Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Berbagi Tugas


__ADS_3

"Siapa diluar?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Hamba, Tuan. Hamba diperintahkan oleh Tuan Lu untuk menyiapkan kamar bagi kalian. Sekarang semua kamar itu telah siap. Tuan-tuan dan Nyonya bisa segera beristirahat," jawab orang yang diduga pelayan tersebut.


"Oh, baiklah. Terimakasih. Sebentar lagi kami akan segera ke sana,"


"Baik, Tuan. Kalau ada keperluan apa-apa, panggil saja hamba,"


"Baiklah,"


Pelayan tersebut membungkuk hormat ke arah ruangan. Setelah itu dia segera pergi lagi untuk menjalankan tugas lainnya.


Karena tidak mau mendatangkan rasa curiga, akhirnya Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan pun memutuskan untuk segera pergi ke kamar masing-masing yang sudah disediakan.


Begitu berada di kamar, tanpa melakukan kegiatan apapun lagi, mereka langsung saja tidur dengan nyenyak.


Pagi harinya, setelah selesai melakukan sarapan pagi, kelima tokoh dunia persilatan tersebut meminta izin kepada Tuan Lu bahwa mereka ingin berjalan-jalan di sekitar wilayah Gedung Ketua Dunia Persilatan.


"Aish, aku merasa tersanjung. Seharusnya kalau kalian ingin melakukan apapun, tidak perlu meminta izin segala. Aku jadi tidak enak," ucap Tian Lu setelah mendengar ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Mana bisa begitu. Lagi pula, sekarang Tuan Lu adalah pengganti Ketua Beng Liong. Jadi, bagaimanapun juga kami harus bilang dulu kepadamu sebelum melakukan apa-apa," kata orang tua itu sambil tertawa.


"Tuan Kiang terlalu berlebihan memandangku. Pokoknya, apapun yang ingin kalian lakukan di sekitar gedung ini, lakukanlah. Aku percaya penuh terhadap kalian," Tian Lu tersenyum hangat kepadanya.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang juga kami pamit dulu,"


Lima orang tokoh rimba hijau segera pergi dari ruang makan. Beberapa waktu kemudian, setelah mereka berada di jalan raya yang besar dan ramai, tiba-tiba terdengar Zhang Fei bicara.


"Cih! Aku muak melihat tampang tua bangka itu yang sok baik. Kalau melihat dia tersenyum, aku jadi ingin menampar mulutnya," Zhang Fei mencibir sebagai upaya melampiaskan kekesalannya.


"Sabar dulu, anak Fei. Tenanglah. Sebentar lagi kita akan berpesta daging mentah," sambung Pendekar Tombak Angin sambil tertawa.


"Apa yang dikatakan oleh Tuan Cao Ping itu benar, anak Fei. Untuk saat ini, setidaknya kita jangan dulu memperlihatkan kecurigaan. Kita harus bisa bersikap se-normal mungkin," kata Dewi Rambut Putih ikut menasihati Zhang Fei.


"Sudah, sudah," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan menengahi mereka. "Sekarang kita bergerak secara diam-diam. Kalian pergi ke beberapa penjuru dan selidiki tempat-tempat yang berdekatan dengan Gedung Ketua Dunia Persilatan. Kalau ada yang mencurigakan, usahakan kalian bisa menyelidikinya lebih jauh,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan merasa curiga bahwa di sekitar gedung megah itu masih terdapat musuh dibalik selimut. Ia takut firasatnya terbukti. Karena itulah dirinya menyuruh empat orang tersebut untuk pergi memeriksanya.

__ADS_1


"Sedangkan aku sendiri akan mengirimkan surat kepada Tabib Dewa Dong Ying," katanya melanjutkan.


"Baik, Tuan. Kami mengerti,"


Setelah membagi tugas, mereka berlima langsung pergi berpencar. Sedangkan Dewa Arak Tanpa Bayangan sendiri, dia pun segera berjalan lebih jauh lagi.


Suara riuh para pedagang dan wisatawan yang terus berbicara tidak ia hiraukan sama sekali. Dewa Arak Tanpa Bayangan mempercepat langkahnya. Dia baru berhenti setelah tiba di sebuah gedung yang tidak terlalu besar.


