
"Tidak ada. Semuanya sudah tuntas," jawab Pendekar Pedang Perpisahan dengan nada hambar.
Zhang Fei membalas ucapan itu dengan anggukan kepala. Dia tidak berbicara lagi.
"Ketua Fei, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan," katanya lebih jauh.
"Apa itu?"
Zhang Fei merasa penasaran dengan hal tersebut. Begitu juga dengan Empat Datuk Dunia Persilatan. Mereka juga merasakan hal yang serupa.
Pendekar Pedang Perpisahan terlihat menarik nafas panjang. Seolah-olah dia sedang mengumpulkan tenaga sebelum bicara lebih lanjut.
"Mengapa kau tidak membunuhku?"
Pertanyaan itu diajukan secara tiba-tiba. Semua orang di sana juga tidak ada yang menyangkanya.
"Mengapa aku tidak membunuhmu?" Zhang Fei bertanya menegaskan. Seolah-olah dia sendiri tidak yakin dengan telinganya, bahwa pertanyaan barusan bisa keluar dari mulut datuk sesat itu.
"Ya, benar," jawabnya membenarkan.
"Ada beberapa alasan mengapa aku tidak membunuhmu," kata Zhang Fei sepatah demi sepatah.
"apakah karena aku menghormatimu?" tanyanya sambil menatap tajam.
"Tidak, bukan itu," Zhang Fei menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Lalu?"
"Pertama, asal Tuan Wu tahu saja, sejak pertarungan kita di hutan Rawa Iblis, sejak saat itu pula aku telah bertekad akan melatih ilmu pedang setinggi mungkin. Salah satu keinginan terbesarku adalah bisa mengalahkanmu,"
Zhang Fei masih ingat dengan jelas akan peristiwa tersebut. Malah rasanya, dia tidak akan melupakannya sampai kapan pun juga.
Namun di satu sisi, justru karena peristiwa itu pula Zhang Fei mempunyai tekad dan semangat yang baru. Dia ingin menunjukkan kepada dunia, khususnya kepada Pendekar Pedang Perpisahan bahwa suatu saat nanti, dia bisa mengalahkannya.
Siapa sangka, ternyata keinginan itu benar-benar terwujud. Bahkan Empat Datuk Dunia Persilatan menjadi saksinya secara langsung.
"Kedua, aku juga tahu bahwa di dalam hatimu sebenarnya masih ada setitik kebaikan,"
Bagi Zhang Fei, seseorang yang di dalam hatinya masih mempunyai kebaikan, walaupun itu hanya setitik, maka orang tersebut tidak pantas untuk dibunuh. Setidaknya, dia masih bisa mengampuni nyawanya. Asalkan orang tersebut mau berubah!
"Dan yang terakhir, itu karena aku tahu bahwa kau pun sebenarnya tidak ada niat untuk membunuhku. Apa yang kau lakukan saat ini, itu semua tak lebih dari menepati janji di masa lalu saja. Bukankah begitu, Tuan Wu?"
__ADS_1
Kini giliran Zhang Fei yang menatap tajam ke arah Pendekar Pedang Perpisahan. Saking tajamnya tatapan mata itu, sampai-sampai datuk sesat tersebut merasa sedikit jeri karenanya.
Pendekar Pedang Perpisahan tidak langsung bicara. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Seolah-olah ingin menyembunyikan sesuatu dari yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya kembali. Kemudian berkata, "Ya, kau benar. Apa yang Ketua Fei katakan itu memang benar. Sejak awal, aku tidak ada niat untuk membunuhmu. Aku hanya berusaha menepati janji saja,"
Empat Datuk Dunia Persilatan yang hadir di sana hampir saja melompat dari tempatnya masing-masing karena tidak menyangka dengan jawaban tersebut.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka tampak saling pandang satu sama lain.
Apakah semua kejadian ini adalah mimpi? Sejak kapan Pendekar Pedang Perpisahan berubah menjadi manusia seperti itu?
Padahal sebelumnya, dia terkenal karena sifatnya yang kejam dan tidak mengenal ampun. Saking kejamnya, para pendekar dunia persilatan bahkan ada yang menyebut bahwa dirinya tidak berperasaan.
"Setan tua, kau tidak sedang bercanda, bukan?" Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak tahan lagi untuk menanyakannya secara langsung.
