dijawab dengan anggukan kepala.


Sementara itu, tanpa terasa pertarungan para anggota dari kedua belah pihak akhirnya sudah selesai juga. Yang keluar sebagai pemenang tentu saja adalah anggota Organisasi Pedang Cahaya.


Jumlah mereka masih utuh. Tidak ada yang sampai tewas walau hanya satu orang pun.


Namun meskipun begitu, tetap saja beberapa dari mereka ada yang mengalami luka cukup parah. Untungnya hal tersebut bisa segera diatasi oleh para anggota yang lain.

__ADS_1


Masing-masing dari mereka saling bantu untuk menyalurkan tenaga dalam dan juga hawa murni kepada para anggota yang terluka.


Sekarang, pertarungan yang tersisa tinggal milik Zhang Fei dan Pendekar Gelandangan. Kedua tokoh dunia persilatan itu masih bertempur sengit.


Pertarungan mereka dimulai hampir bersamaan dengan semua pertarungan yang lain. Hanya saja, waktu yang dibutuhkan menjadi sedikit lebih lama.


Hal itu karena keduanya bukan tokoh kelas rendah. Mereka adalah tokoh-tokoh kelas atas yang sulit menemukan tandingan.


Di satu sisi, alasan kenapa Zhang Fei tidak bisa membereskannya lebih cepat adalah karena dia tidak mempunyai informasi apapun tentang lawannya yang sekarang.


Ternyata benar apa kata Zhu Yun, Pendekar Gelandangan itu adalah orang yang sangat misterius. Di sisi lain, kemampuannya juga begitu tinggi.


Sampai-sampai Zhang Fei Haris mengeluarkan setengah kemampuannya untuk bisa mengimbangi setiap gerakan yang dilakukan oleh tokoh sesat itu.


"Tidak kusangka, ternyata di Partai Panji Hitam masih tersembunyi orang-orang sakti sepertimu," kata Zhang Fei di tengah-tengah pertarungan.


"Hahaha ... Partai Panji Hitam itu adalah partai besar. Tentu saja di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang hebat. Kalau menghadapiku saja sudah kewalahan, apa jadinya jika kau menghadapi Ketua kami?" jawab Pendekar Gelandangan sambil terus menahan dan membalas serangan Zhang Fei.


Mendengar itu, Ketua Dunia Persilatan tersentak sedikit. Buru-buru dia melompat mundur beberapa langkah ke belakang.


"Kau benar. Kalau menghadapimu saja sudah seperti ini, bisa dipastikan aku tidak akan sanggup menghadapi Ketua kalian,"


"Memang begitulah kenyataannya,"


"Kalau demikian, izinkan aku untuk berlaku lebih serius lagi," kata Zhang Fei.


Bersamaan dengan itu, dia segera mengeluarkan tenaga dalamnya sampai tujuh bagian. Karena Pendekar Gelandangan tidak menggunakan senjata, maka dia pun tidak mengeluarkan Pedang Raja Dewa.


"Telapak Dewa Maut!"


Wushh!!!


Zhang Fei menerjang ke depan. Ia terbang dengan cepat layaknya burung pemangsa. Di tengah-tengah udara, Zhang Fei juga mengirimkan beberapa serangan telapak tangan dari jarak jauh.


Bayangan telapak tangan itu langsung menghujani seluruh tubuh Pendekar Gelandangan. Tokoh sesat tersebut berusaha menahan dengan jurus-jurus miliknya.

__ADS_1


__ADS_2