
Tidak lama setelah itu, Zhang Fei langsung mencabut kembali pedang pusaka tersebut. Begitu tercabut keluar, darah segar seketika menyembur deras. Layaknya air yang keluar dari pancuran.
Ketua Kelompok Bintang Langit itu langsung ambruk ke atas lantai. Seluruh tubuhnya digenangi oleh darah segar yang menyiarkan bau amis.
Dua pertarungan yang tadi berlangsung seru dan menegangkan, sekarang semuanya sudah selesai. Para petinggi Kelompok Bintang Langit terkapar di atas lantai dengan luka dan deritanya masing-masing.
Sementara itu di bawah sana, para pendekar sepertinya juga berhasil membunuh dua puluh dua orang anggota Kelompok Bintang Langit.
Suasana segera bisa dikendalikan kembali. Sekarang, para pendekar yang ada di sana sedang berdiri di tempat masing-masing. Mereka menatap ke arah dua orang yang ada di atas mimbar.
Di antara orang-orang tersebut, tidak ada yang berani berbicara satu pun. Meski pertarungan sengit sudah rampung, tapi ketegangan dan kengerian masih menyelimuti seluruh tubuh mereka.
Alasannya bukan lain adalah karena di sana, telah hadir satu sosok tokoh dunia persilatan yang ditakuti lawan disegani kawan.
Sebagai orang-orang rimba hijau, sudah barang tentu mereka pun tahu dan sangat mengenal siapa itu Pendekar Pedang Perpisahan.
Sepak terjangnya yang selama ini telah menggetarkan langit dan bumi, sudah didengar mereka sejak lama. Kekejaman dan kemampuannya yang begitu tinggi, sudah menjadi rahasia umum.
Namun dalam pada itu, para pendekar yang hadir juga merasa bingung sekaligus penasaran terhadap pendekar bertopeng.
Diam-diam, mereka bertanya kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya. Dan pertanyaan yang keluar dari mulut para pendekar tersebut, semua hampir mirip.
Siapa sebenarnya pendekar bertopeng itu? Apakah kemampuannya begitu tinggi, sehingga Pendekar Pedang Perpisahan pun merasa segan terhadapnya?
Semua orang tahu setinggi apa kemampuan datuk sesat tersebut. Rasanya, dalam dunia persilatan ini tidak begitu banyak orang yang dia hormati.
Tetapi, perlakuannya kepada pendekar bertopeng tersebut terlihat berbeda.
Jadi, tidak heran kalau semua pendekar mempertanyakan hal yang sama.
Sementara itu, setelah berhasil membunuh semua orang-orang Kelompok Bintang Langit, dengan segera Zhang Fei menyarungkan Pedang Raja Dewa kembali saat darah yang tadi mengucur kering.
"Tuan Wu, kita periksa orang-orang ini. Siapa tahu mereka akan memberikan petunjuk kepada kita," kata Zhang Fei kepada Pendekar Pedang Perpisahan.
__ADS_1
"Baik," jawabnya sambil mengangguk.
Kedua orang tokoh dunia persilatan itu langsung bergerak. Mereka memeriksa setiap mayat yang ada di atas mimbar. Tidak perlu lama kemudian, keduanya sudah menemukan beberapa petunjuk.
Hanya saja mereka telah sepakat untuk tidak membongkar semua informasi itu di tempat kejadian. Salah satu alasannya adalah karena ditakutkan bahwa di sekitar sana masih ada pihak musuh atau mata-mata yang bersembunyi.
"Para pendekar sekalian yang aku hormati," Zhang Fei berkata dengan nada lantang setelah dia menyelesaikan penyelidikannya.
Puluhan pendekar itu segera menatap ke atas mimbar ketika mendengar seruan barusan.
Setelah mendapat perhatian dari semua orang, dengan segera Zhang Fei melanjutkan ucapannya.
"Aku harap, peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kalian. Yang mana, jangan terlalu percaya dengan informasi yang didengar atau disebar oleh seseorang. Sebelum melakukan tindakan apapun, aku tekankan supaya kalian harus berpikir jernih. Jangan pernah gegabah. Ingat! Saat ini Kekaisaran Song kita sedang dilanda malapetaka,"
"Ada banyak musuh dibalik selimut yang ingin menghancurkan negeri tercinta ini. Baik itu Kekaisarannya, maupun dunia persilatannya. Maka dari itu, aku berharap supaya kalian juga saling membantu satu sama lain. Bantu pemerintahan dalam upaya membasmi musuh-musuh yang ingin menguasai negeri kita,"
"Dalam situasi seperti sekarang, jangan pernah kalian mementingkan diri sendiri. Pentingkan juga orang lain. Untuk menghadapi kondisi ini, bersatu adalah jalan keluar yang terbaik,"
Zhang Fei bicara panjang lebar kepada para pendekar. Semua yang ada dalam benaknya saat itu, dia ungkapkan dengan jelas dan gamblang.
