Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Menyelidiki Bangunan Tua


__ADS_3

Zhang Fei mengerutkan kening. Kecurigaannya semakin membesar setelah dia mendengar penjelasan tersebut.


"Apakah Paman tahu, siapa orang-orang itu?"


"Aku sama sekali tidak tahu, Tuan Muda,"


"Baiklah. Tapi, apakah suara-suara itu selalu terdengar setiap malam?"


"Ya, aku rasa begitu. Karena setiap harinya, kalau tengah malam tiba, pasti akan terdengar suara-suara orang bicara yang berasal dari sana,"


"Baiklah, Paman. Terimakasih,"


Zhang Fei memilih untuk menyudahi percakapannya. Walaupun informasi yang dia dapat dari pemilik warung arak tidak terlalu banyak, tapi menurutnya hal itu pun sudah lebih dari cukup.


Setelah mendengar penjelasan barusan, Zhang Fei bertekad untuk menyelidikinya lebih lanjut. Niatnya, malam nanti ia akan menyambangi bangunan tua itu dan ingin membuktikannya secara langsung.


Beberapa waktu kemudian, Zhang Fei segera pergi dari warung arak tersebut. Seharian penuh dia mendatangi tempat-tempat yang membuatnya sedikit curiga.


Sayangnya dari semua tempat tersebut, Zhang Fei tidak mendapatkan lagi informasi apapun.


Dari semua tempat yang didatangi, yang paling membuatnya curiga adalah bangunan tua di depan warung arak tadi.


Tanpa terasa malam hari sudah tiba. Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan baru saja menyelesaikan sarapan malam. Seperti biasa, mereka akan berkumpul di ruangan kemarin untuk melakukan pembicaraan.


Tian Lu sudah tidak ada di sana. Sesaat sebelumnya dia telah meminta izin untuk pamit karena sudah tiba waktunya memberikan obat kepada Ketua Beng Liong.


"Bagaimana kondisi Ketua Beng Liong sekarang?" tanya Dewi Rambut Putih mengawali pembicaraan serius.


"Semakin hari, keadaannya semakin memburuk saja. Aku jadi tega melihatnya," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menghembuskan nafas berat.


Tepat sebelum matahari tenggelam, dia sempat menengok lagi ke kamar Ketua Beng Liong. Pada saat itu kebetulan dia sedang bangun. Namun sayangnya Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak bercakap-cakap.


Karena pada dasarnya, Ketua Beng Liong tidak bisa berkata apapun juga.


"Setelah aku memeriksa beberapa titik penting, ternyata jalan darah Ketua Beng Liong sudah hancur. Pusat tenaga dalam dan tenaga sakti juga tidak karuan. Ada pula sumbatan-sumbatan di beberapa titik yang sangat sulit untuk dihilangkan. Dengan kondisi seperti itu, rasanya harapan Ketua bisa hidup lebih lama, sudah tidak ada lagi,"


Semakin jauh dia membicarakan kondisi Ketua Dunia Persilatan, semakin sedih pula perasaannya. Walaupun umur Ketua Beng Liong dan Empat Datuk Dunia Persilatan berbeda cukup jauh, akan tetapi hubungan di antara mereka sangatlah dekat.


Seperti halnya Zhang Fei sekarang.

__ADS_1


Di samping itu, Ketua Beng Liong juga merupakan orang yang sangat cerdas dan berbakat. Kecerdasannya membuat dia mampu menguasai ilmu sastra dan memiliki wawasan luas. Bakatnya dalam ilmu silat sudah terbukti sanggup mengangkat namanya di usia yang begitu muda.


Rasanya, di Tionggoan sudah tidak ada lagi orang seperti Ketua Beng Liong. Kecuali hanya ada satu orang!


Zhang Fei!


Menurut Dewa Arak Tanpa Bayangan, orang yang mampu menyaingi kecerdasan dan bakat Ketua Beng Liong, rasanya hanya anak muda itu saja.


Akan tetapi, belum apa-apa Zhang Fei malah sudah banyak diincar orang. Nyawanya bisa saja melayang secara tiba-tiba.


Berpikir sampai sejauh itu, tanpa sadar malah membuat pikirannya menjadi kalut. Untuk beberapa waktu, Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Ruangan itu menjadi hening. Seolah-olah di sana tidak ada satu pun manusia.