Gedung tersebut terletak di belakang kota ramai. Diluar gedung sangat banyak sekali pengemis yang berkeliaran. Tidak perlu ditanyakan lagi, sudah tentu gedung tersebut adalah markas cabang dari Partai Pengemis.


Melihat kedatangannya, para pengemis itu langsung menghampiri dan menyapa ataupun membungkukkan hormat kepada Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Apakah Ketua Cabang kalian ada di dalam?" tanyanya kepada salah satu anggota Partai Pengemis.


"Ada, Tuan. Ketua ada di dalam,"


"Bilang padanya, aku ingin bertemu sekarang juga,"


"Baik, baik. Aku akan segera memberitahukannya,"


Anggota Partai Pengemis tersebut langsung pergi setengah berlari menuju ke dalam markas. Dewa Arak Tanpa Bayangan menunggunya di bawah pohon yang cukup rindang.


Jadi tidak perlu heran kalau para anggota tersebut menaruh rasa segan dan hormat yang mendalam kepada Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Setelah sekitar lima menit menunggu, terlihat dari dalam sana ada seorang pengemis tua yang berwajah gagah berjalan keluar dengan langkah tergopoh-gopoh.


Dia langsung menghampiri Dewa Arak Tanpa Bayangan dan segera memberi hormat begitu tiba di depannya.


"Tuan Kiang, maaf kalau aku tidak menyambut kedatanganmu," katanya sedikit menyesal.


"Tidak perlu sungkan seperti itu. Kedatanganku kali ini juga tidak terlalu penting," katanya sambil mengibaskan tangan. "Hanya saja, aku ingin meminta bantuan kepadamu,"


"Katakan saja, Tuan. Aku pasti akan membantu semaksimal mungkin,"


"Aku ingin kau menuliskan surat dariku dan langsung mengirimkannya kepada Tabib Dewa Dong Ying yang sekarang berada di Kotaraja,"


"Baik, Tuan Kiang. Silahkan katakan isinya saja, biar nanti aku buatkan suratnya,"

__ADS_1


"Tabib Tua Dong Ying, datanglah ke Gedung Ketua Dunia. Aku ingin bertemu denganmu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan mengucapkan kata-kata yang dikhususkan untuk isi surat nanti.


"Apakah masih ada ucapan lainnya, Tuan?"


"Tidak. Hanya itu saja,"


"Baiklah. Sekarang juga aku akan melaksanakan tugas ini,"


"Bagus. Maaf kalau aku telah merepotkanmu,"


"Tidak berani, tidak berani. Kalau Tuan Kiang butuh bantuan apapun, aku pasti akan membantunya dengan sekuat tenaga,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangguk puas. Setelah itu dia langsung berlalu dari markas cabang Partai Pengemis tersebut.


###


Sementara itu di tempat lain, saat ini Zhang Fei sedang duduk di sebuah warung arak sederhana. Alasan dia berada di sana bukan hanya karena ingin minum arak, melainkan karena Zhang Fei merasa curiga terhadap bangunan tua yang berada di seberang jalan sana.


Kebetulan, pada saat itu keadaan di dalam warung arak masih sepi. Pengunjung yang ada pun hanya Zhang Fei seorang.


"Paman, maukah kau kemari dan temani aku minum? Kebetulan, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu," kata Zhang Fei kepada pemilik warung.


Tanpa perlu menunggu lama, dengan segera pemilik warung arak yang usianya sudah tua itu langsung menghampiri Zhang Fei. Dia kemudian duduk di kursi yang tersedia.


"Ada apa, Tuan Muda?"


"Bangunan tua itu, sejak kapan ada di sana?" tanya Zhang Fei sambil menunjuk ke tempat yang dimaksud.


Dia tidak mau banyak basa-basi. Apalagi Zhang Fei juga sadar bahwa waktu yang dia miliki tidak banyak.


"Oh, bangunan itu sejak dulu pun sudah ada," jawab si pemilik warung arak.


"Apakah tidak ada orang yang tinggal di sana?


"Aku rasa tidak ada,"


"Tapi, mengapa di sekitarnya terdapat bekas-bekas botol arak dalam jumlah banyak?"

__ADS_1


"Entahlah. Tapi beberapa waktu belakangan ini, aku sering mendengar di dalam bangunan tua itu ada banyak suara orang-orang bicara,"


__ADS_2