Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertarungan Empat Kekaisaran IV


__ADS_3

"Mampus kau!" kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil berteriak dengan keras.


Blarr!!!


Suara keras langsung terdengar. Debu mengepul tinggi dan menutupi pemandangan.


Semua pasang mata yang menyaksikan kejadian itu sama-sama menahan nafasnya. Mereka sudah tidak sabar dan ingin tahu apa yang telah terjadi di tengah arena pertarungan.


Kebanyakan orang berpikir bahwa Dewa Arak Tanpa Bayangan pasti telah berhasil mengalahkan Pendekar Tongkat Setan. Apalagi pada saat itu, tokoh sesat tersebut sedang berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk menghindar.


Sehingga hampir delapan puluh persen orang-orang di sana beranggapan bahwa Pertarungan itu akan selesai.


Tetapi siapa sangka, tepat pada saat debu itu lenyap, ternyata semuanya tidak sesuai dengan apa yang telah mereka duga.


Pukulan dahsyat yang baru saja dilancarkan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak mengenai Pendekar Tongkat Setan! Pukulan itu mengenai tempat kosong.


Sebagai gantinya, arena pertarungan menjadi cekung akibat keras dan dahsyatnya pukulan barusan.


Sementara itu, Pendekar Tongkat Setan saat ini terlihat ada di sisi sudut yang lain. Sampai sekarang, rupanya dia masih belum mendapatkan posisinya secara sempurna.


"Sepertinya dia terlalu memaksakan diri," kata Dewi Rambut Putih memberi penilaian.


"Lebih tepatnya, dia masih mempunyai cukup banyak tenaga sehingga bisa menghindari pukulan si setan arak," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Benar apa yang dikatakan oleh Tuan Kai Luo," sahut Pendekar Pedang Perpisahan. "Itu artinya, Pendekar Tongkat Setan juga mempunyai kemampuan yang tidak kalah hebat dari Dewa Arak Tanpa Bayangan,"


Para tokoh yang lain mengangguk. Mereka juga setuju dengan ucapannya. Apalagi, semua yang dikatakan itu sudah jelas terbukti di depan mata. Bahkan sesaat yang lalu, mereka semua telah menyaksikannya sendiri.


Perlu diketahui, serangan yang dilancarkan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan barusan itu benar-benar cepat laksana kilat. Pada saat yang bersamaan, dia telah mengeluarkan hampir semua tenaga dan kemampuannya.


Jiak seorang Datuk Dunia Persilatan nomor satu mengeluarkan segenap kekuatan, maka bisa dibayangkan bagaimana hasilnya.


Namun kenyataannya, Pendekar Tongkat Setan masih bisa menyelamatkan diri dari serangan tersebut.

__ADS_1


Artinya, dia pun tidak kalah jauh dari Dewa Arak Tanpa Bayangan. Bisa dibilang, di negerinya sendiri mungkin dia pun mempunyai posisi yang setara.


Sementara di tengah arena, orang tua itu tampak mengambil nafas panjang beberapa kali. Tidak lupa juga dia berusaha untuk menguasai dirinya kembali.


Setelah tenang, Dewa Arak Tanpa Bayangan baru berkata lagi. "Hebat, dengan serangan secepat itu, ternyata kau masih bisa menghindar. Padahal di dunia ini tidak banyak orang yang mampu menyelamatkan diri dari amarahku," ucapnya sambil tersenyum sinis.


"Hahaha ... kau terlalu sombong, tua bangka. Kau pikir, dirimu adalah pendekar yang paling hebat? Hemm ... sudah aku katakan sebelumnya, sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa membunuhku," jawab Pendekar Tongkat Setan seraya menarik muka.


Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak banyak bicara lagi. Dia tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama.


Setelah melakukan persiapan beberapa saat, tiba-tiba saja tubuhnya kembali melesat dengan sangat cepat. Baru satu tarikan nafas saja, tahu-tahu orang tua tersebut sudah tiba di hadapan Pendekar Tongkat Setan.


Wutt!!! Wutt!!!


Guci Arak Murni bergerak. Kelebatan cahaya putih keperakan segera memenuhi angkasa. Hawa senjata yang dikeluarkan oleh senjata pusaka unik itu membuat lawannya sedikit tertekan.