"Ah, sudahlah. Aku merasa tidak sanggup lagi kalau harus menjelaskan kondisi Ketua," katanya setelah terdiam cukup lama. "Yang penting, saat ini kita harus berjuang bersama-sama untuk membongkar rahasia ini,"


Yang lain segera menganggukkan kepala. Mereka merasa sangat setuju dengan hal tersebut.


"Tuan Kiang, tengah malam nanti aku ingin meminta izin. Aku akan pergi ke sebuah bangunan tua," kata Zhang Fei tiba-tiba bicara.


"Bangunan tua mana? Apakah tempat itu sangat mencurigakan?"


"Kalau begitu, kau memang harus pergi ke sana secara langsung, anak Fei,"


"Karena itulah aku meminta izin,"


"Baik. Aku mengizinkanmu. Apakah kau memerlukan teman?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Aku rasa tidak, Tuan,"


"Baiklah. Lakukan tugasmu sebaik mungkin,"


Sementara itu, tanpa terasa tengah malam sudah tiba kembali. Lima orang tokoh rimba hijau tersebut sudah banyak menceritakan berbagai macam hal.


Untuk mengusir rasa curiga, kadang-kadang mereka menceritakan pengalaman pribadinya masing-masing. Baik itu pengalaman lucu, maupun pengalaman yang menegangkan.


Setelah waktunya tiba, secara diam-diam Zhang Fei keluar dari ruangan itu. Dia pergi lewat belakang, ketika situasinya aman, dengan gerakan cepat Zhang Fei langsung keluar dari Gedung Ketua Dunia Persilatan.


Wushh!!!

__ADS_1


Tubuh Zhang Fei seolah-olah berubah menjadi jejak bayangan. Di tengah malam yang gelap, manusia biasa pasti tidak akan mampu melihatnya dengan jelas.


Saking cepat dan tingginya ilmu meringankan tubuh yang dia kuasai sekarang, tanpa terasa Zhang Fei sudah tiba di sekitar bangunan tua tadi.


Begitu sampai di tempat tujuan, dia langsung mencari tempat yang aman untuk melakukan pengintaian.


Baru ssjab menemukan tempat tersebut, tiba-tiba saja sepasang telinganya mendengar percakapan beberapa orang yang berasal dari dalam bangunan tua.


"Bagaimana kondisi Beng Liong sekarang? Apakah kau sudah mendapat berita terbaru tentangnya?"


"Sekarang kondisinya semakin memburuk. Kalau aku tidak salah, mungkin dalam waktu kurang dari sepuluh hari, dia akan segera tewas,"


"Hahaha ..." suara orang tertawa terdengar menggema. Setelah puas, orang itu kembali melanjutkan bicara. "Aku sudah bosan terus menunggu perintah pergerakan. Aku ingin segera menghancurkan gedung itu,"


"Tenanglah, Kakak. Sekarang Gedung Ketua Dunia Persilatan sudah dikuasai oleh pihak kita. Orang-orang Beng Liong sudah dipulangkan beberapa waktu lalu,"


"Oh, benarkah? Siapa yang telah memulangkan mereka?"


"Siapa lagi? Tentu saja di Tua Lu,"


"Bagus. Bagus sekali. Ternyata dia benar-benar bisa diandalkan. Tidak sia-sia, Ketua memberikan tugas ini kepadanya,"


Percakapan di antara mereka masih terus berlanjut. Zhang Fei yang berada di atas atap bangunan, saat itu sudah tidak bisa menahan diri lagi.


'Mereka hanya bertujuh. Aku rasa, aku sanggup melawannya sekaligus,' batin Zhang Fei sambil mengintip lewat celah-celah atap.


Setelah mengambil keputusan seperti itu, tanpa banyak bicara lagi, dia langsung menjebol atap bangunan tua tersebut.


Brakk!!!


Atap bangunan jebol. Zhang Fei turun tepat di atas meja yang tersedia banyak arak. Kehadirannya yang secara tiba-tiba itu telah berhasil membuat semua orang di dalamnya merasa kaget setengah mati.


"Siapa kau?" tanya dulu satu dari mereka,"


"Tidak perlu banyak bicara. Aku adalah wakil dari Malaikat Maut yang akan mencabut nyawa kalian secara paksa,"


Sringg!!!


Pedang Raja Dewa langsung dicabut keluar. Kilatan cahaya putih keperakan menyeruak memenuhi ruangan untuk sesaat.

__ADS_1


Melihat ada pemuda yang datang mencari masalah, amarah ketujuh orang tersebut langsung bangkit pada saat itu juga.


__ADS_2