Para pendekar saling pandang. Mereka tidak mengenal siapa di pendekar bertopeng itu. Namun anehnya, mereka juga tidak bisa menolak, apalagi menyalahkan ucapan yang baru saja dia sampaikan.
Seolah-olah, ucapan barusan telah berhasil menembus mata hati masing-masing.
Suasana di sana kembali dicekam oleh keheningan. Tidak ada satu pun orang yang berani membuka suara. Mereka yang tadi berbisik-bisik, sekarang langsung diam membisu.
Pada saat seperti itu, tiba-tiba, ternyata ada seorang pendekar yang berani berbicara sekaligus mengajukan pertanyaan.
"Terimakasih atas ucapan barusan, Tuan Pendekar. Kami semua mengerti dengan apa yang kau maksud. Tapi kalau boleh tahu, siapa kau sebenarnya? Mengapa kau berani berbicara seperti itu di hadapan kami? Memangnya, selama ini apa yang telah kau lakukan?"
Suara itu juga lantang. Zhang Fei langsung mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.
Di sana, terlihat ada seorang pendekar setengah umur yang sedang menatap serius ke arahnya. Di punggung orang tersebut ada sebatang pedang setengah depa.
__ADS_1
Zhang Fei melemparkan senyuman ke arahnya. Baru saja dia akan berkata, Pendekar Pedang Perpisahan malah sudah mendahuluinya.
"Aku tegaskan kepada kalian supaya jangan banyak membantah! Apa yang dikatakan olehnya barusan, kalian turuti saja. Kalian lakukan dengan baik. Karena ini semua demi kepentingan kita bersama. Kalau ada di antara kalian yang berani membangkang, apalagi menghina, aku pastikan pedangku ini akan memenggal kepalanya!"
Perkataan Pendekar Pedang Perpisahan terdengar sangat dalam dan menekan. Apalagi dalam pada itu, dia juga telah menyalurkan tenaga dalam yang besar.
Semua pendekar merasakan bulu kuduknya merinding. Ketakutan semakin menyelimuti seluruh tubuh.
Perkataan itu ibarat pesan langsung dari Malaikat Maut!
Mereka tahu, Pendekar Pedang Perpisahan tidak sedang bercanda. Semua orang juga tahu, kalau dia sudah mengancam, maka dirinya pasti sangat bisa membuktikan ancaman tersebut!
"Yang kalian tahu cukup sedikit saja. Bahwa pendekar bertopeng ini, sebenarnya adalah salah satu tokoh dunia persilatan yang paling disegani dan dihormati. Jangankan manusia, Dewa pun aku rasa hormat kepadnya," lanjut datuk sesat itu setelah berhenti beberapa saat.
Dia kemudian menoleh ke arah Zhang Fei. "Ketua Fei, mari kita pergi," katanya perlahan.
"Mari,"
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia melesat secepat kilat. Dalam satu kedipan mata, keduanya telah menghilang dari pandangan.
Selepas kepergian mereka berdua, puluhan pendekar terlihat masih berdiri di sana. Mereka belum beranjak pergi.
Entah mengapa. Tapi kalau dilihat dari ekspresi wajah, sepertinya orang-orang tersebut sedang berpikir keras.
Apakah mereka sedang memikirkan pesan-pesan yang tadi disampaikan oleh Zhang Fei? Ataukah orang-orang itu sedang mengingat-ingat ancaman yang diberikan oleh Pendekar Pedang Perpisahan?
Entahlah. Tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti terkait persoalan tersebut.
Tanpa mereka sadari, waktu terus berjalan. Mentari pagi semakin berada di posisi yang lebih tinggi lagi. Walaupun malapetaka sudah berakhir, tapi apa yang telah terjadi, masih membekas dengan jelas dalam benaknya masing-masing.
###
__ADS_1
Satu lagi menyusul ya, masih ada keperluan seidkit. Hehe ...
Terimakasih buat kalian yang selalu mendukung sampai sejauh ini ..