Pendekar Tongkat Setan tercekat. Baru sebentar saja, tubuhnya sudah beberapa kali hampir menjadi sasaran empuk guci tersebut.


Karena kejadian itu, ia benar-benar kaget. Dari sini, dia bisa menilai bahwa Dewa Arak Tanpa Bayangan sepertinya sudah bersikap lebih serius dari sebelumnya.


Tongkat pusaka yang selama ini telah menemani dirinya dalam mengarungi dunia persilatan, terus berkelebat ke sana kemari. Tongkat itu berusaha untuk menangkis atau memberikan serangan balasan.


Tetapi sayangnya usaha yang dia lakukan tidak semulus bayangannya. Walaupun telah berusaha sekuat tenaga, tapi untuk menyentuh tubuh Dewa Arak Tanpa Bayangan itu rasanya sangat sulit sekali.


Dia sendiri merasa heran dengan kejadian ini. Padahal, jelas-jelas dirinya telah meningkatkan kecepatan, tapi mengapa hasilnya tetap nihil?


"Percuma saja. Kau tidak akan sanggup menyentuh tubuhku!" kata Dewa Arak Tanpa Bayangan seolah-olah dia tahu apa yang dipikirkan lawannya pada saat itu.


Wutt!!!


Tanpa mau menunda waktu lagi, dia langsung menerjang dan meneruskan usahanya kembali. Serangan yang datang menjadi lebih aneh dan selalu berubah-ubah.


Hal itu membuat Pendekar Tongkat Setan semakin kebingungan. Dia bingung harus ke mana dan dengan cara bagaimana untuk menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


Prakk!!!


Pada saat pertarungan sengit itu mencapai jurus keseratus sepuluh, tiba-tiba suara yang cukup memilukan terdengar. Bersamaan dengan dusta tersebut, terdengar pula ada jeritan yang menyayat hati.


Semua orang menahan nafas sekaligus memelototkan matanya.


Ketika debu di tengah arena sudah lenyap, mereka yang hadir langsung segera melihat bahwa di sana sudah ada satu sosok terbaring kaku dengan darah yang terus keluar dari batik kepalanya.


Pendekar Tongkat Setan!


Tokoh tua itu ternyata sudah tewas. Tewas dengan kondisi kepala retak!


Dewa Arak Tanpa Bayangan masih berdiri tepat di depannya. Orang tua itu memandangi mayat di depannya dengan tatapan sinis. Tiba-tiba, hatinya pun merasa sangat puas.


"Anak Fei, salah satu manusia keparat itu sudah aku bunuh!" gumamnya sambil terus memandangi mayat Pendekar Tongkat Setan.


Sementara itu, setelah mengetahui apa yang terjadi di sana, tiba-tiba Penasihat Mu terlihat berjalan ke tengah arena. Di belakangnya ada pula beberapa orang petugas yang kemudian disuruh untuk membawa mayat tersebut.


"Pemenangnya adalah Dewa Arak Tanpa Bayangan dari Kekaisaran Song," katanya dengan suara keras.


Tepuk tangan dan sorak sorai kembali memenuhi halaman Istana Kekaisaran Song.


Setelah berhasil menyelesaikan pertarungannya, Dewa Arak Tanpa Bayangan pun segera kembali ke tempat di mana yang lain berada.


Sedangkan di sisi lain, pihak Kekaisaran Jin saat ini terlihat sedang memandang ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan. Sudah jelas bahwa orang-orang tersebut menaruh dendam yang dalam kepada orang tua itu.


"Setan arak, sepertinya mereka membencimu," bisik Orang Tua Aneh Tionggoan sambil melirik ke arah tenda Kekaisaran Jin.


"Aku tahu," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan ringan. "Biarkan saja. Aku ingin melihat mereka mau melakukan apa," ia melanjutkan lagi sambil tersenyum dingin.


Sementara di tengah arena pertarungan, setelah bekas darah dibersihkan, terlihat Penasihat Mu sudah kembali memegang dua buah kertas. Sesaat kemudian dia langsung membuka dan menyebutkan siapa yang akan bertanding berikutnya.


"Ketua Dunia Persilatan Pendekar Pedang Hijau, perwakilan dari Kekaisaran Jin,"

__ADS_1


"Pendekar Empat Pedang, perwakilan dari Kekaisaran Zhou,"


__ADS_2