
Ia segera menghormat ketika jaraknya dengan Qiao Feng bertambah dekat. Setelah selesai, dirinya langsung memberikan laporan.
"Ketua, ternyata dua orang temanku ini sudah tewas beberapa saat yang lalu,"
"Apa?" Zhang Fei cukup terkejut mendengarnya. Setiap mata-mata yang mengawasinya itu paling tidak merupakan pendekar kelas satu. Di samping itu, masing-masing dari mereka juga mempunyai keahliannya tersendiri.
Rasanya, bukan suatu hal yang mudah kalau ingin membunuh satu orang mata-mata tersebut.
Tetapi kenyataannya, dua orang mata-mata yang sebelumnya mengikuti Zhang Fei, kini sudah didapati tanpa nyawa. Hal ini membuktikan bahwa musuh yang akan dia hadapi nanti merupakan tokoh kelas atas.
"Di mana kau menemukan mereka?" tanya Zhang Fei kembali, setelah dia berhasil menguasai dirinya.
"Aku menemukan mereka di dua titik yang berbeda, Ketua,"
"Mengapa mereka bisa tewas?"
"Aku kurang tahu pasti. Yang jelas, pada masing-masing tubuh keduanya tidak didapati ada luka bekas senjata tajam,"
Zhang Fei mengerutkan kening. Ia kembali dibuat heran. Supaya bisa memecahkan persoalan ini, dengan segera dia berjalan mendekat dan memeriksa kedua mayat tersebut.
Ia berjongkok lalu memulai pemeriksaannya. Zhang Fei menempelkan telapak tangan kanan dan kiri kepada dua mayat itu. Ketika pemeriksaan selesai, ia kembali bangkit berdiri.
"Aku menemukan bahwa masing-masing leher mereka telah ditembusi setidaknya tiga batang jarum beracun. Jarum ini sangat kecil. Sehingga kalau kurang teliti, siapa pun tidak akan bisa melihat bekasnya. Di samping itu, kedua orang ini juga menderita luka dalam yang parah. Sepertinya, luka dalam itu dihasilkan oleh jurus jarak dekat yang langsung menyerang bagian organ tubuh,"
Zhang Fei memberikan kesimpulan dari hasil pemeriksaannya. Mata-mata itu cukup terkejut. Sekarang, dia mulai mengerti kenapa kematian keduanya mencurigakan.
"Apakah kau tidak menemukan bukti-bukti lain?" tanya Zhang Fei lebih lanjut.
"Aku menemukan ini, Ketua," mata-mata tersebut segera mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Dia langsung memberikannya kepada Zhang Fei.
Ternyata, sesuatu itu juga merupakan robekan kain. Hanya saja lambangnya berbeda dari sebelumnya.
Lambang itu bukan kepala iblis. Melainkan lambang dari Partai Pengemis.
"Rupanya mereka ingin main-main denganku," gumamnya sambil tersenyum.
"Maksud, Ketua Fei?" tanya mata-mata itu sambil mengerutkan kening.
"Kau tahu di mana markas cabang Partai Pengemis di desa ini?" Zhang Fei malah balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan mata-mata sebelumnya.
__ADS_1
"Di ujung desa ini, lebih tepatnya di bagian Utara,"
"Baik. Sekarang juga aku akan pergi ke sana. Kau urus dulu dua mayat ini. Jika sudah selesai, kau boleh menyusulku ke sana,"
"Perintah akan segera dilaksanakan,"
"Bagus. Ingat! Lebih cepat akan lebih baik lagi,"
Zhang Fei segera memutar tubuh. Ia menghampiri kuda lalu naik ke atas punggungnya untuk kemudian pergi menuju ke markas Cabang Partai Pengemis.
Jarak dari tempatnya tadi ke markas cabang itu tidak terlalu jauh. Apalagi, desa itu sendiri tidak begitu besar. Jadi, hanya dalam waktu beberapa saat saja, Zhang Fei sudah bisa tiba di sana.
Dia berhenti tepat di depan halaman sebuah bangunan yang cukup besar. Halamannya sendiri luas. Di luar halaman, terlihat ada sekitar dua puluh orang anggota pengemis.
Tanpa banyak berkata-kata, dia segera turun dari punggung kuda dan masuk ke dalam.
