Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Rangkaian Ilmu Pedang Perpisahan I


__ADS_3

Zhang Fei sangat menyadari akan hal tersebut. Dia tahu, mati hidupnya sekarang sedang ditentukan oleh dirinya sendiri.


Kalau ia bisa bergerak dengan sangat cepat, maka itu artinya, Zhang Fei masih bisa melanjutkan hidup. Walaupun tidak ada pula jaminan masih bisa bernafas setelah duel ini selesai, tapi setidaknya umur yang dia miliki akan sedikit lebih panjang.


Tetapi kalau saja gerakannya lambat dan lebih cepat tebasan pedang lawan, maka jangan harap dia bisa bertahan.


Sudah tentu, lehernya akan terbebas sampai kutung oleh pedang mustika tersebut.


Wutt!!! Wushh!!!


Cahaya putih keperakan sudah lewat bagaikan kilat yang menyambar. Bersamaan dengan itu, Zhang Fei juga bergerak secepat bayangan setan.


Ujung pedang lewat setengah buku jari di depan lehernya. Sungguh, barusan itu adalah saat-saat penentuan! Saat yang paling tegang dari semua pertarungan yang pernah dia alami.


Begitu berhasil menyelamatkan diri, pada saat itu juga Zhang Fei langsung melompat mundur sejauh tujuh langkah. Dia mengambil nafas beberapa kali.


Wajahnya yang semula tegang, kini mulai normal lagi. Walaupun duel itu belum selesai, tapi dirinya sudah merasa bangga.


Bangga karena Zhang Fei bisa selamat dari salah satu jurus maut si Pendekar Pedang Perpisahan.


Seperti yang diketahui, ia adalah Datuk Dunia Persilatan yang menggunakan pedang sebagai senjatanya. Dengan kedudukan setinggi itu, maka sudah tentu ilmu pedangnya juga tidak diragukan lagi.


Dalam dunia persilatan sekarang, mungkin orang-orang yang mampu selamat dari jurus mautnya bisa dihitung dengan jari tangan saja.


Sementara itu, begitu lawan berhasil menghindari jurus miliknya, Pendekar Pedang Perpisahan tampak menghentikan gerakannya.


Dia menatap Zhang Fei dengan tatapan banyak arti.


"Bagus. Kau benar-benar tidak malu menjadi bagian dari Keluarga Zhang," katanya mengulangi kembali ucapan tadi sambil memuji Zhang Fei. "Selama ini, aku rasa baru sekarang saja ada pendekar kelas rendah yang mampu selamat dari jurus Raja Pedang Menebas Malaikat,"


Ia berkata dengan nada sedingin es. Pendekar Pedang Perpisahan memasang wajah serius. Siapa pun tahu kalau dia tidak sedang bercanda.


Di satu sisi, saat Zhang Fei mendengar bahwa dirinya dianggap pendekar kelas rendah, sebenarnya dia merasa kesal. Tetapi kekesalan itu dengan cepat dia hilangkan.


Karena ia pun sadar setinggi mana kemampuan lawannya sekarang.


'Huhh ... seenaknya saja mengejek orang lain. Kalau saja yang bicara itu bukan datuk sesat, sudah pasti aku akan langsung mencabut nyawanya,' batin Zhang Fei sambil menggertak gigi.

__ADS_1


Pendekar Pedang Perpisahan masih berdiri di tempatnya. Dia belum melakukan serangan lagi. Seolah-olah orang tua itu sedang memberikan waktu bagi Zhang Fei untuk bernafas lega dan mengumpulkan tenaganya kembali.


Perlu diketahui, apabila seorang pendekar kelas atas bertarung, maka dirinya tidak pernah terburu-buru.


Setiap gerakan yang dia lancarkan pasti mempunyai tujuan pasti. Setiap hal yang dilakukannya, sudah tentu mengandung maksud tersendiri.


"Jurus Raja Pedang Menebas Malaikat itu benar-benar hebat, Tuan," kata Zhang Fei setelah ia terdiam cukup lama.


"Itu belum seberapa. Sekarang, coba rasakan Rangkaian Ilmu Pedang Perpisahan milikku," katanya dengan nada dalam.


Setelah ucapannya selesai, Pendekar Pedang Perpisahan langsung bersiap kembali. Sekarang dia menyalurkan tenaga dalam dan hawa murninya ke seluruh tubuh dengan jumlah yang lebih besar.


Tidak tanggung-tanggung, ia langsung mengerahkan tujuh bagian tenaga dalam!


Walaupun tidak sampai sepuluh bagian, tetapi dengan semua yang dimiliki oleh Pendekar Pedang Perpisahan saat ini, tentu saja hasilnya sangat luar biasa sekali.


