Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pembentukan Aliansi IV


__ADS_3

"Ketua Fei, apakah hal ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Dewi Rambut Putih dengan cepat. Kalau tidak mendengarnya secara langsung, niscaya dia tidak akan percaya dengan hal ini. "Aku rasa, kau tidak seharusnya berkata seperti itu,"


"Benar yang dikatakan oleh Nyonya Ling, Ketua Fei. Aku rasa, untuk membuat semua orang percaya, kau tidak perlu melakukan hal ini. Bagaimana kalau nanti benar-benar ada orang yang mampu mengalahkanmu dalam waktu tiga puluh jurus?" Pendekar Tombak Angin segera menyambung ucapan Dewi Rambut Putih.


Dua orang Datuk Dunia Persilatan itu khawatir kalau hal yang tak diinginkan akan terjadi. Jika sampai hal itu benar-benar terjadi, maka tidak bisa dibayangkan lagi peristiwa yang selanjutnya.


"Kalian tenang saja. Sebelum melakukan ini, aku sempat mencari tahu dulu. Lagi pula, aku sudah yakin dengan kemampuanku," sahut Zhang Fei dengan tenang dan santai.


"Percayakan saja kepadanya. Aku yakin, Ketua Fei sudah memikirkan hal ini matang-matang sebelum memutuskan untuk melakukannya," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Benar," Pendekar Pedang Perpisahan juga ikut berbicara. "Lagi pula, bukan suatu hal yang mudah untuk mengalahkan Ketua dalam waktu tiga puluh jurus,"


Datuk sesat itu sudah membuktikannya sendiri. Kalau membahas Zhang Fei, ia selalu ingat akan duelnya beberapa waktu lalu.


Pada saat itu, dia percaya bisa mengalahkan Zhang Fei. Apalagi kalau mengingat kejadian di Rawa Iblis.


Namun siapa sangka, dalam waktu yang terhitung singkat saja, ia sudah mengulangi banyak perubahan. Pendekar Pedang Perpisahan telah salah menilai Zhang Fei.


Meskipun usianya masih terbilang muda, tapi dirinya selalu mempunyai kejutan yang tidak pernah disangka-sangka.


Dewi Rambut Putih dan Pendekar Tombak Angin memandangi para tokoh yang lain untuk sesaat. Sebenarnya mereka ingin bicara lagi. Tapi, mereka lebih memilih untuk menutup mulut saja.


"Bagaiamana? Apakah tidak ada yang berani? Kalau ada, silahkan naik ke atas mimbar ini," karena beberapa waktu belum juga ada pendekar yang naik ke atas mimbar, akhirnya Zhang Fei bersuara lagi.


Tidak lama setelah itu, tak kurang dari lima orang pendekar sudah menaiki mimbar. Termasuk juga dengan Pendekar Kipas Terbang.


Kelima orang tersebut rata-rata usianya sudah berada di atas empat puluhan tahun. Dua di antaranya adalah seorang wanita tua.


Melihat hal tersebut, Zhang Fei tersenyum sambil mengangguk. Ia kemudian menyuruh kelimanya untuk memperkenalkan diri.


"Ketua bisa memanggilku dengan sebutan si Ratu Jarum," kata salah seorang wanita tua yang mengenakan pakaian merah longgar.

__ADS_1


Wajah wanita tua itu sudah keriput. Meskipun begitu, tapi kecantikannya di masa lalu masih bisa dilihat cukup jelas.


Ia tidak terlihat membawa senjata apapun. Tapi dari julukannya, siapa pun sudah tahu bahwa ia merupakan ahli dalam memainkan senjata rahasia. Khususnya jarum.


"Namaku Wujian, aku berasal dari daerah perbatasan sebelah Selatan. Orang-orang biasa memanggilku si Pedang Bayangan,"


Seorang pria berusia lima puluhan tahun menjura kepada Zhang Fei. Dia memiliki wajah yang cukup tampan dengan pakaian putih. Pinggangnya diikat oleh sabuk kain warna biru tua. Di punggungnya sendiri terdapat sebatang pedang dengan panjang hampir satu depa.


Cara bicara orang itu terhitung sopan. Tapi tatapan matanya sangat tajam.


"Aku Niu Niu. Keahlianku adalah memainkan pedang kembar," wanita tua yang satunya lagi juga segera memperkenalkan diri.