"Tidak. Aku serius," jawabnya dengan tegas.
"Hemm ... sejak kapan kau memiliki perasaan layaknya manusia normal?" tanyanya sambil menatap serius.
"Sejak aku bertemu dan berduel dengan Ketua Fei,"
Jawaban itu diucapkan sepatah demi sepatah. Setiap perkataan yang dilontarkannya mengandung tekanan tenaga. Seakan-akan dia ingin semua orang di sana mendengarnya secara jelas.
"Tidak bisa," jawab Pendekar Pedang Perpisahan.
"Mengapa tidak bisa?"
"Karena sekarang bukan saat yang tepat untuk melakukan itu,"
"Hemm ... apakah kau masih mempunyai urusan?"
"Benar. Dan aku harus menyelesaikan urusan itu dengan segera,"
Datuk sesat itu melirik ke arah Zhang Fei. Setelah memberikan hormat, dia langsung pergi dari sana tanpa berbicara lagi.
Seperti yang sudah terjadi beberapa waktu lalu, kepergiannya itu dipandangi oleh Empat Datuk Dunia Persilatan.
"Aku masih belum percaya, ternyata setan tua itu benar-benar berubah. Sepertinya, sekarang dia sudah kembali seperti manusia normal pada umumnya," kata Orang Tua Aneh Tionggoan setelah bayangan tubuh Pendekar Pedang Perpisahan tidak terlihat lagi.
"Aku sendiri juga begitu. Tapi, semoga saja hal itu benar-benar terjadi kepadanya. Di dunia ini, apapun bisa terjadi," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat.
__ADS_1
Di dunia ini, yang tidak mungkin pun bisa menjadi mungkin. Selama langit berkehendak, memangnya siapa yang bisa menangkalnya?
"Jika malapetaka tiba nanti, semoga saja dia akan berada di pihak kita," ucap Zhang Fei sambil menghembuskan nafas panjang.
"Ya, aku juga berharap demikian," sambung Pendekar Tombak Angin.
"Sudahlah, mari kita kembali," tukas Dewa Arak Tanpa Bayangan mengakhiri percakapan di antara mereka.
"Baik, mari,"
Kelima orang tokoh dunia persilatan itu langsung membalikkan tubuh. Namun ketika mereka baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dari belakang sana terlihat ada satu gulung angin yang datang dengan sangat cepat.
Gulungan angin itu mengincar punggung Zhang Fei. Cepatnya tidak bisa dibayangkan lagi.
Kalau saja gulungan angin tersebut berhasil mengenai sasaran, bisa dipastikan Zhang Fei akan langsung tewas detik itu juga.
Wushh!!! Blarr!!!
Tiba-tiba Zhang Fei membalikkan tubuh tepat pad waktunya. Bersamaan dengan tindakan itu, dia juga mengeluarkan serangan jarak jauh menggunakan telapak tangannya.
Benturan jurus terjadi. Gelombang angin yang tercipta langsung menyapu debu dan batu-batu kerikil yang terdapat di sana.
Empat Datuk Dunia Persilatan membalikkan tubuhnya kembali, mereka segera menatap ke arah datangnya gulungan angin tadi.
Sementara itu, tidak lama kemudian, terlihat ada satu bayangan manusia yang tiba-tiba muncul di tengah udara dan langsung turun di hadapan mereka.
Orang yang datang tersebut merupakan pria tua berumur setengah abad lebih. Wajahnya sangar dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Dari seluruh tubuhnya terasa ada hawa sesat yang keluar tidak pernah berhenti.
Si Cakar Maut Yao Shi!
Orang yang dimaksud adalah dirinya. Datuk Dunia Persilatan aliran sesat yang menempati urutan pertama!
Wushh!!!
Tanpa berbicara apa-apa, mendadak dia melesat dan melancarkan sebuah serangan ke arah Zhang Fei. Serangan telapak tangan tersebut datangnya lebih cepat dari gulungan angin tadi.
Karena tidak ada waktu untuk berbicara, maka terpaksa Zhang Fei melayani serangan tersebut.
Plakk!!!
__ADS_1
Benturan antar telapak tangan seketika terdengar. Zhang Fei terdorong mundur dua langkah ke belakang. Sedangkan si Cakar Maut hanya setengah langkah saja.
"Setan tua, mengapa kau tiba-tiba menyerang Ketua Fei?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menahan geram.