Puluhan anggota partai pengemis langsung memperhatikannya ketika Zhang Fei berjalan dengan santai. Meskipun dirinya tahu sedang diperhatikan, tapi ia tidak memperdulikannya sama sekali.
"Maaf, Tuan ini siapa?" seorang anggota yang berada di dalam bangunan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan langsung mengajukan pertanyaan.
"Aku Ketua Dunia Persilatan. Kedatanganku kemari karena ingin bertemu dengan pemimpin kalian,"
"Jangan halangi aku. Aku tidak ada urusan denganmu,"
Tanpa menghiraukan orang itu lagi, ia langsung masuk lebih dalam untuk mencari para petinggi di sana.
Di sisi sebelah kanan ada sebuah ruangan yang cukup besar. Tanpa bertanya pun, Zhang Fei sudah tahu bahwa itu pasti merupakan ruangan kata petinggi.
Dia langsung membuka pintu tanpa permisi. Dan ternyata benar, di dalam ruangan tersebut pada saat itu ada sekitar empat orang tua yang sedang duduk sambil pesta arak.
Keempatnya terkejut ketika melihat ada seseorang yang berdiri di ambang pintu. Namun lagi-lagi, sebelum salah satu dari mereka berbicara, Zhang Fei telah lebih dulu membuka mulutnya.
"Aku Zhang Fei, Ketua Dunia Persilatan saat ini. Datang kemari untuk bertemu dengan para petinggi dari markas Cabang Partai Pengemis," sembari berkata demikian, tidak lupa juga dirinya memperlihatkan Lencana Ketua Dunia Persilatan.
Sehingga mau tidak mau, keempat orang tua itu harus mempercayai ucapannya.
Secepat mungkin mereka langsung berdiri dan memberikan hormatnya kepada Zhang Fei. Setelah ia duduk dan basa-basi barang sebentar, dirinya segera mengajukan pertanyaan.
"Sudah sejak kapan markas cabang ini berdiri?" tanyanya langsung dengan raut wajah serius.
__ADS_1
"Kurang lebih sekitar lima tahun yang lalu, Ketua," jawab salah satu orang tua yang diduga menjaga sebagai Ketua Cabang.
"Hemm, cukup lama juga. Apakah bangunannya pernah di renovasi?"
"Selama ini belum," ia menggelengkan kepalanya tiga kali. "Tapi secepatnya, kami akan melakukan renovasi itu,"
"Baiklah," Zhang Fei mengangguk. Dia bertanya lagi, "Berapa anggota yang ada di sini?"
"Ah, tidak terlalu banyak, Ketua. Kurang lebih hanya dua puluh orang saja,"
"Apakah mereka orang baru?"
"Bukan. Mereka adalah orang-orang yang sudah sejak lama masuk ke dalam bagian Partai Pengemis,"
Zhang Fei manggut-manggut pertanda mengerti.
Sementara itu, orang tua di sisinya segera bertanya. "Ngomong-ngomong, kenapa Ketua Fei menanyakan hal ini?"
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja. Apakah tidak boleh?" jawab Zhang Fei menarik muka.
"Tidak berani, tidak berani. Maksudku bukan ..."
"Sudahlah," Zhang Fei memotong ucapannya sambil mengibaskan tangan kanan. Dia lalu mengambil satu guci arak yang tersedia di atas meja. Setelah itu, kedua kakinya juga langsung diangkat ke meja tersebut.
Empat pria tua itu memperlihatkan ekspresi tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh Zhang Fei. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengambil tindakan.
"Hemm ... apakah kalian tahu soal pembantaian yang terjadi di desa ini?" tanya Zhang Fei setelah luas menenggak guci arak.
"Pembantaian di desa ini? Kami rasa, di desa ini tidak pernah terjadi apa-apa, Ketua. Semuanya berjalan normal," jawab pria tua tadi.
"Oh, jadi kalian tidak tahu?"
"Tidak,"
"Sayang sekali. Padahal kejadiannya baru berlangsung sekitar dua atau tiga hari yang lalu,"
"Aih, kami sangat menyesal karena tidak mengetahui hal ini, Ketua," pria tua tersebut menghembuskan nafas berat. Wajahnya terlihat seperti menyesal.
Suasana di sana tiba-tiba berubah hening. Masing-masing orang yang ada di dalam ruangan, satu pun tidak ada yang berbicara.
__ADS_1
Mereka tetap diam dengan pikirannya masing-masing.