
Belasan jurus sudah berlalu kembali. Zhang Fei semakin terdesak hebat oleh serangan lawan yang tidak memberikan kesempatan bahkan untuk mengambil nafas sekali pun.
Dia tidak mampu menyerang balik. Ia hanya sanggup bertahan dengan jurus terhebat miliknya. Kalau saja pihak lawan ada yang tidak bersenjata, mungkin dirinya masih bisa menangkis dengan tangan kiri dan melancarkan jurus tangan kosong miliknya.
Sayang sekali, kenyataan berkata lain. Semua pendekar tua itu mempunyai senjatanya masing-masing.
Hal ini semakin menambah kesulitan yang sedang dia hadapi. Beberapa kali dirinya hampir terkena tebasan ataupun tusukan senjata tajam.
Untunglah ilmu meringankan tubuhnya sudah cukup tinggi. Sehingga dia bisa selamat dari semua ancaman itu.
Tanpa terasa, matahari sudah mulai condong ke sebelah barat. Situasi di arena pertempuran masih sama seperti sebelumnya.
Malah sekarang, di tubuh anak muda itu sudah banyak terdapat luka-luka luar. Darah telah membasahi pakaiannya. Baju yang sebelumnya sudah robek akibat pertempuran beberapa waktu lalu, sekarang semakin tidak karuan bentuknya.
Kalau tidak datang keajaiban, niscaya dalam dua puluh jurus ke depannya, akan dipastikan bahwa anak muda itu bakal mampus!
Zhang Fei sendiri sebenarnya sadar bahwa nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Tapi untuk membebaskan diri, dia tidak punya kekuatan yang cukup.
Selain terus berjuang dan berharap langit menurunkan bantuan, memangnya apalagi yang bisa ia perbuat?
Di tengah-tengah pertempuran yang sedang berjalan dengan sengit itu, tiba-tiba ada segulung angin kencang yang datang berhembus.
Hembusan angin kencang itu membawa juga hawa panas. Tiga belas pendekar tua yang terlibat dalam pertarungan langsung tercekat.
Jurus gabungan dari tiga petinggi Partai Gunung Pedang, mendadak buyar setelah terkena hembusan angin barusan.
"Sungguh tidak tahu malu. Aku kecewa terhadap kalian yang mengaku berasal dari aliran putih!"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar mengalun di tengah udara. Suara itu seolah datang dari tempat jauh. Tapi juga terasa dari tempat yang sangat dekat.
Tiga belas pendekar tua itu, seketika menampilkan raut wajah terkejut, heran, sekaligus gentar. Mereka tahu, orang yang bicara barusan telah menggunakan dorongan tenaga sakti. Sehingga suaranya bisa terdengar dengan jelas, bahkan menyusup ke dalam gendang telinga.
Tidak lama setelah itu, kembali hembusan angin muncul secara mendadak.
Tapi kali ini, bukan suara yang terdengar. Melainkan ada satu sosok tubuh tua renta yang tahu-tahu sudah berdiri di tengah-tengah mereka.
Orang tua itu mengenakan pakaian abu-abu. Usianya mungkin sudah mencapai sembilan puluh tahun. Janggutnya panjang sampai ke dada. Kumisnya juga tebal.
__ADS_1
Semua itu semakin terlihat pantas dengan balutan rambut putih yang dibiarkan terurai.
Orang tua yang muncul dengan tiba-tiba itu tidak terlihat membawa senjata apapun. Dia hanya membawa kedua tangannya saja. Tangan yang sudah keriput.
Tapi dibalik semua itu, ia mempunyai sepasang mata yang sangat tajam. Lebih tajam dari sebatang pedang sekali pun.
Bola matanya juga sangat bening. Pertanda bahwa ia mempunyai tenaga dalam yang tidak terukur.
Tiga belas pendekar semakin ketakutan. Seluruh tubuh mereka tergetar hebat. Keringat dingin membasahi mukanya setelah melihat orang tua itu muncul dan berada di hadapan.
"Sekarang juga, aku perintahkan agar kalian cepat pergi. Kalau tidak, jangan salahkan aku apabila kalian tidak bisa melihat matahari besok!" kata orang tua asing itu.
Suaranya perlahan. Tapi dibalik itu, seolah-olah terkandung sebuah kekuatan yang sulit untuk ditolak oleh siapa pun juga.