"Ketua Fei, perkenalkan, aku bernama Shin Yu, aku berasal dari desa kecil di sebelah Utara Kota Shicuan. Datang jauh-jauh kemari karena ingin bergabung bersama aliansi yang akan dibentuk. Bukannya sedang sombong akan kemampuan sendiri, tapi, orang-orang persilatan memberikan julukan kepadaku si Pendekar Trisula Maut,"


Orang yang bernama Shin Yu dan berjuluk Pendekar Trisula Maut itu memperkenalkan dirinya dengan penuh sopan santun. Nada bicara orang tersebut persis seperti nada bicara Wujuan, si Pendekar Pedang Bayangan.


"Dan aku ..."


"Tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Aku sudah tahu siapa Tuan ini," Zhang Fei segera memotong ucapan ketika Pendekar Kipas Terbang ingin memperkenalkan dirinya.


Lima orang penantang itu sudah memperkenalkan dirinya masing-masing. Para Datuk Dunia Persilatan yang sejak tadi berada di atas mimbar, memperhatikan mereka secara bergiliran.


Zhang Fei juga melakukan hal serupa. Hanya saja, tatapan matanya sedikit lebih selidik daripada yang lain.


'Di antara lima orang ini, yang benar-benar murni ingin mengujiku hanyalah si Pedang Bayangan dan Pendekar Trisula Maut saja. Sedangkan tiga orang lainnya, mereka mempunyai niat yang buruk. Hemm ... aku rasa ketiga orang ini sudah bekerja sama dengan pihak musuh,' batinnya berkata sambil terus menatap mereka.


Tidak hanya itu saja, bahkan Zhang Fei juga turut serta merasakan hawa yang keluar dari tubuhnya masing-masing. Dan tiga orang yang dimaksud berniat buruk itu, mempunyai hawa pembunuh dan hawa sesat yang sangat pekat.


Tidak perlu dibicarakan pun, Zhang Fei sudah yakin bahwa para Datuk Dunia Persilatan juga sudah mengetahui akan hal tersebut.


"Kalian sudah tahu peraturannya, bukan?" tanya Zhang Fei menegaskan.

__ADS_1


"Ya, kami sudah tahu, Ketua," jawab mereka secara serempak.


"Bagus. Kalau begitu, siapa yang akan bertarung lebih dulu?"


Kelima tokoh itu tidak berani menjawab. Mereka tetap diam dan menutup mulutnya.


"Mengapa kalian diam? Katakan saja, siapa yang ingin menjadi orang pertama untuk melawanku?"


"Aku, Ketua," si Pedang Bayangan menjawab serius. Ia menatap Zhang Fei lekat-lekat. Bukan dengan tatapan ingin membunuh, melainkan dengan tatapan rasa segan dan hormat.


"Baiklah, Tuan Wujian," katanya mengangguk. "Kalau begitu, silahkan yang lain berdiri di pinggir,"


Orang-orang yang berada di atas mimbar menurut. Mereka segera berdiri di pinggir arena. Sedangkan para Datuk Dunia Persilatan, mereka pun langsung kembali ke tempat duduk masing-masing.


Sekarang yang berada di tengah arena hanya Zhang Fei dan Wujian saja. Keduanya saling berhadapan dan hanya terpaut sekitar lima langkah.


Semilir angin berhembus cukup kencang. Rasa panas yang ditimbulkan oleh sinar matahari, sedikit berkurang karenanya.


Para pendekar yang berada di bawah mimbar menegang. Mereka sudah tidak sabar ingin segera melihat pertarungan itu.


"Biar aku jadi wasitnya," Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba berkata. Bersamaan dengan itu, ia kembali bangkit berdiri dan berjalan ke tengah arena.


"Silahkan, Tuan Kiang," kata Zhang Fei memberikan isyarat.


Sringg!!!


Wujian si Pedang Bayangan langsung mencabut senjatanya. Batang pedang yang terbuat dari baja murni itu segera berkilat ketika terkena tempaan sinar matahari.


"Ketua, tolong berikan aku pelajaran dalam hal ilmu pedang," katanya seraya membungkukkan badan.


"Tuan Wujian terlalu merendah. Kemampuanku bahkan masih dangkal," sahut Zhang Fei dengan tenang.

__ADS_1


Sementara itu, melihat kedua orang yang terlibat sudah siap, Dewa Arak Tanpa Bayangan segera berseru lantang.


"Mulai!"


__ADS_2