Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Lawan Tangguh Tio Goan


__ADS_3

Semakin lama jalannya pertarungan itu, maka semakin terlihat jelas juga bagaiamana kemampuan Zhu Yun. Walaupun dia sudah mengalami luka yang cukup parah di bagian iga, tapi dirinya tetap berusaha untuk terus bertahan.


Dalam setiap gerakan, sebenarnya Zhu Yun merasa sakit yang lumayan. Hanya saja dia menahan rasa sakit itu.


Tujuan pertamanya adalah supaya dia bisa keluar sebagai pemenang. Apalagi, sekarang ia mulai melihat bahwa di Ruyung Angin Topan semakin kewalahan dengan serangan beruntun yang dia berikan.


Sedangkan untuk tujuan keduanya adalah supaya ia dianggap oleh Zhang Fei. Dia ingin membuat Ketuanya merasa bangga karena mempunyai bawahan sepertinya.


Zhu Yun tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah memberikan kepercayaan besar kepadanya. Maka dari itu, dia pun tidak ingin mengecewakan mereka.


Wushh!!! Wutt!!!


Ia bergerak dengan cepat. Zhu Yun melancarkan jurus terakhir. Pedang itu berputar sangat cepat. Si Ruyung Angin Topan tidak bisa melihat gerakannya sama sekali.


Crashh!!!


Kuntum bunga darah berpijar di tengah kegelapan malam. Suara keluhan terdengar cukup jelas. Pertarungan tersebut sudah berakhir. Si Ruyung Angin Topan saat ini berada dalam posisi berlutut.


Senjatanya jatuh di pinggir. Sedangkan pemiliknya sendiri memandang ke arahnya dengan tatapan tidak percaya.


Beberapa kejap kemudian, tanpa mengucapkan sepatah kata, tiba-tiba saja dia langsung jatuh telungkup.


Si Ruyung Angin Topan telah tewas dengan luka menganga di bagian perutnya!


Malam semakin larut. Kentongan kedua terdengar lagi. Pertempuran itu masih berlanjut. Para anggota Organisasi Pedang Cahaya berhasil mendominasi pertempuran tersebut.


Anggota musuh yang mereka lawan, sudah banyak yang tewas. Masing-masing dari mereka menderita luka yang cukup parah.


Saat ini, anggota yang tersisa saja hanya tinggal empat orang. Itu pun sudah mulai kehabisan tenaga. Terlihat dari gerakannya yang mulai melambat.


Serangan yang sebelumnya ganas dan keji. Sekarang sudah tidak membawa ancaman apapun lagi. Bahkan dengan mudahnya anggota Organisasi Pedang Cahaya menahan atau menghindari setiap serangan tersebut.


Sementara di sisi lain, saat ini terlihat bahwa Tio Goan sedang diserang oleh si Racun Hijau. Orang tua itu tampak kewalahan.


Walaupun tokoh sesat yang dia lawan tidak menggunakan senjata apapun, tetapi setiap serangannya jelas membawa kabar dari Malaikat Maut.


Mengingat bahwa dari setiap inci tubuhnya, ia mampu mengeluarkan racun yang sangat ganas.

__ADS_1


Selama belasan jurus, Tio Goan terus diserang tanpa henti. Pernah dalam satu kesempatan tangan lawan hampir mengenai tubuhnya. Untunglah pada saat itu dia bisa bergerak lebih cepat, sehingga serangan tersebut tidak benar-benar mengenainya.


Namun akibat dari hal itu, pakaian Tio Goan mengalami robekan di bagian punggung. Robekan tersebut cukup besar dan mengeluarkan bau busuk.


Ia langsung kaget setelah mengetahui pakaiannya robek.


"Gila! Orang ini benar-benar iblis. Racunnya sangat ganas. Kalau situasinya terus seperti ini, aku pasti akan mampus di tangannya," gumam Tio Goan ketika pertarungan berhenti beberapa saat.


Orang tua itu terlihat kelelahan. Nafasnya memburu. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuh. Selama jalannya pertarungan tadi, Tio Goan sudah mengeluarkan begitu banyak tenaga dalam dan hawa murni.


Dia memang harus melakukan hal itu. Karena kalau tidak, sudah sejak tadi pula nyawanya melayang.


Kelebihan si Racun Hijau, adalah di setiap gerakannya dia mampu mengubah keadaan di dalam arena pertarungan menjadi dipenuhi oleh racun miliknya.