Hawa di sekitar sana terasa sesak. Hawa pedang yang keluar semakin pekat. Seperti halnya kabut putih di tengah malam buta.


Tidak hanya itu saja, bahkan hawa pembunuhnya juga semakin hebat. Zhang Fei benar-benar merasa tertekan karena semua hal itu. Untunglah dia telah lebih dulu mempersiapkan dirinya sampai ke titik maksimal.


Sehingga efek dari persiapan lawan masih bisa diminimalisir olehnya.


Wutt!!!


"Melambaikan Tangan Tanda Perpisahan!"


Jurus pertama langsung digelar. Pedangnya berkelebat seperti gadis yang sedang melambaikan tangan kepada kekasihnya.


Zhang Fei tercekat. Karena tahu-tahu orang tua itu sudah kembali berada tepat di hadapannya.


Sungguh, kecepatan Pendekar Pedang Perpisahan benar-benar sulit dilukiskan dengan kata-kata. Untungnya Zhang Fei telah belajar dari pengalaman sebelumnya, dengan cepat ia kembali melompat mundur sambil bersiap melancarkan serangan balasan.


Setelah menemukan waktu yang tepat untuk melakukannya, ia langsung berteriak lantang.


"Murka Pedang Dewa!"


Wushh!!! Wutt!!!

__ADS_1


Zhang Fei meluncur ke depan. Walaupun pada saat itu dia tahu pihak lawan juga sedang menerjang, tapi dirinya tidak ambil perduli.


Singkatnya, ia memang berniat untuk mengadu jiwa dengan tokoh sesat itu!


Melihat tindakan yang dilakukan lawan, Pendekar Pedang Perpisahan segera menarik kembali serangannya. Meskipun dia berani kalau harus mengadu jiwa, tapi ia tidak mau melakukannya.


Kalau masih ada jalan keluar yang lain, untuk apa pula mengambil jalan yang terlalu berisiko?


Maka dari itu, sebagai gantinya, terpaksa dia harus berada di posisi bertahan.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Pendekar Pedang Perpisahan mulai menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh Zhang Fei. Dua batang senjata pusaka bertemu di tengah jalan dan menimbulkan percikan api.


Sepak terjang anak muda itu membuatnya kagum. Kalau saja dia tidak tahu latar belakang anak muda tersebut, mungkin dirinya tidak akan percaya dengan kejadian ini.


Semakin lama mereka mengadu jurus dan serangan, tiba-tiba Pendekar Pedang Perpisahan merasakan adanya hal lain.


'Rasanya terlalu sayang apabila duel ini harus diselesaikan dengan cepat. Biarlah aku ingin lihat dulu sampai di mana kemampuannya,' batinnya seraya terus melayani Zhang Fei.


Berpikir sampai di situ, tiba-tiba Pendekar Pedang Perpisahan mengurangi tenaganya. Dengan demikian, secara perlahan Zhang Fei mulai bisa mengimbangi kekuatan lawan.


Jurus Murka Pedang Dewa masih digelar olehnya. Pedang pusaka itu terus berkelebat memberikan tebasan dan tusukan yang tiada henti. Setiap kali bergerak, hawa pedang yang sangat pekat ikut tersalur keluar.


Kalau saja lawannya pada saat itu bukan seorang Datuk Dunia Persilatan, mungkin sudah sejak tadi Zhang Fei menyelesaikan pertarungannya.


Apalagi ia telah mengerahkan segenap tenaganya. Seperti yang diketahui, kalau jurus Murka Pedang Dewa dikeluarkan dengan tenaga maksimal, sudah pasti hasilnya akan sangat dahsyat.


Tetapi sungguh sangat disayangkan, kedahsyatan itu rupanya masih bisa diatasi cukup mudah oleh Pendekar Pedang Perpisahan Wen Wu.


Dari sini, Zhang Fei menyadari sesuatu.


Rupanya apa yang telah dia miliki saat ini masih belum ada apa-apanya. Kemampuan yang semula dirasa sudah cukup, buktinya malah masih jauh dari kata tersebut.


Sekarang, dia mengerti penuh makna dari gurunya yang mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit.


'Rupanya ini yang dimaksud guru. Sekarang aku benar-benar mengalaminya sendiri,' batin Zhang Fei berkata sambil terus berusaha merobohkan lawan.

__ADS_1


Ketika ia sedang menggempur orang tua itu habis-habisan, tiba-tiba satu benturan yang teramat keras mendadak terdengar.


Trangg!!!!


__ADS_2