Para pendekar bergidik ngeri. Setelah memberikan hormat, secara serempak mereka langsung melarikan diri dari tempat itu.
Sementara itu, selama terjadinya peristiwa barusan, tanpa sadar Zhang Fei sudah jatuh pingsan. Hal itu terjadi karena dia sudah kehilangan banyak darah dan tenaga akibat pertempuran barusan.
Melihat anak muda itu tak sadarkan diri, dengan gerakan cepat si orang tua asing langsung mendekat ke arahnya. Ia kemudian membawa Zhang Fei pergi dari sana.
Beberapa waktu kemudian, tepatnya setelah sore hari, Zhang Fei sudah sadar dari pingsannya. Peristiwa seperti lima tahun lalu terjadi lagi. Ketika bangun, anak muda itu mendapati bahwa dirinya berada di sebuah tempat.
Tapi bukan goa, melainkan sebuah gubuk. Gubuk tua yang bahkan tidak pantas disebut gubuk.
Zhang Fei berusaha bangun dari posisi tidur. Ia menengok ke sana kemari. Tapi di sana tidak ada orang.
Padahal dirinya sangat berharap, ia bisa kembali ke waktu lima tahun lalu. Yang mana pada saat dia sadar, ada gurunya yang segera datang menghampiri.
Sayang sekali, hal itu terlalu mustahil. Ia sadar, waktu yang sudah berjalan ke depan, tidak bisa lagi diputar ke belakang.
Setelah beberapa saat mengumpulkan tenaga, Zhang Fei pun segera turun dari pembaringan yang hanya merupakan kayu beralaskan jerami itu.
Ia berjalan keluar dari gubuk tersebut.
"Kau sudah sadar, anak muda?"
Suara yang sebelumnya sempat didengar, kini terdengar lagi.
__ADS_1
Ketika mencari sumber suara, terlihat di depan sana, persis di dekat sebuah tebing, ada di orang tua asing yang sedang duduk sambil minum arak.
Nampaknya orang tua itu sedang menikmati pemandangan alam yang indah. Sehingga pada waktu bicara pun, dia tidak menengok ke belakang.
'Sungguh pendengaran yang sangat tajam,' batinnya berkata.
"Jangan bicara di dalam hati. Sebab aku bisa tahu apa yang kau bicarakan," kata orang tua itu kembali. "Kemarilah. Kita nikmati pemandangan alam ini bersama-sama," ajaknya kepada Zhang Fei.
Anak muda itu kembali dibuat terkejut. Tapi setelah tahu bahwa orang tua di depannya ini bukanlah manusia sembarangan, maka ia tidak mau banyak bicara lagi.
Dirinya langsung berjalan menghampirinya. Dia duduk persis di sisi orang tua itu.
"Kau doyan arak?" tanyanya kemudian.
"Sedikit," jawabnya malu-malu.
"Bagus. Kalau begitu kita minum bersama,"
Dia kemudian menuangkan arak di dalam guci ke dalam cawan yang sudah jelek. Setelah itu lalu memberikannya kepada Zhang Fei.
"Jangan banyak bicara dulu. Nikmatilah semua yang disuguhkan oleh alam. Setelah matahari lenyap, baru kita bisa bercakap-cakap,"
Orang tua itu ternyata benar-benar bisa membaca hati dan pikiran.
"Baik, Tuan," Zhang Fei menganggukkan kepala sambil menerima arak pemberiannya.
Dia tidak bicara apapun lagi.
Selama menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh alam, kedua orang itu tidak ada yang bicara. Mereka terdiam dalam lamunannya masing-masing.
Semilir angin berhembus membelai rambut dan pakaian mereka. Suara pohon bambu yang bergesek satu sama lain terdengar begitu jelas.
Di dalam hutan, burung-burung juga mulai berkicau. Mereka seolah-olah bernyanyi riang gembira sambil menyambut sore yang indah dan menenangkan ini.
Zhang Fei memandang ke kejauhan. Di sana ia menyaksikan matahari senja yang menawan. Sinarnya yang kemerahan, cahayanya yang menghangatkan, semua hal itu mendatangkan perasaan tersendiri bagi dirinya.
Sungguh, suatu pemandangan sore yang indah dan sangat sayang untuk dilewatkan.
__ADS_1