Hal inilah yang membuat Tio Goan sangat kelelahan. Kalau saja si Racun Hijau tidak mampu melakukan hal tersebut, sudah tentu dia pun tidak akan kerepotan seperti ini.


"Aku sarankan supaya kau menyerah saja. Dengan begitu, aku akan memberikan kematian yang indah kepadamu," kata tokoh sesat itu tiba-tiba bicara.


"Apa katamu? Menyerah? Hahaha ..." Tio Goan tiba-tiba tertawa lantang. "Aku bahkan masih sanggup membunuh dengan ujung pedangku. Jadi, mengapa pula harus menyerah begitu saja?"


Memang, selama keduanya bertarung, yang mendominasi pertarungan adalah si Racun Hijau. Sejak awal sampai saat ini, Tio Goan hampir tidak melancarkan serangan balasan.


Kalaupun membalasnya, itu pun hanya serangan biasa yang sama sekali tidak membahayakan.


Tio Goan langsung terbungkam. Ia lebih memilih menyerap tenaga dalam dan hawa murni daripada harus menjawab ucapan tersebut.


Dalam pada itu, tiba-tiba saja sebuah suara mendadak terdengar di pikirannya.


"Serap hawa murni sebanyak mungkin untuk melindungi seluruh tubuh. Gunakan tenaga Yang (keras) untuk melawannya. Racun ganas umumnya tidak terlalu berefek saat bertemu dengan hawa panas. Setidaknya, hal itu akan membantumu, Paman Goan,"


Suara itu sangat jelas. Bahkan Tio Goan sendiri tahu betul siapa di pemilik suara.


Ia kemudian melirik ke tempat di mana Zhang Fei bertarung. Kebetulan, pada saat itu Ketuanya tersebut sedang memandang juga ke arahnya.


"Terimakasih, Ketua," gumam Tio Goan sambil mengangguk.


Di kejauhan sana, Zhang Fei yang sedang bertarung juga sempet menganggukkan kepala sebagai balasannya.

__ADS_1


Sekarang, Tio Goan sudah menemukan jalan keluar dari masalah yang dialaminya. Walaupun Zhang Fei hanya memberikan informasi singkat, tapi baginya hal itu sangat berarti sekali.


Dia pun mendadak teringat akan teori semacam ini.


"Tua bangka," ia berkata dengan nada cukup keras. "Pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai. Aku harap, kau bisa menjaga nyawamu denga baik,"


"Hahaha ... apakah ini pertanda bahwa kau sudah putus asa?" ejek di Racun Hijau.


"Jangan banyak bicara. Lihat pedangku!"


Wushh!!!


Tio Goan langsung melancarkan serangannya ketika dia telah berhasil mengumpulkan hawa murni. Begitu turun tangan, jurus pedangnya sudah digelar.


Sebatang pedang itu seolah-olah telah berubah menjadi tiga. Tebasan yang datang dari setiap penjuru mata angin langsung mengancam seluruh tubuh si Racun Hijau.


Tokoh sesat itu kaget setengah mati. Dalam hati, dia sangat keheranan.


Bagaimana mungkin lawannya mampu mengalami perubahan secepat ini? Padahal sebelumnya, sudah jelas bahwa dia tidak bisa menyerang dengan jarak sedekat ini. Tapi, mengala sekarang ia mampu melakukannya?


Sembari berusaha menghindar, dia juga terus memikirkan hal tersebut.


Tio Goan tersenyum dingin. Sekarang posisinya sudah kembali. Dia tinggal memberikan balasan dan mengakhiri semuanya.


"Pedang Bayangan!"


Wutt!!!


Salah satu jurusnya kembali dikeluarkan. Serangan pedang beruntun datang tanpa bisa diduga. Setiap gerakannya juga sulit dibaca.


Si Racun Hijau mulai terlihat kewalahan. Ilmu racun yang selama ini dia andalkan tidak bisa memberikan banyak keuntungan.


Srett!!! Srett!!!


Suara robekan kain mulai terdengar. Luka tebasan pedang seketika tercipta di beberapa bagian tubuh. Si Racun Hijau memperlihatkan ekspresi wajah yang sangat kaget.


Tio Goan seperti menyadari sesuatu, untuk kesekian kalinya, dia kembali menyerang. Kali ini, luka yang berhasil dia berikan itu cukup lebar dan dalam.

__ADS_1


__ADS_2